SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 31


__ADS_3

Disaat Edo terjaga dari tidurnya, ada sedikit keterkejutan melihat Sandra yang tertidur lelap dalam dekapannya.


Secara perlahan Edo memindahkan Sandra dari lengannya dan segera beranjak dari tempat tidurnya. Edo melihat jam dindingnya menunjukkan pukul 3:00 dini hari membuatnya bergegas menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Edo memilih membersihkan dirinya dikamar berbeda yang berada di atas yang juga memiliki luas yang sama seperti kamarnya. Kamat tersebut biasa digunakan Destra disaat berada di apartment nya.


Setelah melakukan mandi wajib, tidak lupa Edo mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat sunah taubat memohon ampunan kepada Sang Maha Khaliq atas dosa besar yang telah dia lakukan.


Doa ia panjatkan meminta pengampunan atas dosa yang telah diperbuatnya dan bertoubat tidak akan melakukannya kembali. Selesai melaksanakan shalat sunah taubat dan do'a, Edo lanjutkan dengan shalat sunah tahajud.


Setelah melakukan Shalat sunah, Edo mencari smartphone nya untuk menghubungi seseorang.


Edo mengingat smartphone nya yang tertinggal didalam mobilnya dan segera untuk mengambilnya. Sesampainya di mobil Edo melihat barang - barang Sandra yang juga berada dimobilnya dan turut membawanya ke dalam apartment nya.


Disaat Edo menaruh barang - barang Sandra dikamarnya, Edo melihat Sandra yang terbangun dan duduk diam ditepi ranjang dengan membalutkan selimut ketubuhnya.


"Kamu sudah bangun San?". tanya Edo


"Ah iya tuan". jawab Sandra terbata - bata.


"Apa kamu akan ke kamar mandi". tanya Edo


"Hemmm". jawab Sandra.


"Apa kamu perlu bantuan?". tanya Edo.


"Tidak tuan, saya bisa sendiri". jawab Sandra dengan menundukkan kepalanya.


"Bisakah tuan keluar sebentar?". seru Sandra


"Baiklah, jika perlu bantuan beritahu aku ya San".


"Heemm". jawab Sandra singkat tanpa melihat ke arah Edo.


Sandra mencoba melangkah, namun kakinya bergetar tidak mampu menopang berat badannya hingga membuatnya terjatuh di tambah lagi rasa perih dibagian bawahnya.


"Auwww". jerit Sandra. Edo masih mendengar karena masih berada di ambang pintu. Dengan cepat Edo kembali masuk dan mengangkat tubuh Sandra yang terbalut selimut.


"Maafkan aku ya San". ucap Edo lirih dan mengangkat nya ala bridal style tanpa meminta izin Sandra terlebih dulu.


"Ini bukan kesalahan tuan, tapi ini semua karena kebodohan saya tuan". jawab Sandra.


"Jika aku tidak memaksamu untuk ikut ke acara tersebut mungkin ini tidak akan terjadi San". ujar Edo dan meletakkan tubuh Sandra kedalam Bathtubnya sekaligus selimut yang menutup tubuh Sandra.


"Mandilah, aku akan mendekatkan semuanya dari jangkauan kamu. Panggil aku kalau sudah selesai ya San". imbuh Edo dan mendekat handuk kimono dan semua yang diperlukannya.


"Tuan, barang - barang saya masih ada dimobil. Bisakah tuan mengambilkannya".


"Sudah aku letakkan semua di meja dekat tempat tidur San". jawab Edo.


"Terimakasih tuan". seru Sandra.


Edo segera meninggalkan Sandra agar segera membersihkan diri. Tidak lupa Edo menutup pintu kamar mandinya dengan rapat.


Meski rasa perih dan seluruh badannya serasa remuk, Sandra berusaha untuk tidak meminta bantuan Edo. Setelah mandi wajib telah dilakukannya, Sandra berwudhu untuk melakukan hal yang sama seperti Edo yaitu shalat taubat.


Dengan langkah tertatih - tatih Sandra berjalan keluar dari kamar mandi tersebut dengan menggunakan handuk kimono yang telah disediakan Edo dan handuk kecil yang melilit rambutnya.


Edo yang menunggu nya dikamar menjadi tidak tega dan segera akan membantu Sandra.


"Jangan sentuh saya tuan, saya sudah berwudhu". seru Sandra ketika Edo akan menghampirinya.


Menyadari itu Edo menghentikan langkahnya dan terus memperhatikan Sandra yang berjalan seperti nenek - nenek renta.


"Kemana arah kiblatnya tuan?". tanya Sandra.


Edo tidak menjawabnya, namun Edo membentangkah Sajadah di tempat biasa dirinya melaksanakan Shalat untuk Sandra pergunakan.


Sandra mengeluarkan mukenahnya yang ada didalam tasnya.


"Keluar lah tuan, saya ingin mengenakan ini. ucap Sandra yang telah memegang mukenanya. Edo tersadar sari keterpakuannya yang terus memperhatikannya Sandra.


"Ah i iya". jawab Edo terbata - bata dan melangkah meninggalkan kamarnya.


Sepeninggal Edo, Sandra segera mengenakan mukenah nya dan melaksanakan shalat sunah taubat.

__ADS_1


Edo meninggalkan Sandra menuju ruang tamu dan melihat smartphonenya. Edo terkejut melihat banyak panggilan tidak terjawab dari ayah nya dan juga ibunya Anggi ada juga dari Destra namun tidak sebanyak Alki dan Anggi.


Dengan perasaan berkecamuk Edo menghubungi ibunya yang mungkin merasa resah karena tidak menjawab panggilan telephone mereka.


Anggi yang sudah terjaga dari tidurnya segera mengangkat panggilan seluler Edo.


"Assalamualaikum ibu". seru Edo


"Waalaikumsalam, apakah kamu baik - baik saja nak?". tanya Anggi penuh rasa khawatir.


"Edo baik - baik saja buk. Edo sekarang di apartment". jawab Edo .


Mendengar Edo dalam keadaan baik - baik saja, membuat Anggi menarik napas lega.


"Kenapa kamu tidak kembali kerumah setelah menghadiri acara itu, apa kamu tidak memikirkan bagaimana kami disini yang terus memikirkan kamu". ucap Anggi yang mulai meninggikan suaranya sehingga membuat Edo menjauhkan handphonenya dari telinganya.


"Maafkan Edo ibu". hanya itu yang bisa Edo ucapkan.


"Apa yang membuat kamu tidak kembali kerumah?" apa terjadi sesuatu?".


Edo terdiam tidak menjawab pertanyaan Anggi.


"Jawab Edo?, kenapa kamu diam saja?".


"Maafkan Edo bu, Edo salah". jawab Edo terbata - bata.


"Katakan dengan ibu, kesalahan apa yang kamu lakukan". tanya Anggi.


Alki yang nyenyak tertidur jadi terbangun mendengar teriakan Anggi. Namun Alki hanya diam saja karena Alki tahu pasti Anggi sedang memarahi anak sulung mereka.


"Haduuhh subuh - subuh gini sudah membangunkan macan lagi tidur". guman Edo dalam hati.


"Maafkan Edo bu, tapi apakah ibu bisa ke apartment Edo nanti?Ada yang ingin Edo bicarakan dengan ibu".


"Sebentar lagi Ibu akan kesana". jawab Anggi dan langsung memutuskan sambungan telephonenya tanpa mengucapkan salam.


Edo sudah memantapkan hatinya untuk menikahi Sandra secepatnya. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah merenggut kesucian Sandra.


Menunggu waktu shalat subuh, Edo mencoba menghubungi adiknya Destra. Dan tidak menunggu lama panggilannya dijawab Destra.


"Waalaikumsalam". jawab Destra yang telah terjaga dari tidurnya.


"Loe lagi dimana nih". tanya Edo santai


"Dirumah sakit kak".


"Bagaimana dengan keadaan calon adik ipar gue?".


"Alhamdulillah sudah ada kemajuan, kakak tau sewaktu Devi mengajaknya untuk berteman, Caca menggerakkan jari kelingkingnya kak". ujar Destra sedikit berbisik karena tidak mengganggu tidur Rangga dan juga Aldo yang berada bersamanya.


"Alhamdulillah, mudah - mudahan Caca lekas siuman ya bro. loe sama siapa disana bro?".


"Amiinnn ... sekarang Destra bersama om Aldo dan juga om Rangga". jawab Destra dan melangkah keluar ruangan agar lebih leluasa berbicara dengan Edo.


"Jam berapa loe balik rumah?". tanya Edo


"Selesai shalat subuh gue langsung balik rumah brother". jawab Destra


"Ok deh, sampai dirumah loe langsung beristirahat. Kita ketemu diwaktu makan siang saja". ucap Edo agar tidak mencurigainya karena tidak berada dirumah selepas menghadiri acara client.


"Memangnya kakak mau kemana pagi - pagi di hari weekend gini?".


"Gue mau menemui seseorang bro".


"Jangan bilang loe rindu dengan calon kakak ipar?".


"Nah loe tau hehehe". jawab Edo


"Jangan keseringan ketemu hanya berdua brother, takutnya ada setan di antara kalian. Lebih baik nikahi dia secepatnya". ujar Destra.


Deg


Jantung Edo seperti mendapat hantaman keras mendengar ucapan Destra. Namun Edo cepat menetralkannya agar tidak gugup.


"Pasti gue akan secepatnya menikahinya brother".

__ADS_1


"Gue tunggu kabar baiknya saja, kalau bisa sebelum gue kembali ke amerika, biar gue menyaksikan loe menikah".


"InsyaAllah, loe bantu doa ya bro".


"Itu pasti".


"Ya sudah brother sebentar lagi waktu shalat subuh, kakak jangan lupa shalat".


"Siap pak ustad tampan". jawab Edo


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam". jawab Destra mengakhiri perbincangan mereka.


"Alhamdulillah Destra tidak banyak bertanya kali ini". guman Edo dalam hati.


Edo memperhatikan pintu kamarnya yang kini ditempati oleh Sandra. Berharap Sandra keluar dan membicarakan rencananya yang ingin menikahinya. Namun yang di tunggu tak kunjung keluar.


Hingga akhirnya Azan subuh berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari kawasan apartmentnya. Dan dengan segera Edo melangkah menuju kamar yang berada di atas untuk melaksanakan kewajibannya.


Selesai melaksanakan kewajibannya Edo bergegas turun untuk menemui Sandra yang berada dikamarnya. Ketika menuruni anak tangga langkahnya terhenti ketika melihat Anggi yang sudah duduk santai diruang tamu.


Anggi bisa leluasa keluar masuk apartment Edo karena jarinya telah terdaftar di pringerprint pintu apartment Edo dan begitu juga Alki dan Destra.


Edo segera melangkah untuk menghampiri ibu angkatnya dengan rasa khawatir. Tidak lupa Edo mencium punggung tangan Anggi.


"Apakah ibu telah melihat keberadaan Sandra". gumannya dalam hati.


"Sekarang kamu jelaskan sama ibu apa yang telah kalian lakukan". ucap Anggi to the point.


"Maafkan Edo bu". ucap Edo yang kini bersimpuh di lutut Anggi yang sedang duduk.


"Jawab". bentak Anggi menaikkan suaranya 5 oktaf


"Edo khilaf bu". seru Edo yang telah meniskan air mata.


Sandra yang telah menyelesaikan shalat subuhnya meraih gagang pintu tersebut dengan tertatih - tatih karena mendengar teriakan suara dari ruang tamu. Perlahan Sandra membuka pintu kamar tersebut agar tidak diketahui orang yang berada di ruang tamu.


"Apa yang membuat kamu khilaf". tanya Anggi.


"Maafkan Edo bu, Edo telah berbuat zina". jawab Edo yang masih bersimpuh di pangkuan Anggi. Mendengar penuturan Edo sontak membuat tangan Anggi mengepal keras.


"Astaqhfirullahalazim". ucap Anggi


Anggi memegang dagu dengan kasar dan menampar pipi Edo dengan keras. Mendapat tamparan dari Anggi tidak membuatnya bergeming. Edo hanya kembali meletakkan kepalanya dipangkuan Anggi.


"Maafkan Edo bu". hanya itu yang dapat di ucapkan Edo.


"Angkat kepala kamu dari pangkuanku, aku tidak memiliki anak yang berani berbuat zina". Bentak Anggi yang juga telah menitikkan air mata.


Namun Edo tidak mau beranjak dari kaki Anggi.


Sandra melihat itu dari celah pintu yang hanya sedikit terbuka membuat dirinya semakin bersalah. Sebab dirinya lah yang memaksa Edo untuk melakukannya.


Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya dengan sangat deras.


Karena Edo tidak mengangkat kepala dari pangkuannya, Anggi menyingkirkan kakinya dari kepala Edo, namun Edo tetap menahannya.


"Maafkan Edo bu, Edo akan mempertanggung jawabkan perbuatan Edo". ujar Edo.


"Apa pernah ibu mengajarkan kamu untuk berbuat zina Edo". tanya Anggi.


"Tidak bu". jawab Edo serta menggelengkan kepalanya.


Alki yang baru tiba ke apartment Edo menatap heran melihat Edo yang sudah bersimpuh dilutut istrinya. Keterlambatan Alki memasuki apartment Edo karena dirinya pergi kemasjid bersama Agus supir pribadinya setelah menghantar Anggi terlebih dahulu.


"Apa yang terjadi". tanya Alki menghampiri mereka dengan tatapan heran.


"Beri pelajaran anak kamu ini karena sudah berbuat zina". seru Anggi tanpa melihat Alki.


"Apa benar yang dikatakan ibumu Edo?". tanya Alki memastikan.


"Maafkan Edo ayah". kembali kata itu yang keluar dari mulut Edo.


Alki menarik kerah baju Edo hingga Edo berdiri dari duduknya. Disaat Alki hendak melayangkan tangannya ke wajah Edo dihentikan oleh teriakan Sandra yang berdiri di ambang pintu kamar Edo.

__ADS_1


"Jangan tuan". teriak Sandra yang tetap berdiri di tempat yang telah berderai airmata.


__ADS_2