
Setelah bertemu sama Anto aku lupa kalau aku masih marah sama dia karena dia bohong sama aku. Sekarang aku malah ingin terus dekat-dekat dengannya bahkan hari ini aku minta dia tidak masuk kerja.
"Abang jangan kerja dulu ya, temani aku di sini?" Pintaku dengan wajah sedih.
"Iya abang temani tapi abang sambil kerja ya, nanti pasti akan ada asisten ku yang nganterin berkas tidak apa kan?" Ujarnya sambil memegang tanganku.
Aku pun mengangguk dan langsung memeluknya, aku suka saja sama bau badannya yang khas.
Saat siang benar saja ada orang yang datang mengantarkan berkas yang harus diperiksa.
Seorang cowok ganteng tinggi dengan rambut rapi. Dia tersenyum padaku lalu menghadap Anto.
"Ini berkasnya" Ucapnya sambil memberikan berkas itu namun anehnya dia tidak ada sopan-sopannya.
"Sini" Pinta Anto sedikit kesal.
"Mentang-mentang udah baikan lo, jadi malas ke kantor" Ucapnya sedikit kasar.
Aku hanya bisa melihat saja dan aneh sama atasan kok gitu.
"Tar juga lo ngerasain, eh tunggu lo kenapa nggak sopan banget sama gue?" Kesal Anto.
Tu cowok cuman ngangkat bahu acuh dan duduk di sopa ruangan ini.
Aku pun menarik tangan Anto lalu berbisik "dia siapa bang?"
Anto langsung menatap cowok itu "dia itu asisten jutek yang di bilang Ratih" Ujarnya.
"Jutek, perasaan nggak ada jutek-juteknya" Ucapku sambil menatapnya.
"Lo ngomongin gue? Terus ngapain bawa-bawa Ratih?" Ucapnya sambil menatap kami.
"Kalau sikap lo kaya gini, gue yakin lo nggak akan diTerima jadi adik ipar"ucap Anto dengan senyum licik.
" Adik ipar? Maksud lo?"tanya nya heran.
"Lo kan naksir Ratih dan istri gue ini kakaknya jadi lo harus sopan dikit sama dia"
"Siapa bilang gue naksir Ratih?" Akunya.
"Alah lo jangan bohong deh lagian gue juga udah tahu gerak gerik lo kalau naksir cewek" Cibirnya.
"Sialan lo" Kesalnya.
"Bang bukannya dia bawahan abang ya? Kok bicaranya gitu?"tanyaku penasaran.
" Dia memang asisten ku tapi kami temenan udah lama banget jadi kalau di luar begini kami tidak bersikap formal kecuali sedang bersama karyawan lain client kita"jawab Anto.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Kami bertiga temenan sejak kuliah aku, Niko dan Tyo" Ucapnya.
__ADS_1
"Kang Tyo?" Tanyaku.
"Iya" Sambil mengusap rambutku.
Namun tiba-tiba Niko berkata "gue baru liat lo bisa lembut sama cewek biasanya lo dingin banget kaya es"
"Dia istri gue masa gue nggak romantis, lo iri? Cari istri sana! " Jawabnya dan sedikit ngatain juga.
"Ya udah gue balik saja deh, sini berkasnya udah bereskan?"
"Udah ni"
Akhirnya Niko pergi dan sekarang tinggal kami berdua.
"Bang kapan aku pulang?" Tanyaku.
"Kenapa?"
"Aku bosan bang, ingin cepat pulang" Rajukku.
"Kita tunggu hari ini apa kata dokter kalau dokter bilang sudah boleh pulang ya kita pulang" Ucapnya lembut.
"Iya deh" Jawabku dengan lemas.
"Za" Panggilnya.
Aku pun langsung menatapnya.
"Nanti kalau pulang jangan ke rumah ibu ya" Ucapnya.
"Kita pulang ke apartemen saja ya?" Pintanya.
"Apartemen?" Tanyaku bingung.
"Iya, selama ini kan aku tinggal di apartemen" Ujarnya.
"Ya sudah aku ikut abang saja" Jawabku akhirnya mengikuti kemauan nya.
Akhirnya aku di perbolehkan pulang dan benar Anti membawa aku ke apartemennya. Saat samapai sana aku di buat takjub karena apartemennya mirip rumah dan besar.
"Ini punya abang?" Tanyaku saat masuk.
"Iya, memang kenapa?"
"Gede banget" Ucapku.
Anti hanya tersenyum dia pun membereskan barang bawaan ku dan aku melihat sekeliling apartemen ini.
"Za kamu ngapain?" Saat dia keluar kamar.
"Bang capek kaya nya beresin rumahnya." Ujarku dengan sedikit ngeluh.
__ADS_1
"Memang kamu yang akan bersihin rumah ini?" Tanyanya.
"Ya kalau bukan aku terus siapa?" Ucapku.
Anto tersenyum lalu mendekat ke arahku dan memegang wajahku "sayang, aku tidak akan biarkan kamu beresin rumah ini karena aku akan menyuruh orang untuk membereskannya" Ujar anto dengan lembut
"Terus aku ngapain?" Tanyaku bingung.
"Kamu tiduran saja jadi nyonya, kalau mau apa-apa tinggal minta bantuan pembantu nanti"
"Kok aku merasa jadi orang kaya ya bang"
Anto hanya geleng-geleng kepala. Namun tiba-tiba bel apartemen berbunyi dan Anto langsung membukanya dan ternyata itu cewek yang waktu marahin aku di butik mbak Rina.
Dia datang-datang langsung marah-marah aku hanya melihat dari balik lemari.
"Lo kenapa datang-datang marah-marah begitu?" Tanya Anto.
"Gue kesel Davin sama sahabat lo tu yang so jaim, padahal gue udah turunin harga diri gue buat nemuin dia, eh dia malah sok jaim pengen nampol gue" Ucapnya dengan kesal.
"Lagian lo ngapain sih nemuin dia,kan lo udah tahu kalau dia sekarang udah tidak ada perasaan sama lo"
"Ya tapi" Timpalnya.
"Udah deh sekarang lo balik sana istri gue mau istirahat, jadi lo jangan ganggu" Usirnya.
"Istri, maksud lo?"tanya nya heran.
" Ya istri gue lah, dia kan baru balik dari rumah sakit jadi dia harus banyak istirahat"ujarnya.
"Mana dia?"menanyakan keberadaan aku.
" Za , sini"panggil Anto.
Aku pun menghampiri meraka dan Cewek itu langsung menatapku.
"Akhirnya lo baikan juga jadi gue bisa tenang dan nggak harus jelasin apa-apa sama lo Za" Ucapnya.
"Jelasin apa?" Tanya ku bingung.
"Bukan jelasin tapi rayu lo agar mau baikan sama Davin" Jawabnya.
"Oh"
"Ya udah deh gue balik saja, gue mau galau sendirian" Ungkapnya lalu pergi ninggalin aku dan Anto.
"Dia itu kakak sepupuku dia orang nya nyebelin tapi kalau sudah kenal dia baik ko" Ungkapnya memberi tahu ku tentang Aurel. Ya cewek itu bernama Aurel.
"Sudah sana kamu istrihata, atau mau aku temani?" Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Gak usah aku bisa sendiri" Lalu langsung masuk kamar ninggalin Anto sendiri. Aku benar-benar langsung tidur karena capek juga aku bangun saat waktu ashar. Anto keluar dari kamar mandi sepertinya dia sudah mengambil wudhu karena wajahnya basah.
__ADS_1
"Za, kamu udah bangun, mau solat berjamaah?" tanya nya
aku langsung mengangguk dan masuk kamar mandi untu mengambil Wudhu. Aku merasa bersyukur karena mendapatkan laki-kali yang mencintaiku dengan tulus dan dia bisa ngebingbingku ku jalan yang benar. Setelah shalat Anto pergi keluar karena aku minta di belikan buah yang seger dan sekalian ke supermarket beli keperluan dapur dan aku minta di beliin cemilan karena aku maunya ngemil dari pada makan biar kalau mual aku makan cemilan jadi tetap bisa makan.