
Dirumah sakit tempat dirawat Caca yang di jaga oleh Destra, Aldo dan juga Rangga. Subuh itu Destra melaksanakan kewajibannya dimushola yang tersedia di rumah sakit tersebut.
Sebelum dirinya kembali kerumah, Destra menyempatkan waktunya untuk membaca ayat suci Al-qur'an disebelah Caca.
Suara merdu nya mengisi ruangan hening tersebut sehingga membangunkan Aldo dan Rangga yang masih terlelap karena kelelahan mengurus pemakaman Ahmad dan Ratna.
Aldo dan Rangga terkagum - kagum mendengar suara merdu Destra melantunkan ayat suci Al-qur'an. Mereka pergi meninggalkan Destra menuju ke mushola untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat islam.
Beberapa menit kemudian Destra mengakhiri mengajinya setelah melihat Aldo dan Rangga kembali memasuki ruangan tersebut.
Destra mengangkat kedua tangannya memanjatkan do'a kesembuhan Caca seusai mengaji.
"Om!...Destra balik kerumah dulu ya". seru Destra menghampiri Aldo dan Rangga.
"Baiklah tuan Destra, terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk membantu kami menjaga Caca dengan sangat baik". jawab Rangga
"Mari saya antar tuan Destra?". tawar Aldo
"Tidak Om, Destra naik taxi saja, lebih baik Om disini saja". jawab Destra.
"Baiklah tuan Destra". jawab Aldo.
"Saya pulang Om Rangga, Assalamualaikum". pamit Destra.
"Waalaikumsalam". sahut Aldo dan Rangga.
Aldo menghantarkan Destra keluar rumah sakit hingga memasuki taxi yang selalu mangkal dekat rumah sakit tersebut.
Sepeninggal Destra, Aldo kembali ke ruang rawat Caca yang di jaga oleh Rangga.
"Bro, sebenarnya apa hubungan Caca dengan Destra. Kenapa dia selalu setia merawat Caca?". tanya Rangga penasaran semenjak melihat Destra yang mau merawat Caca dengan sangat baik.
Aldo menarik napas nya dalam - dalam sebelum bercerita.
"Sebenarnya kak Ahmad dan juga mbak Ratna telah menerima tuan Destra sebagai calon suami Caca. Dengan syarat untuk tidak memberitahukan Caca tentang perjodohan itu sampai Caca menyelesaikan sekolah, agar tidak mengganggu belajarnya". ujar Aldo dengan mengecilkan suaranya agar tidak didengar Caca. Aldo dan Rangga sudah mendengar cerita tentang respon Caca ketika di ajak berbicara oleh Devi ketika mereka kembali dari acara tahlilan yang di adakan di rumah Aldo.
Rangga manggut - manggut mendengar penjelasan Aldo.
"Bagaimana dengan Caca bro, apakah dia suka dengan Destra?". tanya Rangga
"Kami tidak tahu akan itu. Sepengetahuan kami Caca selalu mengatakan jika dia tidak akan mau dekat dengan laki - laki yang bukan mahrom nya. Dan juga Caca tidak suka menjalin hubungan dengan laki - laki karena takut mengganggu konsentrasi belajarnya". jawab Aldo.
"Mantap kali keponakan kita ini ya kan?". ucap Rangga
"Terus, apa keputusan si Destra?".
"Tuan Destra mengatakan akan selalu bersabar menunggu Caca hingga dewasa dan akan tetap setia sampai Caca menerima nya". jawab Aldo.
"Mak, mantap kali ah. Kalau kau lihat kek mana si Destra itu bro?. Bagus ngak dia?". tanya Rangga
"Setahu aku sih dia memang anak yang baik bro, sangat menyayangi keluargnya. Selain taat beragama dia juga anak yang cerdas bro". jawab Aldo
"Kalau kesetiaan?". tanya Rangga.
"Wallahu a'lam. Setahu aku dia juga belum pernah punya kekasih. Jadi ngak bisa aku ketahui akan kesetiaannya". jawab Aldo dan Rangga kembali manggut - manggut.
"Bro, sebelumnya aku minta maaf nih ya?". ucap Rangga dan menarik napas dalam sebelum menyampaikan rencananya.
"Aku dan bunda berencana ingin membawa Caca ke medan. Kau tahu lah Bunda sayang kali sama Caca. Kek mana menurut mu bro?". tanya Rangga yang berharap persetujuan Aldo.
Aldo berpikir sejenak untuk mengambil keputusan yang tepat untuk menanggapi rencana Rangga dan Siska.
"Meski dengan berat hati tapi aku menyetujui rencana kalian . Jujur aku juga bingung dan ngak sanggup kalau dia terbangun dan bertanya tentang kak Ahmad dan mbak Ratna". jawab Aldo lirih dengan suara yang sangat pelan sehingga hanya Rangga saja yang dapat mendengarnya.
"Aku juga bingung bro, tapi menurutku biar kami bawa dulu dia ke medan seolah - olah dia lagi berlibur sekolah disana. Dan biarkan kami nanti yang akan memberitahukannya secara perlahan. Dan selanjutnya kami tidak akan memaksanya untuk tetap tinggal bersama kami dan akan memberi kebebasan sama dia akan melanjutkan sekolah dimana". ujar Rangga.
"Terimakasih bro". seru Aldo dengan menepuk lutut Rangga pelan yang duduk tidak jauh darinya.
"Kalau bisa rencana kita ini jangan sampai diketahui oleh tuan Destra bro". seru Aldo lagi.
"Memangnya kenapa?". tanya Rangga heran.
"Dia pasti akan menolak keras rencana ini. Dia sangat mencintai keponakan kita itu". ucap Aldo dengan mengrahkan pandangannya ke arah tempat Caca berbaring.
__ADS_1
"Loe juga harus tahu bro, sifat tuan Destra tidak akan melepas jika sudah menjadi incarannya ". imbuh Aldo
"Aih mak, mantap kali ah. Masuk pulak sifat pebisnis dia ya". ucap Rangga.
"Sebab itu kita harus merahasiakan ini dari dia, aku takut tuan Destra akan menggunakan kekuasaannya untuk membatalkan rencana kita". ujar Aldo
"Tapi tenang saja tidak lama lagi tuan Destra akan kembali lagi ke amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Sekaligus kita tunggu luka Caca sedikit lebih baik". Imbuh Aldo.
"Haa pas lah itu, kita sembunyikan si Caca biar kita tahu kesetiaannya bertahan sampai dimana. Kek mana menurutmu bro?". Rangga
"Cocok banget". jawab Aldo dengan mengacungkan jempolnya.
"Kapan dia berangkat bro?". tanya Rangga
"Kalau tidak salah 7 atau 8 hari lagi". jawab Aldo
"Terus kek mana nanti kau menghadapi tuan Alki?, bisa tamat pekerjaanmu bro". tanya Rangga yang mengkhawatirkan pekerjaan Aldo.
"Masalah tuan Alki biar saya jelaskan alasan kita membawanya ke medan. Aku yakin dia pasti akan mengerti". jawab Aldo.
"Kau yakin bro?". tanya Rangga dan mendapat anggukan dari Aldo.
"Ok kita rundingkan kembali setelah dia berangkat saja bro". seru Rangga dengan menepuk pelan pundak Aldo.
*****
Sesampainya dirumah Destra tidak menemukan kedua orang tuanya. Meski weekend mami nya akan tetap bangun cepat untuk menyiapkan sarapan mereka.
"Sudah pulang Den". sapa bik Siti ketika melihat keberadaan Destra.
"Iya bik, mami mana bik?". tanya Destra
"Nyonya dan Tuan lagi keluar sebentar Den". jawab nya
"Den Destra mau sarapan dulu?". tanya bik Siti
"Nanti saja deh bik, Destra belum lapar". jawab Destra dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
"Baik Den". seru bik Siti
Bik Siti mempercepat langkahnya menghampiri Anggi yang baru tiba.
"Den Destra telah kembali Nyonya". seru bik Siti
"Sudah berapa lama bik?". tanya Anggi dan terus berjalan memasuki rumah besar tersebut.
"Sekitar satu jam yang lalu Nyonya". jawabnya.
Anggi melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Dia sudah sarapan belum bik?". tanya Anggi
"Belum Nyonya, den Destra bilang belum lapar Nyonya". jawab bik Siti membuat Anggi geleng - geleng kepala dan mempercepat langkahnya menaiki anak tangga untuk menuju kamar Destra.
Masih beberapa anak tangga Anggi lalui Destra sudah keluar dari kamarnya membuat Anggi menghentikan langkahnya.
"Mami sama Papi dari mana saja?". tanya Destra yang menuruni anak tangga.
"Dari apartment kakak kamu". jawab Anggi jujur.
"Memangnya kak Edo ngak pulang kerumah Mam?". Tanya Destra heran.
"Pulang kok sayang!. makanya kami berangkat bareng tadi kesana". jawab Anggi santai meski dirinya berbohong.
Destra mengerutkan dahinya mendengar penuturan maminya yang tidak logika.
"Kamu kenapa belum sarapan sayang?". tanya Anggi mengalihkan pembicaraan dan melangkah menuju meja makan.
"Apa yang terjadi dengan kak Edo Mam?". tanya Destra balik karena curiga ada yang ditutup - tutupi orang tuanya.
"Tidak ada terjadi apa - apa. Kakak loe hanya ingin segera menikah". jawab Alki santai.
"Alhamdulillah akhirnya mami dan papi ngak punya bujang lapuk lagi". seru Destra dan mendudukkan bokong nya di kursi meja makan.
__ADS_1
"Tapi kenapa mendadak banget ya?". tanya Destra
"Kakak loe sudah ngak sanggup menyandang status bujang lapuk". jawab Alki santai.
"Bukan itu saja, Edo ingin kamu menyaksikan pernikahannya sebelum kamu kembali ke amerika". jawab Anggi yang telah berada di meja makan menyiapkan sarapan Alki.
"Sekarang kak Edo dimana Mam?".
"Masih di apartment nya". jawab Anggi. Destra hanya ber oh ria saja.
"Selamat pagi semua!". seru Devi yang menghampiri mereka di meja makan dan bergabung untuk menyantap sarapan.
"Pagi sayang!". jawab Anggi dan Alki kompak.
Destra hanya murung ketika menyantap sarapannya seperti tidak berselera karena ada yang dipikirkannya. Setelah tidak sanggup lagi untuk memendamnya akhirnya Destra mengutarakan semua unek - unek yang ada dalam pikirannya.
"Mami, Papi, Destra ingin berkuliah disini saja ya?". ucap Destra ragu. Dan membuat Anggi serta Alki menghentikan sarapannya dengan saling memandang satu sama lain mendengar Destra yang kembali berubah pikiran.
"Mami tidak setuju, kamu harus tetap melanjutkan kuliah kamu di amerika". ucap Anggi tegas.
"Tapi Destra ingin merawat Caca Mam".
"Kenapa kamu seperti orang yang tidak ada teguh pendirian gitu sih?. Kalau mengenai Caca biar Mami yang menjaganya". ucap Anggi.
"Loe seperti ingin merawat istri loe saja, di anggap sama Caca saja kagak". sindir Alki dan melanjutkan sarapannya.
"Namanya juga usaha papi". jawab Destra
"Tetapi tidak dengan mengorbankan cita - cita loe yang ingin tetap kuliah di amerika hanya karena ingin merawat Caca. Kecuali dia sudah jadi istri loe, hal itu pantas loe lakukan sebab sudah menjadi tanggung jawab loe untuk merawat dan menjaganya". ujar Alki
"Jika memang loe ditakdirkan berjodoh sama dia pasti akan dipertemukan". imbuh Alki.
"Loe harus tetap melanjutkan kuliah di amerika tidak ada bantahan". imbuh Alki tegas.
"Mami setuju dengan apa yang di katakan papimu. Kamu lanjutkan kuliah kamu di amerika, mami usahan setiap saat akan memberi kabar kamu tentang perkembangan Caca". ucap Anggi menimpali kata - kata Alki.
"Baiklah mami". jawab Destra dengan wajah tak bersemangat.
"Loe harus semangat donk, percuma loe cerdas kalau tidak bisa menyelesaikan kuliah loe lebih cepat". ucap Alki.
"Kak, Devi juga akan sering - sering melihat nya setelah kakak berangkat nanti". ujar Devi menyemangati Destra.
"Terimakasih ya dek". jawab Destra.
"Gue heran sama loe, gue lihat loe seperti memaksakan Caca untuk menerima loe. Sedangkan loe tahu dia ngak mau terganggu dengan sekolahnya. Dan loe juga tahu dia tidak mahu dekat dengan laki - laki yang bukan mahromnya. Bagaimana caranya loe untuk mendekatinya coba?". ucap Alki mengingatkan anaknya.
"Tapi Destra tidak bermaksud memaksa Caca papi". bantah Destra.
"Gue tahu sifat loe, dari kecil loe tidak akan melepas yang sudah menjadi incaran loe, apa lagi sudah jadi milik loe". ujar Alki
"Buktinya hotel gue saja loe kagak mau lepas padahal gue sudah minta tolong sama loe demi perdamaian orang tua loe". ucap Alki lagi mengingat tentang pertahanan Destra yang tidak ingin melepaskan hotel Alki setelah memenangkan pertaruhan. Sedangkan Alki pada saat itu sedang mendapat kecaman dari Anggi istrinya.
"Itu jauh beda lah papi". jawab Destra.
"Beda dari mana?, loe tahu hotel itu juga pasti akan jadi milik loe, tapi loe kagak mau bantu gue waktu itu, kejam loe". ucap Alki
"Dan gue kagak mau itu terjadi dengan Caca. Karena loe di tolak sama dia bisa - bisa loe akan berbuat nekat". imbuh Alki disela - sela nya menyantap sarapannya.
"Ya ngak mungkin lah, Destra sayang dia papi". jawab Destra
"Karena sayang loe itu yang akan membuat loe jadi nekat". seru Alki dan menyelesaikan sarapannya.
"Lebih baik lanjutkan kuliah loe yang bener, dan setelah Caca lulus sekolah loe ajak dia taaruf,". Imbuh Alki tegas dan berdiri dari duduknya.
Mendengar kata taaruf membuat mata Destra berbinar dan berdiri menghampiri Alki yang akan meninggalkan meja makan.
Destra memeluk Alki dan menaburi pipi alki dengan ciuman.
"Thank's Papi, telah mengingatkan Destra tentang taaruf". ucap Destra.
Didalam hati Anggi menjadi sangat lega melihat Destra yang kembali bersemangat untuk melanjutkan kuliahnya diamerika.
"Sudah sana, selesaikan sarapan loe. Gue kagak mau istri gue cemburu". ucap Alki melerai pelukan Destra dan melirik genit kearah Anggi.
__ADS_1
Mendapat lirikan dari Alki, Anggi berpura - pura tidak merasa dengan ucapan Alki yang ditujukan untuknya.
Sedangkan Destra hanya cengengesan mendengar celoteh papinya dan melanjutkan sarapannya dengan hati lega.