
Aku langsung masuk kamar yang pertama aku lihat Davin dia tidur sambil bersandar pada ujung kasur dengan tangan menutupi wajah. Ke hampiri dia dan ku bangunkan dia untuk pindah ke tempat tidur.
"Bang, tidurnya pindah" kataku.
Davin langsung menurunkan tangannya dan membuka matanya.
"Za" panggilnya.
Aku hanya tersenyum lalu masuk kamar mandi. Di kamar mandi aku kembali menangis karena saat melihatnya hatiku sakit. Setelah merasa cukup aku keluar dan langsung sholat subuh karena sudah subuh juga. Davin dia pun masuk kamar mandi. Sebelum dia keluar aku langsung keluar kamar dan langsung masuk dapur mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan di dapur mulai dari mencuci piring membersihkan dapur dan terakhir membuat sarapan untuk semua orang. Ibu menghampiriku dan dia langsung menyuruhku duduk.
"Ibu tahu kamu sedang banyak pikiran tapi kamu bisa gak jangan membuat tubuhku capek" ucap Ibu.
"Tapi hanya ini bu cara aku agar tidar terlalu terus memikirkannya" ucapku.
"Kamu selesaikan semuanya dengarkan penjelasannya jangan sampai ada salah paham di antara kamu dan Davin" nasihat ibu.
Aku diam menunduk mencerna ucapan ibu yang ada benarnya juga. Akhirnya aku masuk kamar lagi dan menemui Davin.
"Bang, aku siap mendengar penjelasan mu" ucapku saat di hadapannya.
Davin menatapku lalu di berdiri dan mendekat ke arahku.
Namun tiba-tiba Davin langsung memelukku dan berbisik "maafin aku Za".
Aku hanya diam tak berkata apa-apa.
" Aku gak ada niat buat nyakitin kamu atau pun mengkhianati kamu, kalau kamu tanya aku apa aku cinta sama kamu dan apa di hatiku hanya ada kamu maka jawabannya iya"ucap Davin setelah melepaskan pelukannya dan memegang bahuku.
"Sakit Za, saat melihat kamu menangis seperti kemarin, aku menyesal sudah mau menemui Nisa dan membantunya untuk bicara sama Topan dan aku baru tahu kalau itu semua rencana dia buat hancurkan rumah tangga kita dan kembali padaku hanya untuk uang" penjelasannya.
Aku masih diam tak membalas ucapannya karena aku ingin dia menceritakan semuanya.
"Aku benar-benar minta maaf Za, aku mungkin terlalu gampang dibodohi. aku harap kamu mau maafkan aku Za".ucapnya sambil memegang kepalanya dan langsung duduk.
" Kamu kenapa?"tanya ku khawatir.
"Aku gak apa-apa" jawabnya lalu tiba-tiba dia menutup mulutnya sepertinya mau muntah.. Aku langsung mengejarnya dan benar dia muntah dan entah kenapa tiba-tiba aku mencium bau alkohol.
"Kamu mabuk?" tanya ku.
__ADS_1
Davin langsung mengangguk.
"Kenapa harus mabuk bang?" bentak ku karena kesal juga.
Davin tidak menjawab dia hanya diam saja. Akhirnya aku ke luar kamar dan membuat air hangat buat nya. Aku kembali ke kamar dan memberinya air hangat itu dan Davin langsung meminumnya. Aku pun membopongnya ke tempat tidur dan membaringkannya. Davin pun langsung tidur dan aku mencari baju yang semalam dia pakai buat minum dan ternyata di simpan di keranjang cucian. Ku bawa ke tempat pencucian baju kotornya sambil kesal dan bahkan aku memasang wajah kesal.
"Ada apa Za?" tanya ibu tiba-tiba.
"Davin mabuk bu" jawab ku.
"Ya sudah kamu jangan marah-marah seperti itu jelek." ucap Ibu yang membuat aku semakin kesal.
"Ibu" teriakku dan ibu sudah pergi sambil tersenyum.
Setelah memasukan baju ke mesin cuci aku masuk kembali dan tak sengaja berpapasan dengan Dika.
"Kamu kenapa gak larang Bos kamu buat gak minum?" tanya ku
"Maaf mbak, aku sudah coba tapi dia malah maksa dan kalau aku larang dia bakal potong gaji aku" jawabnya yang membuat aku semakin kesal.
"Astagfirullah Dika" kesal ku.
"Kenapa teh?" tanya Ratih.
"Gak apa-apa Ra" jawabku.
Aku pun melanjutkan sarapan dan setelah merasa cukup aku kembali ke tempat mencuci baju untuk menyelesaikan cucian ku. Setelah selesai aku masuk kamar Hana dan membangunkan Hana karena sudah siang juga. Namun saat aku masuk dia sedang bermain sendiri di kamar dan Davin dia masih tidur.
"Sayang, makan dulu yu" ajak ku pada Hana.
"Sama telor ya ma" ucapnya.
"Iya sayang" ucapku dengan lembut.
Aku pun memaksakan telor buat Hana dan saat makan Hana ngajak main di luar dan saat sedang menyuapi Hana tiba-tiba ada ibu-ibu yang lewat dan dia langsung berkata "eh Neng Zizah boleh dong anak ibu kerja di perusahaannya suami Neng Zizah".
Aku diam saja karena tidak mengerti dan bingung juga kenapa dia bisa berkata seperti itu.
" Kok diem sih neng, kami sudah tahu lo kalau suami neng Zizah itu bos besar"ucapnya lagi.
__ADS_1
"Ah si ibu bisa saja, suami saya bukan Bos besar bu" ucapku mencoba menutupinya.
"Udah neng jangan di tutupi lagi ibu sudah baca beritanya kalau nak Anto itu nama aslinya Davin julianto Nugraha seorang pewaris perusahaan Nugraha" ucapnya lagi.
"Gawat ini kalau sudah seperti ini aku harus cepat-cepat pergi" ucapku dalam hati.
"Iya bu nanti saya tanya kan dulu" jawabku dengan ramah.
"Oh iya neng makasih" balasnya lalu pergi.
Aku langsung masuk sambil mengendong Hana.
"Bu titip dulu Hana ya" ucap ku pada ibu yang sedang membereskan bekas sarapan tadi. Aku langsung masuk kamar dan membangunkan Davin
"Bang bangun bang" ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya
"Ada apa Za?" tanya nya sambil memegang kepalanya yang pusing.
"Kita cepat balik ke Jakarta yu" jawabku.
Aku bahkan lupa kalau aku sedang marah sama dia.
"Kenapa mendadak?" tanya nya.
"Aku gak mau kalau orang-orang kampung sini datang kesini dan minta kamu memperkerjakan kelurganya di perusahaan kamu dan itu gak mungkin kan" ucapku dengan nada merengek.
Davin malah tersenyum lalu dia menarik tanganku dan membuat aku jatuh di atas pahanya.
"Kamu cantik deh" ucapnya membuat aku bingung dan mengerutkan alis.
"Kamu udah gak marah lagi sama aku?" tanya nya.
Aku memukul jidatku dan berkata "aku lupa".
Davin tersenyum lalu menarik tengkuk ku dan mencium bibirku. Aku mencoba melepaskannya namun karena tenagaku kalah dengan tenaga dia akhirnya aku pasrah dan dia lepasin aku saat napas aku habis.
" Makasih sudah memaafkan aku, aku janji tidak akan membuat kamu marah dan menangis lagi seperti kemarin"ucapnya sambil menatap wajahku.
Aku pun tersenyum lalu berkata "aku gak bisa marah lama-lama sama kamu karena aku sayang kamu" ucapku lalu mencium bibirnya sekilas.
__ADS_1
Davin pun tersenyum lalu melepaskan aku.