SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 36


__ADS_3

"Saya hanya mengira saja tuan, karena cara tuan Edo memanggil tuan Alki berbeda dengan tuan Destra". jawab Sandra.


"Bukan karena kamu mengetahui status aku yang sebenarnya sehingga kamu bimbang untuk menerima pinangan aku San?". tanya Edo menerka kebingungan Sandra karena statusnya yang hanya anak angkat keluarga nugraha.


"Bukan tuan. Demi Allah bukan karena itu". jawab Sandra dengan bersumpah.


"Alhamdulillah". guman Edo pelan.


"Jadi apa yang membuat kamu bingung begini?".


"Saya bingung cara menyampaikan dengan orang tua saya tuan". jawab Sandra


"Kenapa harus bingung, kamu hanya menyampaikan kepada orang tua kamu bahwa kami akan datang meminang kamu". ujar Edo.


"Sebenarnya Saya takut keluarga dikampung mengira saya hamil duluan jika menikah mendadak tuan dan pasti warga kampung akan menjadikan kami sekeluarga bahan gosipan". jawab Sandra.


"Oh itu toh yang buat Non Sandra terus ngelamun?". ucap bik Ning.


"Eh ada bik Ning ternyata". ucap Sandra yang baru menyadari jika wanita paruh baya itu tetap berada didekat mereka.


"Duduk disini bik Ning!". seru Sandra dengan menepuk pelan sofa yang ada disebelahnya.


"Astaqfirullah saya kok bisa lupa kalau masih ada bik Ning ya". ucap Edo dengan menampakkan gigi putih nya yang tersusun rapi.


"Saya ini apa lah Den, ada tapi seperti tiada". jawab nya dengan berpura - pura sedih.


"Seperti kunti donk". ucap Edo cengengesan.


"Begitulah Den, hanya saja punggung saya ngak bolong". jawabnya cengengesan.


"Ya sudah duduk sini donk bik". seru Sandra lagi dengan menggeser duduk nya untuk memberi ruang untuk wanita paruh baya itu.


"Saya duduk di sini saja Non Sandra". jawab Nining mendudukkan dirinya di Ambal yang terbentang di bawah sofa tersebut.


Melihat asisten tersebut duduk di lantai beralaskan ambal, akhirnya Sandra juga duduk dibawah seperti Nining. Dan Edo juga mengikuti mereka yang duduk di ambal.


"Loh kok malah turun semua toh? Saya jadi ngak enak". ucap Nining heran.


"Ngak apa - apa bik, ternyata begini lebih asyik". jawab Edo.


"Kalau saya nyaman banget Den duduk diambal selembut ini". ucap bik Ning dengan meraba Ambal itu dengan telapak tangannya.


"Bik Ning ada - ada saja". seru Edo.


"Jamannya saya dulu dikampung ya Non, kalau ada yang mendadak menikah sudah pasti mereka mengira hamil duluan. Sebentar saja satu kampung sudah pada tahu. Kalah kecepatan internet Non". ujar bik Ning.


"Itu yang buat saya takut bik Ning". jawab Sandra lirih.


"Sekarang non Sandra kan ngak lagi hamil, ngapain harus bingung". ucap bik Ning.


"Lebih baik kabarin orang tua kamu jika aku besok akan melamar kamu". ucap Edo


"Benar apa yang dikatakan den Edo Non dari pada dibawa diam saja semakin buat non Sandra semakin pusing". seru bik Ning menyemangati Sandra.


Akhirnya Sandra menghubungi orang tuanya untuk memberitahukan rencana kedatangan keluarga Edo untuk meminang Sandra.


"Assalamualaikum ndok". ucap seorang laki - laki dari seberang telephone.


"Waalaikumsalam Ayah". jawab Sandra.


"Ayah lagi dimana sekarang?". tanya Sandra.


"Ayah masih dirumah ndok, tapi ini mau pergi lihat kebun. Ada apa ndok?".


"Ayah, besok Sandra berencana mau pulang kampung". jawab Sandra terbata - bata.

__ADS_1


"Loh kenapa? Bukannya besok kamu kerja ndok?, kamu di pecat ndok?". tanya wirandi lembut.


"Bukan Yah, tapi..".


"Tapi kenapa?, kalau memang dipecat ngak apa - apa ndok, Ayah masih bisa kasih kamu makan, pulang la ndok".


"Bukan Ayah, Sandra ngak di pecat, tapi Sandra pulang bersama pacar Sandra dan keluarga nya untuk datang meminang". jawab Sandra sedikit malu - malu.


"Alhamdulillah Ayah kira kamu dipecat ndok". seru Wirandi Ayah Sandra.


"Apa kamu sudah mengenal lelaki itu dengan baik ndok?".


"Dia teman satu kantor Sandra Ayah". jawabnya.


"Kalau dia teman satu kantormu, gimana dengan pekerjaan kalian?".


"Kami minta cuti sehari Ayah". jawab Sandra.


"Sopo Pak?". terdengar samar - samar suara wanita diseberang sana.


"Iki anak wedok sampean . Omonge sisok arep teko mrene karo keluarga lanangane kanggo nglamar Sandra". (Ini anak perempuanmu. Katanya besok mau datang kesini bersama keluarga lak- lakinya untuk meminang Sandra). jawab Wirandi kepada istrinya yang masih meletakkan handphone ditelinganya sehingga masih terdengar jelas oleh Sandra.


"Lah kok mendadak Pak? Kene sek Pak aku arep ngomong karo ndenene". (sini sebentar pak aku mau berbicara sama dia). seru istri Wirandi. Tanpa bantahan Wirandi menyerahkan handphonenya pada istrinya yang bernama Sulastri.


Sandra sudah mulai gelisah karena akan berbicara dengan Ibu nya. Dipastikan olehnya Sulastri akan mempertanyakan semuanya dan meminta jawaban yang selengkap - lengkapnya.


"Kok mendadak toh ndok? Kenapa ngak minggu depan saja, jadi Ibuk bisa menyiapkan makanan". ucap Sulastri lembut setelah meletakkan telephone tersebut ketelinganya.


"Besok hanya untuk ngelamar saja kok buk". jawab Sandra dengan mendekatkan duduknya ke bik Ning.


Mendengar Sandra terbata - bata, Edo memintanya untuk melespeakerkan handphone dengan menggunakan bahasa isyarat dan dituruti oleh Sandra.


"Memang hanya ngelamar saja ndok, tapi ngak mungkin toh ibuk ngak menyiapkan makanan, lagi pula besok kamu harus kerja kan ndok?".


"Owalah piye iki?. (Bagaimana ini). seru Sulastri kebingungan.


"Kamu sudah kenal baik sama dia ndok? Kamu kenal dia dimana?".


"Kami sudah lama kenal kok buk, karena kami satu kantor buk". jawab Sandra


"Kalian satu kantor tapi kok bisa mendadak mau datang ngelamar toh ndok. Kalian ngak berbuat macam - macam kan ndok?". tanya Sulastri lembut.


"Enggak buk". jawab Sandra setenang mungkin.


"Syukurlah ndok, ibu takut kalian berbuat dosa yang bisa membuat martabat keluarga kita malu ndok. Meskipun kita orang susah tapi kamu harus bisa menjaga harga diri kamu ndok". ucap Sulastri


"Iya buk".


"Ibu selalu khawatirkan kamu karena jauh dari kami. Kita ngak punya keluarga disana yang bisa menjaga kamu. Ibuk hanya bisa berdoa ndok supaya kamu selalu dalam lindungan Allah". seru Sulastri.


"Makasih ya buk, Sandra selalu mengingat pesan - pesan ibuk". jawab Sandra lirih.


"Siapa namanya ndok?".


"Namanya Edo buk". jawab Sandra.


"Dia tahu keluarga kamu hanya seorang petani kan ndok?".


"Keluarganya juga tahu buk". jawab Sandra


"Syukurlah ndok, ibu takut nantinya mereka terkejut dengan keadaan orang tua mu hanya orang susah".


"Yo wes ndok, ajaklah mereka kesini ndok". seru Sulastri.


"Iya buk. Ibu dan Bapak jaga kesehatan ya buk. InsyaAllah kami besok kesana". ucap Sandra.

__ADS_1


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam". jawab Sulastri mengakhiri percakapan mereka.


Setelah menyampaikan niat Edo untuk meminangnya, membuat hati Sandra jadi lega. Meski dirinya tidak menyampaikan niat mereka yang ingin langsung menikah.


"Kenapa kamu tidak langsung mengatakan saja kalau kita akan langsung menikah?". tanya Edo.


"Tuan dengar sendiri tadi, lamaran mendadak saja sudah membuat orang tua saya berpikiran macam - macam". jawab Sandra.


"Maaf ya Den bukan saya mau ikut campur. Saran saya biar Nyonya saja yang berbicara dengan orang tua non Sandra sewaktu disana. Saya yakin nyonya pasti ada cara yang jitu supaya tidak menimbulkan kecurigaan keluarga non Sandra . Coba den Edo temui nyonya untuk membicarakan masalah non Sandra ini". ucap bik Ning.


"Tumben bik Ning pinter". ucap Edo spontan


"Den Edo sepele sama saya. ". seru bik Ning tersenyum.


Edo hanya cengengesan dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Makasih ya bik Ning atas sarannya. Nanti Edo temui Ibu untuk membicarakan hal ini". ucap Edo


"Kalau begitu kita juga harus menyiapkan keperluan untuk besok". Imbuhnya dengan bersiri dari duduknya.


"Saya juga harus kembali kekontrakan tuan". ucap Sandra yang juga ikut berdiri.


"Kamu ngapain balik kekontrakan? Kita harus pergi bareng untuk membeli cincin dan semua keperluan besok". ujar Edo.


"Tapi saya harus berganti pakaian dulu tuan". ucap Sandra yang memang kembali mengenakan pakaian kantor dia kemarin ketika pergi membeli gaun.


"Ngak usah, kita membelinya di Mall saja". seru Edo dan melangkah menuju walk in closet nya untuk berganti pakaian.


"Tunggu tuan". seru Sandra membuat Edo menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Memangnya tuan akan pergi ke Mall dengan wajah lebam gitu?". tanya Sandra


"Memangnya masih kelihatan ya?". tanya Edo dengan memegang wajahnya sendiri.


"Masih, tapi sedikit". jawab Sandra.


"Tapi sudah tidak separah tadi kok Den. Kalau tadi saya sama sekali tidak melihat ketampanan den Edo". ucap bik Ning yang melihat wajah Edo babak belur dan juga mengetahui semua permasalahan yang terjadi sehingga menyebabkan Alki marah besar. Tidak lupa Anggi meminta bik Ning untuk merahasiakan aib Edo dengan orang lain termasuk Destra dan Devi.


"Bagian mana bik yang masih terlihat?". tanya Edo yang masih meraba - raba wajahnya.


"Bagian pelipis Den". jawabnya


"ooohh Ngak masalah. Edo masih bisa pakai topi untuk menutupinya". ucap Edo.


"Kamu bagaimana San?, masih sakit ngak?". tanya Edo dengan mengarahkan matanya sekilas kebagian sensitif Sandra membuat wajah sipemilik menjadi merona karena malu.


"Sudah mendingan tuan". jawabnya.


"San, aku minta kamu merubah panggilan kamu ke aku. Karena sebentar lagi kita akan menjadi suami istri". seru Edo


"Iya". jawab Sandra dengan menundukkan kepalanya untuk menutupi wajah meronanya.


"Bik Ning ikut kita juga ya?". seru Edo


"Ngak usah Den, saya disini saja". jawabnya


"Bukannya bik Ning diminta untuk menjadi Cctv nya ibu?" tanya Edo


"Di Mall ada Cctv juga Den". jawabnya santai


"Sudah ngak usah bantah, bik Ning ikut kita saja sekalian bantu Sandra untuk memilih apa saja yang dibutuhkan untuk dibawa besok". seru Edo dan meninggalkan Sandra dan bik ning untuk berganti pakaian di walk in closetnya.


Kedekatan keluarga Nugraha dengan semua asisten nya sudah seperti keluarga. Mereka tidak juga tidak membeda - bedakannya. Sehingga mereka bekerja seperti

__ADS_1


__ADS_2