
Akhirnya masalah Ratih sudah beres karena bapak sudah memaklumi dan dia menasehati Ratih untuk tidak lagi berharap pada laki-laki anak orang kaya karena posisi kami saja orang biasa tidak sebanding dengan mereka. Paginya kami semua berkumpul sarapan dan saat Ratih keluar dia memakai pakaian rapih banget.
"Kamu mau kemana Ra, rapi banget?" Tanyaku saat dia duduk di hadapanku.
"Aku hari ini mulai kerja di Prayoga grup teh, ya walau sebagai staf pemasaran tapi aku bersyukur bisa kerja di perusahaan sebesar itu teh" Jawabnya sambil mengambil makanan.
"Ya bagus Ra, teteh ikut senang" Ucapku dengan tersenyum.
"Ya itu berkat bang An" Ucapan irfan menggantung.
"Berkat siapa Fan?" Tanyaku karena penasaran.
"Bukan apa-apa teh" Balas nya.
Setelah semuanya beres mereka mulai berangkat. Aku membereskan bekas sarapan dan pekerjaan rumah lainnya sebelum berangkat. Saat jam sembilan aku berangkat kerja. Seharian ini butik lumayan rame dan aku bahkan sampai lupa mengecek ponselku. Sampai saat sore tiba-tiba Tika memanggilku.
"Teh" Panggilnya.
"Ada apa Ti" Jawabku tanpa melihatnya.
"Ada yang cari teteh di depan" Ujarnya.
Lalu aku melihat ke arahnya "siapa?"
"Teteh lihat saja deh" Ucapnya sambil terus lihat ke depan.
Akhirnya aku pun beranjak dan pergi ke depan untuk melihat siapa yang mencariku. Saat sampai depan aku melihat Bagas duduk di ruang tunggu.
"Bagas" Panggil ku. Bagas pun melirik lalu dia berdiri "teh" Panggilnya.
"Ada apa kamu kesini?" Tanyaku.
"Aku mau minta tolong sama teteh buat bicara sama bang Anto" Ujarnya.
"Bang Anto, bicara apa?" Tanyaku.
"Tolong jangan pecat saya" Lirihnya
"Pecat maksud kamu apa?" Bingung ku.
"Bang Anto kenal sama sama atasan saya di prayoga grup teh jadi dia bisa tolong saya" Penjelasannya.
"Kenapa kamu tidak langsung bicara sama orang nya" Tanya ku.
"Aku nggak berani teh" Jawabnya.
__ADS_1
"Lagian kenapa sih Gas kalo memang kamu tidak punya, tidak usah banyak tingkah sekarang kamu juga kan yang susah"
"Iya teh"
"Sekarang kamu pulang" Usirku.
Akhirnya Bagas pun pulang dan aku kembali ke belakang karena masih banyak kerjaan.
Malamnya saat selesai tutup butik aku mengecek ponsel dan banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Anto.
"Aduh kok aku sampai lupa ya" Gumamku.
Ku coba dia telepon balik tapi tidak diangkat akhirnya ku putuskan mengirim pesan. Aku keluar dan saat di luar aku dikagetkan dengan kedatangan Anto.
"Abang" Kagetku.
"Ayo pulang" Ucapnya sedikit dingin.
Aku jadi merasa bersalah dia pasti marah karena seharian tadi aku tidak memberi kabar.
Aku naik ke motornya dan selama di perjalanan dia tidak berbicara bahkan sampai rumah dia langsung masuk kamar dan mandi lalu tidur. Aku sedih melihatnya seperti itu tapi aku bingung harus gimana. Setelah semuanya selesai aku pun ikut tidur di samping nya. Aku beranikan memulai pembicaraan.
"Bang, aku minta maaf" Kataku dengan suara pelan.
Anto pun berbalik lalu menatapku. "Aku tidak marah, aku cuman kesal saja sama diriku karena aku berharap lebih sama kamu, padahal aku tahu kalau kamu masih belum sepenuhnya menganggap aku penting" Ujarnya dengan nada suara kecewa.
Aku sadar dia pasti kecewa dan berpikiran kalau dia tidak penting buat aku. Aku hanya bisa menunduk karena tidak tahu apa yang harus aku jawab.
"Sudah kamu tidur, kamu pasti capek" Ucapnya sambil mengusap kepalaku. Lalu dia langsung tiduran lagi. Aku pun mengikutinya namun entah kenapa air mata ini keluar begitu saja bahkan hatiku sakit mendengar ucapan nya tadi.
Paginya kami beraktifitas seperti biasa dan semua orang sarapan bersama. Anto setelah sarapan dia langsung masuk kamar lagi dan tak lama keluar dengan pakaian rapi, kuhampiri dia "abang mau kemana?" Tanyaku.
"Aku harus ke bengkel pagi-pagi jadi nanti kamu berangkat sendiri tidak apa kan?" Ucapnya.
Aku hanya mengangguk tapi aku merasa dia sepertinya menghindari aku. Tapi karena tidak mau terlihat oleh ibu dan bapak kalau kami sedang marahan jadi aku mencoba bersikap biasa saja. Aku pun kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi aku tinggalkan. Setelah jam sembilan aku berangkat kerja dan saat sampai butik tiba-tiba kang Tyo manggil. "Azizah"
"Iya kang ada apa?" Tanyaku karena aku melihat dia sepertinya buru-buru banget.
"Kamu ikut saya, Anto tadi tangannya terluka sekarang lagi di klinik" Ucapnya.
"Kok bisa kang?" Tanyaku dengan nada khawatir.
"Aku juga tidak tahu, sekarang kamu ikut aku" Akhirnya aku ikut dengan kang Tyo dan saat sampai klinik aku melihat Anto tangannya sudah di perban dan wajahnya sedikit pucat.
"Bang" Panggil ku
__ADS_1
Anto pun menengok lalu dia tersenyum
"Kok bisa tangannya terluka?" Tanyaku dengan khawatir.
"Aku nggak hati-hati saja, kamu nggak usah khawatir" Ucapnya sambil tersenyum.
"Za, tolong kamu bayar administrasinya bisa kan?" Tanya Anto.
"Bisa bang" Jawabku.
"Kamu pakai kartu ATM yang aku kasih saja" Titahnya.
Aku pun pergi keluar saat di tengah jalan aku lupa kalau aku tidak tahu no pin kartu ATM nya jadi aku balik lagi. Tapi saat aku mau buka pintu ruangan tiba-tiba aku mendengar pembicaraan Anto sama Tyo.
"Lo ngapain ngasih tahu Zizah sih?" Ucap Anto.
"Tadi saat gue mau kesini gue liat dia depan butik jadi gue ajak saja" Jawab Tyo.
"Lagian lo sok jago saja, sampai mukul kaca segala, jadi tangan lo luka kan" Ujar Tyo.
"Ya gue kesal saja gue kecewa gue marah tapi gue harus marah sama siapa, padahal gue tahu banget kalau Zizah dari awal tidak ada perasaan apa-apa sama gue, dan kemarin dia tidak ada kabar sama sekali membuat aku kecewa dan sadar diri kalau gue tidak penting buat dia"ucap Anto dengan suara bergetar.
Aku pun urungkan untuk masuk dan hanya diam di luar dengan perasaan sedih kalau aku sudah menyakiti perasaan orang lain. Akhirnya aku putuskan mengirim pesan saja untuk menanyakan pin ATM nya.
Anto akhirnya pulang dan aku pun tidak jadi bekerja, sesampainya di rumah Anto masuk dan aku ke dapur untuk mengambil air minum.
"Anto kenapa Za?" Tanya ibu.
"Di terluka saat kerja bu"jawabku sambil menuangkan air.
" Ya sudah ibu mau masak dulu buat makan siang kakain, kamu temani dia sana"titah ibu dan aku pun pergi menemui Anto.
Saat masuk kamar aku melihat Anto sedang rebahan sambil memainkan ponsel.
"Bang ini minum dulu" Ucapku lalu duduk di pinggir kasur.
"Makasih" Lalu dia meminumnya.
"Kamu nggak perlu perlakukan aku seperti orang sakit, yang sakit tangan aku saja jadi aku masih bisa melakukan apa pun sendiri" Ucapnya dengan lembut.
"Tapi" Belum beres aku berkata sudah di potong saja.
"Udah nggak usah di pikirkan sekarang kamu juga istirahat saja" Titahnya.
"Kalau begitu aku mau bantu ibu masak saja" Ujarku lalu keluar kamar.
__ADS_1