
Alki menarik kerah baju Edo hingga Edo berdiri dari duduknya. Disaat Alki hendak melayangkan tangannya ke wajah Edo dihentikan oleh teriakan Sandra yang berdiri di ambang pintu kamar Edo.
"Jangan tuan". teriak Sandra yang tetap berdiri di tempat yang telah berderai airmata.
Jarak antara kamar Edo dengan ruang tamu tidak terlalu jauh sehingga Sandra dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan mereka.
"Sandra". seru Alki dan Anggi bersamaan dan saling pandang karena heran akan keberadaan Sandra di apartment Edo.
Anggi menghampiri Sandra yang masih berdiam di ambang pintu kamar Edo.
Sebenarnya Anggi telah melihat ada nya seorang wanita dikamar Edo namun tidak terlihat jelas oleh Anggi karena pada saat itu Sandra lagi menunaikan 2 raka'at nya. Sehingga dirinya langsung bertanya pada anak sulungnya apa yang telah mereka lakukan.
"Benar kamu Sandra kan?". tanya Anggi memastikan.
"Benar nyonya". jawab Sandra terbata - bata dengan menyapu air matanya.
Anggi membawa masuk Sandra untuk duduk disofa yang ada di kamar Edo. Anggi sungguh terkejut ketika melihat Sandra yang tertatih - tatih sekaligus memegang pinggangnya.
"Apa yang dilakukan Edo pada kamu Sandra?". tanya Anggi
"Maafkan saya nyonya, ini bukan kesalahan tuan Edo, saya bisa jelaskan...". seru Sandra terhenti karena Anggi beranjak dari duduknya.
Anggi memeriksa sprei putih yang berserahan di tempat tidur Edo. Melihat bercak darah yang menempel di sprei tersebut membuat Anggi meradang melihatnya. Sedangkan Sandra hanya menundukkan kepalanya penuh dengan rasa malu dan khawatir ketika Anggi menemukan bercak darah perawannya.
"Papi". teriak Anggi melengking dari kamar Edo hingga terdengar keruang tamu membuat Alki dan Edo menghampiri Anggi dengan berdiri di ambang pintu kamar untuk melihat apa yang rerjadi.
"Beri pelajaran anak kamu itu, dia telah memperkosa Sandra". ucap Anggi geram.
Dengan spontan Alki mengarahkan tinjuannya ke arah perut Edo dengan sangat keras hingga Edo tersungkur.
"Dengarkan perjelasan Edo ayah". ucap Edo
"Apa yang kamu lakukan ha?, apa kamu lupa mempunyai seorang adik perempuan". seru Alki dan kembali menghajar Edo yang sudah tersulut emosi ketika mendengar kata memperkosa.
"Hentikan tuan, ini bukan kesalahan tuan Edo". seru Sandra dengan menangis karena melihat Edo dihajar oleh Alki.
"Maafkan Edo ayah". seru Edo lirih dengan memegang perut nya yang terkena tinjuan dari Alki.
Mendengar Edo meminta 'maaf' bukan membuat Alki menghentikan pukulannya melainkan membuat Alki semakin meradang dan menghajar Edo membabi buta, Alki mengira kata 'maaf' yang diucapkan Edo suatu pengakuan bahwa dirinya telah memperkosa Sandra.
"Tolong hentikan tuan". seru Sandra menangis memohon.
"Tuan Edo tidak memperkosa saya tuan". seru Sandra terisak
Melihat Edo dihajar suaminya dengan membabi buta membuat hati Anggi terasa teriris namun Anggi tetap tidak menghentikannya karena Edo harus tahu akibat dari perbuatannya.
Sandra menghampiri Anggi dan memegang tangan Anggi dengan berlutut.
"Saya mohon nyonya tolong hentikan tuan Alki, semua ini kesalahan saya nyonya". seru Sandra menangis.
"Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap kamu Sandra". seru Anggi
Anggi pergi berlalu meninggalkan Sandra yang masih berlutut di hadapannya dan menghampiri Alki menghentikan hantamannya terhadap anak sulungnya.
"Kamu harus siap untuk menikahinya". seru Anggi
"Edo siap menikahi Sandra bu". seru Edo yang berusaha berdiri dari lantai namun tak berdaya, membuat Anggi tidak tega melihat keadaan Edo yang sudah babak belur.
"Setelah loe berbuat zina tapi tidak menikahinya, loe tidak pantas di dunia ini". ucap Alki geram
"Edo pasti akan menikahinya ayah". jawab Edo
"Memang harus". seru Alki dan meninggalkan Edo begitu saja yang merintih kesakitan menuju sofa ruang tamu.
Anggi membuka kulkas yang berada tidak jauh dari meja makan dan memasukkan bongkahan batu es ke dalam mangkuk.
Anggi menghampiri anak angkatnya yang masih terduduk dilantai. Anggi membantu Edo untuk berdiri dan membawa anak sulung nya duduk di sofa.
Dengan sangat lembut Anggi mengompres wajah Edo yang penuh lebam akibat hantaman suaminya. Mata Anggi berkaca - kaca melihat wajah Edo mengeluarkan darah dari pelipisnya.
Melihat mata ibu nya berkaca - kaca, Edo memeluk Anggi dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan Edo bu, Edo salah". seru Edo yang juga ikut menangis.
"Lepas..Ibu tidak mempunyai anak kurang ajar seperti kamu". seru Anggi yang mencoba melepaskan pelukan Edo namun Edo semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan Edo melepaskan pelukannya dan melihat raut wajah ibunya yang telah menitiskan air mata.
"Jangan menangis bu, Edo mohon". seru Edo menghapus air mata Anggi dengan sangat lembut.
"Bagaimana ibu tidak menangis melihat anak sendiri melakukan dosa yang sangat besar". seru Anggi kesal dengan menghapus air matanya. Sedangkan Alki sudah berdiri dari duduknya karena meradang melihat istrinya meneteskan air mata.
"Edo salah Bu, Edo minta maaf. Tapi Edo mohon dengarkan penjelasan Edo".
"Sandra meminum jus berisi obat peransang yang seharusnya untuk Edo sewaktu acara tuan Romi". seru Edo
"Maksud kamu?". tanya Alki terkejut.
"Saat Sandra pergi ke toilet, Sandra mendengar ada yang ingin menaburkan bubuk keminuman Edo. Di saat Edo berbincang - bincang dengan rekan bisnis kita, seorang pelayan memberikan jus untuk Edo. Dan disaat Edo akan meminumnya, Sandra yang baru kembali dari toilet merampas minuman Edo dan langsung meminumnya". ujar Edo menjelaskan kronologi kejadian.
"Kenapa mereka harus memberi loe obat perangsang ya?". tanya Alki
"Mungkin mereka akan menghancurkan nama perusahaan saat mendapatkan Edo berbuat mesum". jawab Anggi santai.
"Memang kamu wanita jenius sayang". seru Alki membanggakan kepintaran Anggi.
"Maafkan Edo yang telah lengah Ayah". seru Edo bersimpuh dikaki Alki.
"Semestinya gue yang minta maaf karena tidak mendengar penjelasan loe terlebih dulu". jawab Alki mengangkat pundak Edo untuk berdiri dan memeluk Edo.
"Papi kompres wajah Edo yang sudah jelek itu". seru Anggi dengan menyerahkan mangkuk es pada Alki.
"Mami". seru Alki manja.
"Wajah Edo jadi jelek gitu akibat perbuatan papi". seru Anggi
"Tapi itu atas perintah mami". jawab Alki tidak mau disalahkan.
"Mami minta papi untuk kasih pelajaran Edo bukan menghajar nya sampai babak belur gitu". ujar Anggi membenarkan.
"Biar Edo sendiri saja Ayah".
"Diam loe, apa loe mau gue dapat punggung dari istri gue?". ucap Alki dengan mendudukkan Edo ambal dan mengompres wajah Edo dengan telatennya.
Mereka duduk bersila di ambal ruang tamu tanpa menyadari Sandra yang terus memperhatikan mereka dari dalam kamar.
"Maafkan Edo ya Ayah". ucap Edo lagi di saat Alki mengompres wajah nya
"Loe ngak salah, gue yang salah karena memaksa loe untuk pergi ke acara Romi".
Anggi menghampiri Sandra yang mematung memperhatikan kedekatan Alki dan Edo.
"Kamu jangan heran melihat mereka seperti itu. Mulai sekarang kamu akan terbiasa melihatnya". seru Anggi membuat Sandra terperanjat.
"Mamaaf nyonya". jawab Sandra gugup dan menundukkan kepalanya.
"Sini duduk". seru Anggi lembut dengan menepuk pelan sofa disebelahnya yang juga didudukinya. Tanpa penolakan Sandra menghampiri Anggi perlahan dan mendudukkan bokongnya disebelah Anggi yang sudah duduk di sofa yang ada dikamar Edo.
"Apakah kamu mau menikah dengan Edo?". tanya Anggi to the point.
"Ha? maaf nyonya, Saya tidak pantas untuk tuan Edo , saya hanya wanita desa yang mencari rezeki ke kota ini". jawab Sandra gugup dengan menundukkan kepalanya.
"Kami tidak membeda - bedakan status Sandra, yang terpenting bagi kami dia wanita baik - baik dan bisa membuat anak saya bahagia, kami tidak akan pernah menolaknya". ujar Anggi
"Tapi saya takut jika tuan muda Edo menikahi saya karena keterpaksaan saja nyonya". ucap Sandra menundukkan kepalanya.
"Saya ibu nya, saya tahu bagaimana sifat nya. Dan kamu juga dengar tadi kan bahwa dia siap untuk menikahi kamu".
"Bukankah kamu juga menyukainya?". tanya Anggi membuat Sandra salah tingkah.
"Kami secepatnya akan mengunjungi orang tua kamu untuk meminta restu mereka untuk menikahkan kalian". imbuh Anggi.
"Mengapa harus secepat itu nyonya?". tanya Sandra yang terkejut mendengar keputusan Anggi.
__ADS_1
"Karena kami tidak mau kamu hamil diluar nikah, lebih cepat lebih baik". ucap Anggi
"Tapi saya takut orang tua saya tahu kalau saya telah melakukan hal yang memalukan ini nyonya". ujar Sandra.
"Lebih memalukan jika kamu dinikahi setelah kamu hamil". jawab Anggi santai
"Kamu beritahukan orang tua kamu, bahwa kami besok akan melamar kamu". imbuh Anggi.
"Ha?,,,,Mengapa harus besok nyonya?". tanya Sandra yang terkejut.
"Sudah saya katakan, lebih cepat lebih baik sayang". jawab Anggi.
"Kamu hubungi saja sekarang, besok kita akan berangkat menemui orang tua kamu".
"Tapi besok saya harus bekerja nyonya".
"Sayang..kamu lupa kalau saya yang punya kuasa diperusahaan itu?".
"Maafkan saya nyonya". jawab Sandra gugup dengan menundukkan kepalanya.
"Dan satu lagi, kamu harus memanggil saya ibu mulai dari sekarang".
"Iya nyo, maaf . Iya ibu". ucap Sandra terbata - bata.
"Ya sudah ibu tinggal sebentar, ibu mau lihat 2 lelaki tampan itu". seru Anggi dan beranjak dari duduknya.
"Nyonya eh ibu, Saya minta supaya pernikahan kami tidak diketahui karyawan kantor Bu". seru Sandra menundukkan kepalanya menghentikan langkah Anggi yang akan meninggalkannya.
"Memangnya kenapa?, kamu takut di anggap wanita yang menggoda Edo?". tanya Anggi. Sandra terkejut mendengar pertanyaan Anggi yang mengerti dalam pikirannya.
Sandra hanya menganggukkan kepalanya.
"Ibu paham itu, kamu tenang saja jika masalah itu. Kita akan mengadakan pesta pernikahan kalian di kampung saja". jawab Anggi dan melangkah meninggalkan Sandra untuk menemui Alki dan Edo.
"Apa yang mami bicarakan dengan Sandra?". tanya Alki kepada Anggi yang menghampiri mereka yang masih duduk bersila.
"Besok kita ke desa Sandra untuk melamarnya, kalau bisa segera menikahkan mereka". ujar Anggi
"Kok secepat itu sayang?". tanya Alki
"Sebelum Sandra hamil, kita harus secepatnya menikahkan mereka". jawab Anggi.
"Topcer banget loe? Berapa ronde loe lakuin sama dia?". tanya Alki pada Edo.
"Sekali saja kok ayah". jawab Edo dengan menundukkan wajahnya.
"Lemah banget loe!. masak cuma sekali loe langsung tepar". ucap Alki
"Papi". bentak Anggi dengan menatap tajam ke arah Alki.
"Kalau sudah halal pasti Edo hajar 5 ronde ayah". ujar Edo santai.
"Gilak loe, satu ronde aja anak orang loe buat seperti itu, apa lagi 5 ronde bisa lumpuh 5 hari dia". seru Alki membuat Edo tertawa begitu juga dengan Alki yang juga ikut tertawa.
"Diam kamu Edo". seru Anggi sontak Edo menutup mulutnya menahan tawanya.
"Kamu bahagia ya setelah berbuat dosa besar?". tanya Anggi mengingatkan akan perbuatannya membuat Edo terdiam.
"Kamu ikut ibu kembali kerumah sekarang juga, ibu tidak mau kamu kembali melakukannya". imbuh Anggi
"Astaqfirullah ibu, Edo ngak mungkin melakukannya lagi. Edo sudah melakukan shalat taubat bu". jawab Edo
"Jika sudah berdua pasti akan ada setan di antara kalian". ucap Anggi.
"InsyaAllah Edo kuat bu. Lagi pula Edo tidak mungkin membiarkan Sandra dalam keadaan seperti itu. Dan ngak mungkin juga Edo menghantarnya kekontrakannya bu". ucap Edo
"Memangnya kenapa kalau dia loe antar kekontrakannya?". tanya Alki heran
"Edo waspada saja ayah, karena waktu Edo dan Sandra meninggalkan acara pesta tuan Romi ada yang menguntit kami ayah". jawab Edo
"Ya sudah kalian jangan keluar dari sini, biar ibu minta pak Budi supaya membawa bik nining untuk menemani kalian". ujar Anggi dan merogoh tas nya mengambil benda pipihnya untuk menghubungi supir pribadinya yang berada dirumah.
__ADS_1