Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Sahabat Davin.


__ADS_3

Setelah Hana baik aku kembali mengurus butik bersama Dina, hubungan Dina dengan Hasan mulai serius karena aku dengar Dina sudah mulai mau diajak jalan dan memperkenalkan Hasan pada orang tuanya. Saat ini aku sedang melayani pelanggan yang ingin memesan gaun pengantin yang beda dari yang lain, walau menurutku sedikit rumit tapi aku akan mencobanya, aku anggap ini sebagai tantangan buatku. Setelah orang nya pergi aku mulai mencoba membuat pola untuk gaunnya dan nanti tinggal di jahit oleh tukang jahitnya. Aku tak pernah menyangka kalau butik ku ini sudah mulai di kenal banyak orang bahkan setiap hari selalu ada pesanan masuk. Namun sekarang mama melarang aku untuk membawa Hana ke butik, karena mama ingin dia yang mengasuhnya karena tidak ada kerjaan jadi kalau ada Hana dia ada teman. 


Hari ini ada janji dengan sahabat dari suamiku karena dia akan menikah jadi di ingin aku yang membuat kebaya pengantinnya. Saat sebelum jam makan siang mereka sudah datang. 


"Siang Za" Ucap Rival Yang datang bersama wanita cantik. 


"Eh bang Rival, dia calonnya ya bang?" Tanya ku. 


"Iya Za, coba dong kamu carikan gaun yang cocok buat dia" Ucapnya. 


Namun ceweknya cuman diam saja. 


"Mari mbak saya carikan" Ajak Ku pada calonnya bang Rival. 


Dia pun memilih kebaya dan aku langsung menanyakan dia mau yang gimana, namun aku lihat sepertinya dia tidak fokus karena pandangannya kosong. Aku terus mencoba mengajaknya bicara tapi dia hanya diam saja, sampai akhirnya dia kembali ke bang Rival yang sedang menunggunya di tempat tunggu. Saat aku mengikutinya ternyata suamiku sudah datang dan dia sedang bicara bersama bang Rival. Dia pun menyapa cewek itu sepertinya mereka saling kenal. 


"Hai Ra, gimana udah dapet?" Tanya suamiku. 


Cewek itu cuman menggelengkan kepala. 


"Sayang coba deh kamu cari yang cocok buat dia" Ucapnya padaku. 


Aku pun memanggil Dina untuk mengambilkan gaun yang baru tadi aku selesaikan. 


"Ini mbak" Ucap Dina sambil menyerahkan kebayanya. Aku pun menerimanya dan mengucapkan terimakasih pada Dina lalu aku menunjukan kebaya nya pada calon bang Rival. 

__ADS_1


"Coba mbaknya cobain siapa tau cocok" Ujar Ku sambil menyerahkan gaunnya. 


Bang Rival pun menerimanya dan menyerahkan pada wanita itu.


Akhirnya dia pun mau dan aku menyuruh karyawan ku untuk menemaninya mencoba kebaya tersebut. Namun tak lama karyawan ku kembali dengan wajah panik "mbak, mbak yang barusan dia menangis dan histeris, malah gaunnya di sobek" Ujarnya. 


Rival langsung berlari menghampiri calonnya. Aku dan bang Davin mengikutinya. Namun saat ruang coba aku melarang bang Davin masuk biar aku saja dan ternyata benar kondisinya hanya memakai teng top dan aku langsung menyuruh bang Rival untuk memakaikan jas nya. Sambil mencoba menenangkannya bang Rival memberikan jasnya untuk di pakai. Setelah tenang dia minta pulang dan bang Rival langsung membawanya pulang. 


"Vin gue balik, gaunnya tar gue ganti, maaf ya Za" Ucapnya sebelum pergi. 


"Ga usah Val, lebih baik lo tenangkan dulu Naira" Jawab suamiku. 


Setelah mereka pergi karena penasaran akhirnya aku tanyakan pada bang Davin dia kenapa. Ternyata dia punya trauma dengan pernikahan makanya dia seperti itu. Aku merasa kasihan sama dia. Bang Davin juga menceritakan kalau mereka itu teman saat SMA makanya dia kenal. Aku salut sama mereka karena akhirnya cinta mereka bisa bersatu walau sudah hampir sepuluh tahun. 


"Za, untuk gaunnya nanti abang ganti ya" Ucap Davin saat kami sedang makan siang. 


"Makasih ya sayang"ucapnya sambil memegang tanganku. 


" Pantesan gak ngajak, lagi bermesraan"ucap Hasan tiba-tiba bersama Dina. 


Aku langsung melirik ke arah mereka sedang kan bang Davin dia langsung ngomel "iri aja lo"


"Ya iyalah kalian sudah halal, nah gue masih belum pasti" Jawabnya dan membuat Dina marah. 


"Ya halal saja kan bisa" Balas Davin sambil makan. 

__ADS_1


"Udah gak usah debat, kalian mau makan kan, bareng sini saja" Ucapku. 


Mereka pun ikut makan bersama kami, aku dan Dian hanya diam saja jadi pendengar setia karena mereka berdua sibuk membicarakan pekerjaan. Setelah makan aku langsung pulang karena Davin mengajak pulang masalah butik biar Dina yang hendel. Sesampainya di rumah aku melihat Hana sedang disuapin mama. Aku langsung menghampirinya dan Hana langsung berlari ke arahku saat melihatku. 


"Mama" Panggilnya. 


"Sayang, sedang apa?" Tanyaku. 


"Hana lagi makan di suapi nenek" Jawabnya. 


"Makannya banyak gak?" Tanyaku lagi. 


"Banyak ma" Jawabnya sambil tersenyum. 


Aku langsung melihat ke arah mama dan bertanya "mama sudah makan?"


"Sudah Za, tadi sebelum Hana mama makan dulu" Jawabnya. 


"Em, Za takut mama belum makan" Ucapku. 


"Kamu istirahat dulu sana Hana biar sama mama" Ucap mama menyuruhku istirahat. 


Mama kadang sengaja membiarkan aku berdua dengan bang Davin karena dia ingin aku hamil lagi agar punya anak lagi dan rumah ini jadi rame. Aku pun pergi ke kamar dan saat sampai di kamar aku melihat bang Davin sedang rebahan dan bermain ponsel dengan masih memakai kemeja dan celana kerja. Aku langsung masuk kamar mandi dan membersihkan badanku dana ku ganti bajuku dengan baju kebanggan ku yaitu daster dan kerudung langsung biar gak ribet. Aku langsung menghampiri Davin dan menyuruhnya ganti baju agar nyaman namun bukannya nurut dia malah menarik tanganku dan aku langsung jatuh di atasnya dan dia langsung mencium ku dengan lembut. Namun tiba-tiba Hana masuk Davin langsung melepaskan ciumannya dan langsung duduk. Saat aku lihat mama cuman tersenyum saja lalu pergi. 


"Hana mau tidur sama mama" Ucap Hana dan aku langsung menyuruhnya naik ke tempat tidur. Aku langsung menemaninya tidur dan Davin aku tidak tahu karena setelah ganti baju dia keluar dan setelah Hana tidur aku bangun dan langsung mengambil ponselku karena tadi aku sempat mendengar ponselku berbunyi. Saat ku buka ternyata dari ibu. Ibu memberitahuku kalau keluarga Dika akan datang ke rumah untuk melamar Ratih adikku. Aku pun langsung menghubunginya agar bicaranya jelas dan benar saja ibu juga banyak yang mau dibicarakan dan aku hanya bisa mendengarkan karena tidak tahu harus apa. Namun tiba-tiba bang Davin masuk dan di memberikan aku sebuah amplop coklat dan saat aku buka ternyata isinya uang dan aku tidak tahu jumlahnya. Aku pun langsung mematikan telepon ibu dan aku langsung meminta penjelasan Davin. 

__ADS_1


"Ini uang buat biaya Ratih menikah karena aku tahu biaya nikah di kampung kamu tidak sedikit." Ujarnya. 


__ADS_2