
Ahmad kembali menuju ke kediamannya dengan berjalan kaki setelah melakukan shalat magerib dan isya di masjid. Jarak masjid dengan rumahnya memang tidak jauh terlalu jauh.
"Assalamualaikum". Salam Ahmad disambut oleh 2 wanita yang sangat di cintainya.
"Waalaikumsalam". Sahut bunda Ratna dan Caca secara kompak. Mereka beranjak untuk menyambut Ahmad yang baru tiba dari masjid dan mencium punggung tangan lelaki itu secara bergantian.
Melihat ke 2 wanita yang sangat disayanginya menyambutnya, senyum bahagia Ahmad wijaya terpatri di wajahnya.
Merekapun melangkah memasuki rumah nya dengan bersama - sama.
"Kalian sudah Shalat?". Tanya Ahmad kepada 2 wanita tersebut.
"Sudah dong". Jawab mereka kompak.
Senyum kembali menghiasi wajah Ahmad karena mendengar kekompakan kedua wanita itu dalam menjawab pertanyaannya.
Ahmad kembali melanjutkan langkah memasuki kamarnya untuk meletakkan perlengkapan Shalat nya. Dan kembali keluar dari kamar tersebut.
"Ayok bang kita makan". Ajak Ratna untuk segera makan malam yang sudah disiapkan oleh Ratna dan Caca. Dan di anggukkan oleh Ahmad sambil berjalan menuju meja makan.
Dengan telaten nya Ratna mengambilkan makanan untuk suami nya tersebut dan meletakkannya dihadapan Ahmad yang sudah duduk.
Mereka pun menikmati makanan tersebut dengan tenang tanpa ada perbincangan sama sekali. Selesai makan Ahmad pun menuju ruang keluarga untuk bersantai dengan membaca surat kabar harian.
Sedangkan Ratna dan Caca membersihkan meja makan dari sisa makan mereka. tugas Caca mencuci piring yang kotor karena dirumah tersebut tidak ada asisten rumah tangga sehingga mereka harus mengerjakannya sendiri. Karena mereka menganggap tidak memerlukan nya. Ratna yang hanya seorang ibu rumah tangga merasa mampu untuk melakukan semua pekerjaan rumah tersebut.
Ahmad yang bekerja di sebuah perusahaan swasta yang menjabat sebagai Manager diperusahaan tersebut sebenarnya mampu untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Namun Ratna selalu menolak tawaran suaminya untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga.
Setelah selesai membersihkan peralatan dapur dan meja makan, Ratna dan Caca menghampiri Ahmad yang lagi asyik menonton acara televisi setelah membaca surat harian. Tidak lupa Ratna membawakan teh untuk suaminya seperti hari - hari sebelumnya.
"Ini teh nya bang". Ucap Ratna dengan meletakkan teh di atas meja tepat dihadapan suaminya.
"Terimakasih". Jawab Ahmad dengan tersenyuman kepada istri tercintanya.
Ahmad yang melihat anaknya duduk didekat Ratna merasa suatu yang tepat untuk menasehatinya kembali.
"Sini Ca, dekat sama ayah". Ucap Ahmad dengan memukul pelan tempat duduk disebelahnya.
Cacapun tanpa protes langsung mendekatkan diri nya dengan manja.
"Kapan di mulai ujian kenaikan kelas Ca?". tanya Ahmad
"Senin depan ayah". jawabnya.
"Apakah di sekolah tidak ada yang mengganggumu sayang". tanya Ahmad lagi
"Alhamdulillah tidak ada ayah".
"Syukur lah nak". ucap Ahmad
Sebenarnya Caca adalah anak yang manja dan penurut kepada ayahnya tersebut. Ayah nya juga selalu memanjakannya, namun bila Caca melakukan kesalahan sikap tegas seorang Ahmad akan tampak seperti sosok yang mengerikan dimata Caca.
"Ca, apa tidak baiknya Caca memakai hijab nak?". Tanya nya dengan lembut kepada sang anak.
Di sekolah Caca memang belum menggunakan hijab, dia hanya menggunakan rok panjang saja untuk menutupi kaki mulusnya.
Mendengar penuturan Ahmad, Caca terdiam dengan menundukkan kepala, dan memikirkan alasan apa yang tepat untuk menolak permintaan ayah tercintanya tersebut.
Caca berfikir sesaat dengan tangannya yang bergelayut manja di lengan ayahnya.
"Rencana Caca sih disaat kuliah saja Yah". Jawabnya dengan tersenyum manis agar ayahnya menerima rencananya tersebut.
"Lagi pula jika Caca ingin memakai hijab sekarang, harus memesan terlebih dahulu kepengurus sekolah. Ayah kan tahu, semua seragam pihak sekolah yang menyediakan". Imbuh nya menjelaskan kepada Ahmad.
__ADS_1
Ahmad yang melihat senyuman manis dari anaknya tersebut tak sanggup bersikap keras untuk memaksanya.
Alasan yang diutarakan Caca juga ada benarnya mengenai seragam sekolah nya.
Namun Ahmad berharap supaya anak nya segera memesan seragam yang berhijab kepada pihak sekolah nya.
"Ayah memintamu memakai hijab untuk kebaikanmu nak, untuk melindungimu dari pandangan laki - laki yang ingin berbuat jahat terhadapmu. Tetapi yang paling utama adalah kewajiban sebagai seorang wanita muslimah untuk menutup aurat nya. Ayah tahu Caca anak yang taat kepada semua perintah Nya dan menjauhi semua larangan Nya. Namun mengapa Caca belum melaksanakan perintah Nya yang harus segera Caca laksanakan?". Nasehat Ahmad dengan lembut supaya dapat menyentuh hati anaknya.
Tidak di pungkiri sebenarnya Caca masih enggan untuk segera mengenakan hijab.
"Dan Ayah tahu Caca anak yang cerdas disekolah, banyak lelaki yang menyukai Caca disekolah mau pun di luar sana karena melihat kecantikan kamu, tapi sangat di sayangkan bila aurat caca dilihat oleh lelaki yang bukan muhrim mu nak". Ucap Ahmad dengan penuh kasih sayang.
Ratna hanya diam mendengarkan suaminya yang lagi menasehati anak mereka satu satu nya tanpa memberi komentar.
"Jika ayah mu ini dipanggil untuk menghadap Nya, semua amal ibadah ayah tidak ada arti bila anak perempuannya tidak menutup aurat nya nak. Ayah mu ini lah yang akan diminta pertanggung jawaban tentang anak perempuan nya yang tidak menutup auratnya". Setelah mengucapkan kata - kata tersebut, air mata Ahmad lolos seketika yang sedari tadi di tahannya.
Melihat ayahnya menangis, Caca memeluk erat tubuh ayahnya dan turut menangis.
"Maafkan Caca ayah". Ucap nya dengan suara yang terisak.
Ahmad juga memeluk erat anak semata wayangnya tersebut dan meneruskan nasehatnya.
"Ayah meminta kepadamu nak, kejarlah cita - citamu setinggi yang kau inginkan namun jangan Caca lupakan segala perintah dan larangan Nya nak. Hidup kita hanya sementara di dunia ini sebelum kita menuju hidup yang abadi". Ucap nya dan merenggangkan pelukan anaknya dan mengusap air mata anaknya.
"Semoga Caca memikirkan permintaan Ayah ini ya?". Imbuhnya lagi dan di angguki oleh Caca.
Caca pun beralih ke dalam pelukan bundanya.
"Maafkan Caca ya bun?". Ucap nya dipelukan bundanya dengan suara yang masih terisak.
Ratna menyambut pelukan Caca dan mencium pucuk kepala anaknya.
"Iya sayang, semoga kelak Caca menjadi anak yang lebih baik ya". Doa Ratna dan di Aminin oleh Caca. Ratna kembali mencium kening anak nya itu dengan lembut dan dalam.
"Iya bun".
Caca kembali kepelukan ayah nya, dan Ahmad memberi ciuman di pucuk kepala Caca.
"Ya sudah sekarang istirahat lah sayang, dan renungkanlah semua nasehat Ayah ya nak". Pinta Ahmad dan di angguki kembali oleh Caca.
Sebelum beranjak kekamarnya Caca mencium kedua pipi Ayah dan bundanya secara bergantian.
"Caca balik ke kamar ya Ayah Bunda". Pamitnya sebelum meninggalkan kedua orang tua nya.
"Iya sayang". Jawab Ahmad dan Ratna bersamaan.
Sesampainya dikamar Caca langsung mencuci wajahnya yang terlihat sembab karena habis menangis. Setelah bersih - bersih Caca segera mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Niat ingin belajar pupus sudah karena memikirkan nasehat - nasehat Ayah nya yang terus terngiang di ingatannya, hingga akhirnya terlelap.
*****
Bunyi alarm yang berasal dari handphone, membangunkan nya tepat pukul 04.30 dini hari. Destra segera beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah berwudhu dia segera melaksanakan Shalat subuh sendiri dikamarnya yang mewah dan luas. Destra memang tidak pernah meninggalkan kewajibannya meskipun dia berada di New york- Amerika serikat.
Setelah selesai melaksanakan 2 rakaat nya, dia kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya.
Sedangkan dibagian dapur rumah mewah itu sudah terlihat kesibukan asisten rumah tersebut untuk menyiapkan sarapan untuk tuan rumah.
Dan sebagian asisten juga sibuk dengan rutinitas biasa dengan membersihkan rumah besar tersebut.
Devi yang akan berangkat kesekolahnya sudah mulai menyiapkan diri.
"Selamat pagi semua". Sapa Devi kepada mami dan papi nya yang sudah berada di meja makan.
__ADS_1
Devi juga tidak lupa menyapa semua asisten yang merada di dekatnya.
"Pagi non". sahut asisten yang berada di dekat meja makan.
"Kakak kamu dimana Vi?". Tanya Anggi yang sudah duduk dimeja makan.
"Palingan masih molor ma". Jawab nya santai menarik kursi didekat mami nya.
Anggi yang mendengar jawaban anak perempuannya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.
"Gimana mau jadi penerus tuh anak, sudah jam segini saja belum bangun". Celoteh Anggi dan beranjak meninggalkan meja makan untuk membangunkan anak laki - lakinya.
"Sayang, kalau tuh anak belum bangun siram saja yank". Seru Alki kepada istrinya yang sudah beranjak dari meja makan.
"Papi santai saja dan nikmati sarapan Papi, Mami tahu apa yang harus mami lakukan". Ucapnya santai dan melanjutkan langkahnya.
Alki tertawa kecil mendengar jawaban istrinya.
Dimeja makan Devi, dan Alki menyantap sarapannya dengan tenang. Sambil menunggu apa yang terjadi pada anak laki - laki nya tersebut.
"Kakak kamu telah membangkitkan darah militer mami mu". Ucap Alki kepada anak perempuannya.
"Tapi papi malah komporin mami". seru Devi
"Biar kakak kamu ingat dengan peraturan dirumah ini". jawab Alki tertawa kecil membayangkan nasip Destra yang telah melanggar peraturan mami nya.
"Mungkin kak Destra sudah lupa peraturan dirumah karena kebiasaan tinggal di New York pa". Jawab Devi dengan sedikit tertawa dan Alki kembali ikut tertawa kecil.
Peraturan dirumah mewah itu diwajibkan untuk sarapan tepat pukul 06.00 pagi kecuali di hari libur bisa sarapan paling lama pukul 08.00 pagi dan bisa melakukan sarapan sendiri - sendiri.
Tanpa mengetuk pintu, Anggi langsung membuka pintu kamar Destra yang memang tidak pernah terkunci. Dan terlihat Destra yang masih terlelap dalam mimpinya.
Anggi sedikit heran ketika melihat pakaian yang di gunakan Destra tidur. Dia menggunakan baju koko berwarna putih lengkap dengan kain sarungnya. Niat nya yang ingin memercikkan air kewajah Destra diurungkannya ketika melihat baju yang di gunakan Destra tidur.
"Ternyata anakku sudah bangun subuh".gumannya dalam hati.
"Destra bangun". ucap Anggi sambil menggoyang goyangkan badan Destra.
Sekali panggilan Destra spontan terduduk di tempat tidurnya. Seperti mendapat komando dalam baris berbaris.
"Destra sudah bangun mami". Ucap nya dengan mata yang masih terpejam.
Melihat gerakan cepat Destra, Anggi tertawa kecil.
"Kenapa kamu memakai baju itu untuk tidur?". Tanya Anggi yang masih memperhatikan pakaian anaknya.
Destra yang sudah mulai sadar dari tidurnya, juga melihat pakaian yang digunakannya.
Destra pun cengengesan menatap ibunya.
"Habis Shalat subuh Destra lanjut tidur ma, eh malah ketiduran". Jawab nya santai dan beranjak menuju wardrobe nya untuk berganti pakaian.
Anggi yang awalnya terlihat garang menjadi luluh mendengar penuturan anak nya tersebut.
"Lain kali jangan terulang lagi, lebih baik kamu isi dengan membaca alquran jangan biasakan habis shalat lanjut tidur lagi". ucap Anggi tegas.
"Aasssiiiaappp". jawab Destra santai.
"Jika sampai terulang lagi mami tidak segan - segan siram kamu dengan air".
"Siap komandan". jawab Destra seperti anggota tentara.
Anggi hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah anaknya. Dan melangkah meninggalkan kamar Destra.
__ADS_1