
Di perusahaan Nugraha, Destra membuka satu persatu berkas yang menumpuk dimeja kerja papinya tersebut dan mempelajarinya dengan sangat teliti sebelum diserahkan kepada Alki untuk ditandatangani.
Tok tok tok
"Masuk". jawab Destra
"Om Aldo, silahkan duduk". jawab Destra yang masih sibuk mempelajari berkas - berkas proyek Alki yang lain.
"Tuan bisa presentasikan proyek ini?". tanya Aldo dengan menyerahkan map berisi berkas kepada Destra. proyek yang baru Alki menangkan dipelelangan.
"Kapan Om?". tanya Destra.
"Selesai jam Istirahat tuan". jawab Aldo.
"Ok Om". jawab Destra.
"Oh ya Om, mengenai kecelakaan yang menimpa keluarga Caca apa sudah diusut tuntas?". tanya Destra.
"Sudah tuan, Tuan alki telah meminta pengacara handal untuk mengusut tuntas dan memintanya untuk memberi hukuman yang seberat - beratnya". jawab Aldo.
"Itu bagus Om, pelaku harus mendapat ganjaran seberat - beratnya agar mendapat efek jera kepada sipengemudi yang suka ugal - ugalan". seru Destra
"Iya tuan, kalau begitu saya permisi tuan". ucap Aldo dan beranjak dari duduknya. Destra menganggukkan kepalanya.
"Sebentar Om". ucap Destra menghentikan langkah Aldo yang akan meninggalkan ruangan Destra.
"Jam istirahat Destra minta izin sama Om untuk menjenguk Caca. Boleh ya Om?".
"Silahkan tuan Destra menjenguk Caca kapanpun tuan Destra inginkan". jawab Aldo.
"Bagaimana kalau kita pergi bareng kerumah sakit Om?". ajak Destra
"Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga tuan". jawab Aldo
"Baiklah jika demikian, Terimakasih ya Om".
"Sama - sama tuan". jawab aldo dan melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Destra.
"Maafkan saya tuan, saya terpaksa harus merelakan Caca dibawa Oma Siska ke medan. Karena saya tidak sanggup menjelaskan kepada nya disaat dia tersadar dari koma nya kelak". guman Aldo dalam hati dengan mata berkaca - kaca meninggalkan ruangan Destra.
**
Dirumah sakit tempat Caca dirawat Devi telah berada didepan rumah sakit diantar pak Budi supir maminya.
"Pak Budi temani Devi kedalam ya". seru Devi
"Siap Non". jawabnya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum". ucap Devi dengan membuka pintu yang tidak terkunci.
"Loh kok ngak ada yang jaga ya?". gumannya dalam hati ketika memasuki ruang rawat Caca.
Devi menghampiri brankar Caca meski ada rasa takut yang menderanya. Sedangkan Budi hanya menunggu Devi didepan ruangan tersebut.
"Hi Ca, apa kabar?". ucapnya saat telah didekat Caca.
"Loe masih ingat gue kan Ca?. Gue Devi yang penah minta loe jadi teman gue. Loe masih ingat sama gue kan Ca?". ucap Devi yang terus mengajak Caca berbicara meski tanpa ada jawaban dari Caca.
"Ca, gue pengen banget kalau loe sudah sembuh bisa sekolah bareng gue. Loe mau ngak Ca?. Gue pengen belajar bareng sama loe Ca".
"Gue juga pengen pinter kek loe Ca. Gue denger loe juga dapet nilai terbaik disekolah loe ya Ca".
"Loe tahu ngak, murid - murid yang unggul banyak disekolah gue Ca".
"Loe coba buktiin kalau kepinteran loe bisa bersaing dengan murid - murid disekolah gue Ca. Loe mau kan?". celoteh Devi.
__ADS_1
Tiba - tiba jari telunjuk Caca kembali bergerak pelan membuat Devi kembali ketakutan dan menjauh dari brankar Caca.
"Jangan takut Non". ucap Erni yang sudah berada diruangan itu beberapa saat setelah Devi masuk sekembalinya dari kantin rumah sakit.
"Eh tante, maafkan Devi ya karena masuk tanpa permisi". ucap Devi.
"Ngak apa - apa Non". jawabnya.
"Kenapa non Devi masih takut melihat jari Caca bergerak".
"Eh itu iya Tan, Devi takut jika terjadi sesuatu dengan Caca". jawab Devi terbata - bata membuat Erni tersenyum melihat Devi yang salah tingkah.
"Tidak akan terjadi apa - apa dengannya. Kalau non Devi ingin berbicara dengan Caca, biar tante temenin non Devi dari sini". ucap Erni mendudukkan dirinya di soffa.
"Oh iya Tan, oma Siska dimana? biasanya juga selalu ada disini".
"Oma Siska sebentar lagi juga datang Non". jawab Erni.
Devi menganggukkan kepala tanda mengerti dan kembali mendekat ke brankar Caca. Devi menjadi lebih berani ketika ada orang lain yang berada diruangan tersebut.
**
Destra meninggalkan kantor disaat jam istrahat untuk menuju rumah sakit. Setibanya dirumah sakit Destra langsung menuju musholla yang juga berada dikawasan rumah sakit.
Setiap waktu shalat Dzuhur Destra selalu melaksakan kewajibannya dimushola rumah sakit dan menyempatkan waktunya untuk melantunkan ayat suci Al-qur'an disebelah Caca.
Begitulah yang Destra lakukan setiap saat bila berada dirumah sakit disaat menjenguk Caca disaat jam istirahat kantor.
Selesai mengaji Destra menghampiri Devi, Erni, dan juga oma Siska yang sudah berada diruangan tersebut.
"Apa kabar Oma?". tanya Destra dengan mencium punggung tangan wanita tua tersebut.
"Alhamdulillah sehat sayang". jawab nya
"Apa kabar Tante". tanya Destra dengan menyentuhkan punggung tangan Erni kekeningnya.
"Alhamdulillah sehat tuan". jawabnya.
"Suami tante panggilnya selalu begitu, jadi tante kebawak deh". jawabnya.
"Om Aldo karena sudah terbiasa dikantor Tan, jadi selalu terbawa kemana saja". ujar Destra.
Mendengar penuturan Destra Erni hanya ber oh ria saja.
"Tau ngak kak, tadi waktu Devi ajak Caca ngobrol dia sempat gerakin lagi jarinya". ujar Devi dengan penuh semangat.
"Oh ya?". tanya Destra tersenyum bahagia mendengar Caca semakin banyak perkembangan.
"Iya kak, tadi Devi sempat takut juga sih waktu melihat jarinya bergerak gitu".
"Kenapa kamu takut?". tanya Destra.
"Gimana ngak takut kak, saat Caca gerakin jarinya Devi lagi sendirian". jawab Devi dengan polosnya.
"Memangnya Adek jam berapa kemari?". tanya Destra.
"Jam sepuluh lewat gitu deh kak". jawab Devi.
"Kenapa adek masih takut? Mestinya senang dia merespon perkataan kamu". Destra
"Ngak tahu kak, Devi spontan takut gimana hehehe". jawab Devi cengengesan.
"Ada - ada saja kamu". ucap Destra dengan mengacak rambut Devi gemas.
"Oh iya Oma, Om Rangga dimana?". tanya Destra yang tidak menemukan Rangga disana.
"Dia pulang dulu ke medan, karena istri nya lagi hamil muda. Katanya bawaannya rindu terus sama si Rangga". jawab nya Siska tersenyum.
__ADS_1
"Anak yang keberapa Oma?". tanya Destra kepo supaya ada bahan perbicangan.
"Anak yang ke empat". jawab nya dengan senyum sumringah.
"Ramai donk Oma".
"Yang ramai itu lah yang seru". jawab Siska tersenyum.
Mereka berbincang - bincang hingga waktu menunjukkan pukul satu siang. Destra harus segera kembali kekantor.
"Oh iya Oma, Destra harus kembali karena dikantor banyak pekerjaan. Lain kali kita sambung lagi ya Oma". ucap Destra
"Iya lah sayang, hati - hati kau di jalan ya. Kalau bisa sering - sering lah kau kemari". ucap Siska
"InsyaAllah Oma". jawabnya dan mencium punggung tangan wanita tua itu kembali sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Tidak lupa Destra juga berpamitan dengan Istri Aldo dan mengucapkan Salam sebelum melangkah kakinya keluar dari ruangan tersebut.
"Adek masih mau disini?". tanya Destra kepada Devi yang menghantarnya hingga diluar.
"Devi belum mau balik rumah kak. Devi ngak ada teman dirumah". jawab Devi lirih.
"Oh ya sudah. Kakak kekantor ya". ucap Destra.
"Adek jangan lupa makan. Sekalian beliin pak Budi dan pesankan makan untuk Oma siska dan Tante Erni ya dek". imbuh Destra.
"Duitnya kak? hehehehe". tanya Devi cengengesan dengan menjulurkan telapak tangannya dihadapan Destra.
Destra mengambil dompetnya dari saku celananya dan menyerahkan uang satu juta kepada Devi.
"Thank's ya kak". ucap Devi dengan gembira dan mencium punggung tangan Destra.
"Heemm". ucap Destra tersenyum dengan mengacak kembali pucuk kepala Devi.
"Dek, kakak boleh tanya sesuatu?".
"Tentang apa kak?". tanya Devi.
"Memangnya apa yang kamu bicarakan dengan Caca?". tanya Destra
"Devi hanya berbicara tentang pertemanan kami saja kak, dan Devi mengajaknya untuk melanjutkan pendidikannya disekolah kita". jawab Devi.
"Oooh".
"Memangnya kenapa kak?
"Ngak apa - apa. Ya sudah kakak harus cepat balik kantor. Assalamualaikum". ucap Destra.
"Waalaikumsalam". jawab Devi dan kembali keruang rawat Caca.
Sebelum meninggalkan rumah sakit Destra menemui dokter yang memantau keadaan Caca diruangannya untuk menanyakan perkembangan kesehatan Caca.
Tok tok tok
"Selamat siang dokter Nana". sapa destra setelah dipersilahkan masuk oleh sipemilik ruangan.
"Selamat siang. Apa kabar tuan Destra?".
"Alhamdulillah Sehat Dokter".
"Bagaimana perkembangan Caca Dokter". tanya Destra to the point.
"Luka dibagian lehernya sudah tidak perlu dikhawatirkan. Kita hanya menunggunya siuman dari komanya saja tuan". jawab Dokter Nana.
"Baiklah Dokter terima kasih atas infonya. Saya permisi Dokter". ucap Destra dengan menjabat tangan dokter Nana sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Assalamualaikum". ucap Destra
"Waalaikumsalam". jawab Nona.
__ADS_1
"Sebenarnya gue juga sering melihatnya tersenyum tipis disaat gue mengaji didekatnya. Namun gue tidak begitu yakin karena dimata gue wajahnya selalu tersenyum meski koma. Mungkin itu karena gue terlalu mencintai dan berharap dia segera siuman kali ya". gumannya Dalam hati ketika melangkah meninggalkan rumah sakit.
Destra melangkah meninggalkan rumah sakit untuk segera tiba kekantor. Meeting yang harus dihadirinya untuk melakukan presentasi proyek yang baru dimenangkan perusahaannya dalam pelelangan.