Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan keluarga besar Anto sekarang aku tahu kalau Anto bukan lah orang biasa tapi dia adalah pengusaha sukses yang terlahir dari keluarga terpandang. Aku mulai merasa tak nyaman dengan statusku ekonomiku yang jauh dari keluarga Anto. Seperti saat ini aku di ajak makan malam dengan keluarga Anto sebelum kembali ke Jakarta, walau aku memakai baju yang hampir sama dengan mereka namun aku tetap merasa minder. Saat makan aku hanya diam saja sampai akhirnya mbak Rina yang dulu sebagai bosku mengajakku berbicara. 


"Za, kamu kenapa diam saja?" Tanya nya sambil menepuk tanganku. 


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala. 


"Kamu merasa tidak nyaman?" Tanya nya sambil melihat sekeliling. 


Aku tak menjawab hanya menunduk. 


"Mbak tau kamu pasti merasa minder kan?, tapi kamu harus terbiasa karena Davi, eh Anto maksud mbak, bukan orang biasa dan kamu pasti akan sering pergi ke acara seperti ini" Ujarnya memberitahuku. 


"Tapi mbak, aku belum bisa berbaur dengan mereka" Lirih ku. 


"Nanti juga kamu akan terbiasa" Sambil tersenyum. 


Ku buang nafas pasrah karena ini semua sudah keputusan aku yang akan melanjutkan pernikahan ini. 


Acara pun selesai dan kami pulang namun selama di perjalanan aku hanya diam. Mungkin Anto menyadari kalau dari tadi aku hanya diam saja karena dia dari tadi melirik berulang. 


"Kamu kenapa?" Tanya nya. 


Aku hanya menggelengkan kepala. 


"Za, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu kan? Kamu cerita sama aku" Ujarnya dan aku hanya diam saja karena aku takut dia marah. 


Aku dengar dia menarik nafas dalam pertanda dia kesal. Anto pun tak bicara lagi sampai kami sampai di apartemen. Anti masuk dan langsung membersihkan badannya, aku duduk di pinggir tempat tidur menunggu Anto selesai. 


Setelah Anto selesai aku masuk kamar mandi dan saat keluar aku melihat Anto sedang di depan laptopnya. Aku pun naik ke tempat tidur dan langsung merebahkan badanku karena terasa lelah banget. 


Paginya aku bangun karena tiba-tiba aku merasa mual, aku lari ke kamar mandi dan langsung memuntahkan semua isi perutku. Setelah merasa enakan aku keluar kamar mandi dan Anto masih tertidur. Aku keluar menyiapkan sarapan namun baru saja sampai dapur rasa mual itu kembali lagi dan aku langsung memuntahkannya di wastafel. Karena lemas akhirnya aku duduk di bawah wastafel dan menekuk lututku. Aku merasa sedih dan aku tidak tahu kenapa aku ingin menangis. Aku menangis bahkan air mataku tak bisa aku tahan. Sampai akhirnya Anto datang menghampiriku. 


"Kamu kenapa?" Tanya nya sampul mencoba membangunkan aku namun aku malah memeluknya, aku menangis kembali. 


"Za, kamu kenapa? Ayo bicara jangan buat aku khawatir" Ujarnya. 


Namun aku malah terus menangis sampai aku merasa capek dan badanku lemas. Aku tak sadar diri di pelukan Anto. 


Saat ku buka mata aku sudah berada di rumah sakit dan Anto di sampingku. 


"Bang" Panggil ku. 

__ADS_1


"Za, kamu sudah sadar?" Ucapnya dengan nada khawatir. 


"Aku kenapa?" Tanyaku. 


"Kamu tadi pagi pingsan setelah menangis" Ujarnya sambil mengusap kepalaku. 


Mencoba mengingat apa yang terjadi tadi pagi. 


"Maaf" Lirihku. 


"Buat apa?" Sambil menatapku. 


"Sudah bikin abang khawatir".lirihku.


" Udah tidak apa, yang penting sekarang kamu sudah sadar"ucapnya sambil tersenyum. 


"Bang, abang tidak marahkan sama aku, gara-gara semalam saat pulang aku diamkan abang" Ucapku. 


"Abang sempat kesal namun abang sadar kamu kan sedang hamil mungkin mood lagi tidak baik"ucapnya.


" Aku sebenarnya merasa minder saat berada di sekeliling keluarga abang"akhirnya aku jujur karena aku tidak mau ada salah paham disini dan membuat aku dan Anto berantem hanya masalah kecil. 


" Aku akan berusaha bang"


Akhirnya setelah berbicara aku merasa enakan dan bahkan aku bisa makan seperti biasa lagi tidak seperti tadi pagi baru masuk dapur saja sudah mual. 


"Za, kamu ditemani dulu ibu ya, aku mau ke kantor dulu boleh?" Tanya nya dengan hati-hati mungkin takut aku marah. 


Aku pun tersenyum dan mengangguk karena mulutku penuh dengan makanan. 


"Pergi saja nak Anto, biar ibu yang jaga Zizah" Ujar ibu. 


"Em… kalau begitu Anto titip Za dulu ya bu, nanti kalau sudah beres Anto balik lagi kok" Ujarnya dan dia langsung pergi. 


Aku pun melanjutkan makan. Namun setelah itu ibu bertanya  "kamu kenapa bisa ngedrop seperti ini? Apa yang kamu pikirkan Za?" 


"Nggak ada kok bu" Bohong ku. 


"Kamu jangan berbohong, ibu tahu kamu Za" Ucap ibu sambil mengupas apel. 


Aku pun membuang nafas pasrah karena mau tidak mau aku harus cerita sama ibu. 

__ADS_1


"Aku malu bu saat acara makan malam kamren,aku merasa tak sebanding dengan mereka" Keluhku. 


"Kenapa harus malu, kita itu sama yang beda hanya status sosial kita saja, asalkan kamu bisa mengikuti kamu tidak akan terlihat berbeda, kamu harus terbiasa karena suatu hari nanti saat kamu di kenalkan ke orang banyak sebagai istrinya Anto berarti kamu siap dengan kehidupan mereka" Nasihat ibu. 


"Ya tapi bu"


"Ibu dulu kenal banget dengan keluarga mertuamu karena dulu kami satu komplek, mereka tidak pernah memperlihatkan kalau mereka orang kaya, bahkan mertuamu sekolah di sekolah biasa bukan sekolah elite"


"Za, akan coba bu"


"Yaudah sekarang kamu istirahat jangan banyak pikiran dulu ingat ada calon anakmu disini" Ucap Ibu sambil mengusap perutku yang masih rata. 


Aku terbangun saat sore dan ternyata Ratih sudah ada di ruangan ku. 


"Ibu mana Ra?" Tanyaku. 


"Ibu pulang barusan teh" Jawabnya sambil menghampiriku. 


"Pulang?"


"Iya kan bapak bentar lagi pulang, jadi aku yang nungguin teteh selama bang Anto meeting di kantor"ujarnya memberitahuku. 


" Meeting, jadi bang Anto pulang telat?"tanyaku.


"Iya teh, katanya ada masalah lagi deh di kantor jadi dia harus membahasnya sama para manajer" Beritahu nya. 


"Oh, ya sudah sekarang bantu aku bangun mau ke kamar mandi buat sholat" Ucapku. 


Aku pun di papah oleh Ratih masuk kamar mandi. Aku pun di temani Ratih sampai malam karena sampai jam delapan Anto tidak kunjung datang dan yang datang malah Niko. 


"Bang Anto nya mana?" Tanyaku saat Niko masuk. 


"Dia masih ada keperluan di luar mungkin satu jam lagi dia kesini" Jawabnya dengan raut wajah sedikit tidak yakin. 


"Oh"


"Ini pesanan yang mbak pengen tadi" Ucapnya sambil menyerahkan bungkusan. 


"Simpan saja" Titahku. 


Aku sedikit kesal karena Anto tidak tepat janji. 

__ADS_1


__ADS_2