
Begitu juga dengan Anggi yang berniat akan membawa Caca kekediamannya pupus sudah. Anggi sangat mengagumi gadis belia itu meski dirinya hanya sekali bertemu. Niatnya bisa mengenalnya lebih dekat dan bisa mengenalkan Devi kepada Caca agar mereka bisa berteman dekat dikarenakan usia mereka yang sama.
"Sabar ya bro". ucap Edo dengan memukul pelan pundak Destra. Meski Destra tidak mengatakan rasa sedih nya kepadanya, namun Edo sangat mengenali sosok Destra hanya dengan melihat raut wajahnya.
"Meskipun hanya sesaat, namun pergunakanlah kesempatan ini untuk bisa meraih nya". seru Edo kepada menyemangati Destra.
"Thank's kak". jawab Destra tersenyum getir.
"Kenapa loe?". tanya Alki yang terus memperhatikan Destra diam mematung seperti memikirkan sesuatu yang sulit untuk dipecahkan.
"Dia merasa seperti ada sunami yang menerjang hatinya setelah mendengar kabar itu ayah". sahut Edo
"Ngapain loe yang jawab?, gue lagi bertanya dengan nih mayat hidup". ucapan Alki yang mengatai Destra seperti mayat hidup membuat yang lain menertawai Destra kecuali Anggi.
"Edo ngak mau melihat ayah berbicara dengan tembok, makanya Edo yang menjawab pertanyaan ayah". jawab Edo cengengesan
"Heemm,...kabar seperti itu saja sudah memporak - porandakan hatimu, bagaimana jadinya jika Caca pindah selamanya dikota medan ya?, dan Caca menikah dengan seseorang disana?". ucap Alki senyum - senyum dengan menghayalkan kejadian yang akan terjadi pada anaknya.
"Papi". seru Anggi penuh amarah menatap tajam Alki
"Maka papi tidak akan pernah melihat Destra menikah dengan wanita manapun". Jawab Destra dengan suara lantang.
Jawaban yang Destra ucapkan dengan tegas itu sontak membuat mereka terdiam seketika.
"Loe jangan ngomong gitu donk, seandainya loe tidak mau menikah selain dengan Caca, berarti keturunan nugraha sampai di titik loe doang". ucap Alki.
"Destra tidak perduli". jawab Destra
"Kamu jangan berbicara seperti itu nak". ucap Anggi lembut.
"Bagaimana jika yang dikatakan papi akan menjadi kenyataan mami?, Destra sangat ingin memilikinya". ucap Destra dengan mata berkaca - kaca.
"Istighfar bro. Rezeki, jodoh, dan maut, Allah yang menentukan". ucap Edo mengingatkan adiknya Destra akan kekuasaan Tuhan.
Didalam hati Destra terus ber istighfar untuk menenangkan hatinya.
"Benar apa yang dikatakan kakak kamu sayang". seru Anggi membenarkan perkataan Edo.
"Setelah Destra pikir - pikir, lebih baik Destra lanjutkan kuliah disini saja". ucap Destra
Permintaan Destra membuat mereka terkejut. Keinginannya menimba ilmu dinegeri pamansam itu memudar hanya karena seorang gadis belia.
Sebelumnya keinginan berkuliah di negeri adidaya itu pernah ditentang oleh Anggi dan juga Alki karena jarak yang terlalu jauh. Namun tekat Destra yang kuat membuat Anggi mengizinkannya meski dengan berat hati.
__ADS_1
"Kamu pikirkan dengan kepala dingin sayang. Kalau menurut mami lebih baik kamu lanjutkan saja kuliah kamu disana, lagi pula tidak lama lagi kuliah kamu selesai". jawab Anggi
"Dua tahun itu waktu yang lama mami". jawab Destra kesal.
"Waktu yang tepat donk sayang, kamu selesai kuliah, begitu juga dengan sekolah Caca". pujuk Anggi kepada Destra agar tetap melanjutkan kuliahnya di amerika.
"Yang dikatakan mami loe benar. Gue juga khawatir kalau loe kuliah disini akan mengganggu konsentrasi belajar Caca. Bisa - bisa Caca tidak akan mendapatkan nilai terbaik lagi disekolahnya". ucap Alki
"Dan loe juga harus tahu, Caca selalu ingin mendapat nilai terbaik disekolahnya. Makanya dia tidak suka ada lelaki yang mendekatinya. Baginya selain pacaran itu haram, pacaran juga hanya mengganggu konsentrasi belajarnya saja". imbuh Alki
"Wah...keren banget ya calon kakak ipar Devi". seru Devi terkagum - kagum kepada Caca meski belum pernah dilihatnya.
"Kamu juga harus punya prinsip seperti dia, supaya kamu mendapat nilai yang terbaik disekolah kamu". ucap Anggi. Devi langsung menundukkan kepalanya.
"Devi juga berusaha untuk mendapatkan nilai yang terbaik mami". gumannya pelan dengan terus menundukkan kepalanya.
Jawaban Devi yang sangat pelan itu masih bisa didengar maminya, Anggi hanya bisa menarik napas dan membuangnya pelan.
"Destra tidak akan mengganggunya papi". jawab Destra meyakinkan papinya.
"Gue sebagai papi loe tidak bisa jamin loe tidak mengganggunya, lebih baik loe lanjutkan kuliah loe di amrik". ucap Alki tegas.
Didalam hati Destra bertekat untuk tetap pindah kuliah di kota kelahirannya agar tetap bisa melihat Caca meskipun hanya sesaat. Namun ia menyadari tekat nya yang ingin pindah kuliah bisa mempengaruhi konsentrasi belajar Caca yang mungkin akan membuatnya dibenci oleh Caca karena selalu menemuinya.
"Papi dan mami mu akan memastikan hal itu, bila perlu papi akan meletakkan orang suruhan papi untuk terus mengawasinya dari jauh supaya tidak ada yang mengganggunya". jawab Alki pormal agar Destra mempercayai nya.
"Baiklah Destra setuju". jawab Destra.
"Kapan loe akan kembali ke Amerika?". tanya Edo
"Sepuluh hari lagi kak". jawab Destra lesu.
"Loe tenang saja bro. Sesekali gue juga akan memantau calon adik ipar gue". ucap Edo dengan menepuk pelan pundak Destra.
"Thank's kak". jawab Destra sedikit tenang mendengar ucapan Edo.
"Ngapain kamu harus memantau calon adik iparmu. Ibu meminta kamu untuk mencari calon istri bukan menjaga calon adik ipar kamu". Ucap Anggi sewot
Edo sontak memukul pelan keningnya sendiri karena perkataannya yang akan membantu memantau Caca malah mengingatkan Ibu nya tentang calon istrinya. "****** gue". ucapnya dalam hati.
"Belagu loe mau jagain calon adik ipar loe. Memangnya gue ngak sanggup bayar orang untuk jaga calon adik ipar loe ha". sambung Alki menimpali ucapan istrinya.
"Maksud Edo....". ucapan Edo terputus.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu turun tangan mengenai calon istri adikmu, yang mesti kamu pikirkan calon istri buat kamu". ucap Anggi
"Jika kamu masih saja menyandang gelar bujang lapuk, maka ibu akan menjodohkan kamu dengan anak teman ibu". imbuh Anggi lagi
Edo terdiam tanpa bahasa mendengar kata perjodohan dari ibu nya. Dia berpikir keras bagaimana cara supaya dirinya bisa mendapatkan pendamping hidup tanpa harus dijodohkan.
"Berikan Edo waktu untuk mencari sendiri pasangan hidup Edo Bu". ucap Edo lemah karena tidak yakin baginya untuk mendapatkan pasangan hidup.
"Ibu beri kamu waktu paling lama 2 tahun dari sekarang. Jika kamu belum juga mendapatkannya, maka kamu harus mau dijodohkan dengan pilihan ibu tanpa ada penolakan". ucap Anggi.
"Baik ibu Edo bersedia". jawab Edo terpaksa. Waktu yang diberi oleh ibunya itu sudah lebih dari cukup meskipun dirinya tidak yakin bisa menemukan pasangan hidup dalam waktu 2 tahun.
"Dan kamu Destra, mami ingin kamu selesaikan kuliah kamu di amerika. Masalah Caca, biar mami yang mengurusnya. Sekarang kalian kembali ke kantor". ucap Anggi dengan tegas.
"Sayang, papi ngak balik ke kantor lagi hari ini". seru Alki
"Mami ngak tanya". jawab Anggi cuek dan beranjak meninggalkan mereka menuju kamarnya.
Sesuai perintah dari Anggi Edo dan Destra kembali kekantor untuk melanjutkan aktifitas mereka. Sedangkan Alki mengikuti istrinya yang menuju kamar mereka.
*****
Hari dimana Caca akan berangkat berlibur dikota medan tempat oma nya telah tiba. Terlebih dahulu Caca akan menginap dikediaman Aldo beberapa hari dan akan berlanjut kekota medan untuk menghabiskan liburannya bersama oma nya.
Ahmad dan Ratna sudah bersiap - siap untuk mengantar Caca ke kota J sekaligus ingin bertemu dengan keluarga Aldo.
Sebelumnya Ahmad juga sudah memberitahukan perubahan jadwal tentang liburan Caca yang akan berlibur bersama oma nya. Dan itu dimaklumi oleh adiknya karena Aldo mengetahui keluarga yang di medan sangat merindukan Caca. Jarak yang cukup jauh menyulitkan mereka untuk selalu bertemu dengan Caca berbeda dengannya yang mudah bertemu dengan keponakannya karena jarak mereka yang bisa ditempuh dengan waktu kurang dari 3 jam.
Sebelum mereka berangkat dari kota B menuju kota J, Ahmad memberitahukan Aldo melalui telephone genggamnya akan keberangkatan mereka.
Busana muslimah berwarna biru yang digunakan Caca sangat pas dibadannya sehingga semakin terpancar kecantikan dari raut wajahnya.
"Sudah tidak ada yang tertinggal sayang". tanya Ratna kepada Caca yang menuruni anak tangga rumah tersebut.
"Caca rasa sudah tidak ada bunda". jawab Caca dan menghampiri bundanya yang telah menunggunya.
"Ingat ya sayang selama kamu tidak bersama bunda dan ayahmu jangan pernah kamu meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang muslimah". ucap Ratna mengingatkan Caca.
"InsyaAllah, Caca tidak akan melupakan hal itu bunda". jawab Caca
"Ayah dimana bun?". tanya Caca yang tidak melihat keberadaan ayahnya di ruang keluarga.
"Ayahmu sudah menunggu kita didepan sayang. ayok kita berangkat". Ajak Ratna dan membantu Caca membawa barang bawaan Caca keluar rumah.
__ADS_1
Mereka meninggalkan kediaman Ahmad dengan menggunakan mobilnya yang dikemudikan oleh Ahmad sendiri menuju kota J yang akan memakan waktu kurang dari 3 jam.