
Selesai berbelanja kemarin Edo menghantar Sandra kekontrakannya untuk mengambil keperluannya untuk menginap di apartment Edo yang ditemani oleh bik Ning.
Sedangkan Edo menginap di rumah utama untuk menjelaskan kepada orang tua angkatnya mengenai kecurigaan orang tua Sandra jika menikahkan mereka secara mendadak.
Edo kembali kerumah besar pukul 7 malam bertepatan dengan jam makan malam keluarga Nugraha.
"Loe sudah pulang nak". ucap Anggi yang melihat Edo menghampiri mereka.
"Iya Bu". jawab Edo dan mencium punggung tangan orang tua angkatnya bergantian dan mendudukkan bokongnya dikursi meja makan tersebut.
"Kak Edo kemana saja, kok Devi ngak lihat kak Edo dari pagi tadi". tanya Devi.
"Tadi pagi kakak ada urusan Dek". jawabnya dengan mengisi makanan kepiringnya.
"Bagaimana persiapan loe besok?". tanya Alki
"Sudah Edo siapkan Ayah". jawabnya
"Untuk seserahan sudah loe siapkan belum?". tanya Alki lagi.
"Seserahan apa Ayah?". tanya Edo heran
"Sudah gue duga". ucap Alki santai.
"Maksud Ayah?". tanya Edo semakin heran.
"Memangnya loe pergi ke Mall beli apa saja?". tanya Alki
"Beli cincin". jawabnya
"Memangnya loe tidak menyiapkan keperluan yang lain untuk seserahan untuk orang tua Sandra". tanya Alki lagi
"Edo ngak mengerti maksud dari seserahan itu Ayah". jawab Edo jujur.
"Sudahlah nanti saja kita membahasnya. Loe makan saja dulu". ucap Alki.
Mereka menyantap makan malam mereka dengan tenang. Namun mata Destra sesekali memperhatikan Edo disela makannya.
Selesai makan malam mereka kembali berkumpul diruang keluarga untuk kembali membicarakan rencana mereka yang akan pergi kerumah orang tua Sandra.
"Maksud dari seserahan itu apaan ya Bu?". tanya Edo yang masih penasaran.
"Kamu ngak usah pikirkan, Ibu sudah siapkan semua. Nanti lihat dikamar kamu saja". jawab Anggi.
"Bro, itu pelipis loe kenapa?". tanya Destra
"Oh ini tadi gue jatuh tersungkur bro". jawab Edo terbata - bata.
"Loe ngak bohongin gue kan?". tanya Destra yang tidak percaya dengan jawaban Edo.
"Ya enggaklah, ngapain juga gue bohong sama loe. Apa sih yang ngak gue ceritain sama loe tentang gue". jawab Edo dengan santai untuk menutupi sebenarnya.
"Terus bibir loe bisa pecah gitu kenapa bro?". tanya Destra lagi.
"Mungkin kak Edo cium lantai kali". jawab Devi dengan tertawa.
"Tebakan adik perempuan gue memang jitu". seru Edo dengan mengacungkan 2 jempol tangannya.
Alki dan Anggi tersenyum karena Edo mendapat jawaban yang tepat dari pertanyaan Destra.
"Tapi gue ngak percaya". ucap Destra heran.
__ADS_1
"Kenapa loe ngak percaya sama gue, loe coba cari bik Ning disini pasti ngak ada". ucap Edo
"Apa hubungannya dengan bik Ning bro?". tanya Destra semakin heran.
"Gue minta tolong bik Ning untuk bersihin kamar mandi gue yang licin". jawabnya.
Destra ber oh saja mendengr penjelasan Edo meski tidak sepenuhnya percaya.
"Kak Edo tadi siang ke Mall sama siapa?". tanya Devi
"Kakak tadi pergi dengan calon kakak ipar Devi". jawab Edo santai.
"Memangnya ada ya yang mau dengan bujang lapuk". ejek Devi
"Ya ada donk, kak Edo kan ngak kalah tampan dengan Destra". jawab Edo
"Memang tidak kalah tampan sih, tapi tetap lebih tampan kak Destra. Tadi saja waktu kita di Mall banyak cewek yang godain kak Destra. Padahal Devi sudah gandeng tangan kak Destra tetap saja banyak yang godain dari cewek cabe - cabean sampai nenek - nenek". ujar Devi.
Mereka tertawa mendengar celoteh Devi saat menerangkannya dengan kesal.
"Sewaktu Destra digodain kamu ngak marah". tanya Anggi.
"Bagaimana Devi mau marah Mam, mereka ramai banget. Bisa - bisa Devi dikroyok lagi dengan mereka". jawab nya Kesal. Mereka kembali tertawa mendengar celoteh Devi.
"Devi jadi penasaran Mam, kalau kak Destra jalan dengan Caca kira - kira apa yang terjadi ya". ucap Devi menghayal.
"Mami jamin kakak kamu tidak akan berani membawanya ketempat yang ramai". jawab Anggi.
"Memangnya kenapa Mam?". tanya Devi
"Kakak kamu pasti termakan cemburu. Dari kaum wanita saja pasti mengagumi kecantikan Caca, apa lagi laki - laki. Bisa - bisa kakakmu meminta Caca supaya memakai Cadar". ejek Anggi santai karena sifat Destra yang posesif seperti Alki. Destra hanya tersenyum dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pasangan yang serasi donk Mam". seru Devi.
"Memangnya kamu ngak lihat waktu dirumah sakit?". tanya Alki.
"Gimana Devi bisa melihatnya Papi, wajah Caca banyak ditutupi perban". jawab Devi .
"Iya juga sih". ucap Alki.
"Sekarang bagaimana perkembangan kesehatannya bro?". tanya Edo
"Gue tanya ke dokter Nana, kesembuhan luka - lukanya sudah semakin membaik. Namun sadar dari koma belum tahu kapan dia akan siuman". jawab Destra lirih.
"Loe yang sabar ya bro". seru Edo dengan menepuk pelan pundak Destra.
"Oh iya, kalian tadi ke Mall ngapain?". tanya Edo melihat ke arah Devi.
"Traktir Devi berbelanja sepuasnya Kak". jawab Devi.
"Aduh kakak jadi punya hutang donk sama Devi". ucap Edo dengan menepuk keningnya pelan.
"Hutang apa kak?". tanya Devi.
"Kakak belum traktir adek karena mendapat ranking tiga". jawab Edo.
"Ngak usah kak, Devi tadi siang sudah puas di traktir kak Destra". jawab Devi.
"Memang kakak kamu yang traktir di Mall, tapi pakai uang Papi semua". ucap Alki yang tidak mau kalah.
"Devi tahu kalau itu pakai uang Papi, makanya Devi memilih barang - barang mahal semua". jawab Devi santai.
__ADS_1
Alki melihat ke arah Destra dengan tajam. sedangkan Destra hanya cengengesan menanggapi tatapan tajam papinya.
"Memangnya papi ngak dapat laporan sms banking gitu?". tanya Devi
"Bagaimana papi bisa tahu, handphone papi hari ini dipegang mami kalian terus". jawab Alki kesal.
"Memang mami tiada dua nya". seru Destra cengengesan serta mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Anggi.
"Gue mau kasih kabar gembira dengan kalian semua, Gue dan Istriku tercinta sepakat akan membeli jet pribadi dalam waktu dekat". ucap Alki.
"Wow keren". ucap Edo, Destra, dan Devi kompak dengan tersenyum lebar.
"Jet pribadi kita datang sebelum Destra kembali ke Amerika. Jadi kita bisa bersama - sama mengantarkan Destra ke Amerika". ucap Alki
"Asyiikk". seru Devi gembira.
"Tetapi kita tidak untuk jalan - jalan disana kita hanya mengantarnya saja. gue ngak mau bawa kalian jalan - jalan yang ada duit gue habis karena kalian". ucap Alki.
"Jadi maksud papi keberatan bawa Mami jalan - jalan gitu?". tanya Anggi emosi.
"Terkecuali Mami". jawab Alki tersenyum lebar untuk meredakan emosi istrinya.
"Lebih baik kita jalan - jalan berdua saja Sayang, supaya tidak ada lalat - lalat ini yang mengganggu kita". imbuh Alki dengan menyebut ke 3 anaknya lalat pengganggu. Anggi yang dimanjakan Alki membuat wajahnya menjadi merona.
"Ayah kejam dengan kita". ucap Edo lirih.
"Iya kak, masak Devi ngak jalan - jalan waktu libur sekolah begini". ucap Devi lirih.
"Jangan salahkan Papi, kemarin - kemarin papi sudah tawarin kamu mau jalan - jalan kemana kamu bilang mau dirumah saja kan?". tanya Alki kepada Devi.
"Sekarang suasananya beda Papi". jawab Devi.
"Ya sudah kamu tunggu Papi berubah pikiran juga kalau begitu". jawab Alki santai.
"Papi jahat ih". ucap Devi kesal melihat papinya yang suka ngejahili anak - anaknya.
"Sudah jangan sedih begitu, kalau ada waktu kita jalan - jalan semua beserta menantu - menantu rumah ini biar lebih ramai". ucap Anggi.
"Oh iya, kak Edo kapan akan membawa kakak ipar kesini?". tanya Devi.
"InsyaAllah, tidak lama lagi Dek". jawab Edo.
"Bagaimana rencana kita besok Edo? Apakah Sandra sudah menghubungi orang tua nya?". tanya Alki.
"Sudah Ayah, tapi sepertinya kami tidak bisa secepatnya menikah". jawab Edo.
"Memangnya kenapa?". tanya Anggi
Edo menarik napas dan membuangnya kasar sebelum menjelaskan kepada Alki dan Anggi.
"Mendengar besok kita akan melamarnya saja orang tua nya sudah terkejut dan berpikiran yang aneh - aneh". jawab Edo.
"Jangan sampai gue sudah balik ke Amerika donk bro, kalau gue ngak menyaksikan loe menikah, gue ngak akan ridho". ucap Destra
"Gue memang berharap loe bisa menyaksikan gue menikah bro". jawab Edo.
"Masalah itu serahkan saja pada Ibu mu ini". jawab Alki dengan memeluk pundak Anggi.
"Edo percaya dengan Ibu". seru Edo cepat.
"Mami memang bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah". ujar Destra tersenyum.
__ADS_1
"Pegadaian donk". jawab Edo. mereka kembali tertawa.