Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Aku siap


__ADS_3

Tiba-tiba pintu terbuka begitu saja dan pelakunya adalah Ratih. Aku dan Anto langsung menatapnya. 


"Maaf" Lirih nya sambil mengatupkan kedua tangannya. 


"Kamu kan bisa ketuk dulu pintunya Ra" Ucapku. 


"Iya maaf, aku kira bang Anto belum pulang karena motornya di depan tidak ada" Ujarnya dengan sesal. 


"Ada apa?" Tanyaku. 


"Aku cuman mau lihat teteh karena tadi ibu bilang teteh keserempet motor" Masih diam di depan pintu. 


"Masuk Ratih" Ucap Anto. 


Ratih pun masuk dan aku melihat ke arah Anto dan bertanya "motormu kemana bang?"


"Di pinjam orang bengkel jadi aku pulang naik ojek" Jawabnya sambil jalan ke samping ku. 


"Teteh kenapa bisa keserempet motor?" Tanya Ratih. 


"Aku nggak hati-hati saja"


"Em… Sekarang gimana?"


"Ya sakit lah" Jawabku. 


"Gimana kerjamu Ra?" Tanya Anto. 


"Lancar bang, cuman aku sedikit risih saja karena ada Bagas juga" Ucapnya sedikit mengeluh. 


"Tapi aku betah bang, ada cowok ganteng tapi jutek" Lanjut nya. 


"Teman kamu?" Tanyaku. 


"Bukan dia Atasanku, kalau kata temanku sih asistennya CEO" Jawabnya. 


"Ya wajar dia jutek, kamu kan baru di tambah posisi dia bagus" Ucapku. 


"Iya sih teh, tapi kalau kata temanku lebih jutek dan dingin banget CEO nya"


Tiba-tiba Anto tersedak batuk seperti kaget gitu. "Khuk"


"Kenapa bang?" Tanya ku sambil menatapnya.


"Tidak Za, aku tidak apa-apa" Jawabnya. 


Aku dan Ratih cuman saling pandang. 


"Ya sudah teh aku mandi dulu baru pulang banget pasti bau" Pamitnya. 


"Ya sudah sana"


Ratih pun keluar dan tiba-tiba Anto berkata "dia jadi baik sama kamu, bukannya dulu dia yang nyuruh kamu cepet nikah" Ujarnya. 


"Iya, mungkin dia seperti gitu karena dulu dia deket sama Bagas yang menuntutnya cepat menikah dan dia juga sudah minta maaf sikapnya yang dulu" Jawabku dengan tersenyum. 


Lalu Anto sibuk lagi dengan ponselnya, aku sebenarnya penasaran apa yang dia lakukan dengan ponselnya karena sepertinya penting banget. Tapi setiap aku tanya dia bilang cuman chat sama Tyo ngomongin masalah bengkel. 


Besok nya Anto sudah bangun pagi banget dan dia sudah bersiap juga. 

__ADS_1


"Abang mau kemana kok sudah rapi pagi-pagi begini?" Tanyaku. 


"Abang ada perlu sama Tyo untuk ngurusin kerja sama" Jawabnya. 


"Oh, abang sarapan dulu" Tawarku. 


"Nggak usah Za, nanti saja di jalan kamu istirahat saja biar cepat sehat juga" Ucapnya sambil mendekat ke arahku lalu mencium keningku. 


"Abang berangkat dulu ya, Tyo udah nungguin di depan" Pamitnya dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum.Anto pun berangkat dan aku mencoba bangun dan untungnya kaki ku tidak terlalu parah jadi sudah bisa di pake jalan walau masih sakit. Aku keluar kamar dan langsung menghampiri ibu di dapur. 


"Bu" Panggilku. 


Ibu pun menengok lalu tersenyum. 


"Maaf Za nggak bisa bantu ibu" Ucapku dengan sedih. 


"Tidak apa Za ibu ngerti kok, kondisi kamu kan lagi sakit" Ujar ibu tanpa melihat ke arahku. 


Aku duduk di meja makan dan ibu sedang mencuci piring. 


"Za, ibu kok merasa wajah Anto nggak asing ya buat ibu" Ucap ibu sambil melihatku. 


"Gak asing gimana bu?" Tanyaku heran. 


"Sejak ibu lihat Anto ibu merasa kok nggak asing sama wajahnya mirip sama suami teman ibu"


"Em… memang suami teman ibu ganteng juga ya?" Tanya ku sedikit bercanda. 


"Kamu ini, ganteng lah dia kan mantan playboy sekolah" Jawaban ibu. 


Aku hanya tersenyum. 


Ibu dulu tinggal di Jakarta karena suatu alasan jadi dia pindah karena tidak mau membuat orang tuanya semakin malu. Teh Melda dan kakak laki-laki ku kami beda ayah. Aku, Ratih dan Irfan satu ayah. Aku bangga sama ibu karena di usianya yang masih muda dulu dia bisa membesarkan teh Melda dan kakak laki-laki ku sendiri. 


"Za, kamu sudah disini saja, mana Anto?" Tanya bapak saat di meja makan. 


"Anto sudah berangkat pak, dia bilang ada yang harus dikerjakan jadi pagi-pagi sudah berangkat" Jawabku. 


"Oh, kaki kamu gimana sekarang?"


"Baikan pak"


Karena semuanya sudah kumpul kami pun sarapan. 


Hubungan ku dengan Anto sekarang sudah lumayan ada kemajuan dan aku sudah mulai ada hati padanya karena dia bisa buat aku jatuh cinta. Malam ini aku baru saja melaksanakan sholat saat Anto baru pulang. 


"Bang, baru pulang?" Tanyaku sambil mencium tangannya. 


"Iya Za, tadi di bengkel rame" Jawabnya. 


"Abang mau makan dulu apa mandi dulu?" Tanyaku. 


"Peluk kamu dulu boleh?" Tanyanya sambil bercanda. 


"Abang ih" Ucapku dengan malu. 


"Bercanda kok lagian abang kotor juga, kamu siapin makan saja abang mandi dulu" Ujarnya sambil mengusap kepalaku. 


Aku pun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tiba-tiba Ratih menghampiri dia juga baru pulang. 

__ADS_1


"Teh, mau manasin makanan ya?" Tanya nya. 


"Iya kenapa Ra?"


"Sekalian buat aku ya Teh, aku juga lapar" Dengan nada lemas. 


"Iya, kamu mandi dulu sana"


Ratih pun masuk kamar aku langsung manasin makanan. Tak lama Anti keluar dengan wajah segar baru mandi. 


"Udah siap bang" Ucapku. 


"Kamu sudah makan?" Tanyanya sambil duduk. 


"Sudah bang, abang saja yang makan aku temani" Ujarku sambil mengambilkan makanan. 


Tak lama Ratih datang dan langsung duduk dan makan. Aku melihat wajahnya sepertinya lagi kesal. 


"Kamu kenapa Ra? Wajahmu murung gitu?" Tanyaku. 


Ratih pun menarik nafas lalu berkata "aku di marahin teh gara-gara aku bikin lapor nya telat, padahal aku telat juga gara-gara si jutek" Ceritanya dengan kesal. 


"Memang kenapa?"


"Dia nyuruh aku bikin laporan dan harus selesai tapi dia juga nyuruh yang lain kan bikin aku pusing teh" Lanjut nya. 


"Kamu dikerjain?" Tanya Anto. 


"Iya bang"


"Dia suka sama kamu kaki jadi biar deket terus sama kamu jadi dia menyuruh kamu lakukan apa saja" Ujar Anto. 


"Masa sih bang"ucap Ratih. 


" Ya biasanya begitu"jawabnya dengan santai. 


Akhirnya Anto dan Ratih selesai makan dan kami langsung masuk kamar masing-masing. 


Saat di kamar Anto langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Aku pun naik tempat tidur dan langsung menyusul Anto rebahan. 


"Za" Panggilnya tanpa melihat ke arahku. 


"Iya bang" Sambil mengubah posisiku jadi menyamping menghadap Anto. 


"Aku boleh minta sesuatu nggak?" Tanya nya. 


"Apa bang? Kalau Za bisa pasti Za kasih bang" Jawabku. 


"Aku boleh sentuh kamu?" Ucapnya dengan mengubah posisinya jadi menghadapku. 


Jantung ku langsung dag dig dug tak karuan karena ada rasa malu juga, tapi saat ini aku sebagai istrinya jadi seharusnya aku memberikan haknya sebagai suami dan dia sudah bertahan selama sebulan lebih untuk menunggu. 


"Kok nggak jawab? Kamu belum siap, ya sudah tidak apa-apa kok Za" Ucapnya. 


Karena aku tidak mau jadi istri durhaka akhirnya aku pun mengangguk dan berkata "aku siap kok bang"


"Kamu yakin Za?"


"Iya bang" Dengan yakin aku menjawab. 

__ADS_1


__ADS_2