SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 5


__ADS_3

Alki dan Devi saling menatap heran melihat Anggi yang turun tanpa membawa Destra bersamanya.


Anggi yang biasanya akan menarik paksa telinga Destra atau Devi bila melanggar peraturan, ternyata tidak terjadi kepada Destra.


Mereka yang menunggu adegan seru di pagi hari sepertinya gagal total. Itu lah yang ada dipikiran Alki dan Devi.


"Kakak kok ngak ikut turun dengan mami?". Tanya Devi kepada maminya yang sudah kembali duduk di sebelanya


"Bentar lagi turun". Jawab Anggi santai tanpa melihat suami dan anaknya tersebut.


"Kok bisa?". Tanya Alki dengan heran. Karena setahu seluruh penghuni rumah tersebut pasti akan terjadi peperangan bila melanggar peraturan yang dibuat oleh nyonya rumah tersebut.


Anggi yang mendengar pertanyaan tersebut tidak menjawabnya. Dia hanya asyik menyantap sarapannya seperti tidak terjadi sesuatu.


"Tumben darah militer mami tidak naik". Guman Devi dalam hati.


Tidak berapa lama Destra pun sudah berada dimeja makan bersama mereka.


"Selamat pagi semua". Seru nya Destra dan menarik kursi disebelah papinya berada tepat di depan maminya.


"Pagi". jawab Alki dan Devi menatap heran ke arah Destra.


"Kok bisa selamat loe dari bom nuklir". tanya Alki pelan kepada Destra dengan sedikit berbisik.


"Ada deh". jawab Destra


"Bagi - bagi donk kalau loe sudah punya tameng yang handal". bisik Alki di sela -sela sarapannya.


"Jika sudah saat nya Destra pasti kasih tahu papi". jawab Destra sedikit berbisik.


"Destra, cepat selesaikan sarapan mu". Ucap Anggi karena melihat 2 lelaki yang sibuk saling berbisik.


Setelah menyelesaikan sarapannya Devi pun permisi untuk berangkat kesekolahnya. Yang biasa di antar oleh supir maminya yang biasa dipanggil Pak Budi.


"Mami, Papi, Devi berangkat ya". Ucapnya dan mencium punggung tangan Mami dan Papi nya secara bergantian.


"Eh Dek, loe ngak salim gue?". Tanya Destra yang merasa di acuhkan oleh adik nya.


"Eh lupa kak". Ucap nya cengengesan dan menghampiri Destra untuk mencium punggung tangan kakak nya.


"Masih muda sudah pikun". Seru Destra kepada adiknya.


"Maklum lah kak, kakak kan biasanya ngak ada". Seru nya santai dan meninggalkan mereka yang masih duduk di meja makan.


*****


Dikediaman Ahmad wijaya seperti hari - hari biasanya, Caca yang selalu terbangun di saat Azhan Subuh berkumandang segera beranjak dari tempat tidurnya untuk melaksanakan 2 rakaatnya. Setelah Shalat wajibnya Caca melanjutkan untuk membaca ayat suci Al-quran.


Sebelum nya Caca sempat meninggalkan kebiasaannya yang selalu membaca Al-quran disaat setelah selesai melaksanakan shalat subuh.


Ahmad yang telah kembali dari masjid melangkah memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum". Ucap nya sebelum memasuki rumahnya. Dan hanya di sambut istrinya saja.


Ahmad pun melangkah memasuki rumahnya untuk menuju kamarnya.


Namun langkahnya terhenti di saat dirinya mendengar sayup - sayup lantunan ayat suci Al-quran.


Ahmad pun berbalik menatap istrinya yang masih berada dibelakangnya.


Ratna yang mendapat tatapan dari suaminya, mengerti akan tatapan tersebut.


Ratna pun tersenyum dengan mata nya yang sudah berkaca - kaca. Dan menganggukkan kepala nya untuk menyatakan kepada suaminya yang di dengar Ahmad suaminya memang nyata.


Ahmad yang melihat anggukan istrinya, langsung memeluk istri tercintanya dan mencium pucuk kepala istrinya tersebut. Dengan terus mengucapkan syukur nya kepada Sang pencipta.


"Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau kembalikan kebiasaan nya untuk melantunkan Ayat - Ayat Mu". Gumannya pelan namun masih didengar istrinya yang masih dalam pelukannya.

__ADS_1


Mereka pun meneteskan air mata bahagia.


"Mudah - mudahan anak kita terus melakukannya ya bun".


"Iya bang, Amiiinnn". Sahut Ratna


Ahmad melangkah menaiki anak tangga rumahnya dan meninggalkan istrinya dibawah. Ratna pun kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda sesaat. Ratna selalu mendengar curahan hati Ahmad tentang rindunya untuk mendengarkan Caca untuk Mengaji.


Di waktu Caca berusia 6 tahun, Ahmad dan Ratna mendidik sedikit keras anaknya supaya pergi mengaji ke masjid. Meskipun terkadang Caca harus menangis dengan keras karena menolak pergi belajar mengaji namun Ratna dan Ahmad tidak pernah putus asa.


Mereka akan memberikan apa yang diinginkan oleh anak nya asalkan Caca mau pergi belajar mengaji.


Awal nya mereka memaksa namun berakhir kebiasaan oleh Caca. Sehingga Caca akan terus minta di antar kan oleh orang tua nya untuk belajar mengaji ke masjid.


Ahmad yang sudah merindukan suara anaknya tersebut melangkah perlahan memasuki kamar anaknya yang tidak terkunci itu.


Ahmad duduk ditepi ranjang anaknya tanpa mengganggu kekhusukan Caca. Dia pun kembali menitikkan air mata bahagia yang tiada tara.


Caca yang sudah mengakhiri lantunannya, beranjak dari duduknya. Ketika dia berbalik badan, Caca sedikit terkejut akan keberadaan Ayahnya.


"Astaqfirullah". Ucap nya dengan tersentak.


"Ih ayah buat Caca kaget saja".


Caca yang melihat tatapan ayahnya yang sudah berkaca - kaca yang terus memperhatikannya.


Dia pun mendekati Ayahnya.


"Kenapa dengan ayah, kok terus melihat Caca terus?". Tanya nya dengan melipat kembali perlengkapan shalat nya.


Caca mendekati ayah nya, Ahmad langsung memeluk anaknya.


"Ayah sangat merindukan suaramu melantunkan ayat - ayat alquran nak". Serunya dengan suara parau.


Mendengar ucapan ayah tercintanya, Caca pun mengeratkan pelukan ayahnya.


"Caca janji akan terus mengaji selesai Shalat subuh agar ayah selalu mendengarnya". Imbuhnya lagi


"Terimakasih sayang". ucapnya dan terus mencium pucuk kepala anaknya.


"Sekarang berkemaslah untuk berangkat kesekolah". imbuh Ahmad dan meninggalkan kamar anaknya.


Kebahagiaan kembali dirasakan Ahmad dan Ratna ketika mereka berada di meja makan untuk menyantap sarapannya.


"Ayah, Bunda, Caca nanti akan meminta pihak sekolah untuk menyediakan seragam sekolah Caca yang berhijab". ucap Caca


"Alhamdullilah". Seru Ahmad dan Ratna bersamaan.


"Baiklah sayang bunda sangat senang mendengar nya, bunda akan membelikan baju - baju muslimah yang lagi trendy untuk kamu pakai sehari - hari". seru Ratna


"Terimakasih bunda". jawab Caca tersenyum.


Setelah selesai menyantap sarapannya, Ahmad dan Caca melangkah berbarengan untuk berangkat bersama seperti biasa Ahmad akan mengantarkan anaknya terlebih dahulu lalu menuju kantornya.


"Ayah, mobil dimana?". Tanya nya kepada Ayahnya yang juga sudah keluar rumah .


"Masih di bengkel sayang". Jawab nya


"Oohh". Serunya mengerti akan maksud ayahnya.."Terus kita berangkat naik apa Ayah?". Tanya nya lagi


"Kita naik taxi online, ayah sudah memesannya" .imbuhnya dengan senyuman yang masih menghiasi wajah nya.


Tidak menunggu lama,taxi online yang di tunggu pun tiba. Caca mendekat kepada bundanya yang masih berdiri di depan pintu. Seperti biasa Caca mencium punggung tangan bundanya.


"Caca berangkat ya bunda, Assalamualaikum ". Serunya


"Waalaikumsalam", jawab Ratna dan melambaikan tangannya ketika ke 2 manusia yang di sayanginya itu sudah berada didalam mobil taxi online tersebut.

__ADS_1


Sesampainya disekolah kedua sahabatnya sudah menunggunya dipintu gerbang sekolah.


Caca pun menghampiri ke 2 sahabatnya itu.


"Ayok kita masuk". Ajak Caca kepada dua sahabatnya.


"Gue lagi ngak mood Ca". Tolak Santi akan ajakan Caca


"Gue juga lagi males Ca". Timpal Rani


"Terus kalian mau kemana?". Tanya Caca


"Nongkrong di tempat biasa saja yok, kemaren loe kan sudah janji". Rani


"Jam segini belum buka". jawab Caca


"Kita nunggu sampai buka saja Ca". Santi


"Elleh, bilang saja loe pada rindu sama kak Boyran". Jawab Caca.


"Nah loe tahu". sahut Rani dan Santi kompak.


Caca yang sudah bertekat akan berubah, dengan cepat dia menemukan alasan untuk menolak ajakan kedua sahabatnya.


"Maaf teman, gue ngak bisa mengikuti kalian". Ucap nya


"Loe ngak asyik". Ucap Santi dengan memonyongkan bibirnya


"Ayok la Ca". Rayu Rani


"Bukan gue ngak mau teman, ngak lama lagi kita akan ujian kenaikan kelas". Jawab Caca


"Yaelah Ca, loe ngak ikut ujian juga pasti akan naik kelas". Seru Santi kepada Caca yang memiliki otak jenius.


"Emang bisa gitu?". Tanya Caca


"Loe tuh cerdas Ca, loe belum baca pertanyaan sudah tahu jawabannya". Imbuh Rani yang tidak di masuk akal.


Merekapun tertawa.


"Sudah ayok kita berangkat" . Ajak Rani lagi yang tidak mau putus asa.


"Bukan sombong ya teman, gue yang pinter saja masih ada rasa takut untuk menghadapi ujian kenaikan kelas, masak kalian kagak?". Caca


"Darah kesombongannya sudah mulai bangkit". Celoteh Santi


"Sudah ayok masuk, untuk sementara kita jangan bolos - bolos dulu. Gue kagak mau naik kelas sendiri". Ucap caca


"Tanpa kalian hidupku hampa". Imbuhnya lagi


"Lebay loe". Santi


"Gampang Ca, misalnya gue ma Santi kagak naik kelas, loe turun kelas aja, gampang toh". Celoteh Rani


"Ogah, ngikutin loe pada, bisa - bisa sampai ujur gue bakal disekolah ini terus". Ucap Caca menolak


"Kalian mah enak, orang tua loe bedua kaya raya, lah gue?". Imbuhnya dengan mimik menyedihkan.


"Ngak usah sok sedih loe, loe kagak sekolahpun gue jamin pasti loe dinikahi lelaki yang kaya raya, secara loe Cantik, body sexi, paket komplit deh". Rani.


"Sudah ah, loe pada mau masuk ngak nih?". Tanya caca menatap Rani dan Santi bergantian.


"Menurut Gue saran Caca bener juga San". Ucap Rani


"Masalahnya gue lagi ngak mood belajar Ran". Imbuh Santi yang masih enggan untuk masuk kesekolah.


"Kalian rundingin dulu deh, jika sudah pasti temui gue keruangan kelas kita". Imbuh Caca dan meninggalkan sahabatnya yang masih terlihat belum mengerti dengan saran yang diberikan Caca. Dia melangkah dengan sedikit berlari menahan tawanya karena wajah temannya yang mudah dikelabui.

__ADS_1


__ADS_2