
Di sore akhir pekan Aldo dan Erni pergi kerumah sakit bersama anak - anaknya dan juga oma Siska.
Mereka berencana menginap dirumah sakit untuk bersama - sama sebelum Caca dipindahkan kekota medan.
Sebelumnya Aldo sudah menjelaskan semua ke istrinya mengenai rencananya bersama Rangga. Sehingga Erni memutuskan untuk menginap menjaga Caca.
Meski berat hati, Erni terpaksa menyetujui keputusan Aldo. Erni yang tidak memiliki anak perempuan semakin menambah rasa sayangnya terhadap Caca. Erni sudah menganggap Caca seperti anak kandungnya begitu juga dengan Aldo yang memang mempunyai hubungan darah dengan Caca.
Sebelumnya Aldo telah menghubungi Rangga yang masih berada dimedan memberitahukan bahwa Destra telah berangkat ke Amerika.
Mendapat kabar dari Aldo, hari itu juga Rangga kembali ke kota J untuk menjemput oma Siska dan juga Caca yang akan membawanya ke kota Medan, tempat Bunda Caca dilahirkan dan dibesarkan.
Setelah memastikan kesehatan Caca lebih membaik dan bisa untuk dibawa ke kota Medan, Rangga menyewa pesawat yang dikhususkan untuk membawa pasien.
"Bunda, Erni titip Caca ya. Sebenarnya Erni ngak rela Bun Caca jauh dari kami. Tapi jika memang ini yang terbaik Erni iklas Bun". ucap Erni kepada Siska dengan mata berkaca - kaca.
"Kami pasti akan menjaganya sayang, Bunda tahu kalian sangat menyayanginya. Bunda akan selalu mengabari kalian ya nak". jawab Siska dan memeluk Erni dengan mengusap punggung Erni kasih sayang. Namun mereka langsung merenggangkan pelukan mereka karena mendengar suara tangis Defri anak bungsu Erni dan Aldo.
"Kenapa mbak Caca harus dibawa kemedan Oma?". tanya Defri menangis karena mendengar Caca yang akan dibawa kemedan.
"Mbak mu berobat disana. Biar dia cepat sembuh sayang. Defri kepengen mbak Caca cepat sembuhkan?". jawab Erni menimpali pertanyaan anaknya untuk Siska.
"Iya sayang, kalau nanti Defri rindu sama mbak Caca, Defri bisa datang ketempat Oma". ucap Siska lembut menenangkan Defri yang masih 10 tahun menangis.
"Anak laki - laki ngak boleh nangis. Nanti bisa hilang gantengnya loohhh". imbuh Siska menenangkan.
"Tapi kenapa harus berobat disana, disini juga bisa berobat kok". ucap Defri terisak.
Rangga dan Aldo kembali keruang rawat Caca setelah konsultasi dengan dokter yang menangani Caca.
"Apa yang dikatakan dokter Pa?". tanya Erni ke suaminya saat Aldo dan Rangga menghampiri mereka.
"Dokter Nana mengatakan jika kondisi kesehatan Caca sudah tidak ada masalah jika akan membawanya ke medan". jawab Aldo setelah mendudukkan bokongnya disofa sebelah Erni.
"Kenapa kamu menangis sayang?". tanya Aldo ke anaknya yang masih menangis dan mendudukkan Defri disebelahnya.
"Defri ngak mau kalau mbak Caca dibawa ke medan Pa". jawab Defri terisak - isak.
"Defri ngak boleh begitu, mbak mu disana mau berobat". jawab Aldo sama persis dengan jawaban Erni yang memang sudah mereka bicarakan disaat anak - anaknya bertanya.
"Disini juga bisa Pa". jawab Deni yang juga tidak setuju untuk membawa Caca kemedan.
"Kata oma Siska, disana ada dokter bagus yang bisa menyembuhkan mbak kalian". jawab Aldo beralasan.
"Dokter disini juga banyak yang bagus - bagus kok Pa". ujar Deni
"Tapi disana ada lebih bagus lagi sayang". jawab Aldo menanggapi anak sulungnya
"Sudah jangan menagis lagi kalau Defri dan kak Deni kangen mbak Caca kita pergi ke Medan". ucap Aldo menenagkan Defri.
"Beneran ya Pa". ucap Defri dengan menyodorkan jari kelingkingnya ke Aldo.
__ADS_1
"Iya Papa janji". jawab Aldo mengaitkan jari kelingkingnya ke anak bungsunya tersebut.
"Jadi kapan Caca bisa dibawa Nak?". tanya Siska ke Aldo.
"Sebenarnya sekarang juga sudah boleh dibawa Bunda, tapi lebih baik di hari senin saja. Karena biasanya hari libur tuan Alki dan keluarganya akan datang menjenguk Caca". jawab Aldo.
"Jika mereka datang jangan sampai mereka mengetahui rencana kita ini Bun karena mereka pasti tidak akan setuju". imbuh Aldo.
"Ngak akan jadi masalah sama pekerjaanmu itu nakku?". tanya Siska.
"Tidak akan Bunda, Aldo sangat mengenal tuan Alki. Dia tidak akan menyangkut pautkan masalah pribadi dengan pekerjaan". jawab Aldo pasti.
"Syukurlah kalau tak ada masalah". jawab Siska.
****
Karena banyaknya prosedur yang harus mereka lengkapi, akhirnya Caca bisa berangkat 3 hari kemudian.
Aldo bersama keluarga kecilnya ikut mengantar Caca kebandara. Mereka bergantian mencium pucuk kepala Caca sebelum dimasukkan kepesawat khusus tersebut yang juga telah menyediakan seorang dokter untuk mengawasi kondisi Caca selama penerbangan.
Setelah pesawat yang ditumpangi Rangga dan oma Siska yang membawa Caca telah take off, Aldo mengantar istri dan juga anak - anaknya kembali kerumah mereka.
Aldo langsung kembali kekantor setelah mengantarkan anak dan istrinya untuk bekerja seperti biasa dan Aldo juga akan mengatakan kepada Alki tentang Caca yang telah dibawa kekota Medan.
Sesampainya digedung Nugraha, Aldo langsung menuju keruangan Alki. Aldo sudah siap menerima segala konsekuensi dari Bos nya tersebut.
Aldo mengetuk pintu ruangan Alki yang terbuka sebelum memasuki ruangan luas tersebut.
"Silahkan duduk". imbuhnya lagi.
Aldo mendudukkan bokongnya dikursi yang berada didepan meja Alki.
"Apakah saya mengganggu tuan?". tanya Aldo dengan hati - hati disaat melihat Alki yang terlihat sibuk.
"Tidak masalah, ada apa?".
"Sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu hal diluar dari pekerjaan tuan". ucap Aldo.
"Katakan saja".
"Sebelumnya saya minta maaf tuan, karena saya telah menyetujui oma Siska untuk membawa Caca kekota medan". ucap Aldo.
Pernyataan Aldo sontak menghentikan kesibukan Alki yang tengah menandatangani berkas yang menumpuk dimeja kerjanya.
"Apa maksud kamu? Katakan yang jelas jangan bertele - tele". ucap Alki menatap tajam Aldo yang berada diseberang meja kerjanya.
"Sebenarny Caca sudah dibawa oma Siska ke kota Medan tuan". ucap Aldo dengan hati - hati.
"Mengapa mereka membawanya ke medan?. Apa dokter disini kurang bagus?". tanya Alki heran.
"Bukan masalah itu tuan, tapi saya belum siap menghadapi Caca jika sudah siuman nanti. Dia pasti akan mempertanyakan kedua orang tuanya tuan. Dan Saya tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya". jawab Aldo lirih.
__ADS_1
"Saya mengerti dengan perasaan kamu. Tapi kamu harus ingat, bagaimanapun juga orang tua Caca telah menerima perjodohan Caca dengan Destra. Apa kamu sudah melupakan hal itu Aldo?". ujar Alki.
"Saya tidak pernah melupakan hal itu tuan apa lagi almarhum kakak saya sangat menyukai tuan Destra dan keluarga di medan juga sudah saya beritahukan mengenai perjodoban mereka. Tapi kami melakukan ini bukan tanpa alasan tuan". jawab Aldo.
"Karena dengan cara ini mereka bisa menjelaskan kepergian orang tua nya secara perlahan. Karena sebelum kecelakaan tersebut Caca memang akan pergi berlibur kemedan. Dengan begitu Caca akan berangkapan seolah - olah dia masih berlibur disana tuan". imbuh Aldo menjelaskan cara mereka untuk mengatakan kebenarannya kepada Caca.
"Tapi mengapa kamu tidak mengatakan sebelumnya tentang rencana kalian kepada kami?".
"Saya minta maaf tuan. Sebenarnya rencana kami ini timbul secara tiba - tiba tuan. Lagi pula tidak mungkin saya mengatakan rencana kami ini kepada tuan Destra. Karena saya tahu bagaimana sifat tuan Destra. Dan jika saya mengatakan rencana kami dengan tuan Destra, saya khawatir akan mengganggu studynya tuan". jawab Aldo.
"Kamu benar". ucap Alki membenarkan perkataan Aldo mengenai sifat Destra.
"Selanjutnya apa rencana kalian?". tanya Alki.
"Tidak ada tuan. Saat ini saya hanya seperti seorang Paman pengecut yang menyerahkan semua tanggung jawab saya kepada mereka". jawab Aldo lirih dengan menundukkan kepalanya.
"Saya mengerti akan perasaan kamu. Karena rasa sayang kamu kepada Caca sehingga kamu tidak sanggup melihatnya menangis. Bukan begitu Aldo?". tanya Alki. Kehilangan seorang saudara satu - satu nya membuat hati Aldo sangat hancur.
"Dia tidak akan menangis dihadapan siapapun tuan kecuali didepan Ayah dan Bundanya. Yang membuat saya takut jika melihatnya berpura - pura tegar untuk menutupi perasaan sedih dihatinya". jawab Aldo menjelaskan sifat Caca yang bisa menutupi kesedihannya membuat Alki terhenyak.
"Apa yang akan kamu lakukan jika mereka memaksa Caca untuk tetap tinggal di medan?". tanya Alki.
"Mereka tidak akan melakukan itu tuan. Setelah Caca siuman dari komanya mereka akan memberi kebebasan untuk memutuskan untuk tinggal dimana tuan". jawab Aldo dengan yakin.
"Dan jika Caca mengambil keputusan untuk tetap tinggal disana bagaimana?". tanya Alki.
"Apakah kamu akan memaksanya kembali kesini?". tanya Alki memojokkan Aldo.
"Jadi apa yang harus saya lakukan tuan?". tanya Aldo balik saat menyadari akibat dari rencananya yang memungkinkan Caca akan tetap tinggal disana.
"Karena kamu Paman pengecut, kamu harus menerima keputusannya donk" jawab Alki menohok membuat Aldo terdiam dengan menundukkan kepala kembali menahan rasa malunya karena menjadi paman yang pengecut.
"Harus kamu ketahui, Destra meminta maminya untuk selalu memberi kabar kondisi Caca. Dan jika Destra tidak mendapat informasi dari maminya, saya yakin Destra pasti akan mencari tahunya dengan menghubungi kamu. Apa yang akan kamu katakan jika Destra bertanya kepada kamu?".
"Saya minta maaf tuan, tapi apa yang harus saya lakukan tuan?". tanya Aldo lirih yang sudah bingung.
Alki mengangkat kedua pundaknya pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada Aldo ketika akan berhadapan dengan Destra.
"Kamu sangat mengenal sifat Destra, dia akan terus mencaritahu informasi mengenai seseorang yang dianggap penting dalam hidupnya. Dan dia pasti akan mencari tahu sendiri jika informasi yang diterimanya tidak meyakinkan. Dan sudah pasti itu akan mengganggu study nya kan?". ujar Alki. Aldo hanya bisa menundukkan kepala.
"Saya tidak menyalahkan kamu Aldo, itu hak kalian untuk membawanya kekota medan". ucap Alki ketika mengetahui kebingungan Aldo.
"Saya akan bicarakan ini dengan istri saya. Dan saya yakin dia ada solusi". imbuh Alki.
"Terimakasih banyak tuan. Saya sangat berharap ada solusi dalam masalah yang saya timbulkan ini". ucap Aldo lirih.
"Semoga saja. Saya mencari solusi karena saya juga tidak ingin study Destra terganggu karena masalah ini". ucap Alki.
"Saya akan kembali kerumah untuk membicarakan hal ini. Selama saya diluar kamu harus tetap berada dikantor. Segera beritahu saya jika ada hal yang sangat penting". seru Alki dan beranjak dari singgasananya. Aldo juga ikut berdiri ketika Alki berdiri.
"Yang sangat penting, kamu ingat itu". imbuh Alki menegaskan kepada Aldo dan berlalu meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
"Siap tuan". jawab Aldo yang juga meninggalkan ruangan Alki dan menutup rapat pintu ruangan tersebut yang otomatis akan terkunci jika sudah tertutup rapat.