SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 43


__ADS_3

"Apakah dia akan mengingat peristiwa kecelakaan itu dokter". tanya Rangga.


"Setelah kami melakukan pengecekan ulang dibagian otak saudari Caca, Alhamdulillah kami tidak menemukan adanya kerusakan. Dan InsyaAllah semua ingatan saudari Caca baik itu masa lalunya hingga saat sebelum terjadinya kecelakaan itu secara perlahan pasti akan kembali, dan itu tidak membutuhkan waktu yang lama". jawab dokter Reza.


Rasa syukur terus Rangga ucapkan dikala dokter Reza mengatakan tidak ada kerusakan fisik baik dalam mau pun luar. Namun ada cerca yang dikhawatirkan Rangga jika Caca harus mengingat tragedi kecelakaan yang menimpanya.


"Dokter, jika dia mengingat tragedi kecelakaan itu, apakah akan terjadi sesuatu terhadapnya". tanya Rangga.


"InsyaAllah tidak ada". jawabnya.


"Sebab itu saya sarankan untuk membawanya ketempat yang tenang dan nyaman untuknya". ucap Reza.


"Syukur Alhamdulillah jika tidak ada terjadi apa - apa dokter". ucap Rangga.


"Kira - kira kapan kami bisa membawanya pulang dokter?".


"Kita lihat kondisinya sampai besok, jika tidak ada yang dikhawatirkan, besok sudah bisa dibawa pulang". jawab dokter paruh baya tersebut.


"Baik Dokter, kami akan melakukan saran dokter. Terimakasih banyak dokter". jawab Rangga dengan bersalaman.


"Sama - sama". jawab Reza.


Rangga kembali keruang Caca untuk menceritakan semua apa yang disampaikan dokter Reza kepadanya.


"Bunda,,,ada yang ingin aku sampaikan. Tapi kita bicara diluar saja ya Bun". ucap Rangga berbisik. Siska menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Rangga.


Rangga membawa bundanya keluar dari ruangan untuk menyampaikan semua yang dikatakan dokter Reza kepadanya.


Rangga menyampaikan semuanya ke Siska tanpa ada yang terlupakan.


Benar apa yang dikatakan dokter Reza pasca siuman dari koma Caca lebih banyak murung dan belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Rangga menyetel brankar tempat Caca berbaring agar bisa membuat Caca duduk bersandar. Caca terus mengedarkan matanya keseluruh penjuru ruangan tempat dirinya dirawat.


"Ca, ini opung boru". ucap Siska menunjuk dirinya yang berada disebelah Caca dengan menitikkan air mata bahagia.


"Itu Tulang mu". ucap Siska menunjuk Rangga.


"Itu Nantulang mu". ujar Siska menunjuk istri Rangga.


"Ingatnya kau kan sama kami?". tanya Siska.


"Alhamdulillah". ucap mereka kompak saat Caca menganggukkan kepalanya.


Dengan rasa suka cita mereka bergantian mencium pucuk kepala Caca. Sedangkan Vino dan Billy mecium punggung tangan Caca saja yang masih lemas.


"Semoga cepat sembuh ya sayang". ucap mereka disaat mencium pucuk kepala Caca.


Rangga kembali menghampiri Caca bersama Nadin yang berada digendongannya.


"Cium kak Caca sayang". seru Rangga kepada Nadin dengan mendekatkan anaknya kewajah Caca. Nadin mencium pipi Caca menggunakan bibirnya hingga berbunyi suara kecupan.


"Sudah kau kasih kabar orang itu Nak?". tanya Siska kepada Rangga tanpa menyebutkan nama orang yang dimaksud agar tidak dimengerti Caca jika yang dimaksud Siska adalah Aldo paman Caca.


"Aih kok bisa lupa aku ya Bun. Ku telephone lah dulu dia". jawab Rangga yang mengerti siapa yang dimaksud Bundanya. Rangga menurunkan Nadin dari gendongannya dan berlalu keluar dari ruangan tersebut.


Rangga sengaja keluar dari ruang rawat Caca agar lebih leluasa berbicara dengan Aldo dan tidak didengar oleh Caca.

__ADS_1


"Assalamualaikum ". ucap Rangga saat panggilan selulernya terhubung.


"Waalaikumsalam". jawab Aldo.


"Ada apa bro?". tanya Aldo.


"Caca sudah sadar dari komanya bro". ucap Rangga antusias.


"Alhamdulillah ya Allah". ucap Aldo


"Terus bagaimana keadaannya sekarang bro". tanya Aldo tak kalah antusias.


"Alhamdulillah. Keadaannya baik bro, tapi dokter tadi bilang kalau orang yang baru sadar dari koma akan terlihat seperti orang linglung, dan itu sekarang terjadi pada Caca". jawab Rangga.


"Dokter menyarankan untuk membawanya ketempat yang nyaman dan tenang. Dan kami sudah memutuskan untuk membawanya ke villa kami yang ada didanau toba". imbuh Rangga.


"Syukur , Alhamdulillah jika dia dalam keadaan baik - baik saja. Terimakasih ya bro karena telah merawat Caca dengan sangat baik". ucap Aldo lirih.


"Jangan gitu lah kau bro, kek orang lain saja kau anggap kami lah. Dia juga tanggung jawab kami bro". jawab Rangga.


"Bukan begitu bro, seharusnya aku lah yang harus merawatnya. Karena rasa pengecutku ini, aku melepaskan tanggung jawabku. Aku memang pantas dijuluki sipengecut bro. Dan aku tidak pantas menjadi seorang Paman untuknya karena melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang paman". ucap Aldo lirih.


"Jangan merasa bersalah begitulah bro. Dia juga tanggung jawab kami bro. Sudahlah yang penting sekarang keponakan kita sudah sadar dengan keadaan sehat. Dan kita ini tetap saudara meskipun kakak kita sudah pergi untuk selamanya". ucap Rangga.


"Terimakasih banyak brother".ucap Aldo.


"Oh iya bro, kalau kami datang kesana apakah kalian berkenan menerima kedatangan kami disana bro?. Aku ingin melihatnya secara langsung bro". pinta Aldo yang sudah lama tidak melihat Caca.


"Kami pasti senanglah kalau kalian datang kesini bro. Tapi jika kalian datang sekarang, kek mana dengan Caca jika hanya melihat kalian saja. Apa kau sudah siap menghadapinya?". tanya Rangga mengingatkan Aldo dikala tidak siap untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Aku sudah memikirkan hal ini setelah melepas Caca pergi kemedan. Siap ngak siap kita harus mengatakan yang sebenarnya bro".


"Tapi aku penasaran sama kau bro, sebelumnya apa sebenarnya yang membuat kau ngak sanggup untuk mengatakan langsung sama dia". tanya Rangga.


"Kau harus tahu bro, Caca tidak akan bertanya mengenai sesuatu yang akan membuat orang disekelilingnya sedih. Dia akan memilih diam saja dan mencaritahunya sendiri". ujar Aldo.


"Terus kenapa kau ngak berani menghadapinya jika dia tidak akan bertanya bro?". tanya Rangga.


"Aku tidak sanggup melihatnya tersenyum untuk menutupi kesedihan yang dirasakannya bro". jawab Aldo lirih.


"Maksudmu bro?".


Aldo menarik napasnya dalam - dalam dan membuangnya.


"Dia akan terlihat tegar dihadapan kita Seakan - akan dia tidak ada beban. Dan dia tidak akan menangis didepan kita meskipun nantinya kita mengatakan yang sebenarnya, dan aku yakin itu bro". ujar Aldo.


"Kenapa kau bisa yakin?". tanya Rangga.


"Aku tahu dari almarhum kak Ahmad, sifatnya sama persis dengan almarhum kakakku bro. Sewaktu kami masih remaja harus kehilangan kedua orang tua kami. Namun kak Ahmad tidak menitikkan air mata agar aku bisa kuat menghadapi cobaan kami. Dan kau tahu bro almarhum kak Ahmad akan menangis dikala dirinya sendirian". jawab Aldo lirih mengingat disaat mereka harus kehilangan kedua orang tua mereka.


"Itu lah yang membuatku tidak sanggup jika melihat Caca seperti itu. Lebih baik Caca menangis meraung - raung dihadapanku dari pada dia menangis dalam kesendiriannya". imbuh Aldo.


"Terus apa yang harus kita lakukan bro?". tanya Rangga yang mulai khawatir.


"Akupun tidak tahu bro. Apakah dia ada menitikkan air mata setelah dirinya siuman bro?". tanya Aldo balik.


"Sampai saat ini sama sekali tidak ada bro". jawab Rangga.

__ADS_1


"Itulah yang kutakutkan bro". ucap Aldo.


"Jadi kapan kalian akan datang kesini bro. Kalau kek gitu akupun tak sanggup bro jika nantinya dia seperti itu".


"Secepatnya bro, Aku harus meminta izin terlebih dulu dengan tuan Alki dan wali kelas anak - anak aku bro". jawab Aldo.


"Ok bro, aku tunggu kabar kedatangan kalian". seru Rangga.


"Bro, kita bisa melakukan video Call ngak, aku ingin sekali melihat keadaan Caca sekarang tapi jangan sampai dia tahu. Bisa ngak bro?". tanya Aldo.


"Gampang itu bro, sebentar lagi aku video Call kau ya". jawab Rangga.


"Terimakasih bro. Assalamualaikum". ucap Aldo.


"Waalaikumsalam". jawab Rangga mengakhiri sambungan selulernya.


Rangga kembali memasuki ruang rawat Caca dan mencari posisi yang tepat untuk melakukan video call dengan Aldo agar tidak diketahui oleh Caca.


Setelah mendapat posisi yang pas, Rangga kembali menghubungi Aldo, tidak lupa Rangga menggunakan hands free nya agar tidak terdengar Caca suara dari handphonenya.


Rangga terus memperhatikan wajah Caca yang hanya diam disaat Vika mengajaknya berbicara. Sesekali Caca hanya tersenyum dikala Nadin anaknya bertingkah lucu. Namun senyuman Caca terlihat sangat dipaksakan.


Suasana ruangan tersebut sedikit lebih tenang dibandingkan saat Caca masih koma. Anak - anak Rangga duduk manis disofa tanpa meninbulkan kericuhan yang biasa mereka lakukan.


Siska yang selalu berkomunikasi dengan Anggi, tidak lupa untuk memberitahukan Anggi melalui whatsapp. Tidak ketinggalan Siska mengirim photo Caca lagi duduk bersandar dibrankarnya.


*


Ditengah malam disaat semua sudah terlelap bersama mimpi namun berbeda dengan Caca yang tidak bisa untuk memejamkan matanya.


"Ya Allah, kuatkanlah hamba Mu ini dalam menerima cobaan yang Engkau berikan". gumannya dalam hati dengan menitikkan air mata.


"Jika memang orang tua hamba telah Engkau ambil dari sisi hamba, tempatkanlah mereka di sisiMu. Dan tempatkanlah mereka disurga yang telah Engkau janjikan. Dan bila mereka masih ada didunia ini, hamba mohon berilah kesempatan kepada hamba untuk berada disisi mereka ya Allah". Doa nya dalam hati dengan menghapus air matanya dikala melihat Siska terjaga dari tidurnya dan mencoba kembali untuk memejamkan matanya.


Siska menghampiri cucunya saat mengetahui Caca belum memejamkan matanya.


"Kenapa kau tak tidur pung?". tanya Siska dengan mengusap lebut kepala cucunya tersebut yang terbalut kerudung.


"Ceritalah sama opung kek mana kau dulu selalu bercerita sama opung". ucap Siska lagi.


"Kalau ada yang mau kau tanyakan sama opung, Tanyalah, pasti opung jawab semua apa yang mau kau tahu". ucap Siska yang terus saja berceloteh.


"Pasti opung tahu apa yang mau Caca ketahui". jawab Caca dalam hati yang tidak mungkin didengar oleh wanita tua itu.


"Sekarang tidurlah pung. Mudah - mudahan besok kau sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang. Terus kita bisa berangkat ke Villa. Tidurlah biar opung usap - usap punggungmu". ucap Siska membantu Caca memiringkan tubuhnya agar dapat mengusap punggung Caca.


Kebiasaan Caca itu mulai terjadi dikala dirinya berlibur dimedan tanpa kedua orang tua nya. Caca selalu tidur bersama Siska yang selalu mengusap - usap punggungnya dikala tidak bisa tertidur.


Dengan kasih sayang Siska terus mengusap - usap punggung hingga Caca terlelap.


"Kebiasaan kau ini sama persis Bundamu dulu. Selalu tak bisa tidur kalau lagi jauh dari opung dolimu". ucap Siska dalam hati mengingat kebiasaan Ratna ketika Ayah Ratna tidak berada dirumah bersama mereka.


Rangga yang baru menyadari Siska tidak ada disebelahnya ikut terjaga dari tidurnya mencari keberadaan Siska.


Melihat Bundanya berada disebelah brankar Caca beranjak dari tempat tidur dan menghampirinya. Ternyata Siska juga sudah tertidur dengan posisi duduk dikursi dengan mengusap - usap punggung Caca.


Rangga mengangkat tubuh wanita tua tersebut dan membaringkannya perlahan ditempat tidur king size yang disediakan rumah sakit tempat mereka berdua biasa tidur bersama dikala menjaga Caca.

__ADS_1


Sedangkan Vika dan anak - anaknya kembali kerumah mereka ketika malam hari untuk beristirahat dengan nyaman mengingat kondisi Vika yang sedang mengandung anak keempat mereka.


Sesekali Vika akan kembali kerumah sakit dengan membawa sarapan setelah mengurus Vino dan Billy berangkat kesekolahnya.


__ADS_2