
Beberapa hari kemudian tibalah waktunya dimana hari pernikahan Edo dengan Sandra akan dilaksanakan. Sehari sebelumnya Sandra beserta keluarganya telah berada dikota. Keluarga Sandra menginap dihotel berbintang lima yang telah disiapkan oleh keluarga Nugraha sekaligus tempat diadakannya ijab qabul.
Anggi dengan cekatan menyiapkan semua keperluan untuk pernikahan Edo. Sesuai dengan permintaan Sandra pernikahan Edo dan Sandra akan di adakan secara tertutup dari rekan kerja dan client Nugraha.
Meski pernikahan mereka hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat kedua belah pihak saja namun Anggi meminta salah satu wedding organizer terkenal untuk mendekorasi Aula tersebut dengan mewah.
Wajah Sandra yang cantik semakin memancar ketika tangan Make Up Artis yang disiapkan oleh Anggi merias wajahnya. Kebaya berwarna putih yang dikenakan Sandra serasi dengan yang dikenakan Edo.
Mereka disandingkan didepan penghulu dan juga juga ayah Sandra yang akan menikahkan mereka.
"Ananda Edo Satria bin Kasim saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Sandra kartika putri binti Wirandi dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat dan sebuah cincin bermata berlian Tunai". ucap Ayah Sandra dengan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sandra kartika putri binti Wirandi dengan maskawinnya yang tersebut diatas Tunai". jawab Edo dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi?". tanya pak penghulu.
"Sah". jawab para saksi serentak termasuk di antaranya adalah Destra dan juga Aldo.
"Alhamdulillah". jawab Edo dan juga yang lain.
"Kalian sekarang sah menjadi pasangan suami istri". seru pak penghulu.
Edo memasangkan cincin kejari manis Sandra dan begitu juga sebaliknya. Setelah itu Sandra mencium punggung tangan Edo. Sedangkan Edo mencium kening Sandra.
Acara pernikahan Edo dengan Sandra berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sama sekali. Selesai ijab qabul Edo dan Sandra melakukan sungkeman kepada kedua orang tua mereka.
Nasehat demi nasehat dari kedua orang tua diberikan kepada mereka untuk bekal dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Sebelum kembali kekantor Alki menyapa keluarga besannya terlebih dahulu untuk berpamitan karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan Alki. Keluarga Sandra dapat memaklumi kesibukan besannya itu seorang pebisnis yang kaya raya.
"Ingat bro, jangan terlalu diforsir bisa lumpuh menantu gue". bisik Alki mengejel Edo ketika berpamitan untuk segera kembali kekantor.
"Ya enggak lah Ayah". jawab Aldo
"Gue hanya mengingatkan saja bro, lebih baik loe tahan dulu selagi mertua loe masih dikota". bisik Alki tersenyum lebar menjahili Edo dan melangkah meninggalkan pasangan yang baru saja halal itu.
"Ayah ngomong apa Mas?". tanya Sandra yang melihat Edo senyum - senyum melihat kepergian Alki.
"Ayah bilang jangan terlalu diforsir". jawab Edo pelan yang masih tersenyum.
"Maksudnya apa ya mas?". tanya Sandra heran.
"Nanti kamu juga tahu". jawab Edo genit dengan menggerak - gerakkan kedua alisnya naik turun.
"Ih kok jadi genit gini sih mas". ucap Sandra dengan mencubit lengan Edo pelan.
"Genit dengan wanita halal aku ngak apa - apa donk". jawab Edo mendekatkan wajahnya ditelinga sandra.
"Malu mas masih ada orang tua kita". ucap Sandra dengan matanya yang mengedar keseluruh penjuru.
"Mereka pasti maklum, namanya juga pengantin baru". jawab Edo santai. Wajah Sandra seketika merona.
"Bro, gue balik kantor ya". ucap Destra menghampiri Edo yang lagi bermesraan.
"Kok cepet banget, kan ada om Aldo yang bantuin Ayah". tanya Edo.
"Ngapain juga gue disini lama - lama. Gue ngak mau ganggu kemesraan kalian, hehehe". Imbuh Destra.
"Loe ada - ada saja". ucap Edo malu - malu.
"Ini gue ada hadiah buat kalian berdua". ucap Destra dengan menyerahkan amplop.
__ADS_1
"Thank's bro, tapi apaan nih ya bro? Jadi penasaran gue". tanya Edo dengan membolak - balik amplop tersebut.
"Tiket bulan madu". jawab Destra.
"Wooww Terimakasih banyak bro. Loe memang adik gue yang paling ngertiin gue". ucap Edo dengan memeluk Destra dengan erat.
***
Satu hari sebelum keberangkatannya ke Amerika, Destra pergi kerumah sakit untuk menjenguk Caca sekaligus berpamitan dengannya.
Erni yang mengetahui kabar akan keberangkatan Destra kembali ke Amerika, berinisiatif untuk memberi waktu untuk Destra berbincang dengan Caca. Erni mengajak anak bungsunya untuk keluar dari ruangan tersebut dan menunggunya didepan.
Seperti biasa Destra melantunkan ayat suci Al-qur'an disebelah Caca. Kali ini Destra membacakan surat Yasin hingga selesai.
Destra meletakkan Al-qur'an kecil yang selalu dibawanya kemanapun dimeja sebelah Caca berbaring.
"Ca, kedatangan aku kali ini ingin berpamitan. Mungkin aku akan lama balik Ca. Aku berharap kita bisa ketemu lagi dalam keadaan yang berbeda bukan seperti ini Ca". ucap Destra lirih.
"Aku sayang banget sama kamu Ca. Meskipun aku ngak membalas perasaan aku, aku akan bersabar menunggu mu membuka hati kamu untuk aku".
"Bangunlah Ca, atau setidaknya gerakkan jari mu sekali saja sebagai tanda bahwa kamu dengerin aku". ucap Destra dengan memperhatikan jari - jari Caca. Namun yang diharap tak jua menggerakkan jarinya.
"Maafkan aku ya Ca, karena aku selalu meminta kepada Allah supaya kita berjodoh didunia hingga akhirat. Aku egois ya Ca? Padahal kamu belum tentu terima aku".
"Maafin semua kesalahan aku ya Ca, mungkin selama kita kenal aku ada buat kesalahan baik itu sengaja ataupun tidak sengaja".
"Aku pamit Ca, semoga Allah mengangkat segala penyakit kamu".
"Aku mencintaimu bidadari surgaku. Assalamualaikum". ucap Destra dengan beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut dengan mata berkaca - kaca.
Selama Caca koma, tidak pernah sedikitpun Destra menyentuh kulit Caca meskipun hanya sebatas tangan namun Destra tidak pernah menyentuh tangan atau jemari Caca. Destra sangat mengerti jika Caca tidak akan bersentuhan dengan yang bukan mahromnya.
Diluar ruangan Erni dan anak bungsunya yang bernama Defri duduk dikursi tunggu yang disediakan rumah sakit tersebut.
"Sudah selesai tuan?". tanya Erni.
"Sudah Tante".
"Apa benar besok tuan Destra akan kembali ke Amerika?". tanya Erni.
"Iya Tante, Destra titip jagain Caca ya Tan".
"Tante pasti jagain Caca dengan sangat baik tuan". jawab Erni.
"Panggil Destra saja Tan". seru Destra lembut.
"Sedikit sulit merubahnya, lain kali tante akan mencobanya".
"Baiklah tante, Destra pamit pulang ya tante". pamit Destra.
"Baiklah, tante doa kan semoga kamu sampai tujuan dengan selamat. Dan study kamu berjalan dengan lancar". ucap Erni.
"Amiinnn..terima kasih Tante". jawab Destra.
"kirim salam buat oma Siska dan om Rangga ya Tan".
"Akan tante sampaikan". jawab Erni dengan tersenyum ramah.
"Assalamualaikum". ucap Destra dan meninggalkan rumah sakit
"Waalaikumsalam". saut Erni dengan menatap punggung Destra hingga tak terlihat.
__ADS_1
Erni dan Defri kembali memasuki ruang rawat Caca. Defri menghampiri brankar Caca dan duduk dikursi yang tadi Destra tempati.
"Mbak Caca Cantik kapan bangun. Mbak ngomong mau ajak Defri jalan - jalan. Ayo bangun donk mbak, memangnya mbak ngak bosen tidur terus". celoteh Defri.
"Defri dan kak Deni rencananya mau ikut mbak Caca kedanau toba. Kak Deni bilang disana enak, apa bener mbak?".
"Mbak Caca jahat, masak Defri dicuekin". ucap Defri.
Erni hanya tersenyum getir mendengar anak bungsunya yang terus berceloteh disisi Caca.
Melihat anak - anaknya yang merindukan sosok Caca membuat hati Erni kembali perih. Ditambah lagi disaat mengingat kedua orang tua Caca yang juga merupakan kakak iparnya telah tiada.
Destra segera membali kerumah utama untuk menghantar Edo dan Sandra ke bandara untuk menikmati kado pernikahan yang diberikannya kepada pengantin baru itu yaitu jalan - jalan ke korea selatan serta hotel mewah selama 15 hari.
Sesuai dengan yang dikatakan Alki, bahwa dia akan membeli jet pribadi yang akan menghantar Destra kembali ke Amerika.
Mereka yang berencana ingin menghantar Destra ke Amerika gagal total dikarenakan padatnya pekerjaan Alki. Sehari sebelum Destra berangkat Edo yang juga berangkat ke korea untuk berbulan madu membuat Alki harus kerja extra tanpa bantuan Edo.
"Mami, kenapa ngak kita dua saja sih yang mengantar kak Destra". ucap Devi yang kesal dengan memanyunkan bibirnya.
"Papi kamu ngak kasih izin mami untuk pergi sayang". jawab Anggi.
"Mami kan bisa protes".
"Ngak boleh sayang, jika papi kalian melarang pergi mami tidak boleh membantahnya. Jika mami melanggarnya mami bisa mendapat dosa besar". jawab Anggi.
"Biasanya juga papi takut dengan Mami. Buktinya mami lebih berkuasa diperusahaan dari pada papi".
"Ini beda sayang". jawab Anggi.
"Mami bisa berkuasa karena kecerdasan mami dibutuh papi kalian untuk memajukan perusahaan. Makanya kamu juga harus jadi orang yang pintar supaya kamu bisa di ajak bertukar pendapat atau mencari solusi setiap ada kendala". ujar Anggi.
"Mami kasih solusi donk dengan papi supaya ngizinin kita pergi".
"Papi kamu tetap ngak ngizinin bagaimana?".
"Apa alasan papi ngak ngizinin Mami pergi?". tanya Devi.
"Papi kalian ngak bisa video Call kalau kita lagi dipesawat". jawab Anggi jujur.
"Ih lebay papi dari dulu ngak hilang - hilang". ucap Devi kesal.
"Anak sudah besar - besar juga. Sudah punya menantu lagi tapi masih aja seperti anak ABG". imbuhnya.
"Tapi mami suka sayang". jawab Anggi santai.
"Mami". rengek Devi.
"Kalau kamu mahu, pergi saja sendiri anterin kakak kamu ke Amerika".
"Ngak ada mami ngak rame". jawab Devi cengengesan.
Anggi hanya bisa geleng - geleng kepala dan menarik nafas dalam lalu membuangnya kasar.
"Kita antar kakak kamu sampai bandara saja ya". ucap Anggi.
"Ok mami, Bandara new york kan mam?". tanya Devi dengan sangat antusias.
"Iya, tapi dalam mimpi". jawab Anggi.
"Mami". rengek Devi lagi.
__ADS_1