
Kali ini author sangat memohon untuk para pembaca di bawah umur 18+ untuk tidak membacanya. author sangat -sangat minta maaf jika ada kelancangan.🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Jika ada kesalahan saya yang lemah ini meminta maaf yang sebesar - besar nya.🙏🙏🙏🙏🙏😥😥😥😥😥.
Selamat membaca bagi yang telah Dewasa.
Mendengar dirinya akan di jebak dengan sigap Edo menarik tangan Sandra untuk segera meninggalkan acara tersebut.
"Jika kamu tahu itu jebakan mengapa kamu meminumnya bukan membuangnya". ucap Edo kesal ketika memasuki lift.
"Saya tidak ingin membuat tuan malu dihadapan mereka tuan". jawab Sandra lirih menundukkan kepalanya.
"Jika itu racun bagaimana?". tanya Edo menggertak Sandra karena kesal.
"Ngak usah ngegas tuan. Jika memang yang saya minum tadi itu racun, saat ini saya sudah terbujur kaku dengan mulut berbuih tuan". jawab Sandra santai
Disaat Sandra akan melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, Sandra merasa sudah tidak sanggup melangkah hingga harus memegang erat tanggan Edo.
"Kamu kenapa". tanya Edo yang mulai khawatir
"Tidak tahu tuan, kaki saya berasa lemas". jawab Sandra.
Edo memapah Sandra untuk melangkah. Namun baru beberapa langkah Sandra sudah tidak mampu untuk melangkah. Dengan sigap Edo menggendong Sandra ala bridal style menuju mobilnya.
Setelah mendudukkan Sandra di jok mobil sebelah kemudi, Sandra menyilangkan kakinya dan meraba - raba tubuhnya sendiri.
Edo melajukan mobilnya meninggalkan pelataran hotel tersebut.
"Tuan kenapa saya merasa gerah sekali". ucap Sandra dan menekan tombol pengatur suhu Ac agar lebih dingin.
"Sandra sepertinya kamu meminum obat perangsang". ucap Edo
"Tuan". seru Sandra lirih dengan memeluk Edo dari samping dan meraba - raba tubuh Edo.
"Sandra kendalikan diri kamu". seru Edo dengan terus melajukan mobilnya.
Edo memperhatikan kebelakang mobilnya dengan menggunakan kaca spion seperti ada yang mengikuti mereka. Edo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan Sandra yang terus meraba - raba tubuhnya.
"Tuan saya sudah tidak tahan". seru Sandra mencoba membuka tali pinggang Edo.
Sedangkan Edo terus memperhatikan kebelakang untuk bisa menghindari penguntit tersebut.
Dilihat tidak ada terlihat yang membututinya Edo memasuki kawasan apartment dan memarkirkan mobilnya. Edo kembali mengangkat tubuh Sandra ala bridal style dan menutup pintu mobil dengan kakinya dan segera menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai 25.
Didalam lift Edo menurunkan Sandra dari gendongannya namun masih memapahnya.
Sandra yang sudah tidak sanggup mengendalikan dirinya langsung memeluk tubuh Edo dengan erat.
"Sandra kumohon kendalikan dirimu".
"Saya tidak bisa tuan, ini sungguh menyiksaku". jawab Sandra lirih.
__ADS_1
Kembali Edo mengangkat tubuh Sandra ketika pintu lift terbuka. Dengan sigap Edo membawanya menuju kamar mandi yang berada dikamarnya dan mengguyur Sandra di bawah air shower yang masih mengenakan gaun pestanya.
Edo yang ingin meninggalkan Sandra untuk mengambil air minum hangat untuk Sandra minum, terhenti ketika Sandra telah mengalungkan tangannya di tengkuk Edo dan m******t bibir Edo dengan rakusnya.
"San, jangan seperti ini. Aku lelaki normal". ucap Edo ketika melepas pagutan mereka.
"Saya butuh tuan saat ini, bantu saya tuan". jawab Sandra dan kembali menarik tengkuk Edo dan kembali Sandra me****at nya dibawah guyuran air membuat pakaian Edo ikut basah.
Edo melepaskan pagutan mereka disaat mereka kekurangan oksigen.
"Sebentar ya San, kamu disini sebentar". seru Edo dan meninggalkan Sandra.
Edo kembali kekamar mandi tersebut dengan membawa segelas air putih hangat untuk Sandra. Namun Edo terperanjat saat berada di ambang pintu kamar mandinya melihat Sandra yang sudah tidak mengenakan apapun di badannya.
Meski telah melihat semua nya Edo memutar tubuhnya untuk membelakangi dengan menelan saliva nya dengan susah payah.
"San, pakai handuk yang ada disitu, dan minum air ini". seru Edo terbata - bata dengan menunjuk tempat handuk berada tanpa melihat kearah yang dimaksud dengan memegang gelas berisi air.
Bukannya mengikuti apa yang diperintahkan Edo, Sandra memghampiri Edo yang berdiri diambang pintu kamar mandi tanpa sehelai benang pun dan mengambil gelas berisi air dan meminumnya kandas dan meletakkan gelas gosong itu di lantai.
Sandra memeluk Edo dari belakang dan me****ba seluruh badan Edo yang masih mengenakan pakaian lengkap.
"Tuan, saya sudah tidak tahan". seru Sandra lirih.
Mengira Sandra telah memakai handuk, Edo memutar tubuhnya. Sandra mengeratkan dekapannya dan kembali me*****at bibir Edo saat Edo membalikkan tubuhnya.
Edo melepas pagutannya ketika merasa pasokan udaranya hampir habis.
"Saya iklas tuan, sebenarnya saya sudah lama menyukai tuan". jawab Sandra dengan memegang pipi Edo dengan kedua tangannya.
Mendengar Sandra mengutarakan perasaan suka terhadapnya, Edo memegang tengkuk Sandra dan me****at bibir Sandra dengan lembut.
Sebelah tangan Edo berselancar kegundukan Sandra yang masih kenyal tanpa ada alas yang menutup nya membuat si empu mendesah.
Tangan Sandra melepas baju yang di kenakan Edo yang sudah basah itu dengan kedua tangannya. Entah bagaimana mereka telah berada ditepi ranjang.
Dengan sangat lembut Edo membaringkan tubuh Sandra yang polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Terpampang jelas tubuh indah Sandra membuat rudalnya semakin sesak dibalik sana.
Edo memindahkan ciumannya keleher indah Sandra dan meninggalkan jejak kepemilikan nya.
Desahan Sandra semakin memburu disaat Edo memainkan p******g nya dengan lidah. Dan tak lupa Edo kembali membubuhi kepemilikannya di area tersebut.
Edo terus menelusuri tubuh Sandra jengkal demi jengkal menggunakan lidahnya tanpa melewatkan sedikitpun membuat si empu semakin mendesah.
Dibagian bawah Edo yang terasa sesak karena celana yang dikenakannya sehingga Edo melepaskan celana nya hingga tertinggal boxer nya saja.
Edo kembali m*****t bibir Sandra sekaligus melepas boxer yang dikenakannya hingga mereka sama - sama tidak lagi mengenakan sehelai benang pun.
Tangan Edo kembali m******s gundukan kenyal itu dengan sangat lembut membuat Sandra kembali mendesah.
__ADS_1
Sandra yang sudah terpengaruh obat perangsang memegang alat vital Edo dan mengarahkan kemiliknya.
"Lakukanlah tuan". lirih Sandra.
Sesuai permintaan Sandra, Edo mengarahkan miliknya ke milik Sandra dengan sangat hati - hati.
Edo yang tidak memiliki pengalaman sama sekali membuatnya kesulitan untuk menembusnya.
Hingga akhirnya Edo tersadar ketika miliknya mengalami kesulitan untuk menembuskan harta berharga milik Sandra.
Edo bangkit dari tubuh Sandra dan terduduk ditepi ranjang dengan mengacak kasar rambutnya sendiri.
Edo terduduk ditepi Ranjang menahan hasratnya agar tidak melakukannya.
Sandra memeluk tubuh Edo dari belakang dan menarik nya hingga Edo berada tepat diatas tubuh polosnya. Dengan Sigap Edo menahan tubuhnya dengan siku tangannya agar tidak menindih tubuh Sandra.
"Mengapa tuan tidak melakukannya". tanya Sandra lirih.
"San, aku sangat mencintaimu sehingga aku tidak sanggup untuk merusak nya sebelum aku menghalalkanmu". ucap Edo.
"Lakukanlah tuan, rasa ini sungguh sangat menyakitkan".
"Sandra aku tidak bisa". jawab Edo.
Sandra kembali m******t bibir Edo dengan sangat lembut agar Edo tidak melanjutkan ucapannya. Serangan yang di lakukan Sandra membuat Edo tidak mampu untuk menolaknya.
"San, jika sakit gigit pundak aku ya". seru Edo dengan sangan lembut dan dianggukkan Sandra.
Edo mengarahkan miliknya ke pemilikan Sandra untuk melakukan penyatuan.
Ketika Edo menekan miliknya membuat Sandra mengerang kesakitan. "Aahh sakitt". ucap Sandra membuat Edo berhenti untuk tidak terus menekan miliknya kedalam. Edo diam di tempat tanpa melepas penyatuan mereka yang belum sempurna itu. Air mata Sandra meleleh dari sudut matanya membuat Edo semakin tidak tega untuk meneruskannya.
"San". ucap Edo lirih dengan menghapus air mata Sandra dengan jarinya.
"Tidak apa - apa tuan, lanjutkan saja. saya masih kuat".
"Aku mencintaimu San". ucap Edo dengan menekan miliknya semakin dalam. Sandra menggigit pundak Edo hingga meninggalkan bekas untuk menahan sakitnya
Dirasa Sandra sudah lebih tenang, Edo mendekap tubuh Sandra dengan Erat dan perlahan memaju mundurkan miliknya dengan sangat lembut.
Erangan kesakitan Sandra berubah menjadi desahan k*******n disaat Edo memainkan pinggulnya maju mundur cantik.
Desahan demi desahan terus keluar dari mulut Sandra membuat Edo tidak tahan untuk tidak melakukan pelepasan.
Edo mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Sandra dan kembali melakukannya lebih kencang dengan memegang pinggul Sandra hingga akhirnya Edo mengerang dengan menyemburkan laharnya kedalam rahim Sandra.
Penyatuan mereka yang cukup lama membuat Sandra terkulai lemah sehingga membuatnya tertidur dengan lelap.
"Aku berjanji akan secepatnya menikahimu San untuk mempertangung jawabkan semua ini". ucap Edo pelan dan mencium kening Sandra dengan cukup lama.
Edo menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan menidurkan Sandra dalam pelukannya hingga akhirnya Edo juga terlelap.
__ADS_1