
Hi semua yang pernah nampak dan hanya penampakan saja. Maafkan author yang lemah ini ya.
Berhubung yang di hubungkan tidak dapat terhubung sehingga hubungan jadi tidak terhubung. ☺☺☺☺☺
Kali ini author sedikit akan memasukkan logat medan. Jadi harap dimaklumkan jika ada kesalahan ya.
Maklumlah author ini hanya lah author gadungan alias pemula.🤭🤭🤭. Di bantu LIKE nya ya. Di komen juga ya. Mana tahu bisa kaya aku nya. 🤭🤭🤭.
SELAMAT MENIKMATI BAGI YANG MINAT🥰🥰
"Kak, Devi ikut ya kerumah sakit". seru Devi yang melihat Destra akan kembali meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
"Devi bosan kak dirumah sendirian, tadi mami dan papi sempat balik tapi sebentar saja kak ". Imbuh nya lagi dengan mimik sedih.
Melihat Devi yang terlihat sedih membuat Destra tidak tega untuk meninggalkannya.
"Ya sudah ayok". jawab Destra dan melangkah keluar rumah. Devi loncat kegirangan seperti anak kecil yang akan dibawa jalan - jalan.
Kali ini Destra meminta supir papinya pak Agus untuk mengemudikan mobil karena merasa dirinya cukup lelah.
Selama perjalanan mereka kerumah sakit, Devi rerus memperhatikan wajah Destra yang terlihat murung.
"Kakak kenapa murung?, apa terjadi sesuatu pada Caca kak?". tanya Devi
"Dia koma dek". jawab Destra lirih. Pak Agus yang mendengar kabar Caca koma membuat nya terkejut. Begitu juga dengan Devi.
"Non Caca koma den?". tanya Agus yang berada di depan kemudi dengan melihat Destra melalui kaca spion untuk memastikan dengan apa yang didengarnya.
"Iya pak Agus". jawab Destra
"Yang sabar ya den, Insyaallah dia pasti kuat den". seru Agus yang masih fokus mengemudi.
"Amiinnn, terimakasih pak Agus". seru Destra.
Sesampainya dirumah sakit, Destra langsung membawa Devi menuju ruangan Caca dirawat.
Tidak lupa Destra mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan tersebut yang hanya di jawab Anggi dan Siska saja.
"Yang lain pada kemana mami?". tanya Destra dan menghampiri kedua wanita tersebut dan mencium punggung tangan wanita itu bergantian.
"Tahlilan dirumah Aldo sayang". jawab Anggi. Destra hanya ber oh dan manggut - manggut saja.
Sejak memasuki ruangan tersebut Devi terus memperhatikan brankar tempat Caca berbaring lengkap dengan alat - alat medis. Wajah Caca sedikit lebih sulit untuk di lihat karena ada perban - perban kecil dibagian wajahnya dan juga di tutup dengan alat bantu pernapasan.
"Kamu kesini juga sayang?, Devi sini duduk dekat mami". ucap Anggi mengalihkan pandangannya dan melangkah menuju maminya dengan mencium punggung tangan maminya dan juga Siska.
"Dia anak perempuan kalian?". tanya Siska
"Iya bu, namanya Devi". jawab Anggi
"Cantik ya". ucap Siska tersenyum
__ADS_1
"Berapa usia mu sayang?". tanya Siska kepada Devi
"16 tahun Oma". jawab Devi.
"Berarti seumuran lah kau sama si Caca". ujar Siska.
"iya Oma". jawab Devi.
Devi terus saja melihat kearah tempat Caca berbaring. Ingin rasanya Devi melihat gadis pujaan kakak nya dari jarak dekat.
"Mami, boleh tidak Devi lihat Caca kesana". ucap Devi sedikit berbisik kepada Anggi. Anggi menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui permintaan Devi. Devi memanyunkan bibirnya karena maminya tidak mengizinkannya.
"Sudah makan kau Destra?". tanya Siska
"Destra kurang selera Oma". jawabnya
"Kau jangan begitu, nanti kau bisa sakit. Makanlah kau dulu". seru Siska
"Kamu belum makan?, tadi siang kamu makan ngak nak?". tanya Anggi. Destra menggelengkan kepalanya untuk menjawab maminya.
"Astaqfirullah Destra". tanya Anggi dengan rasa keterkejutannya.
"Destra ngak apa - apa mami!". seru Destra meyakinkan Anggi.
"Ngak apa - apa gimana?, sudah jelas wajah kamu pucat begitu". ucap Anggi sedikit kesal melihat Destra yang tidak menjaga kesehatan.
Dengan segera Anggi keluar ruangan menghubungi pak Agus untuk membelikan makanan untuk Destra.
"Kenapa kau bisa pucat begitu?". tanya Siska
"Ku dengar dari si Aldo, kau yang mendonorkan darah untuk Caca. Betul kah itu?".
"Iya Oma, Kami sama - sama B negatif". jawab Destra.
"Subhanallah". seru Siska
"Terimakasih ya Destra sudah mau mendonorkan darah untuk Caca. Oma tahu golongan darah macam kalian cukup langka". seru Siska
"Syukur Alhamdulillah kau golongan darah yang sama, kalau tak ada kau kek mana la nasip cucuku". ucap Siska dengan menitikkan air matanya.
Siska menghampiri Destra lebih dekat dan mencium seluruh wajah Destra dengan terus mengucapkan terima kasih berulang - ulang.
"Itu bukan karena Destra oma, melainkan karena Allah yang punya Kuasa oma". jawab Destra.
"Allah yang punya Kuasa kuasa untuk memberi pertolongan Nya melalui kau, jadi Oma wajib berterimakasih sama kau". ujar Siska.
"Iya Oma".
"Tapi janganlah sampai kau tak makan. Itu bisa bahaya untuk kesehatanmu". ucap Siska menasehati Destra.
"Iya oma, Destra minta maaf". jawab Destra dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
"Pantas lah mami mu marah kali ku lihat". ujar Siska. Destra hanya tersenyum mendengarnya.
"Oma, boleh tidak Devi lihat Caca lebih dekat". ucap Devi ketika melihat maminya keluar.
"Ya boleh la, lihat lah sana". jawab Siska dan melangkah memasuki toilet yang juga berada dalam ruangan yang sama.
Mendapat persetujuan dari Siska dengan segera Devi menghampiri Caca yang terbaring di brankar.
"Ca, perkenalkan nama gue Devi". ucap Devi
"Loe mau ngak jadi sahabat gue Ca?. seru Devi memelas.
"Kalau loe kagak mau jadi sahabat gue, temenan juga ngak masalah Ca. Temen - temen gue kagak ada yang tulus ama gue Ca". ujar Devi lirih.
"Loe mau ya Ca jadi temen gue?". ucap Devi dengan menundukkan kepala nya sehingga matanya mengarah ke tangan Caca yang terpasang jarum impus.
Ucapan Devi seakan didengar oleh Caca, tiba - tiba saja jari kelingking nya bergerak lemah membuat Devi terkejut ketakutan dan sontak berlari ke arah Destra dengan memegang erat lengan kakaknya.
"Kenapa dek?". tanya Destra melihat Devi ketakutan.
"Jari kelingking Caca gerak kak". jawab nya ketakutan.
Dengan segera Destra melangkah mendekat ke brankar Caca untuk memastikan apa yang dikatakan Devi. Dan menekan tombol didekat kepala Caca untuk memanggil dokter.
Beberapa detik saja dokter telah berada si tempat.
"Periksa dia dokter, adik saya melihat jari kelingkingnya bergerak". ujar Destra.
Dan dengan sigap dokter Nana memeriksa Caca dengan alat stetoskop yang selalu ia bawa.
"Ada apa Destra?". tanya Siska heran karena melihat kehadiran dokter Nana dan menghampiri mereka begitu juga dengan Devi.
"Devi bilang jari kelingkingnya bergerak Oma". jawab Destra.
"Tadi Devi ajak Caca kenalan aja kok Oma". seru Devi lirih dan menundukkan kepalanya karena merasa dirinya berbuat salah.
"Itu suatu hal yang baik jika nona Caca bisa merespon ucapan kita. Sebab itu saya menganjurkan untuk sering berinteraksi dengannya". ujar dokter Nana.
"Alhamdulillah". ucap Siska dan Destra kompak.
"Berarti dia tidak apa - apa kan dokter?".tanya Siska.
"Tidak ada masalah nyonya, ini adalah kabar baik. Baiklah nyonya, saya permisi dulh". doketer Nana.
"Apa rupanya yang kau bilang sama Caca nak ku". tanya Siska tersenyum
"Devi minta Caca supaya mau jadi teman Devi oma". jawab nya lirih dengan menundukkan kepalanya.
"Sudah jangan sedih gitu kau, berarti dia mau jadi temanmu makanya digerakkannya jari nya". ujar Siska dengan memeluk Devi.
"Benar kah?". tanya Devi sumringah dengan melepas pelukan Siska. Dan di anggukkan Siska.
__ADS_1
Anggi kembali ke dalam ruangan dengan membawa berbagai makanan dan buah - buahan.
Anggi menyiapkan makanan tersebut dimeja makan, agar Destra segera makan.