
Setelah kejadian malam itu, Davin mulai sibuk dengan pekerjaan bahkan di rumah pun kadang dia masih bekerja kalau pulang siang. Aku kadang merasa kasihan karena dia harus bekerja Extra. Aku pun setiap hari ke butik karena aku tidak mau kalau hanya berdiam diri dan bahkan aku mencoba mencari cara untuk membuka usaha lain agar kalau nanti Davin benar-benar harus ninggalin perusahan aku masih punya pendapatan lain. Karena hari ini sangat panas dan aku merasa ingin membeli minuman dingin jadi aku putuskan keluar dan mencari pedagang yang sering jualan di jalan-jalan. Aku pergi sambil menggendong Hana karena tempatnya di seberang butik ku jadi aku harus menyebrang namun saat aku akan sudah di tengah jalan tiba-tiba ada sebuah motor yang hampir saja menyerempet ku.
"Astagfirullah"kaget ku.
Pengendara motor pun berhenti dan langsung menghampiriku.
" Mbak tidak apa-apa?"tanya nya.
Aku pun melihat ke arahnya dan aku merasa kenal dengan orang itu.
"Azizah?" Tanya nya.
"Siapa ya?" Tanyaku.
"Aku Hasan teman SMA mu"jawabnya.
Aku pun mencoba mengingatnya. Saat ini kami sudah di pinggir jalan karena setelah kejadian aku langsung ke dibawa ke pinggir.
Setelah cukup lama berbicara aku pun pamit kembali ke butik karena sudah cukup lama.
Saat malam hari saat aku akan tidur aku selalu menceritakan kejadian saat siang hari pada Davin bahkan pertemuan ku dengan Hasan pun aku ceritakan karena aku tidak mau ada kesalahpahaman. Namun setelah pertemuan itu Hasan sering menemui ku dan aku tidak pernah punya pikiran macam-macam mungkin dia hanya ingin mengobrol saja dan kami bicara pun di banyak orang. Sudah satu minggu dari kejadian kecelakaan itu dan aku sudah tiga kali bertemu dengan Hasan.
"Mbak, apa mbak gak merasa aneh dengan bang Hasan?" Tanya Dina.
"Memang kenapa Din?" Balasku.
__ADS_1
"Dia kenapa sering kesini, aku takut lo kalau nanti bang Davin marah" Ujarnya.
"Kamu tenang saja Din, mbak suka cerita ko sama bang Davin karena mbak juga tidak mau lo sampai terjadi salah paham" Ucapku dengan tersenyum. Sorenya aku pulang dengan dijemput Davin. Saat di jalan aku mengajaknya bicara namun Davin diam saja tak menanggapi ucapan ku. Aku pun tak melanjutkannya karena aku pikir dia sedang ada masalah di kantor. Tiba-tiba mobilnya berhenti lalu dia memiringkan tubuhnya untuk menghadap ku.
"Za, besok aku harus ke Semarang" Ucapnya.
"Berapa hari bang?" Tanya ku.
"Satu minggu Za" Lirihnya.
"Apa aku ikut bang?" Tanya ku.
"Gak usah Za, kasian Hana perjalanan jauh" Ucapnya sambil mengusap kepala Hana.
Aku pun hanya mengangguk karena aku tidak mungkin membantahnya.
"Hasan ada yang mau aku bicarakan" Ucapku padanya.
"Boleh, kok sepertinya serius" Ujarnya.
Aku hanya tersenyum dan mengajaknya berbicara sedikit jauh dari Dina dan yang lain.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya nya.
"Aku harap kamu jangan sering datang ke sini karena aku tidak mau terjadi kesalahpahaman di keluarga ku, aku harap kamu ngerti" Ucapku dengan hati-hati.
__ADS_1
"Aku ngerti Za, hari ini terakhir aku menemui mu karena lusa aku akan berangkat ke Singapura" Ucapnya.
"Makasih atas pengertiannya" Ucapku.
Hasan pun pamit pada yang lain dan langsung pergi. Dina menghampiriku dan bertanya "mbak bicara apa sama bang Hasan kok wajahnya jadi muram gitu?"
"Mbak cuman ikuti apa kata kamu, mbak pikir memang ada baiknya karena mbak juga gak mau kalau jadi fitnah"jawabku.
" Nah ini baru mbak ku, yang baik dan cantik"pujinya.
"Kamu ini bisa saja" Ucapku sambil meninggalkannya.
Sore hari aku sudah bersiap akan pulang dan entah kenapa sopir tidak bisa menjemput, mau tak mau aku harus naik taksi. Namun saat aku akan menyebrang untuk mencari taksi tiba-tiba ada mobil yang mau menabrak ku namun beruntung ada orang yang menarik ku dan posisiku saat ini ada di pelukan orang itu dan saat aku melihat wajahnya ternyata itu Hasan. Aku langsung melepaskan diri dan Hasan meminta maaf karena telah lancang memelukku.
"Za, aku benar-benar minta maaf, aku tidak ada maksud lain" Ucapnya.
"Iya tidak apa-apa, makasih udah nolongin aku, aku permisi" Ucapku lalu pergi begitu saja.
Aku langsung naik taksi dan menjemput Hana dan pengasuhnya. Selama di perjalanan aku kepikiran dengan kejadian tadi dan aku merasa bersalah pada Davin.
"Maafin aku bang, aku tidak maksud memeluk cowok lain" Ucapku dalam hati bahkan tak terasa aku menangis.
"Bu, ibu tidak apa-apa? " Tanya pengasuh Hana.
Aku pun segera menggelengkan kepala dan tersenyum.
__ADS_1
Sesampainya di rumah aku langsung mencoba menghubungi Davin dan langsung nyambung. Aku berbicara cukup lama dengan Davin bahkan aku menceritakan kejadian saat aku hampir ditabrak oleh mobil. Davin hanya mengucapkan hati-hati saja tidak ada yang lain. Aku jadi merasa bersalah dan takut membuatnya marah. Namun dia menjelaskan kalau saat ini dia sedang sibuk banget mengurusi proyek yang ada di Semarang. Akhirnya aku mengakhiri sambungan telepon itu dan pergi mandi. Saat makan malam aku menceritakan yang terjadi di butik pada mama dan mama sangat senang mendengarkan kemajuan ku.Namun mama menasehati ku untuk berhati-hati karena mama takut ada orang yang akan merusak rumah tangga ku dengan Davin. Mama pun memberitahu kalau om Ilham akan melakukan berbagai cara untuk membuat aku pisah dengan Davin. Apa pun yang terjadi nanti mama cuman berharap kalau aku harus bertahan dengan Davin karena aku wanita yang sangat dia cintai.
Tak terasa sudah tiga hari aku di tinggalkan Davin ke Semarang dan setiap malam aku merasa ada yang kurang karena biasanya Davin selalu memelukku jika mau tidur tapi sekarang aku tidur sendiri jadi aku biarkan Hana tidur denganku. Pagi ini setelah sholat aku langsung berbaring lagi karena aku bermaksud tidak akan pergi ke butik mau istirahat di rumah. saat jam sembilan aku baru keluar kamar karena akan memberi makan Hana. Namun saat di tangga aku tak sengaja melihat om Ilham ada di rumah ini.