
Setelah pernikahan Ratih aku tidak langsung kembali ke Jakarta karena kebetulan Davin ada kerjaan di sini jadi aku bisa lama disini. Pagi ini rencananya aku mau masak buat nanti makan siang jadi aku bersiap untuk pergi ke warung yang menyediakan sayur mayur bersama Ratih karena dia masih libur kerjanya. Setelah Davin berangkat barulah aku dan Ratih keluar rumah menuju warung untuk beli sayuran. Sepanjang jalan aku melihat tatapan ibu-ibu yang kami lewati menatap kami dengan tatapan tidak biasa dan bahkan setelah kami sedikit menjauh mereka langsung bisik-bisik entah apa yang mereka bicarakan. Kami pun sampai di warung dan ternyata sudah rame sama ibu-ibu yang mau belanja.
"Assalamualaikum"salam ku saat sudah dekat.
" Waalaikumsalam"jawab ibu-ibu dan yang punya warung.
"Eh neng Zizah, belum pulang lagi neng?" tanya salah satu ibu-ibu.
"Belum bu, kebetulan suami saya ada kerjaan disini" jawabku dengan tersenyum.
"Oh gitu neng, iya neng ibu lihat suami neng beda, apa neng nikah lagi, yang dulu kemana? " tanya lagi.
Sebelum menjawab aku tersenyum lalu ku jawab.
"Suami saya masih tetep yang dulu bu" jawabku.
"Masa sih neng, kok dia ganteng beda sama pertama nikahin neng kaya preman gitu" ucap nya lagi.
"Mungkin sudah nikah jadi ada yang ngurus kali bu" timpal salah satu ibu-ibu.
"Ya memang cuman ini beda aja, kaya artis bahkan dia tadi saat berangkat kerja pakai jas kaya orang kantoran gitu" ucapnya.
Aku hanya tersenyum lalu memberikan sayuran yang sudah aku pilih kepada penjual untuk aku bayar.
"Eh Ratih kok suami mu beda sama laki-laki yang sering anterin kamu balik?" tanya ibu-ibu yang lain pada Ratih.
Ratih tidak menjawab dia malah menunduk.
"Maaf ibu-ibu jodohnya Ratih ya yang serang jadi suaminya kalau yang dulu bukan jodohnya" jawabku dengan lembut.
"Ini neng sayurannya jadi lima puluh ribu" ucap penjual sambil menyerahkan kantong keresek.
"Oh ini bu, makasih ya" ucapku sambil mengambil belanjaan ku, kami pun langsung pergi dari warung itu.
Saat di jalan Ratih mengomel.
"Teteh kenapa gak bilang saja kalau bang Davin itu pengusaha" ucapnya.
"Biarin saja nanti juga mereka tahu sendiri" jawabku.
Selama jalan Ratih terus saja ngomel aku hanya tersenyum sampai tiba di rumah Ratih masih pasang wajahnya kesal dan langsung masuk kamar.
"Kenapa ade kamu Za? " tanya ibu.
"Dia kesal karena sepanjang jalan warga disini membicarakan kami" jawabku.
__ADS_1
"Oh, terus kamu kenapa santai gitu?" tanya ibu lagi.
"Ya biarin saja mulut mereka ini buat apa aku ambil pusing" jawabku.
"Kamu sabar banget sih Za" puji ibu.
Tiba-tiba Dika menghampiri kami.
"Mbak, Ratih kenapa, ko datang-datang dia malah marah-marah padaku? " tanya Dika.
"Datang bulan kali" jawabku asal.
"Masa datang bulan sih mbak? " tanya nya.
"Kenapa memang semalam kamu belum apa-apa kan dia?" tanya ibu.
Dika wajahnya langsung merah mendengar ucapan ibu dan aku sudah tertawa puas.
"Udah tinggalin saja nanti juga sembuh sendiri" ucap ibu sambil pergi ke belakang.
Dika hanya menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Dia lagi kesal karena barusan banyak orang yang membicarakan pernikahan kalian jadi dia kesal" beritahu ku agar Dika tidak bingung.
Saat jam makan siang Davin pulang dan kami semua makan bersama walau dengan wajah kesal Ratih tetap layani Dika dan aku hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.
"Dika sekarang kamu bisa ikut saya ke lapang gak?" tanya Davin tiba-tiba
"Bisa pak" jawabnya dan membuat Davin menatapnya tajam.
"Eh iya bang" ulang nya.
"Jangan galak gitu ah, Dika masih belum terbiasa makanya salah sebut" ucap ku pada Davin.
"Ya habis gak enak saja dengarnya dia sebut aku bapak padahal aku udah jadi kakak iparnya.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat sikap Davin yang gak jelas.
Setelah makan siang Davin dan Dika pergi ke proyek untuk melihat pembangunan hotel. Saat ini aku sedang berada di teras rumah menemani Hana bermain tiba-tiba sebuah motor masuk di pekarangan rumah ibu. Aku terus melihat siapa yang datang dan saat helm nya di buka ternyata itu Tika temanku saat di butik dulu.
"Tika" panggil ku.
"Teh Zizah" sambil melangkah mendekatiku.
Kami pun berpelukan.
__ADS_1
"Teteh kok gak bilang kalau ada di sini" ucapnya setelah pelukan kami lepas.
"Aku lupa Ka, soalnya kemarin sibuk siapin pernikahannya Ratih" ucap ku.
"Ratih udah nikah teh" kagetnya.
"Maaf ya kamu gak di undang" sesal ku.
"Gak apa-apa teh lagian aku juga bari balik dari kampung bapak" ucapnya sambil duduk.
Aku pun masuk dulu ke rumah untuk mengambilkan air minum buat Tika.
"Minum Tika" ucapku sambil meletakkan air minum.
"Makasih teh" balasnya.
"Ada apa ni tumben ke rumah?" tanya ku.
"Aku kesini mau ngasih undangan teh, aku mau nikah hari minggu" jawabnya.
"Nikah, ko mendadak Ka?" tanya ku.
"Sebenarnya enggak mendadak sih teh, tadinya hanya mau ijab kabul saja tapi ibu ingin ngadain resepsi karena aku anak cewek satu-satunya" penjelasannya.
Tika pun akhirnya menceritakan kalau dia menikah dengan pria itu karena sebuah kesalahan pahaman yang akhirnya membuat dia terjebak dengan pernikahan ini.
Akhirnya aku bilang pada Davin sepertinya kepulangan kami akan di undur karena aku harus menghadiri pernikahan Tika dulu dan untungnya Davin mengizinkan.
Hari pernikahan Tika pun tiba dan sekarang aku sedang bersiap untuk menghadirinya. Kami berangkat satu keluarga dan jadi sopir Dika. Saat sampai di acara pernikahan kami masuk namun anehnya saat kami masuk langsung ada orang yang mendekati Davin dan mengajaknya bersalaman. Bahkan banyak yang mengenal Davin.
"Tika nikah sama Topan? " tanya Davin pada ku.
"Nama suaminya memang Topan, kenapa memang? " tanyaku balik.
"Dimana dia bertemu dengan Topan? " tanya nya lagi.
"Aku gak tahu karena Tika gak cerita juga" jawab ku.
Aku melihat Davin menatap suaminya Tika dengan tatapan tidak bersahabat. Bahkan aku di buat kaget karena tiba-tiba dia langsung naik ke pelaminan dan menemui Tika dan suaminya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena setelahnya mereka pergi ke suatu tempat. Aku langsung menghampiri Tika dan menanyakan kemana meraka pergi.
"Mereka mau kemana?" tanyaku.
"Aku gak tau teh tadi bang Anto cuman bilang kalau dia ingin bicara sama bang Topan" jawab Tika.
Entah kenapa aku punya perasaan gak enak hati, akhirnya aku ikuti mereka dan saat sampai dimana mereka bicara aku di buat kaget mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1