SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 26


__ADS_3

Tempat Caca dirawat memiliki ruangan yang cukup luas. Selain dilengkapi brankar tempat Caca berbaring dan alat - alat medis, ruangan tersebut juga menyediakan tempat tidur king size, meja makan beserta kulkas dan sofa besar. Ruangan luas tersebut tidak memiliki dinding pembatas sama sekali kecuali kamar mandi.


Jarak antara barang - barang tersebut memiliki ruang kosong sekitar 2 meter. Sehinga masih bisa dijadikan tempat untuk shalat.


Mereka yang baru tiba dirumah sakit dari tempat pemakaman menghentikan langkah kaki mereka tepat didepan pintu ruangan Caca manakala mendengar suara merdu Destra melantunkan ayat - ayat suci Al-qur'an.


Siska tertegun mendengar suara merdu yang berasal dari kamar yang ada dihadapannya. Niatnya untuk segera menemui cucunya terhenti sesaat menunggu suara merdu tersebut menyelesaikan bacaannya.


"Siapa yang memiliki suara merdu itu Aldo?". tanya Siska


"Dia tuan Destra anak dari tuan Alki Bunda". jawab Aldo dengan mengarahkan pandangan dan tangannya secara santun ke arah Alki yang juga ada bersama mereka.


"Subhanallah, alangkah beruntungnya kalian". seru Siska menunjukkan kekagumannya.


Pujian yang Siska ucapkan kepada anak mereka hanya dibalas senyuman hangat oleh Alki dan Anggi.


Setelah suara merdu tersebut tidak terdengar lagi, mereka yang berada masih diluar segera memasuki ruangan tersebut dengan mengucapkan salam.


Destra beranjak dari tempat duduknya yang berada disebelah Caca ketika melihat kehadiran mereka.


Siska menghampiri Caca perlahan dengan linangan air mata dipipinya ketika melihat keadaan Caca yang belum juga sadarkan diri lengkap dengan alat bantu pernapasan. Hati siska terasa perih melihat cucunya yang telah menjadi yatim piatu.


Tatapan sendu Siska beralih ke arah Destra yang masih berada disamping brankar Caca.


Posisi tempat Destra dan juga Siska sama - sama berada disebelah brankar tempat Caca terbaring.


"Dia Oma Caca dari medan nak". ujar Anggi kepada Destra yang juga memperhatikan Siska dengan tatapan asing.


Dengan segera Destra menghampiri Siska dan menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Siska. Setelah Siska menyambut uluran tangannya, Destra mencium punggung tangan wanita tua itu.


"Subhanallah, suara merdu mu melengkapi ketampananmu sayang". seru Siska memegang wajah Destra dengan kedua telapak tangannya.


"Terimakasih Oma". jawab Destra tersenyum.


Erni memutuskan untuk kembali kerumah karena harus mengurus acara tahlillan atau doa bersama dikediamannya. Erni mencium dengan lembut kening Caca sebelum meninggalkan rumah sakit.


"Kakak cepat sembuh ya, besok Deni kemari lagi bersama dek Defri". seru Deni lirih.


Setelah berpamitan dengan yang lain mereka pun meninggalkan rumah sakit.


Beberapa menit sepeninggal Erni dan Deni, dua orang wanita memasuki ruangan tersebut.


"Selamat sore". sapa wanita yang menggunakan jas putih dengan senyum ramah bersama dengan seorang perawat. Wanita ber jas putih tersebut menghampiri brankar untuk memeriksa kembali fisik pasiennya.


Mereka yang berada dekat dengan brankar tempat tidur Caca memberi ruang agar dokter dan perawat tersebut leluasa memeriksanya.


"Kenapa cucuku belum juga sadarkan diri dokter?". tanya Siska menghampiri dokter yang sedang memeriksa Caca.


"Maafkan kami nyonya, Kecelakaan yang di alami nya mengakibatkan trauma berat sehingga menyebabkan nona Caca dalam keadaan koma". ujar dokter Nana menjelaskan keadaan pasiennya.


Semua yang mendengar penuturan Dokter Nana terkejut kecuali Destra yang lebih dulu mengetahui keadaan Caca.


"Namun tidak perlu khawatir, koma yang dialami nya tidak bersifat permanen. Ini hanya bersifat sementara". Imbuh dokter Nana.


"Sampai kapan Dia akan seperti ini dokter?". tanya Rangga.


"Kami tidak bisa memastikannya tuan". jawab dokter Nana yang ahli dalam bidang Saraf.


"Saya menyarankan agar terus berinteraksi dengan nona Caca seperti dengan mengajaknya berbicara supaya semangatnya kembali pulih. Meskipun nona Caca dalam keadaan koma seperti ini, dia masih bisa mendengar semua yang kita bicarakan". ujarnya.

__ADS_1


Setelah menjelaskan kondisi Caca dan memastikan keadaannya dalam keadaan stabil dokter Nana meninggalkan ruangan tersebut.


Mendengar penjelasan dari dokter, bunda Siska kembali mendekat ke brankar Caca dan diikuti oleh Rangga.


"Ca, ini opung boru sayang, bangun lah pung, opung rindu canda tawamu". seru Siska dengan meneteskan air mata dan terus mencium tangan Caca yang lemah tak bergerak.


"Tulangmu pun ada disini loh. Bangun lah pung". seru Siska. Rangga hanya bisa menepuk - nepuk pelan pundak Siska.


Opung boru digunakan suku batak untuk memanggil oma atau nenek. Opung boru artinya nenek perempuan. Opung Doli untuk menyebut opa atau kakak. Sedangkan Tulang itu artinya Paman.


Destra menghampiri sofa tempat Alki dan juga Anggi berada untuk mencium punggung tangan kedua orang tua nya.


Siska terus berada disisi cucunya dengan membelai belai kepala Caca dengan sangat lembut.


"Rangga, perkenalkan dia tuan Destra anak dari tuan Alki". seru Aldo kepada Rangga.


Destra bangkit dari duduknya menjulurkan tangannya dengan tersenyum kepada Rangga untuk berkenalan. Mereka menyebutkan nama masing - masing setelah saling berjabat tangan dan kembali duduk disebelah maminya.


"Sebaiknya kamu kembali kerumah sayang, agar bisa beristirahat". seru Anggi yang melihat keadaan Destra yang sudah terlihat lelah.


"Izin kan Destra tetap berada disini mami, Destra bisa beristirahat di tempat tidur itu jika Destra lelah". pinta Destra menunjuk tempat tidur king size yang berada diruangan tersebut.


"Pulanglah dan bersihkan dirimu, setelah itu kamu boleh kembali lagi kesini". seru Alki dengan lembut.


Dalam situasi tertentu Alki akan berbahasa formal kepada anak - anaknya bila berada bersama orang lain, berbeda bila mereka dirumah.


"Baiklah papi". jawab Destra tanpa membantah perintah papinya.


Meski berat hati Destra melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan semua yang ada didalam ruangan tempat Caca dirawat.


Sebagai tuan rumah Aldo juga harus kembali kerumahnya karena akan mengadakan acara tahlilan dikediamannya selama 3 malam berturut - turut.


Hanya Siska seorang yang menemani Caca. Sedangkan Rangga ikut kembali bersama Aldo.


*****


Dengan sedikit keberanian yang tersisa Sandra mendorong tubuh Edo supaya menjauh dari dirinya. Melihat ada penolakan dari Sandra membuat Edo tersenyum dan menarik lengan Sandra dengan paksa.


Tarikan paksa yang dilakukan Edo membuat Sandra yang masih duduk di kursi kerjanya terangkat hingga berdiri. Namun Sandra kehilangan keseimbangannya sehingga dengan cepat Edo memeluk tubuh Sandra agar tidak terjatuh.


"Mamaafkan aku". ucap Edo terbata - bata dengan mengalihkan pandangannya kesembarang arah dan melepaskan tangannya dari pinggang Sandra dengan cepat.


Keseimbangan tubuh Sandra yang masih belum terkendali sehingga membuatnya sempoyongan dan menarik kerah kemeja Edo agar tidak terjatuh, namun akibat Sandra menariknya secara mendadak membuat mereka terjatuh di kursi kerja Sandra dengan posisi Edo menimpa Sandra serta bibir mereka bertemu beberapa detik membuat mata Sandra membulat dengan sempurna.


"Astaqfirullah". seru Edo dengan cepat menganggat tubuhnya dari atas tubuh Sandra.


"Mamaafkan aku Sandra, aaku tidak bermaksud...". ucap Aldo terbata - bata setelah dirinya berdiri dan mengalihkan pandangannya kesembarang penjuru.


Sedangkan Sandra terdiam di tempat dengan memegang bibirnya.


"Ciuman pertamaku". guman Sandra pelan namun masih bisa didengar Edo. Sehingga membuat nya kembali menatap wajah Sandra yang masih terpaku dikursi kerjanya dengan mimik wajah sedih.


"Sandra, maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab". seru Edo masih terbata - bata.


Melihat Edo merasa bersalah dan akan bertanggung jawab membuat Sandra tertawa karena melihat Edo sudah salah tingkah.


"Kenapa kamu tertawa". tanya Edo dengan mengerutkan dahinya menatap heran.


"Karena lucu saja tuan dan saya menganggap itu suatu kecelakaan. Dan lagi pula itu semua kesalahan saya karena menarik baju tuan". ujar Sandra.

__ADS_1


"Tapi aku mau bertanggung jawab karena telah mengambil ciuman pertamamu". ucap Edo


"Memangnya tuan akan bertanggung jawab bagaimana?". tanya Sandra tersenyum


"Aku siap menikahimu". jawab Edo santai.


"Ha?". ucap Sandra terperangah.


"Apakah kamu tidak mempercayaiku?". tanya Edo karena melihat Sandra yang hanya terdiam.


"Tidak perlu tuan melakukan itu, anggap saja itu rezeki". jawab Sandra gugup


"Lagi pula itu tidak akan membuatku hamil tuan". imbuh Sandra


Edo membungkuk dengan meletakkan kedua tangannya dikursi Sandra sehingga membuat mata mereka saling bertatap dengan jarak yang sangat dekat.


"Apa perlu aku harus membuatmu hamil terlebih dahulu baru kamu mau menikah denganku?". tanya Aldo berbisik di telinga Sandra.


Hembusan napas Edo ditelinganya membuat Sandra merasa geli dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut dengan kata - kata Edo yang menurutnya sangat ekstrim.


Melihat Sandra yang terperangah dengan wajah yang merona membuat Aldo tersenyum.


Edo meluruskan tubuhnya agar berdiri tegak. Dan memegang lengan Sandra dengan lembut.


"Kita harus bersiap - siap ke pernikahan anak tuan Romi". seru Edo dan menyadarkan Sandra yang masih terperangah.


"Ha iya". ucap Sandra dengan terbata - bata karena rasa grogi yang mendera nya.


"Sebentar tuan". seru Sandra dan melepaskan tangannya dari cengkraman Edo. Dan memasukkan barang bawaannya kedalam tas jinjingnya.


Edo kembali menggenggam tangan Sandra disaat mereka melangkah untuk segera meninggalkan gedung Nugraha.


"Tuan, sebaiknya kita berjalan seperti biasa saja". seru Sandra dengan mencoba melepaskan tangannya dari Edo.


Bukannya melepaskan, Edo semakin erat menggenggam tangan Sandra dan membawanya melangkah.


Rasa takut seketika menyelimuti fikirannya ketika meninggalkan ruangannya. Sandra terus memperhatikan memperhatikan sekeliling kantor, takut ada yang melihat mereka dengan bergandengan tangan sebab bisa membuat karyawan lain bergunjing tentang nya.


Edo merogo saku celananya meraih benda pipih karena merasa ada yang menghubunginya tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Sandra dengan terus melangkah menuju lift.


"Assalamualaikum bro". seru Edo ketika sudah berada didalam lift khusus dan melepas tangannya dari Sandra untuk meletakkan salah satu jarinya di pringerprint untuk mengoperasikan lift tersebut dan kembali memegang tangan Sandra yang berada disebelahnya.


"Waalaikumsalam, lagi dimana kak?". tanya Destra


"Gue baru akan keluar kantor bro". jawab Edo santai.


"Bagaimana keadaan calon adik ipar gue?".


"Alhamdulillah dia telah melewati masa kritisnya". jawab Destra yang berada diperjalanan pulang dari rumah sakit.


"Syukurlah, maaf ya bro, gue belum sempat kerumah sakit untuk menjenguk calon adik ipar. Ayah meminta gue untuk tetap menghadiri acara penikahan anak tuan Romi".


"Tidak apa - apa brother. Kakak pergi dengan siapa ke acara tuan Romi?". tanya Destra.


"Dengan calon kakak ipar loe". jawab Edo santai dengan melihat kearah Sandra. Jawaban Edo membuat Sandra menundukkan kepalanya agar wajah merona nya tidak terlihat oleh Edo.


"Itu bukan kamu Sandra!. jangan kepedean deh, mana mungkin tuan Edo yang tampan dan gagah mau dengan wanita biasa sepertimu". guman Sandra dalam hati untuk menyadarkan dirinya sendiri.


Ting....pintu lift terbuka disaat mereka telah berada dilobby gedung tersebut. Dengan cepat Sandra melepas paksa tangannya dari cengkraman Edo.

__ADS_1


__ADS_2