
Selesai mencuci tangan, Caca kembali lagi ke tempt dimana Rani dan Santi berada.
Destra telah menyelesaikan makannya di saat Caca kembali dari wastafel untuk mencuci tangan.
"Yok kita pulang". ajak Caca kepada kedua temannya.
"Kakak antar ya Ca". ucap Destra
"Ngak perlu". jawab Caca masih dengan nada ketus
"Jangan seperti itu Ca, kak Destra berniat baik untuk antar kita". seru Santi.
"Ya sudah kalian di antar kak Destra saja". jawab Caca kesal
"Kalau loe kagak mau, kita balik bareng naik bus seperti biasa". ucap Rani tegas.
"Ca..kakak antar ya?".ucap Destra lembut seperti merayu.
"Lebih baik jangan kak". jawab Caca
"Ca..kakak besok balik ke jakarta". seru Destra lembut dengan berharap Caca menerima tawarannya.
"Kak.. Caca ngak mau menimbulkan fitnah nantinya". jawab Caca lembut.
"Kakak antar kamu sampai didepan pintu rumah kamu". jawab Destra.
"Jangan kak, nanti Ayah dan Bunda marah".
Dengan segera Destra merogoh kantong celananya untuk mengambil handphone nya dan mencari nomer kontak yang telah tersimpan dan menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam, ini Destra Om".
"Oh tuan Destra, ada apa?" tanya Ahmad lembut
"Panggil Destra saja Om". ucap Destra lembut dan menekan tombol speaker agar Caca juga dapat mendengar percakapannya.
"Ada apa Destra?". tanya Ahmad lagi yang terdengar canggung.
Mendengar suara yang tidak asing baginya sontak Caca membulatkan bola mata nya dengan sempurna dan menatap tajam Destra.
Mendapat sorotan tajam dari Caca tidak membuat Destra menghentikan niatnya meminta izin kepada Ahmad untuk mengantarkan pulang gadis pujaannya.
"Destra minta izin untuk mengantarkan Caca pulang kerumah, boleh ya Om". ucap Destra sedikit memohon kepada Ahmad ayah Caca.
"Bukan saya tidak mengizinkan kamu untuk mengantar Caca pulang, tapi saya takut menimbulkan fitnah nantinya". jawab Ahmad menjelaskan.
"Insyaallah Destra akan melakukan yang terbaik agar tidak ada fitnah dikemudian hari Om". Jawab Destra
"Baiklah Destra, saya percaya sama kamu untuk bisa menjaganya dari fitnah".ucap Ahmad
"Terimakasih Om telah memberi kepercayaan terhadap Destra, Assalamualaikum Om".
"Waalaikumsalam".jawab Ahmad
"Bagaimana Ca, apakah masih ada alasan lain?". tanya Destra tersenyum
"Pokoknya Caca tetap tidak mau kakak antar". jawab Caca dan melangkah meninggalkan meja tersebut.
"Ca bayar dulu". seru Santi menaikkan suara nya agar dapat didengar oleh Caca yang telah meninggalkan meja mereka.
Mendengar seruan dari Santi, Caca memutar balik badannya dan menuju kasir untuk melakukan pembayaran tanpa memperdulikan Destra yang terus mengikutinya.
"Berapa semuanya kak?". tanya Caca lembut
__ADS_1
"Semua gratis Ca". jawab Boyran yang sedang berada di meja kasir.
"Kok bisa?". tanya Caca pura - pura tidak mengingat dengan janji yang telah Destra ucapkan padanya.
"Ya bisalah, karena cafe ini milik calon suami kamu dan cage ini akan menjadi milikmu". ucap Destra yang dengan sengaja menaikkan suaranya sehingga terdengar oleh orang - orang yang berada tidak jauh dari mereka.
Mendengar ucapan Destra yang dapat didengar oleh orang lain semakin membuat Caca kesal dan berjalan cepat meninggalkan cafe itu karena malu.
Rani dan Santi segera mengejar Caca yang meninggalkan cafe tersebut. Mereka hanya terdiam melihat kekesalan Caca terhadap Destra.
Destra mengejar Caca hingga di pelataran luas Cafe tersebut.
"Jika kamu tidak mau aku antar pulang, jangan salahkan jika aku akan langsung melamarmu". ucap Destra tegas setelah berada dekat dibelakang Caca.
Seketika Caca menghentikan langkah dan memutar badannya ke arah Destra karena mendengar perkataan Destra yang di anggap nya sebagai ancaman.
"Kakak". ucap Caca kesal dengan menghentakkan kaki nya dengan memanyunkan bibirnya.
"Mau kakak antar atau mau di lamar". seru Destra tersenyum
"Kakak jangan paksa Caca begini". ucap Caca lirih.
"Caca masih anak kecil kak". imbuhnya dengan suara sedikit keras. Dan menundukkan kepalanya karena malu dilihat pengunjung cafe tersebut.
"Kakak akan tetap setia menunggu kamu hingga dewasa nanti Ca". jawab Destra serius dan itu membuat Caca mengangkat kepalanya yang semula menunduk dan menatap tajam ke arah Destra dengah wajah merah padam karena menahan emosi.
"So sweet". ucap Rani dan Santi kompak.
Destra menyadari gadis pujaannya itu lagi emosi, namun itu tidak mempengaruhinya untuk tetap mengantarnya pulang.
"Sudah ayo masuk kemobil, sebelum kakak menikahi kamu sekarang juga". ucap Destra sedikit mengancam dengan senyum menghiasi wajah nya yang tampan.
"Jangan gila kak". ucap Caca ketus. Dengan berat hati Caca melangkahkan kakinya memasuki mobil yang diikuti oleh Rani dan Santi.
"Aku akan semakin gila jika tidak bisa memiliki mu Ca". guman Destra dalam hati.
Setibanya dikediaman Caca terlihat mobil Ahmad juga memasuki pelataran rumah tersebut sehingga memudahkan pak Agus untuk memasukkan mobil yang dikemudikannya kepelataran tersebut.
Belum lagi mobil yang dikemudikan pak Agus masuk kepelataran dengan sempurna, Caca sudah memintanya untuk berhenti tepat di pintu gerbang rumahnya.
"Pak berhenti di sini saja". ucap Caca ketika melihat mobil yang di tumpanginya akan memasuki pelataran rumahnya dan di turuti oleh pak Agus.
"Pak tolong anterin teman - teman Caca ya". Pinta Caca ramah sebelum keluar dari mobil tersebut.
"Jangan dibawa kabur pak, mereka hanya akan merepotkan". Ucap Caca penuh canda.
"Siap non". jawab pak Agus tertawa kecil mendengar candaan dari Caca.
"Enak aja loe, kita dua ngak akan merepotkan melainkan akan menyusahkan". jawab Rani dengan menjulurkan lidahnya kepada Caca.
"Sama saja... ya sudah gue duluan ya". ucap Caca dan dianggukkan mereka dan juga melambaikan tangan dengan gaya kekinian.
Destra juga keluar dari mobil tersebut untuk mengantarkan Caca kepada orang tua nya.
Caca berlari mengejar ayahnya yang telah memarkirkan mobilnya ditempat biasa. Melihat Caca berlari seperti anak kecil membuat Destra tersenyum lebar.
"Ayah". teriak Caca berlari menghampiri Ahmad dan mencium punggung tangan Ahmad.
"Kamu baru sampai sayang?". tanya Ahmad.
"Tadi ada orang yang membuat Caca kesal ayah sehingga membuat Caca terlambat sampai dirumah ". jawab Caca dengan bergelayut manja dilengan Ahmad.
"Assalamualaikum Om". ucap Destra menghampiri Ahmad dan mencium punggung tangan Ahmad.
"Waalaikumsalam". Jawab Ahmad dengan melepas tangannya dari pegangan Caca untuk bisa memeluk Destra.
__ADS_1
Caca kembali kesal melihat kehadiran Destra berada dirumahnya, caca melangkah meninggalkan Destra dan ayahnya yang masih berada di teras rumah tersebut.
"Maaf ya Om Destra terlambat mengantar Caca sampai dirumah". seru Destra.
"Tidak masalah, yang terpenting kalian tiba dengan selamat". jawab Ahmad ramah.
"Mari masuk dulu Destra". Ucap Ahmad meminta Destra untuk masuk kekediamannya dan dituruti oleh Destra. Mereka duduk diruang keluarga rumah tersebut.
Mereka disambut oleh Ratna yang memang selalu berada dirumah. Ratna melangkah ke daput untuk membuatkan minuman untuk suaminya dan juga Destra.
Caca yang hendak melangkahkan kakinya menaiki anak tangga terpaksa tertunda karena Ahmad memanggilkan.
"Caca". panggil Ahmad lembut
"Iya Ayah". jawab nya dengan melangkah menghampiri ayahnya.
"Tadi kamu mengatakan ada yang membuatmu kesal, siapa dia nak?". tanya Ahmad dengan menatap wajah anaknya yang masih terlihat kesal.
"Kak Destra ayah". jawab nya dengan menundukkan kepalanya. Destra hanya senyum - senyum dibuatnya.
"Silahkan diminum Destra". ucap Ratna ramah dengan meletakkan teh dihadapan Destra dan juga teh untuk suaminya.
"Terimakasih Tante". ucap Destra. Ratna kembali lagi kedapur untuk menyelesaikan kegiatannya yang tertunda.
"Apa yang membuat Caca kesal dengan Destra?". tanya Ahmad dengan tersenyum.
"Kak Destra tadi mengancam akan menikahi Caca jika tidak mau di antar pulang oleh nya". jawab Caca jujur masih menundukkan kepalanya. Ahmad tertawa mendengar penuturan anaknya itu.
"Memangnya Destra mau menikahi kamu yang masih manja begini?". tanya Ahmad dan kembali tertawa.
"Auah". jawab Caca dengan memanyunkan bibirnya.
"Sayang, Destra hanya bercanda jangan kamu masukkan kedalam hati". ucap Ahmad
"Ayah jangan menikahkan Caca dengan siapapun sebelum Caca menjadi seorang sarjana ya?". mohon Caca lirih dengan memegang lengan ayahnya.
"Ayah tidak bisa memastikan itu sayang, hanya Allah yang bisa menentukannya". jawab Ahmad.
Mendengar jawaban dari Ahmad membuat Destra menjadi lega.
Sedangkan Caca hanya bisa menundukkan kepalanya dan memanyunkan bibirnya.
"Masuklah kekamar mu dan bersihkan dirimu". ucap Ahmad lembut.
"Iya ayah". jawab nya dan meninggalkan Ahmad dan juga Destra.
"Maafkan Destra Om karena....". ucap nya, sebelum Destra meneruskan kata - katanya sudah terlebih dahulu Ahmad memotongnya.
"Sudah tidak apa - apa, saya mengerti akan semua itu Destra. Caca memang sulit untuk didekati oleh lelaki yang bukan muhrimnya apa lagi akan mengantarnya pulang saya pastikan dia pasti akan menolaknya". jawab Ahmad
"MasyaAllah". ucap Destra.
"Saya berharap kepada kamu Destra untuk lebih bersabar". ucap Ahmad
"InsyaAllah, Destra akan bersabar menunggu nya hingga Caca bisa menerima Destra om". jawab Destra
"Kedatangan Destra kemari juga ingin memberi tahukan kepada Om bahwa Destra dan juga papi akan kembali ke jakarta besok pagi". Imbuh Destra.
"Baiklah Destra, sampaikan salam kami sekeluarga untuk tuan Alki dan juga keluarga kalian disana".
"InsyaAllah, akan Destra sampaikan". jawab Destra.
"Destra pamit pulang ya Om ". imbuhnya dengan beranjak dari tempat duduk nya.
"Mudah - mudahan kalian sampai tujuan dengan selamat". Ucap Ahmad dengan memeluk erat Destra sebelum meninggalkan kediamannya.
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam Destra melangkah meninggalkan kediaman Ahmad dengan senyum yang selalu terlihat diwajah tampan nya.
Pak Agus telah kembali kekediaman Ahmad setelah mengantarkan Rani dan Santi kerumah mereka masing - masing. Pak Agus mengemudikan mobil tersebut menuju hotel.