
Anto tidak jadi pindah ke Jakarta karena dia harus menyelesaikan proyek yang baru saja di kelolanya, mungkin nanti setelah beres baru kami pindah ke Jakarta. Hari-hari ku, aku sibukkan dengan membantu mbak Rina di butik karena mbak Rina sekarang tinggal di Jakarta setelah suaminya Mas Al di suruh memegang perusahaan keluarga Anto. Siang ini butik sedikit rame jadi aku belum sempat makan siang.
"Teh di luar ada bang Anto" Beritahu Desi.
"Anto" Ucapku.
Desi pun mengangguk dan aku langsung keluar menemuinya. Ternyata Anto menungguku di parkiran. Aku pun menghampirinya dan bertanya "ada apa abang kesini?"
Anto menatapku dengan tajam lalu berkata "kenapa gak di angkat?"
"Aku tadi sibuk jadi belum pegang ponsel"jawabku.
" Jadi kamu belum makan? Aku kan sudah bilang jangan telat makan dan obatnya di minum lagi ngerti"ucapnya.
"Iya aku minta maaf" Jawabku.
"Masuk makan dulu" Titahnya. Aku pun masuk ke dalam mobilnya lalu makan.
Anto hanya memperhatikan aku makan, setelah makan Anto kembali ke kantor. Aku pun masuk kembali ke butik bersamaan dengan Aulia datang.
"Za" Panggilnya.
"Iya mbak" Jawabku sambil meliriknya.
"Lo liat Tio gak?" Tanya nya.
"Maksudnya bang Tio yang punya bengkel?" Tanyaku karena aku takut salah.
__ADS_1
"Iya lah" Jawabnya.
"Aku gak lihat mbak, cari saja ke bengkelnya" Jawabku.
Mbak Aulia masuk ke dalam dan langsung duduk di meja kasir. Tika menatapku dan aku mengerti akan tatapannya. Aku hanya tersenyum. Aku pun melanjutkan pekerjaanku aku sudah tahu kalau Aulia itu kakak sepupunya Anto dan dia naksir bang kang Tio.
Saat sore hari Anti menjemput ku dan aku sudah bersiap untuk pulang. Kami pulang namun saat di jalan Anto mengajakku mampir ke sebuah tempat makan di pinggir jalan.
"Kamu gak masalahkan kalau kita makan disini" Tanyaku pada saat turun.
Aku pun menggeleng dan tersenyum. Aku menatap Anto yang lahap memakan makanannya. Aku tidak berharap akan memiliki suami orang kaya sepertinya aku hanya ingin pria yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus. Walau aku tahu masih banyak rintangan di depan sana menanti ku dan aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik buat dia.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Anto saat melihat ke arahku.
Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Aku sudah beres makannya" Ucapnya dan saat aku lihat piring nya memang sudah habis.
Akhirnya kami pun pulang dan sampai rumah kita langsung istirahat karena sudah makan juga. Anto langsung tidur dan aku masih menulis data penjualan tadi siang. Aku belajar mengelola butik karena aku ingin memiliki butik sendiri dan baju yang ku jual adalah rancangan ku. Setelah beres aku pun tidur menyusul Anto.
Banyak kejadian yang bisa aku ambil dari kejadian berapa bulan kemarin, namun sampai saat ini aku belum bertemu dengan bang Romi kakak pertamaku. Aku tahu dia pasti tidak setuju kalau aku balik lagi sama Anto karena dia setidaknya mengenal Anto karena Anto adalah seorang pengusaha muda yang sudah terkenal walau aku tidak tahu. Pagi ini aku dapat telepon dari ibu kalau bapak sakit jadi aku mengajak bang Anto untuk menjenguk bapak. Malamnya kami datang dan aku langsung bertemu dengan teh Mia kakak kedua ku. Sikapnya pada Anto masih sama dia tidak terlalu menyukainya walau dia tahu kalau Anto orang kaya tapi tetap saja masih nyinyir.
"Bapak sakit apa bu?" Tanyaku setelah melihat bapak di kamar.
"Dokter bilang bapak terlalu kecapean" Jawabnya.
"Kalau gitu bapak istirahat gak usah ternak kambing lagi" Ucapku.
__ADS_1
"Kamu ngomong gitu, emang mau bahagiakan bapak" Ucap teh Mia.
Aku hanya menatapnya dan ibu mengusap tanganku.
"Kalau bapak mau nurut sama Zizah, aku akan tanggung semua biaya hidup bapak dan ibu setiap bulannya" Ucap Anto.
"Kamu pikir hanya bapak sama ibu, kan masih ada Irfan" Ucap teh Mia lagi.
Aku akhirnya melarang Anto untuk meneruskan perdebatan ini.
Kadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran teh Mia apa memang dia tidak tahu siapa Anto sebenarnya. Setelah menjenguk bapak kami pulang dan di perjalanan Anto terus saja mengoceh karena dia kesal sama teh Mia. Aku cuman bisa tersenyum mendengar ocehannya. Aku memang harus membuktikan pada teh Mia kalau Anto ini memang orang kaya dia bisa lakukan apa saja agar ibu dan bapak bahagia.
Besok nya aku dapat kabar kalau bapak masuk rumah sakit dan aku langsung menyusul ibu dan Irfan. Bapa langsung ditangani dan aku minta perawatan yang terbaik buat bapak dan memesan kamar vvip.
"Za, kamu gak salah pilih kamar? Pilih yang biasa saja" Ucap ibu.
Aku pun hanya tersenyum, bapa langsung masuk rawat inap dan saat sing hari Anto datang untuk melihat kondisi bapak. Namun tiba-tiba ibu berkata "nak Anto maaf ya kami jadi merepotkan kalian, untuk masalah biaya rumah sakit nanti saat ibu punya uang ibu bayar" Ucap ibu.
Anto menatapku sebelum menjawab "ibu gak usah pikirkan itu semua, Zizah lakukan itu semua karena saya yang menyuruh nya untuk memesan kamar ini dan perawatan yang terbaik"
Apa yang di katakan Anto itu benar karena sebelum berangkat ke rumah sakit aku bilang sama dia kalau bapak di bawa ke rumah sakit dan di berpesan padaku agar carikan kamar dan perawatan yang terbaik buat bapak.
Besok teh Mia datang dan dia sangat terkejut dengan ruang rawat inap bapak yang mewah "Za kamu punya duit dari mana sampai-sampai ngasih bapak ruangan begini" ucapnya.
"Za cuman ingin teteh tau kalau Anto itu bukan hanya kerja di kantoran tapi dia juga seorang pengusaha" ucapku.
"Masa cowok kaya Anto seorang pengusaha, paling dia dapet duit dari balapan liar" ucapannya yang membuat aku kesal juga.
__ADS_1
Masa iya aku harus bawa teteh ke kantornya Anto sih, bisa kacau kalau begitu. Dia cuman tahu kalau bang Romi yang pengusaha sukses tidak ada yang lain. Teh Mia selalu mendapatkan apa yang dia mau dari bang Romi karena sejak kecil mereka selalu bersama. Akhirnya ibu cuman bisa mengingatkan aku akan sikap teteh yang suka membuat aku kesal dan Anto tidak pernah ambil hati ucapan teh Mia. itu yang membuat aku suka dari Anto dia tidak pernah mempermasalahkan keluarga ku yang terkadang membuat dia malu dan kesal.
Sorenya Anto menjemput ku karena malam ini aku harus menemaninya menghadiri acara makan malam bersama kliennya.