SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 42


__ADS_3

Alki bergegas meninggalkan gedung Nugraha untuk segera tiba dirumahnya. Pak Agus yang selalu standby dengan berlari kecil segera membukakan pintu mobil ketika melihat Alki keluar dari dalam lift khusus. Karyawan yang melihat Alki langsung membungkuk hormat kepada penguasa gedung tersebut.


"Kita kembali kerumah". seru Alki memasuki mobilnya.


"Siap tuan". jawab pak Agus dan melajukan mobil meninggalkan area gedung Nugraha.


Sesampainya dipekarangan rumahnya yang luas, Alki melihat istri dan anak perempuannya keluar dari dalam rumah yang akan memasuki mobil dengan berpakaian rapi. Anggi yang melihat mobil suaminya mengurungkan langkahnya yang akan memasuki mobil dan kembali ke teras rumah untuk menyambut Alki begitu juga dengan Devi.


"Kalian berdua mau kemana sayang?". tanya Alki menghampiri mereka yang mematung di teras rumahnya tidak lupa Alki mencium pipi Anggi dan mencium pucuk kepala Devi.


"Mami dan Devi mau pergi ke rumah sakit untuk jenguk Caca". jawab Anggi lembut sambil mencium punggung tangan Alki yang diikuti oleh Devi.


"Papi kok ngak hubungi mami dulu kalau ingin makan siang dirumah?". tanya Anggi.


"Ada hal penting yang ingin papi bicarakan dengan kalian berdua". ucap Alki dengan membawa kedua wanita tersayangnya untuk kembali masuk kerumah tanpa ada penolakan dari kedua wanita yang berbeda usia tersebut


"Caca sudah tidak ada dikota ini lagi". ucap Alki to the point disaat mereka telah berada diruang keluarga.


"Maksud papi?". tanya Devi bingung.


"Caca sudah dibawa ke kota medan oleh oma Siska". jawab Alki.


"Sejak kapan mereka membawanya?". tanya Anggi.


"Sepertinya baru hari ini. Aldo tidak akan mungkin merahasiakan apapun dari kita meski dalam sehari". jawab Alki yang sangat mengetahui sifat orang kepercayaannya itu.


"Terus apa alasan mereka membawanya kesana?". tanya Anggi heran.


"Penjelasan Aldo ke Papi dengan membawa Caca kesana seakan - akan dia seperti masih berlibur sekolah". jawab Alki


"Tapi alasan utama Aldo, dia tidak sanggup untuk mengatakan langsung jika kedua orang tua Caca sudah tiada". ujar Alki.


"Mengapa dia menjadi seorang Paman yang pengecut begitu?". tanya Anggi.


"Dia sudah mengakui akan itu sayang. Dari pandangan papi sih sepertinya dia tidak sanggup melihat hati Caca hancur ketika mengetahui kedua orang tuanya telah tiada". jawab Alki.


"Dari cerita oma Siska, Caca anak yang tegar dan dia anak yang mandiri. Sudah pasti Caca siap menerima kenyataan yang menimpanya". ucap Devi.


"Dia terlihat kuat dari luarnya, tapi kita tidak tahu didalam hatinya sayang. Aldo mengatakan jika Caca tidak akan menangis didepan siapapun terkecuali didepan orang tuanya. Dan itu yang membuat Aldo tidak sanggup ketika melihat Caca yang mungkin akan berpura - pura kuat dan tegar didepan Aldo". ujar Alki. Anggi mengangguk - anggukkan kepalanya mendengar penuturan suaminya.


"Benar juga sih apa yang dikatakan Aldo. Tapi sebagai Pamannya dan juga Caca merupakan darah dagingnya sudah semestinya dia yang harus bertanggung jawab penuh terhadap Caca donk". ucap Anggi yang kesal mendengar keputusan Aldo.


"Mau gima lagi sayang? ini sudah terjadi. Dan Aldo sudah mengakui kesalahannya dan mengakui dirinya seorang pengecut". jawab Alki menenangkan istrinya yang terlihat kesal dengan keputusan Aldo.


"Kalau Caca sudah ngak ada lagi dikota ini gimana Devi menjenguknya?. Devi juga diminta kak Destra untuk sering - sering jenguk Caca lagi". ucap Devi.


Anggi diam dengan memutar otaknya memikirkan cara menghadapi pertanyaan Destra.


"Begini saja. Karena ini sudah terjadi jika Destra bertanya tentang Caca kalian katakan saja jika kondisinya masih sama seperti Destra meninggalkannya". jawab Anggi.


"Dan jangan ada yang memberitahukannya mengenai keberadaan Caca yang sudah berada di kota medan". imbuh Anggi.


"Bagaimana kalau kak Destra minta dikirimin photo atau sebagainya Mam?". tanya Devi lagi.


"Kalau Destra bertanya tentang Caca sama kamu, katakan saja kamu ngak berani lagi pergi kerumah sakit sendirian. Sebentar lagi kamu juga sudah harus masuk sekolah, jadi kamu bisa beralasan ngak sempat untuk jenguk Caca". jawab Anggi.

__ADS_1


"Mami yakin Destra akan bertanya sama mami tentang keadaan Caca". imbuh Anggi.


"Kira - kira apa jawaban Mami untuk Destra?". tanya Alki ke Anggi.


"Itu urusan Mami kalian tenang saja". jawab Anggi tenang.


"Tapi Devi sudah terlanjur suka berteman dengan Caca Mam". ucap Devi lirih.


"Sekarang yang papi khawatirkan bagaimana jika Caca memutuskan untuk menetap dimedan". ucap Alki.


"Caca punya hak untuk tinggal dimanapun dia mau. Kita tidak bisa memaksakannya untuk tetap tinggal dikota ini Papi". jawab Anggi.


"Iya Papi ngerti, tapi bagaimana dengan Destra?".


"Mudah - mudahan seiring berjalannya waktu Destra pasti akan mengerti". jawab Anggi.


"Papi ngak yakin sayang". jawab Alki.


"Papi kok ngak yakin sih dengan anak sendiri?. Pengetahuan agama Destra itu ada. Dan dia pasti akan mengerti yang namanya 'kalau jodoh tak akan kemana". jawab Anggi.


"Mudah - mudahan saja sayang". jawab Alki berharap Destra bisa menerima keputusan Caca jika untuk menetap tinggal di medan.


Sepengetahuan Alki, sifat anaknya tersebut tidak akan mudah menyerah untuk bisa mendapatkan sesuatu yang diingininya sampai tibanya dia akan merasa lelah sendiri.


"Jadi kita ngak kemana - mana nih Mam?. Bosan juga Devi dirumah terus". tanya Devi.


"Kita makan dirumah saja. Dan nanti kamu ikut mami". jawab Anggi.


"Memangnya mami mau ajak Devi kemana?". tanya Devi penasaran.


"Kita makan diluar saja sayang. Lagi pula kalian sudah rapi dan cantik - cantik begini jadi kita bisa langsung berangkat". ujar Alki menggoda Anggi.


"Ya sudah jika papi ingin makan diluar sekalian kita bawa anak gadis kita ini keluar rumah supaya ngak bosan". jawab Anggi.


"Asyiiikk". seru Devi kegirangan.


*


Sepekan sudah Destra meninggalkan negara tercintanya beserta orang terkasih. Benar saja disaat weekend Destra mempertanyakan keadaan Caca dengan Anggi.


Anggi selalu punya banyak cara jitu untuk membuat anaknya percaya. Destra pernah meminta maminya untuk melakukan video call jika berada dirumah sakit. Namun Anggi memberi alasan dengan waktu yang berbeda tidak memungkinkannya untuk bisa Video Call disaat dirinya menjenguk Caca dirumah sakit.


Disaat Destra meminta photo Caca yang lagi terbaring koma, Anggi memintanya kepada oma Siska mengirimkan photo yang selalu ada didekat Caca.


Alasan yang masuk akal bagi Destra untuk mempercayai maminya disaat menolaknya untuk melakukan video Call dikarenakan perbedaan waktu yang berselisih 12 jam tersebut.


Tidak lupa Anggi selalu mengingatkan anaknya yang jauh untuk tidak melupakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Destra tidak pernah lagi bertanya tentang Caca kepada Devi, karena Destra tidak mau mengganggu Devi yang sudah mulai disibukkan dengan kegiatan belajar disekolahnya.


*****


Beberapa pekan kemudian semenjak Caca dirawat dirumah sakit medan, kesehatan Caca semakin membaik. Perban diwajahnya sudah tidak terlihat lagi. Bekas luka diwajahnya pun mulai memudar.


Siska bersama istri Rangga yang bernama Vika dengan telaten merawat Caca secara bergantian disaat Rangga sibuk dikantor.

__ADS_1


Disaat hari libur kerja mereka akan berkumpul dirumah sakit untuk menemani Caca bersama - sama.


Ketiga anak Rangga juga bersama mereka disaat hari libur sekolah sehingga membuat suasana ruang rawat Caca menjadi ramai karena suara mereka yang bermain - main diiringi tawa dan terkadang ada suara tangis dari salah satu anak Rangga yang paling bungsu berusia 4 tahun.


Anak Rangga yang kecil berusia 4 tahun bernama Nadin naik ke brankar Caca dengan menggunakan kursi yang berada disebelah brankar dan menggoyang - goyangkan tangan Caca.


"Kak ayok bangun". seru Nadin.


"Ayok kita main". imbuhnya lagi dengan menarik - narik tangan Caca.


"Astaqhfirullahalazim". ucap Rangga dengan spontan disaat mengetahui anak bungsunya sudah santai duduk dikaki Caca. Rangga segera mengangkat tubuh kecil Nadin dari atas kaki Caca.


Vino dan Billy malah tertawa melihat adik mereka naik keatas brankar tanpa bantuan siapapun.


Namun disaat Rangga mengangkat tubuh anaknya, sekilas Rangga melihat mata Caca bergerak - gerak.


"Bunda, cepat lihat kesini". jerit Rangga memanggil Siska. Sontak Siska dan Vika beranjak dari tempat duduknya mendekati brankar Caca.


"Lihat mata si Caca gerak - gerak Bun". ucapnya lagi.


Siska yang melihat mata Caca bergerak, sontak menutup mulutnya karena menahan tangis bahagianya.


"Alhamdulillah ya Allah. Allah mendengar doa kita nak e". ucap Siska dengan penuh suka cita.


Dengan Cepat Rangga menekan tombol darurat yang ada diatas brankar Caca untuk memanggil dokter. Dalam sekejap Dokter yang berjaga pada saat itu langsung masuk keruang rawat Caca.


Tanpa bertanya dokter tersebut langsung memeriksa kondisi Caca dengan dibantu 2 perawat yang ikut bersamanya.


Mereka memberi ruang kepada Dokter untuk memeriksa kondisi Caca.


"Alhamdulillah, dia telah siuman". ucap dokter setelah beberapa menit memeriksa kondisi Caca untuk lebih memastikan.


"Alhamdulillah". ucap Rangga, Siska dan Vika.


Dokter Reza bersama dua perawat kembali memeriksa keadaan Caca untuk melepas alat - alat medis dari tubuh Caca yang tidak perlu digunakan lagi.


"Saudari Caca". panggil Reza menguji ingatan Caca akan dirinya. Caca mengalihkan pandangannya ke arah suara dengan tatapan bingung dan linglung. Dan kembali mengedarkan pandangannya memperhatikan disekelilingnya.


"Saudara Rangga sebaiknya kita berbicara diruangan saya saja. Saya akan menjelaskan kondisi saudari Caca". ujar dokter Reza.


"Baik Dokter". jawab Rangga dengan mengikuti langkah dokter Reza dan menurunkan Nadin yang masih berada digendongannya didekat Vika.


"Begini saudara Rangga, kebanyakan pasien yang baru siuman dari koma akan terlihat seperti orang linglung. Terkadang pasien yang seperti ini juga akan mengalami kesulitan untuk berbicara. Dan ada juga yang tidak bisa berjalan.Namun demikian kondisi seperti ini hanya sementara saja". ujar Reza.


"Mengapa dia tidak bisa berjalan dokter?". tanya Rangga.


"Hasil dari pemeriksaan kami sebelumnya dengan menggunakan CT-scan saudari Caca tidak ada mengalami kerusakan tulang yang mengakibatkan kelumpuhan atau sebagainya, semua kondisi tubuh baik tidak ada kerusakan sama sekali. Jadi tidak perlu dikhawatirkan". jawab Reza.


"Alhamdulillah". ucap Rangga mengucap syukur karena Caca tidak ada Caca fisik.


"Tapi apa yang menyebabkannya tidak bisa berjalan dokter?". tanya Rangga memastikan.


"Begini saudara Rangga, kecelakaan waktu itu membuat saudari Caca ada mengalami benturan dibagian kepalanya. Akibat dari kecelakaan itu juga dia ada mengalami trauma berat yang mengakibatkan beberapa sel otak belum berfungsi secara optimal".


"Saya sarankan untuk membawanya ketempat yang nyaman tenang dan asri. Pasien yang sadar dari koma membutuhkan tempat yang nyaman yang dapat membantu sel otak memperbaiki bagian yang rusak. Dengan lingkungan yang tenang juga seiring berjalannya waktu dapat menghilangkan rasa trauma yang dialaminya". ujar Reza.

__ADS_1


"Apakah dia akan mengingat peristiwa kecelakaan itu dokter". tanya Rangga.


__ADS_2