SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 2


__ADS_3

Mendengar ocehan Santi sontak membuat Caca menatap tajam kearahnya. Santi yang mendapat tatapan membunuh hanya acuh saja.


Setelah mereka saling berkenalan Boy segera meninggalkan ketiga remaja cabe - cabean tersebut. Tanpa ragu mereka segera menyantap makanan masing - masing yang menggugah selera ditambah dengan suasana nyaman dan tenang membuat selera makan pengunjung semakin berselera.


"Gue kemusholla dulu ya". Ucap Caca yang lebih dulu menyelesaikan makannya.


"Gue titip doa ya Ca". seru Santi


"Iya, gue akan berdoa supaya kita dapat menyelesaikan ujian kenaikan kelas dengan sangat baik". jawab Caca santai dengan beranjak dari duduknya.


Rani pun ikut beranjak dari duduknya dan mendekat kearah Caca.


"Gue nitip doa supaya berjodoh dengan kak Boy ya Ca". ucap Rani pelan.


"Yaelah gue kira loe bangkit dari duduk mau bareng gue kemusholla Ran". Caca


"Gue cuma nitip do'a itu doang ". seru Rani lagi


"Ogah, loe doa sendiri". jawab Caca


"Emang Rani nitip do'a apaan Ca?". tanya Santi yang mendengar bisikan Rani kepada Caca.


Caca yang ingin menyampaikan permintaan Rani, dengan cepat Rani menutup mulut Caca dengan telapak tangannya.


Rani membawa Caca kearah musholla dengan tangannya yang masih menutup mulut Caca.


Setelah sedikit jauh dari tempat Santi duduk, baru Rani melepas tangannya dari mulut Caca.


"Loe kagak usah ngomong ama Santi donk Ca, gue kan malu". Rani


"Ama gue loe kagak malu. Ya sudah ayok kita Shalat". ajak Caca


"Gue belum bersih Ca, sudah loe masuk sana". Seru Rani dengan mendorong pelan badan Caca "Jangan lupa titipan doa gue tadi". Imbuh nya


"Ogah, Kalau loe sudah bersih, loe bisa minta sendiri". Jawab Caca santai dan bergegas meninggalkan Rani.


"Tega banget loe Ca". ucap Rani lirih.


Rani hanya menarik nafas lesu. Dan kembali kemeja tempat Santi berada.


*


Tidak berapa lama Caca sudah kembali bergabung dengan kedua temannya setelah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah.


"Yok kita balik". ajak Caca kepada Rani dan Santi


"Cepet amat, entar lagi donk Ca kita balik. Makanan gue juga belum nyampek lambung dengan selamat". ujar Santi.


"Iya Ca, gue juga masih kangen sama Kak Boy". ucap Rani tanpa rasa malu.


"Keburu bokap gue sampai rumah duluan". ujar Caca terlihat khawatir.


"Besok kita kesini lagi deh". imbuhnya.


"Janji loe". tanya Santi dan Rani kompak.


"InsyaAllah".jawab Caca


Sebelum mereka meninggalkan cafe tersebut, mereka menuju kasir untuk membayar pesanan mereka masing - masing.


Mereka berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum yang melalui kawasan rumah mereka. Rumah mereka yang searah memungkinkan mereka untuk menggunakan angkutan yang sama.


Rani asyik mengotak katik smartphonenya menjelajah sosial media untuk mencari sesuatu sambil menunggu bus mereka.


"Loe lihat apaan sih Ran?".tanya Santi kepo yang memperhatikan Rani.


"Gue lagi cari akun nya kak Boy". jawab Rani jujur.


"Ketemu kagak?". tanya Santi antusias.


"Belum, malah gue bingung San. Coba loe kihat nih. atas nama Boy banyak banget". ujar Rani dengan memperlihatkan pencaharian smartphonenya kepada Santi.

__ADS_1


"Kenapa tadi loe kagak tanya nama IG nya aja Ran?.biar kita follow bareng IG nya kak Boy". santi


"Gue malulah peak ". jawab Rani.


"Tumben. Ternyata loe masih ada rasa malu juga" ucap Santi tertawa.


"Pasti ada lah peak". jawabnya kesal.


"Tapi gue penasaran banget nama panjang kak Boy". imbuh Rani.


"Coba loe ketik Boymen atau Boyran". Saran Caca santai.


"Ngak mungkinlah Ca. Secara ya kak Boy yang gantengnya ngak ketulungan punya nama gituan. Bisa hilang lima puluh persen tuh ganteng Ca". Sahut Rani


"Ngak lucu ah Ca". Santi


"Apa salahnya dicoba say". Caca


Santi yang juga memegang smartphonenya ikut mencari nama Boyran yang disebut Caca. Dengan jaringan 4g tidak memakan waktu lama untuk memunculkan nama yang dicarinya.


"Bukannya ini kak Boy?". ucap Santi heran yang telah menemukan akun yang mereka cari dan memperlihatkannya kepada Caca dan Rani bergantian.


"Tuh benerkan yang gue bilang". ucap Caca bangga karena berhasil menebak nama panjang orang tersebut.


"Loe kok bisa tahu ya Ca?, atau jangan - jangan Loe sudah temanan di fb atau di ig ya?". tanya Rani penuh curiga.


"Eh cunguk, Loe cari saja disemua sosmed gue ada kagak akun laki - laki di kontak gue, kecuali saudara deket gue ya". terang Caca sewot.


Caca memang memiliki akun fb dan ig seperti anak - anak muda kebanyakan, namun Caca tidak menerima akun yang berjenis kelamin laki - laki terkecuali saudara dekatnya. Akunnyapun mode privasi yang hanya bisa dilihat oleh kontaknya saja.


"Tapi kok tebakan loe bisa bener ya Ca?". Rani


"Loe anak dukun ya Ca?". canda Santi


"Gue embahnya dukun". Jawab Caca santai membuat membuat Santi dan Rani tertawa.


"Tapi lucu ya nama panjangnya kak Boy". Rani


"Gue ada saran nih buat loe berdua sebagai penggemar beratnya kak Boy". Caca


"Buat apaan Ca?".tanya Santi


"Supaya Loe bisa update statuslah". seru Caca


"Sumpah gue kagak nyambung. maksud loe gimana sich Ca?". tanya Rani


"Loe dua tuh paling demen kan update status dengan menyebut nama yang loe taksir, bener kagak?".


"Tau aja loe". jawab Santi dan Rani kompak dengan cengengesan.


"Emangnya loe berdua mau dikatain penggemar kalian dari dunia hantah barantah sedang memperebutkan kak Boy?". ujar Caca


"Bener juga saran loe Ca". jawab Rani dan Santi.


"Ok deh kalau gitu, gue nyebutnya Kak Boy dan loe San nyebutnya kak Ran, setuju ngak loe San?"


"Gue pakai Boy donk Ran". bantah Santi


"Terserah Loe deh". jawab Rani.


"Gitu donk". seru Santi dengan melakukan tos kepada Rani.


Caca hanya bisa geleng - geleng melihat kedua temannya.


Selang beberapa menit Bus yang mereka tunggu - tunggu pun telah tiba yang akan menghantar mereka kerumah masing - masing.


Kekhawatiran Caca timbul ketika melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16.30. Rasa khawatirnya tidak ditunjukkannya kepada kedua temannya.


"Gue duluan ya guys". Ucap Caca dengan melambaikan tangan ketemannya dan melangkah keluar dari bus. Sedangkan kedua temannya masih harus melanjutkan perjalanan menuju halte berikutnya.


Tidak jauh dari halte bus, Caca sudah sampai di depan pagar rumahnya.

__ADS_1


Sebelum memasuki pekarangan rumah tersebut dengan bibir berkomat kamit membaca doa - doa.


"Alhamdulillah, Ayah belum pulang kantor". Gumannya dalam hati dengan memegang dadanya setelah melihat mobil Ayah nya tidak terlihat di pekarangan rumah tersebut.


"Assalamualaikum". ucap Caca diambang pintu rumah setelah membuka sepatu sekolahnya dan membuka handel pintu besi yang tidak terkunci secara perlahan.


"Waalaikumsalam " jawab seseorang dengan lembut. Itu adalah suara ayahnya yang bernama Ahmad.


Ahmad yang baru keluar dari kamarnya, melangkah menuju sofa yang tidak jauh dari anak tangga dimana Caca berhenti melangkah ketika mendengar sautan ayahnya.


"Tamatlah sudah". gumannya dalam hati karena dugaan tentang Ayah nya masih dikantor ternyata salah. "Kemana mobil Ayah ya?". gumannya lagi dalam hati.


Dengan kepala menunduk Caca menghampiri ayahnya untuk mencium punggung tangan lelaki itu seperti biasa.


Dari Caca lahir belum pernah sekalipun Ahmad melakukan kekerasan jika anaknya tersebut melakukan kesalahan. Ahmad hanya akan memberikan nasehat - nasehat tentang apa yang akan ditimbulkan jika Caca melanggarnya.


Kecuali mengenai hal saat ini, biasanya Ahmad akan memberinya hukuman dengan tidak memperbolehkan Caca untuk pergi kesekolah hingga beberapa hari. Menurut Caca itu hukuman yang sangat berat dan membosankan.


"Duduk". seru Ahmad dengan tegas. Suara berat itu langsung membuat Caca bergidik ngeri dan segera mendudukkan bokongnya dengan wajah yang sudah pucat pasi.


"Dari mana saja kamu?". tanya Ahmad masih dengan suara datarnya menatap anak semata wayang nya dengan tatapan mengintimidasi.


"Ta..tadi habis nongkrong Yah, sama Rani dan Santi". Jawabnya terbata - bata dengan memainkan kukunya tanpa berani melihat wajah ayahnya yang kini berada didepannya.


"Kemana Handphone kamu?". Tanya Ahmad masih dengan suara datar.


Dengan sigap Caca langsung merogoh isi tasnya untuk mencari barang yang dimasuk ayahnya. Melihat handphonenya yang sudah padam semakin membuatnya ketakutan dengan mata berkaca - kaca.


"Maaf Ayah, handphone Caca mati mungkin lowbat Yah". Jawabnya dengan suara gemetar.


"Jika memang handphone itu sudah tidak bisa kamu pergunakan lagi untuk memberi kabar dengan Ayah atau bundamu, lebih baik kamu tidak perlu lagi menggunakannya". ucap Ahmad tegas


"Bunda tolongin Caca". Ucapnya dalam hati memohon agar bundanya yang entah dimana segera datang membantunya. Namun yang diharap belum juga muncul.


"Maaf Ayah, Caca kemaren malam lupa ngeCas". sahut Caca masih dengan wajah menunduk dan menghapus airmatanya yang kini telah tumpah.


"Ada ngak Caca pikirkan gimana Ayah dan Bundamu yang menunggumu disini dengan perasaan tidak menentu?". suara Ahmad yang tadinya keras menjadi lembut.


"Caca itu anak perempuan, ngak baik keluyuran ngak jelas apa lagi sehabis jam sekolah apa lagi tidak ada kabar sama sekali". ujar Ahmad masih dengan suara lembut. Caca hanya masih dengan posisi menunduk.


"Ayah takut terjadi apa - apa sama kamu diluar sana. Yang ayah takutkan lagi Caca salah pergaulan yang bisa menghancurkan masa depanmu, jalanmu masih panjang nak". Imbuhnya lagi.


"Ayah tidak pernah melarangmu untuk nongkrong dengan teman - teman sekolahmu, selagi itu masih dalam batasan yang wajar. Ayah percaya sama kamu, Tapi ada baiknya kabari ayah atau bundamu supaya kami tahu keadaan kamu diluar sana". Seru Ahmad lembut.


Menyadari akan kesalahannya yang membuat orang tuanya sangat mengkhawatirkannya Caca berhambur mendekat keAhmad dan memegang lutut ayahnya.


"Maafkan Caca ayah, Caca ngak akan mengulanginya lagi". Ucapnya dengan air mata yang bercucuran.


Ahmad yang melihat anaknya bersimpuh dilututnya, ia pun membelai kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah akan memaafkanmu kali ini, tapi jika terulang kembali seperti ini ayah akan mengambil handphone kamu dan kamu tidak perlu pergi kesekolah selama lima hari". ancam Ahmad


"Iya ayah, Caca tidak akan mengulanginya lagi". jawab Caca sesegukan.


Caca sangat takut bila ayahnya melarang pergi kesekolah. Karena baginya itu adalah waktu yang berharga baginya untuk menimba ilmu.


"Ayah hanya bisa berdoa nak, supaya Allah selalu melindungimu dari segala marabahaya". Ucap Ahmad dengan suara lirih.


"Amin ya Allah". Jawab Ratna mengaminkan doa suaminya disaat menghampiri suami dan anaknya.


"Sudah jangan nangis lagi, yang penting jangan terulang lagi". ucap Ratna dan memapah anaknya agar duduk disebelahnya.


Caca segera mencium punggung tangan bundanya ketika Ratna telah duduk disebelah Ahmad.


"Sekarang bersihkan dirimu sana, anak gadis kok bau perengus". Imbuhnya lagi.


Caca yang dikatai bau perengus sontak mencium kedua bajunya di bagian ketiak secara bergantian.


"Enggak bau kok Bun". Jawabnya dengan suara serak dan mencium - cium badannya sendiri mencari aroma yang dimaksud bundanya.


"Sudah sana mandi, bentar lagi magerib". seru ayahnya dengan beranjak dari duduk menuju kamarnya untuk bersiap - siap berangkat kemasjid untuk melaksanakan Shalat berjamaah.

__ADS_1


"Iya Yah". jawab Caca.


Caca bergegas menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri. Tidak lupa Caca memberi daya handphonenya yang sudah mati, dan beranjak kekamar mandinya untuk membersihkan diri.


__ADS_2