
Dua hari selanjutnya aku pergi ke kampung ku bersama Davin dan Hana anakku. Sesampainya di sana aku di sambut sama ibu dan bapak.
"Akhirnya sampai juga kalian" ucap bapak saat kami menyalaminya.
"Ayo masuk" ucap Ibu.
Kami pun masuk dan duduk di ruang tamu.
"Bu pak maaf kami datang terlalu mepet karena aku sibuk jadi baru bisa datang" ucap Davin.
"Tidak apa nak Davin, kalian datang juga kami sudah senang" balas ibu.
Davin memberi isyarat pada ku dengan tatapan matanya agar aku segera menyerahkan uang yang kemarin dia kasih pada ku. Aku oun mengambil amplop coklat yang kemarin dia kasih padaku dan mengeluarkan nya dari tas ku.
"Bu, pak, ini dari bang Davin semoga membantu" ucapku sambil menyerahkan amplop itu pada ibu.
"Ini apa Za? " tanya ibu.
"Itu untuk biaya pernikahannya Ratih, aku tahu Ratih dia pengen banget acara pernikahannya mewah" ucap ku pada ibu.
"Tapi" ucap Ibu langsung di potong Davin.
"Sudah ibu Terima saja, anggap saja itu uang pinjaman kalau ibu sama bapak tidak mau aku kasih" ucap Davin.
"Masih banget nak Davin sudah nolong kita" ucap bapak.
Davin hanya tersenyum.
Setelah berbicara banyak kami pun istirahat di kamar aku yang dulu, walau ada sedikit perubahan tapi barang-barang nya masih tetap.
Sore harinya Ratih pulang dengan berteriak memanggil Hana anak ku.
"Hana sayang bibi datang" teriak nya dan membuat Hana lari ke arah Ratih.
"Ra berisik" tegur ibu.
"Maaf Bu, Ratih kangen sama keponakan Ratih ini" ucap nya sambil memeluk Hana.
"Bang Davin mana?" tanya nya pada ku.
"Keluar sama bapak mau lihat sawah" jawabku.
"Sawah, bang Davin mau beli sawah?" tanya nya lagi sambil duduk.
"Bapak yang mau beli sawah" ucap Ku.
"Bapak banyak duit nya, kemarin saat aku minta nikah di gedung bapak bilang gak ada duit" kesalnya.
__ADS_1
"Ngapain di gedung Ra di sini aja luas ko" ucap ku.
"Iya sih teh tapi kalau disini teman-temanku gak bisa datang" ucapnya.
"Ra, nikah itu bukan masalah tamu nya tapi akadnya yang penting kamu sah" nasihat ku.
"Iya sih teh, tapi keluarganya calon aku sedikit merendah kan kita" ujarnya.
"Ya sudah untuk tempat kita tetap di sini tapi untuk tukang hias dan makanan kamu tentuin sendiri" ucapku.
"Tapi teh uang nya gak cukup" lirihnya.
"Tenang saja ibu ada kok uang nya" ucap ku.
"Beneran bu?" tanyanya pada Ibu.
Ibu hanya mengangguk.
"Ya udah kalau begitu aku mau cari yang bagus saja" ucap nya sambil menyerahkan Hana pada ku dan pergi.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya .
"Kamu kenapa lakukan ini semua?" tanya Ibu padaku.
"Aku juga gak tau bu , bang Davin kemarin dia cuman bilang persiapkan pernikahan Ratih dengan mewah" jawab ku.
Saat malam kami semua makan malam bersama dan saat makan tiba-tiba teh Mela datang bersama keluarga nya. Dia ikut makan bersama kami dan sikapnya pada Davin masih tidak berubah dan Davin tidak pernah menghiraukan nya.
Besoknya Davin kembali ke Jakarta karena dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya begitu saja. Aku disini bersama Hana dan membantu ibu menyiapkan semuanya. Ratih dia benar-benar memesan perias yang bagus karena uang muka yang mereka pinta lumayan besar. Acara pernikahan Ratih masih dua minggu lagi tapi kami semua sudah menyiapkan yang perlu di siapkan jauh -jauh hari. Waktu pun tak terasa dan hari pernikahan Ratih sudah mulai dekat tinggal satu minggu lagi dan kami semua sudah mulai sibuk dengan cara ini. Dari mulai tenda sudah di pasang dan makanan yang harus di siapkan pun mulai di buat dan di rumah ibu sudah banyak orang, walau Ratih minta makanan dari ketering tapi tetap saja harus masak buat ngasih tetangga. Bang Romi dan istrinya datang dan dia juga kaget dengan acara pernikahan ini karena menurut dia mewah banget.
"Azizah, kenapa acara nya mewah banget?" tanya nya saat bertemu dengan ku.
"Ratih yang mau bang" jawab ku.
"Tapi uang nya dari mana?" tanya nya.
"Ada donatur" jawab ku sambil cengengesan.
"Jangan bilang Davin yang ngasih" tebak nya.
"Pinter" ucap ku.
Bang Romi terdiam sepertinya dia berpikir.
"Kenapa bang?" tanya ku karena penasaran.
"Abang kok merasa sedikit janggal ya dengan acara ini" ucap nya.
__ADS_1
"Maksud abang?" tanya ku karena tak mengerti.
"Kalau suami mu sudah turun tangan pasti ada sesuatu" ucap nya.
"Masa sih bang" bingung ku.
"Kita lihat saja nanti oke" ucap nya lalu pergi.
Aku pun pergi bergabung dengan ibu-ibu yang lain.
Saat malam hari di hari besok nya acara akan di mulai kami semua akan makan malam namun Ratih gak keluar kamar dia bahkan mengunci pintunya.
"Ada apa bu?" tanya ku pada ibu saat berada di depan kamar Ratih.
"Ratih gak mau keluar kamar" jawab ibu.
"Kenapa buk?" tanya ku lagi.
"Ibu juga gak tau" jawab nya dengan bingung.
Akhirnya aku mencoba mengetuk pintu dan benar Ratih tidak mau membuka pintunya sampai akhirnya bang Romi yang turun tangan dengan mendobrak pintu kamar Ratih. Saat pintu berhasil di dobrak aku masuk dan aku melihat Ratih duduk di pinggir kasur dengan menekuk lututnya dan sepertinya dia menangis.
"Ra, kamu kenapa?" tanya ku saat sudah di dekat nya.
Ratih pun mengangkat kepalanya lalu memeluk ku.
"Kami cerita sama kita semua" ucap ku.
Ratih pun melepaskan pelukan nya lalu memberikan ponselnya pada ku. Aku pun mengambilnya dan aku membaca apa yang ada di layar ponselnya.
Aku kaget karena ternyata calon nya Ratih membatalkan pernikahan ini di saat besok acara akan di mulai. Bang Romi menghampiriku dan langsung mengambil ponselnya Ratih.
"Sialan, apa-apa ini" marah nya.
"Bang sabar" ucap ku.
"Sabar gimana besok acara harus di mulai dan dia seenaknya membatalkan nya begitu" ucap nya lalu melangkah pergi.
"Gak ada gunanya abang temui dia karena aku sudah tidak mau sama dia" teriak Ratih.
Bang Bagas berbalik menatap Ratih marah.
"Dia menghamili wanita lain bang" kirinya.
Membuat kami semua terkejut dengan ucapan Ratih dan bang Bagas sudah marah besar mendengar itu semua. Ibu sudah menangis dan bapak hanya diam saja karena dia juga bingung harus apa.
"Ratih besok tetap akan menikah" ucap Davin tiba-tiba datang.
__ADS_1