
Setelah puas menangis aku putuskan untuk menemui Davin, aku mau membicarakan ini semua. Aku keluar dari kamar Hana dan berjalan menuju kamar kami namun, pintu kamar tak tertutup aku melihat ada mama dan bang Davin berkata dengan nada tinggi "kalau dia mau pulang ke rumah orang tuanya ya silahkan aku tidak akan melarangnya"
"Davin, dia itu istrimu kalau orangtuanya bertanya kenapa dia pulang, dia mau jawab apa?" Tanya mama dengan nada tinggi juga.
Aku tak habis pikir kalau bang Davin akan bicara seperti itu.
"Kalau aku memang sudah tak diharapkan lagi disini, aku pulang bang bersama Hana. " Ucapku mama langsung berbalik menatapku Davin dia hanya diam dengan tatapan yang tak bisa aku ngerti. Aku langsung pergi dari hadapan mereka dan mama mengejarku.
"Za, Aziziah tunggu" Panggil mama, aku pun berhenti dan berbalik menatap mama.
"Kamu jangan dengerin ucapan Davin, dia gak serius bicara seperti itu" Ucap mama mencoba menahanku.
"Ma, kalau dia gak serius dia pasti akan mengejar aku seperti mama, tapi mama lihat sendiri dari tatapannya saja sepertinya dia benci sama aku" Ujarku.
Mama langsung memelukku dan berkata "ya sudah kalau ini sudah keputusanmu, mama cuman berharap jangan meminta pisah sama Davin kamu pulang agar Davin bisa berpikir"
Aku hanya tersenyum.
Aku pun langsung membereskan bajunya Hana, aku tidak akan membawa baju-bajuku karena mungkin masih ada bajuku yang lama di rumah ibu. Aku pun meninggalkan semua barang yang pernah diberikan Davin untukku, bahkan kartu ATM dan kredit pun aku simpan aku hanya membawa uang untuk ongkos saja.
"Mbak aku titip ini ya, nanti kamu kasih sama bang Davin" Pesan ku pada pengasuh Hana.
"Kalau mbak pergi sama Hana, terus saya gimana mbak?" Tanya nya.
"Kamu bisa bantu mbak minah beres-beres rumah" Jawabku.
Aku pergi pagi-pagi banget dan aku sudah memesan taksi. Saat di gerbang aku bertemu pak Udin penjaga rumah ini.
"Neng mau kemana?" Tanya nya.
"Aku pamit pak, aku mau pulang, maafin aku ya pak kalau ada salah" Ucapku.
"Iya neng" Balasnya.
Aku pun langsung naik ke taksi dan taksi langsung jalan. Saat dijalan aku mengeluarkan ponsel danengerim pesan pada Davin.
__ADS_1
"Aku pulang bang, aku minta maaf kalau sudah membuat abang sakit hati dan membuat abang tak percaya lagi sama aku. Aku sudah titipkan semuanya pada pengasuh Hana, untuk butik aku sudah percayakan sama Dina, makasih bang untuk tiga tahun ini" Isi pesanku.
Selama perjalanan Hana tidak rewel jadi aku bisa tenang dia anteng dengan mainan yang kemarin dibelikan Davin. Setelah sampai Stasiun kereta aku langsung turun dan memesan tiket ke Bandung, aku tak berani naik bus jadi aku naik kereta saja. Cuman butuh waktu empat jam aku sampai di Bandung, aku minta Irfan untuk menjemputku di stasiun dan benar saja setelah aku keluar dia sudah menungguku.
"Teh" Panggilnya.
Aku hanya tersenyum dan dia langsung mengambil tas yang aku bawa. Irfan bawa mobil milik Ratih karena Ratih tahu kalau aku pulang bersama Hana dan dari stasiun lumayan jauh ke kampungku. Selama di perjalanan Irfan tidak banyak bicara atau menanyakan kenapa aku pulang. Sesampainya dirumah aku sudah ditunggu ibu dan bapak aku langsung memeluk ibu dan menangis di pelukan ibu.
"Sudah jangan menangis, ayo masuk gak enak dilihat orang" Ucap ibu.
Kami pun masuk dan ibu menyuruhku istirahat dia tidak langsung menanyakan kenapa aku pulang sendiri tanpa diantar Davin.
Sorenya aku mendengar ibu dan Ratih debat yang aku dengar.
"Teteh dimana bu? "Tanya nya.
" Dia lagi istirahat, jangan kamu ganggu dulu! "Ucap ibu.
" Aku ingin tahu kenapa dia pulang bu"ucap Ratih kekeh.
Aku pun keluar dan Ratih langsung menatapku.
"Kamu baru pulang?" Tanyaku.
Ratih mengangguk.
"Nanti teteh ceritakan semuanya, sekarang kamu bersih-bersih dulu jangan langsung sentuh Hana" Beritahu ku
"Iya" Jawabnya dengan cemberut.
Ibu langsung kembali ke dapur dan aku melihat Hana yang sedang di ajak main sama Irfan adikku. Aku berharap dia membalas pesanku namun sampai sekarang gak ada sama sekali.
Tiba-tiba teh Melda datang dan dia berkata "kamu kenapa balik sendiri mana suami kamu?"
"Dia lagi sibuk teh, aku kangen ibu sama bapak saja jadi aku datang kesini sendiri"jawabku.
__ADS_1
" Oh"jawab teh Melda lalu masuk kedalam.
Aku tidak tahu teh Melda mau apa karena aku tidak ikut masuk. Namun tiba-tiba kembali lagi dan menghampiriku.
"Za, teteh boleh pinjem duit ga?" Ucapnya.
"Za, gak bawa uang teh" Jawabku.
"Ya ambil dulu saja sana, minta antar Irfan" Ucapnya lagi.
"Teh, Za benar-benar gak ada uang sama sekali, Za cuman bawa buat ongkos saja karena dompet Za ketinggalan" Ucapku memberi alasan.
"Kamu ini, pelit sama teteh sendiri" Ucapnya sambil berlalu.
Tiba-tiba ibu datang dan menepuk pundak ku.
Malamnya setelah makan malam aku meminta semua orang berkumpul dan aku mulai menceritakan alasanku pulang. Ibu menangis mendengar ceritaku kalau bapak dia hanya diam saja tapi aku tahu dia juga pasti sedih mendengar rumah tangga anaknya sedang ada masalah. Ratih dia malah mengumpat karena kesal juga.
"Aku minta sama kalian semua untuk tidak cerita sama teh Melda dan bang Romi" Ucapku.
"Mau sampai kapan kamu lari dari masalah ini?" Tanya ibu.
"Aku sudah berusaha memperbaikinya bu, tapi kalau bang Anto tidak ada respon sama sekali, aku cuman nunggu keputusan nya saja, aku akan Terima jika dia akan menceraikan aku"jawabku dengan parau.
" Tunggu teh, teteh tadi bilang siapa? Hasan abimanyu?"tanya Ratih.
Aku pun mengangguk.
"Ya gimana bang Anto gak cemburu teh, dia itu pengusaha muda yang sedang naik daun dan dia itu udah ganteng, soleh baik lagi" Ucap Ratih.
"Aku gak tahu Ra, yang aku tahu dia temanku waktu SMA dan kerja di Jakarta itu saja" Ujar Ku.
Ratih langsung menepuk jidatnya lalu berkata "teteh itu udah jadi istri seorang pengusaha tapi masalah ginian saja gak tahu" Ratih malah ngatain aku.
"Aku jarang buka internet atau majalah jadi gak tahu" Jujur ku.
__ADS_1
Setelah semuanya aku ceritakan ada rasa lega di hatiku dan orang tuaku menerimaku dengan baik, namun aku tidak enak sama Ratih karena harus dia yang menanggung biaya hidup ku selama disini. Tapi aku tidak akan tinggal diam aku akan mencoba mencari cari untuk dapet penghasilan.