
"Paman, liburan tahun ini Caca di tempat paman ya?". Tanya nya denhan bergelayut manja di tangan pamannya.
Ratna ikut bergabung setelah Caca menyelesaikan tugas cuci piringnya dan sama - sama menghampiri mereka.
"Paman, liburan tahun ini Caca di tempat paman ya?". Tanya nya denhan bergelayut manja di tangan pamannya.
"Iya sayang, memang nya kapan Caca akan mulai libur sekolah?". Tanya Aldo
"Senin depan Caca akan mulai ujian kenaikan kelas, satu minggu setelah ujian kemudian Caca mulai libur deh". Jawab nya antusias
"Memangnya Caca bisa naik kelas?".tanya Aldo menjahili keponakannya tersebut.
"Paman tidak usah meragukan kecerdasan anak paman ini, kecerdasan Caca sudah di akui semua sekolah di kota ini paman". Jawab Caca membagakan dirinya.
"Paman tidak meragukan kecerdasan anak paman yang cantik ini". Jawab Aldo dan mencubit pelan hidung mangir Caca.
"Tetapi harus ingat Meskipun ....". Ucapan Aldo terhenti karena sudah dilanjutkan oleh Caca
"Caca sudah cerdas terus lah belajar supaya menjadi lebih cerdas". Jawabnya melanjutkan ucapan Aldo. Mereka yang berada di situ hanya tersenyum.
"Ayah setuju kan liburan Caca tahun ini dirumah paman?". Tanya Caca yang mengalihkan tangannya dari Aldo untuk bergelayut kepada ayahnya dengan manja.
"Coba tanya dengan bunda mu sayang". Seru Ahmad
Anggi yang berada tidak jauh dari mereka mendengar semua pembicaraan merek.
"Bagaimana Bun, boleh tidak Caca libur sekolah di rumah paman?". Tanya Caca sedikit memutar kepalanya kebelang karena posisi bundanya berada dibelakang Ahmad.
"Bunda setuju saja sayang dimana Caca akan berlibur". jawab Anggi
"Bunda setuju kok Ayah". ucap Caca dan di anggukkan oleh Ahmad dengan tersenyum tanda setuju dimana Caca akan berlibur sekolah.
"Apakah paman menginap disini?".caca
"Tidak sayang, paman besok pagi harus bekerja".
"Baiklah paman lagi pula Caca sebentar lagi berlibur, jadi bisa bertemu paman setiap hari dan bermain dengan Deni dan Defri". ucap nya menyebut anak - anak Aldo yang ke dua nya laki laki.
"Baiklah ayah dan ayah 2, Caca ke kamar mau belajar supaya naik kelas". serunya cengengesan dan beranjak dari duduknya.
Belum sempat berdiri seutuhnya kedua tangannya sudah ditarik oleh Ahmad dan Aldo supaya duduk kembali.
"Permisi terlebih dahulu sayang sama tuan Alki dan tuan Destra". ucap Ahmad
"Oh iya Caca lupa, hehehe". ucap nya Cengengesan.
"Caca permisi ya Om, dan kak Destra".seru nya dengan menakupkan tangannya di sepan dadanya.
Alki dan Destra hanya memberi senyuman kepada Caca. Setelah mencium punggung tangan Ayah, Bunda, dan juga Pamannya Aldo, Caca bergegas kekamarnya tidak lupa diri nya mengucapkan salam terlebih dahulu.
Setelah Caca terlihat memasuki kamarnya, mereka pun melanjutkan kembali perbincangan yang tertunda.
"Bagaimana tuan Destra?". Tanya Ahmad. Destra yang terus memandang dan mengagumi Caca sontak terkejut dan malu karena ketahuan telah memperhatikan anak gadis orang tanpa berkedip.
"I..i..ya om?" Tanya Destra gugup
"Apakah tuan Destra tidak ingin membatalkan keinginan kamu setelah melihat dan mendengar dengan sifat asli Caca?". tanya Ahmad lagi
"Tidak om, karena seiringnya waktu sifat manusia bisa berubah, lagi pula Destra memaklumi sifat manjanya karena Caca masih berusia dini". Jawab nya tegas
"Terimakasih atas kedewasaan tuan Destra, saya berdoa semoga Allah mempertemukan kalian dalam suatu ikatan pernikahan". Ucap Ahmad.
__ADS_1
"Bila kalian kelak berjodoh saya sebagai ayah nya hanya meminta kepada tuan Destra supaya membimbingnya menuju ke Zannah Nya seperti yang tuan Destra ucapkan tadi". Imbuhnya dengan mata berkaca - kaca.
Anggi terkejut mendengar pembicaraan para lelaki itu, namun Ratna tetap diam tanpa komentar.
"Lebih baik nanti aku bertanya dengan abang maksud semua ini". Gumannya dalam hati.
"Terimakasih atas Ridho yang telah Om berikan, InsyaAllah Destra akan membahagiakannya dan membimbingnya ke jalan Allah". Ucap Destra
"Amiinn". ucap mereka serentak.
"Baiklah pak Ahmad, karena hari sudah semakin larut, izinkan kami untuk undur diri". Ucap Alki permisi dengan beranjak dari duduk nya.
"Baiklah tuan Alki, semoga kalian selamat sampai tujuan". Jawab Ahmad
"Amiinn". Jawab Alki, Aldo, Destra kompak.
"Aldo pergi dulu ya kak, jaga kesehatan kakak".ucap Aldo dan memeluk Ahmad dengan erat. Dan di ikuti oleh Alki dan juga Destra.
"Mbak, kami pamit pulang" ucap Aldo
Dan di anggukkan oleh Ratna dengan senyuman hangatnya. Tidak lupa Ratna mengembalikan tempat makan yang di bawa oleh Aldo.
Sepeninggal Aldo dan yang lain, Ahmad dan Ratna pun segera beristirahat, namun sebelum Ahmad tertidur, Ahmad menceritakan semua pembahasan mereka kepada istrinya tanpa ada yang terlupakan.
Ratna tidak keberatan dengan perjodohan tersebut, menurut nya keputusan suaminya sudah cukup tepat.
"Yang mengumandangkan Azan isya' tadi siapa bang?". tanya Ratna setelah mendengar semua tentang perjodohan.
"Kenapa bunda bertanya itu?". tanya Ahmad
"Tidak ada apa - apa bang, hanya saja tadi Caca sangat mengagumi suara merdu itu, hingga Caca mengatakan rela dinikahi dengan lelaki yang memiliki suara merdu itu yang penting single". jelas Ratna
"Subhanallah". seru Ahmad tersenyum
"Subhanallah, semoga mereka berjodoh ya bang". Seru Ratna dengan tidak kalah bahagianya.
*****
"Aldo, Sebagai ayah ke 2 dari gadis itu apakah menerima perjodoban ini?". Tanya Alki di dalam mobil menuju perjalanan mereka menuju hotel.
"Saya tidak bisa menolak keputusan yang sudah kakak saya tentukan tuan". Aldo
"Seandainya kamu orang tua dari gadis itu, apakah kau akan menolaknya?". Alki
"Saya pasti akan melakukan seperti yang kakak saya tadi katakan".jawab Aldo jujur
"Itu memang keputusan yang bijak". Alki
Sampai di penginapan mereka segera beristirahat di kamar nya masing - masing.
Alki dan Destra memasuki kamar VVIP mereka secara bersama - sama.
Tidak lupa Destra menanyakan perjanjian yang telah mereka setujui sebelum menuju kekediaman Ahmad.
"Bagaimana papi?". Tanya Destra dengan menggerak - gerakkan alis nya naik turun.
"Bagaimana apanya?".
"Jangan pura - pura lupa ?"
"Memang apa yang gue lupakan?".
__ADS_1
"Perjanjian kita".seru Destra dengan tersenyum.
"Iya gue kalah".jawabnya
"Beristirahatlah, besok pagi kita harus kelokasi". perintah Alki dan melangkah menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri sebelum beristirahat.
Destra melangkah menuju kamarnya untuk segera merebahkan tubuhnya yang sudah letih.
Sebelum Alki memejamkan matanya, seperti biasa dia akan menghubungi istri tercintanya melalui videocall.
Dengan seketika panggilan Video dengan cepat di sambut oleh Anggi.
"Assalamualaikum sayang". Anggi
"Waalaikumsalam sayang" jawab Alki
"Bagaimana ".tanya Anggi antusias tidak sabar menerima kabar tentang gadis pujaan anak lajangnya.
"Suami mu ini kalah sayang".seru Alki dengan mimik sedih.
"Kalah bagaimana?", tanya anggi heran.
"Hotel kita ini sekarang berpindah tangan". jawab Alki
"Bagaimana ceritanya bisa berpindah tangan?".tanya Anggi yang sudah mulai emosi.
"Tapi jangan naik dulu darah militer mami ya?".ucap Alki khawatir.
"Sudah cepat jawab". Ucap anggi dengan nada sedikit meninggi.
"Papi kalah taruhan". jawab Alki pelan
"Apa?". ucap Anggi dengan suara tinggi, mata anggi terbuka lebar menatap Alki, dan tangan mengelus - elus dada nya sendiri.
"Sabar istri ku tercinta, dengar penjelasan suami mu ini!". seru Alki
"Mami ngak mau tahu, malam ini juga hotel itu harus kembali ke tangan papi".ucap Anggi dan langsung mematikan videocall tersebut.
Melihat darah militer istrinya bangkit, Alki tertawa terbahak - bahak hingga berguling - guling dan memukul - mukul bantal gulingnya karena berhasil mengerjai istri tercintanya.
"Tapi tunggu, Jika dia benar - benar marah bagaimana?". Ucapnya sedikit khawatir.
Alkipun melakukan videocall kembali. Panggilannya kali ini sedikit lebih lama di angkat oleh Anggi.
"Dengarkan papi ngomong dulu!"serunya setelah terhubung
"Papi taruhannya dengan Destra , anak lajang kita sayang". Imbuhnya dengan cengengesan.
"Mami tidak mau tahu dengan siapa papi taruhan, meskipun itu dengan Destra. Pokoknya hotel itu harus kembali ke tangan papi malam ini juga". Ucap anggi tegas dengan suara yang tinggi dan kembali mematikan panggilan tersebut.
"Hahaha, emang enak dikerjain".guman anggi dalam hati tersenyum licik
Sedangkan Alki yang tidak menyadari istrinya balik mengerjainya terlihat gelisah. Mondar mandir sudah seperti setrika di dalam kamar nya dengan memutar otak bagaimana caranya supaya Destra mau menghapus perjanjian mereka.
"Jika gue meminta Destra untuk menghilangkan perjanjian ini, hilang donk harga diri gue". Gumannya dalam hati.
"Tapi kalau gue ngak bisa mengambil alih, bisa naik beneran tuh darah militer, bisa - bisa gue tidur dapat punggung melulu". Imbuhnya lagi dalam hati.
"Ah masa bodoh la, biar hilang harga diri yang penting tidur gue nyaman, hilang harga diri gue juga bukan dengan orang lain, masa malu dengan anak sendiri". Gumannya lagi dan melangkah menuju kamar Destra yang berada disebelah kamarnya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Alki segera memasuki kamar Destra.
__ADS_1
"Destra bangun sebentar, gue mau ngomong penting".ucapnya dengan menggoyang goyang tubuh Destra.