SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 44


__ADS_3

Dipagi hari Rangga kembali terbangun yang sebelumnya tertidur kembali selesai melaksanakan shalat subuh dimushola rumah sakit tersebut.


Rangga membasuh wajahnya agar lebih segar dan menghampiri Caca yang juga sudah terbangun dengan membawa kursi roda.


"Tulang bawa kau keluar ya Ca, biar badanmu segar". ucap Rangga dengan mengangkat tubuh Caca dan memindahkannya kekursi roda tanpa persetujuan Caca.


"Mau kau bawa kemana dia". tanya Siska yang baru bangun dan duduk ditepi tempat tidur.


"Mau bawa dia sebentar ketaman rumah sakit Bun, biar segar badannya". jawab Rangga.


"Iya lah Nak, Caca pasti sudah bosan didalam terus. Nanti Bunda susul kalian sehabis mandi". ucap Siska.


"Ya sudah kami duluan ya Bun". ucap Rangga dan mendorong kursi roda yang diduduki Caca.


"Hati - hati kau bawa dia ya Nakku". seru Siska.


"Siap bos". jawab Rangga tersenyum.


Dengan hati - hati Rangga membawa Caca keluar dari rumah sakit menuju taman yang ada disebelah rumah sakit tersebut.


Vika yang baru tiba dirumah sakit memanggil Rangga ketika melihat suaminya mendorong kursi roda.


"Bang". panggil Vika menghentikan langkah Rangga yang mengenali suara Vika.


"Abang mau bawa Caca kemana?". tanya Vika menghampiri Rangga dan mencium punggung tangan suaminya dan mencium pucuk kepala Caca lembut.


"Mau bawa Caca berjemur sebentar sayang". jawab Rangga.


"Eh anak Papa ikut kesini juga". ucap Rangga yang melihat Nadin digandeng Vika dan mengangkat tubuh kecil Nadin kegendongannya dan mencium Nadin berkali kali karena gemas.


"Bunda dimana bang?".


"Masih dikamar, katanya mau mandi dulu. Tapi nanti Bunda menyusul ketaman kok". jawab Rangga.


"Ohh. oh iya bang Vika ada bawa sarapan dari rumah ini. Vika memasak bubur kesukaan Caca". ucapnya dengan menunjukkan rantang ditangannya yang berisi bubur kacang hijau.


"Kalau begitu kita sarapan ditaman saja". seru Rangga dan menurunkan Nadin dari gendongannya.


"Ya sudah abang bawa Caca ketaman saja dulu. Vika mau lihat Bunda dikamar terus mengajaknya ketaman". seru Vika.


"Kalian ditaman saja, biar nanti abang yang jemput Bunda setelah mengantar kalian ditaman". jawab Rangga dan kembali mendorong kursi roda yang diduduki Caca menuju kursi yang ada ditaman dan diikuti oleh Vika dengan menggandeng tangan Nadin.


Setelah mengantar mereka ketempat duduk yang ada ditaman, Rangga kembali kedalam dengan menggendong Nadin untuk menjemput Bundanya.


"Bunda, kemaren waktu aku telphone si Aldo katanya dia mau kesini lihat si Caca". ucap Aldo ketika melihat bundanya keluar dari kamar mandi.


"Kapan rencana dia mau datang kemari?". tanya Anggi tanpa melihat Rangga.


"Dia bilang secepatnya Bun, dia minta izin dari bos nya kerja dan meminta izin dari sekolah anak - anaknya dulu supaya bisa ikut kesini". jawab Rangga.


"Baguslah kalau mereka datang kesini. Biar kita buat sekalian acara syukuran disini". ujar Siska.


"Eh kemana si Caca kau buat?". tanya Siska yang baru menyadari tidak adanya Caca dibrankarnya.


"Dia ditaman sama mamanya Nadin Bun". jawab Rangga dengan melihat ke arah Nadin yang duduk disebelahnya.


"Oohh". ucap Anggi.


"Sudah kau bilang sama si Aldo kalau kita belum cerita sama si Caca yang sebenarnya?". tanya Anggi.


"Dia sudah tahu Bun, dan dia bilang akan menceritakan yang sebenarnya sama si Caca". jawab Rangga.


"Iya lah. Kek mana pun kita juga harus bilang sama si Caca". ucap Siska.


"Biarlah aku sama si Aldo yang tahu sifat Caca yang sebenarnya Bun. Aku tak mau nantinya Bunda sedih melihat Caca yang berpura - pura tegar". ucap Rangga dalam hati.


*


Di taman Vika membuka rantang bawaannya yang berisi bubur kacang hijau.


Vika duduk berhadapan dengan Caca supaya memudahkannya untuk menyuapi Caca.


Ketika Vika akan menyuapinya Caca mengangkat kedua tangannya untuk mengambil mangkuk berisi bubur tersebut dari tangan Vika.


Vika menyerahkan mangkuk tersebut ketangan Caca dengan sangat hati - hati.


Ketika mangkuk sudah berada ditangan Caca, bubur kacang hijau masakan Vika tumpah sebelum Caca memakannya.


"Astaqfirullah". ucap Caca spontan karena menumpahkan bubur masakan Vika.

__ADS_1


"MasyaAllah. Kau sudah bisa bicara Ca". ucap Vika sumringah.


"Maafkan Caca, karena menumpahkan bubur yang nantulang masak". ucap Caca lirih


"Ngak apa - apa Ca, Nantulang bawa banyak kok". jawab Vika mengutip mangkuk yang tergeletak ditanah.


"Mendengarmu berbicara saja sudah membuat nantulang senang". ucap Vika dan mengambil mangkuk lain yang berisi bubur.


"Biar nantulang suapi ya?".


"Caca saja nantulang". jawab Caca meminta mangkuk dari tangan Vika.


Tanpa menolak permintaan Caca, Vika mengurangi porsinya agar tidak terlalu berat dan menyerahkan kembali mangkuk bubur ketangan Caca.


"Nantulang tahu kau pasti ingin cepat sembuh, tapi jangan terlalu dipaksakan ya". ucap Vika.


Caca menganggukkan kepalanya dan menyantap bubur kacang hijau masakan Vika dengan perlahan.


Rangga dan Siska menghampiri Vika dan Caca yang berada ditaman. Siska melihat Caca tersenyum ketika sedang menyantap bubur.


"Bunda, abang, Caca sudah bisa berbicara". seru Vika sumringah ketika melihat Siska dan Rangga mendekati mereka.


"Ha? Yang benar kau sayang?". tanya Rangga masih tidak percaya.


"Assalamualaikum opung, tulang". ucap Caca dengan mengangkat tangan kanannya yang masih terlihat gemetar untuk bersalaman.


"Waalaikumsalam sayang". jawab Siska menggapai tangan Caca dan menaburinya kecupan ketangan Caca hingga wajah.


Rangga menurunkan Nadin dari gendongannya dan berjongkok didepan Caca dengan mata yang berkaca - kaca seakan tidak percaya dengan kesembuhan Caca yang sangat cepat.


"MasyaAllah Ca, tulang masih tak percaya kalau kau bisa cepat berbicara". ucap Rangga haru.


"Coba kau panggil lagi tulang, coba Ca". pinta Rangga.


"Tulang". ucap Caca meyakinkan Rangga dengan tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah". ucap Rangga.


"Sini biar tulang sulangi kau ya". serunya dengan mengambil mangkuk dari tangan Caca.


Caca menerima suapan bubur dari Rangga yang sudah menitikkan air mata bahagianya. Mereka yang berada disana juga ikut menitikkan air mata karena terharu melihat kesembuhan Caca.


Disitu Rangga menyadari semua ucapan Aldo mengenai sifat Caca yang mampu menutupi kesedihannya dengan senyuman.


"Ca, besok kita ke Villa opung boru ya?". ucap Rangga yang lagi menyuapi Caca.


"Iya tulang". jawab Caca.


"Jadi kalian nanti pergi belanja keperluan si Caca kan?". tanya Siska mengingatkan anak dan menantunya.


"Jadi Bunda selesai jam makan siang nanti". jawab Rangga.


"Nantulang, Caca titip pensil warna sama buku gambar ya". ucap Caca.


"Iya sayang, ada lagi yang mau kau titip selain itu Ca?". tanya Vika.


"Itu saja nantulang". jawab Caca.


"Caca suka warna apa?". tanya Vika.


"Warna putih dan biru langit nantulang". jawab Caca. Vika sengaja bertanya mengenai warna kesukaan Caca untuk menyesuaikan warna baju yang akan dibelinya untuk Caca.


"Kek mana rasa bubur nya sayang? nantulang tadi masukkan juga jahe yang kek kau bilang dulu". ujar Vika.


"Enak nantulang". jawab Caca tersenyum.


Tak terasa bubur yang dimangkuk habis disantap Caca membuat mereka tersenyum melihatnya sangat lahap.


Mereka ikut menyantap bubur masakan Vika dikala Caca meminta mereka untuk sarapan bersama.


Tingkah lucu Nadin yang menggemaskan kembali membuat Caca tersenyum lebar. Tak terasa sudah satu jam mereka berada ditaman rumah sakit.


Rasa bahagia yang mereka rasakan membuat mereka lupa waktu. Hingga akhirnya Rangga mengajak mereka kembali kedalam rumah sakit disaat terik matahari sudah terasa panas dikulit mereka. Lagi pula Rangga akan kembali berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi Caca.


*****


Pemilik rumah mewah dan megah berkumpul diruang keluarga selesai menyantap makan malam. Mereka tertawa lepas ketika menyaksikan program televisi bertema komedi yang selalu mereka gandrungi.


Drtttttt....ddddrrrtttt.....ddrrrrttttr

__ADS_1


"Handphone Mami dimana?". tanya Devi ketika melihat nama yang menghubunginya.


"Dikamar". jawab Anggi singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


"Pantas saja". guman Devi pelan menggapai handphonenya dari atas meja didepannya.


"Siapa sayang?". tanya Alki yang mengetahui handphone Devi ada yang menghubungi.


"Kak Destra Pa". jawab Devi


"Assalamualaikum Kak". ucap Devi setelah menekan tombol hijau.


"Waalaikumsalam, Mami mana Dek?".


"Bukannya tanya kabar Devi dulu, malah tanya Mami. Untuk apa kakak video call Devi kalau ujung - ujungnya tanya Mami". ucap Devi kesal.


"Hehehe, maaf. Apa kabar adek kakak yang manis". tanya Destra merayu Devi.


"Sudah telat". jawab Devi kesal.


"Jangan ngambek donk Dek, kakak tanya mami karena ada hal penting yang ingin kakak tanyakan Dek". jawab Destra.


"Palingan juga tentang Caca kan?". tebak Devi


"Tuh sudah tahu". jawab Destra cengengesan. Devi langsung menyerahkan handphone nya ke Maminya dengan kesal.


"Mami, nih kak Destra". ucap Devi menyerahkan handphonenya ke Anggi yang sedang asyik menonton komedi.


"Ada apa sayang?". tanya Anggi setelah menerima handphone Devi dan melihat wajah Destra dilayar handphone.


"Gimana kabar Mami dan yang lain?". tanya Destra berbasa basi.


"Ngak usah basa basi deh Loe, pasti loe mau tahu kabar Caca doang". seru Alki nyolot yang berada disebelah Anggi.


"Eh ada Papi hehehe". ucap Destra cengengesan.


"Papi ngak boleh sujon, sebelumnya Destra pasti mau tahu kabar Mami dan Papi dulu lah". jawab Destra.


"Elleehh. Ujung - ujung nya pasti Caca juga yang Loe mau tanya". jawab Alki tanpa menunjukkan wajahnya ke Destra.


"Kabar Calon istri Destra juga harus donk Papi. Bener ngak Mam?". jawab Destra yang terus tersenyum.


"Iya". jawab Anggi singkat membela Destra. Karena Anggi sangat menginginkan Caca untuk menjadi pasangan Destra kelak.


"Ada kabar terbaru dia ngak Mam?". tanya Destra.


"Tuh bener kan yang gue bilang. Ujung - ujungnya Caca juga yang Loe tanya". ucap Alki nyolot.


"Dia sudah siuman". jawab Anggi.


"Yang bener Mam?". tanya Destra, Devi dan Alki kompak karena terkejut dengan pernyataan Anggi.


"Iya". jawab Anggi singkat.


"Alhamdulillah". ucap Destra.


"Mami tahu dari mana?". tanya Devi.


"Oma siska tadi siang kabarin Mami". jawab Anggi.


"Kok Mami ngak kasih tahu Papi?". tanya Alki


"Devi juga". seru Devi.


"Loh kok Papi dan Devi bisa ngak tahu juga. Memangnya Mami dan Papi ngak jenguk Caca setelah mendapat kabar Caca siuman?". tanya Destra heran. Sontak Alki dan Anggi terdiam dan saling pandang membuat Destra menaruh curiga kepada kedua orang tuanya tersebut.


"Tadi siang Mami sibuk sayang. Orang tua teman arisan Mami ada yang meminggal". jawab Anggi berbohong.


"Memangnya Mami ngak bisa jenguk Caca setelah sehabis dari rumah teman Mami?". tanya Destra curiga.


"Mami tadi lagi kurang enak badan sayang". jawab Anggi menggunakan jurus jitunya untuk dijadikan alasan.


"Mami sakit?". tanya Destra khawatir.


"Sekarang sudah baikan sayang". jawab Anngi.


"Devi kok ngak kasih tahu Destra kalau Mami lagi kurang enak badan sih". ucap Destra kesal.


"Hanya kurang enak badan aja kok sayang". ucap Anggi.

__ADS_1


"Meskipun hanya kurang enak badan Papi atau Devi kan bisa kasih tahu Destra jangan diam saja. Destra sekarang lagi jauh dari kalian jangan ngak dikabarin donk". jawab Destra yang terlihat kesal karena tidak diberitahu mengenai kesehatan Maminya.


__ADS_2