
Setelah mengucapkan salam Anggi melangkah menuju mobilnya yang telah terbuka.
Kepergian Anggi menyisakan banyak pertanyaan yang ada di pikiran Caca yang tidak mampu ia pendam.
"Bunda, tante Anggi itu siapa sih?".
"Istri dari tuan Alki". jawab Ratna
"Terus ngapain kesini Bun?"
"Bersilaturahmi sayang". jawab Ratna
"Oh". Jawab Caca
"Pergilah kekamarmu sayang sebentar lagi Ashar ". seru Ratna supaya Caca tidak banyak pertanyaan yang bisa membuatnya bingung harus jawab apa.
Perintah Ratna dianggukan oleh Caca dan segera melangkah kekamarnya.
*****
Sesampainya di hotel Anggi di sambut oleh Alki dan Destra yang telah berada di ruang tamu kamar tersebut.
"Sayang dari mana saja". tanya Alki dengan menghampiri Anggi yang berjalan memasuki ruangan tersebut.
"Dari rumah calon menantu". jawab Anggi dengan mendudukkan bokongnya di sofa tamu.
"Mami ngak macam - macam kan?". tanya Destra.
"Macam - macam bagaimana maksud kamu?". tanya Anggi heran
"Mana tahu mami membatalkan perjodohan kami". Destra
"Ya ngak mungkinlah, malah mami lagi memikirkan bagaimana caranya supaya cepat menjadikan dia menantu mami". jawab Anggi
"Destra juga mau secepatnya". ucap Destra tersenyum lebar
"Selesaikan dulu kuliah kamu dan Caca menyelesaikan sekolahnya". seru Anggi
"Selesai sekolahnya, Destra langsung nikahi Caca ya?". tanya Destra dengan gembira.
"Tergantung". jawab Anggi santai.
"Tergantung gimana maksud mami?". tanya Destra
"Tergantung Caca mau tidak nya sama kamu". jawab Anggi
"Ya harus mau lah, kalau dia sampai ngak mau, Destra pasti culik dia". jawab Destra santai.
"Enak saja kamu maksa anak orang". Ucap Anggi
"Maksud loe Mau bawa dia kawin lari ?". tanya Alki.
"Terpaksa". jawab Destra.
"Loe jangan nekat gitu, kawin lari ngak ada enaknya". ucap Alki
"Di enak - enakin lah, yang penting Destra harus dapetin dia". jawab Destra asal.
"Jangan memaksakan hak asasi manusia loe". seru Alki
"Destra tidak perduli, pokok nya Destra hanya akan menikah dengan Caca seorang titik". ucap nya dan melangkah kekamarnya dengan meninggalkan kedua orang tuanya.
Anggi dan Alki hanya geleng - geleng kepala melihat keras pendirian anak mereka.
"Bagaimana tuh yank?". tanya Alki kepada istrinya.
"Mami juga bingung".
"Ngak mungkin kita harus memaksakan Caca supaya menikah dengan Destra". ucap Alki.
"Mami juga sangat menginginkan Caca jadi menantu kita, tetapi tidak dengan cara memaksanya". seru Anggi lirih.
"Sudah mami tidak usah banyak berpikir, biar papi mencari jalan keluarnya. Lagi pula masih ada waktu 2 tahun lagi untuk kita mencari solusinya". ucap Alki menenangkan istrinya.
****
__ADS_1
Keesokan harinya disekolah tempat Caca menimba ilmu terlihat murid - murid berlarian keluar dari lingkungan sekolah untuk segera pulang kerumah masing - masing.
"San, kita ke cafe yok". ajak Caca
"Tumben loe yang ngajak, biasanya loe mesti di paksa baru ngikut". ucap Santi
"Iya benar loe San, apa loe sakit?". tanya Rani dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Caca.
"Gue sehat". jawab Caca dengan menepis pelan tangan Rani
"Terus ada apa gerangan yang terjadi dengan teman gue yang cantik ini dan juga cerdas tingkat dewa ini". ucap Santi lebay
"Gue lagi ingin membuktikan sesuatu". jawab Caca
"Bukti apaan Ca?". tanya Rani
"Sudah ngak perlu banyak tanya, yang penting loe 2 ikut gue dan gue yang traktir".
"Wah wah wah tumben banget nich orang, sampai mau traktir kita dua". seru Santi
"Loe ngak buang tabiat kan Ca?". Rani
"Huss, mulut loe di jaga". Santi.
Caca berjalan meninggalkan ke 2 temannya menuju cafe dengan semangat tanpa memperdulikan celoteh teman - temannya.
"Cicaaak kami ikut". Teriak Santi dengan berlari mengejar Caca dan di ikuti oleh Rani.
Seperti biasa sesampainya di cafe mereka mencari tempat duduk dan segera di samperi oleh seorang pelayan dengan membawa buku menu.
"Beneran loe yang bayar nih Ca?" tanya Santi lagi untuk memastikan.
" iya ". Jawab Caca cepat.
"Dia ulang tahun kagak, kok traktir kita ya?". guman Rani pelan namun masih bisa di dengar Caca dan Santi.
"Sudah ngak usah banyak tanya, sebelum gue berubah pikiran nih". ucap Caca
Dengan Cepat Rani dan Santi memesan makanan yang paling mahal di cafe tersebut. Karena bagi Santi dan Rani itu sesuatu yang langka terjadi.
Pelayan cafe tersebut mengulang kembali semua yang dipesan mereka.
"Gue minum kelapa bulat murni ya, sama jus jeruk". ucap Caca lagi
Rani dan Santi terperangah mendengar semua pesanan Caca yang di anggap over dosis.
"Loe ngak salah Ca?". tanya Rani
"Loe ngak makan berapa hari Ca?". tanya Santi.
"Lima hari". jawab Caca santai.
"Lima hari dari hongkong, tadi loe dikantin sekolah sudah makan dua kali". ucap Santi
"Lambung loe masih muat Ca?". tanya Rani.
"Masih".
"Banyak bener lambung loe Ca". seru Rani.
"Lambung gue cuma satu, laci - laci nya yang banyak". jawab Caca santai
"Sudah seperti lemari saja lambung loe". sahut Santi.
"Lebih banyak laci - laci gue". jawab Caca santai.
Sekitar 15 menit pesanan mereka sudah terhidang semua di atas meja. Hingga membuat meja mereka menjadi sempit karena dipenuhi oleh pesanan mereka.
Rani dan Santi menelan ludah mereka masing - masing melihat makanan yang mereka anggap menggiurkan lidah mereka.
"Loe dapat undian apa Ca?, banyak bener jajan loe?". tanya Santi
"Gue lagi mendapat keberuntungan saja". Ucapnya sambil mulai menyantap makanan yang telah hidangan semua.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang terus memperhatikannya dari dalam ruangan dengan menggunakan cctv di cafe tersebut dengan senyum - senyum.
__ADS_1
"MasyaAllah, ingin rasanya aku segera menikahimu". gumannya pelan yang tak lain adalah Destra Alkana Nugraha.
Destra beranjak dari tempat duduk nya dan melangkah menuju tempat Caca dan teman - temannya berada.
"Assalamualaikum". ucapnya dan menarik kursi kosong yang berada di sebelah Caca tanpa meminta persetujuan dari Caca terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam". jawab Caca disela menyantap hidangannya.
Melihat ada seseorang disebelahnya Caca sotak membesarkan bola matanya ke arah Destra.
Sedangkan Rani dan Santi sudah membuka mulut nya terperangah melihat kehadiran Destra yang terlihat sangat tampan apa lagi Destra tersenyum ramah terhadap mereka.
"Ngapain kakak duduk disini?". tanya Caca ketus dengan tatapan sinis dan menggeser kursi nya sedikit menjauh dari Destra.
"Ingin makan bersama dengan calon istriku". jawab nya to the point
Melihat tatapan Caca yang tajam, Destra membalas nya dengan tatapan teduh dibarengi dengan senyuman.
"Memang nya siapa calon istri kakak?". tanya Caca ketus.
"Kamu!, Caca salsabila putri wijaya binti Ahmad wijaya". jawab Destra dengan lugas
"So sweet". ucap Rani dan Santi serentak.
"Jangan mimpi kak, ini masih siang". ucap Caca masih dengan nada ketus.
"Siang dan malam aku selalu mimpiin kamu". jawab Destra santai. Dan mengangkat tangan kanan nya untuk memanggil pelayan. Dengan cepat pelayan cafe tersebut menghampiri Destra.
"Iya bos". tanyanya.
"Tolong ambilkan piring ya, saya ingin makan dengan calon istriku ini". ucap Destra menunjuk Caca dengan gerakan matanya.
"Siap bos". Jawab pelayan tersebut dan segera meninggalkan meja tersebut untuk mengambilkan piring makan untuk Destra.
"Kakak". Teriak Caca dengan menatap sinis ke arah Destra.
"Iya sayang". jawab Destra lembut.
"Kakak apa - apaan sih". tanya Caca kesal
Tidak menunggu lama piring yang diminta Destra tiba di hadapannya. Dan tanpa rasa sungkan Destra mengambil nasi yang tersedia di hadapannya.
"Kamu makan petai juga Ca?, kakaki juga suka". ucap Destra
"Ngak tanya". Ucap Caca
"Mengapa kakak mengambil nasi pesanan Caca?". tanya Caca dengan nada ketus ketika Destra mengambil nasi dari wadah yang Caca pesan.
"Karena calon istri ku yang sudah memesan nya". jawab Destra santai yang tetap mengambil nya.
"Berarti loe pesan banyak untuk kak Destra juga ya Ca?". tanya Rani polos.
"Bukan". jawab Caca cepat.
"Iya". jawab Destra cepat.
Jawaban yang berbeda namun bersamaan.
"Jangan kepedean deh kak". Ucap Caca kesal.
"Memangnya kamu sanggup menghabiskan semua ini Ca?". tanya Destra
"Sanggup". jawab Caca santai.
"Ca, makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang". Ucap Destra dengan sangat lembut.
Perkataan Destra sontak menghentikan makan Caca dan meninggalkan meja persegi empat itu untuk menuju wastafel yang tidak jauh dari meja mereka.
Destra tersenyum melihat Caca yang dengan segera mengakhiri makannya. Sedangkan Destra menyantap makannya dengan santai.
"Kak Destra, apa benar Caca calon istri kakak?". tanya Santi
"Ya bener lah". jawab Destra santai. Jawaban Destra membuat Santi dan Rani menutup mulut mereka dengan tangan masing karena rasa terkejut mereka.
Selesai mencuci tangan, Caca kembali lagi ke tempt dimana Rani dan Santi berada.
__ADS_1