
Semua keluargaku dari Bandung sudah datang ibu, bapa, teh Melda beserta keluarga dan Irfan adikku. Mereka tinggal di rumah yang sudah Anto sewa karena tidak mungkin kalau tinggal di rumah mama. Aku menghampiri ibu yang sedang membereskan pakaian yang dibawanya.
"Bu, berapa hari kemarin aku di ajak mama untuk bertemu nenek dan kakek. " Ucapku memberitahu ibu.
Ibu seketika diam tanpa berkata apa-apa.
"Bu, nenek dan kakek ingin bertemu sama ibu, apa ibu mau bertemu dengan mereka?" Tanyaku.
Ibu melirikku lalu berkata "ibu malu bertemu dengan mereka, karena ibu banyak salah sama mereka"
"Bu, mereka sudah memaafkan kesalahan ibu, ibu temui mereka bersama bapak, kasian mereka bi sudah tua" Ucap ku lagi.
"Besok ibu temui mereka, ibu ajak bapak mu" Jawabnya.
Aku pun memeluk ibu karena kulihat ibu menangis. Namun tiba-tiba Ratih datang dan bertanya
"Ada apa ini kok sedih suasananya?"
Aku pun menceritakannya dan Ratih pun ingin ikut untuk bertemu nenek dan kakek.
Setelah menemui ibu aku pulang dan Anto pun baru pulang. Kami papasan didepan rumah,
"Kamu dari mana?" Tanya Anto.
"Dari rumah yang ditempati ibu kan ibu baru datang" Jawabku.
"Oh, ayo masuk" Ucapnya.
Kami pun masuk dan langsung masuk kamar, Anto pergi mandi dan aku menyiapkan bajunya setelah siap aku turun kembali membantu mama di dapur.
Besoknya aku dan keluar benar -benar pergi ke rumah orang tua ibu. Sesampainya disana ternyata ada kakaknya ibu. Aku terharu melihat ibu menangis di pelukan nenek dan meminta maaf.
"Jadi ini suami mu Mel?" Tanya kakek.
"Iya pa" Jawab ibu.
Kami pun memperkenalkan diri kami namun tiba-tiba kakaknya ibu menanyakan bang Romi kakak tertuaku.
__ADS_1
"Mana anak kamu dari orang tua itu?"
Ibu langsung melirik ke arahnya.
"Kamu harusnya bersyukur ada laki-laki yang masih mau nerima kamu dengan keadaan seperti itu" Ucapnya merendahkan ibu.
Ibu hanya diam dan menunduk, namun sepertinya kakek mengerti perasaan ibu dia langsung menghalau ucapan kakaknya ibu.
"Kamu jangan bahas masa lalu yang penting sekarang adikmu mau datang kemari dan bertemu sama kami, mungkin dengan kepulangan dia, dia mau merawat kami yang sudah tua ini, biar kami tidak merepotkan mu" Ucap nya.
Dan itu membuat aku merasa kasihan melihat nenek dan kakek ku yang tua ini tidak ada yang merawatnya.
"Ma, pa maafin Amel yang sudah menelantarkan kalian, kalau kalian bersedia ikut dengan Amel, Amel akan dengan senang hati merawat kalian berdua." Ucap Ibu.
Kami pun lumayan lama di rumah nenek dan saat sore kami pulang dan aku di jemput Anto setelah pulang dari kantor. Selama di perjalanan pulang aku menceritakan kejadian tadi dan Anto ikut prihatin mendengarnya. Bahkan dia memberi saran kalau aku tinggal di Jakarta dan merawat mereka, Anto akan memegang kantor pusat di sini. Namun aku belum bisa menjawabnya karena aku harus membicarakan dahu bersama keluargaku.
Teh Melda sekarang sudah percaya kalau Anto ini benar-benar orang kaya setelah kedatangannya kesini dan melihat semua keluarga Anto yang super duper mewah.
Hari ini adalah acara resepsi pernikahanku dan mulai hari ini aku akan di kenal sebagai nyonya Prayoga. Saat ini aku sedang berada di kamar hotel untuk di rias oleh sahabatnya mama yang merupakan tukang hias kalau di tempatku. Setelah selesai Anto masuk dan dia menatapku dengan rasa kagum.
Anto jadi salah tingkah. Aku hanya tersenyum.
Anto menuntunku ke luar untuk menemui semua tamu dan hari ini aku benar-benar jadi ratu sehari karena saat hari pernikahanku aku tidak mengadakan acara. Tamu yang di undang banyak karena semua kolega papa. Namun entah kenapa tiba-tiba saat di pertengahan acara kepalaku pusing dan badanku lemas padahal sebelum acara aku makan dulu. Pandanganku mulai berkunang kunang dan aku mulai merasakan keringat dingin. Mungkin Anto merasakan perubahan sikapku dia langsung bertanya "kamu kenapa?"
"Bang, badanku lemas sekali" Jawabku.
"Kamu istirahat dulu saja duduk ya" Titahnya.
Aku pun menurutinya namun bukannya membaik aku malah ingin muntah dan aku pun segera bangkit namun belum sempat beranjak tiba tiba pandanganku gelap dan badanku langsung oleng namun aku masih bisa merasakan ada seseorang yang menangkap badanku dan memanggil namaku "Azizah"
Saat sadar aku sudah berada di rumah sakit dan di sebelahku ada Anto yang sedang menungguku.
"Bang" panggil ku.
Anto pun langsung terbangun dan dia sepertinya lega saat melihatku sadar.
"Kamu sudah sayang" ucapnya.
__ADS_1
"Aku haus" beritahu ku.
Anto langsung mengambilkan minum, aku pun langsung meminumnya.
"gimana sekarang perasaanmu?" tanya nya.
"udah baikan bang" jawabku.
"kamu kenapa gak bilang kalau kamu merasa gak enak badan dan malah di paksakan" ucapnya.
"aku baik-baik saja kok" jawabku.
"aku takut banget kamu kenapa-napa apalagi setelah tahu kalau kamu lagi hamil" ucapnya dengan lirih.
"hamil?" tanyaku
"iya sayang kamu hamil lagi dan dokter bilang dia baik-baik saja" ucapnya.
Aku pun terdiam karena mengingat terakhir aku datang bulan dan saat ingat aku sudah tekat satu minggu. ku usap perutku yang masih rata dan tak terasa air mataku keluar begitu saja, aku bahagia karena masih di percaya untuk hamil lagi.
"kamu kenapa nangis?" tanya Anto.
"aku senang karena akhirnya aku bisa hamil lagi bang" jawabku dengan lirih.
"Jadi kamu harus menjaga dia dengan baik dan jangan banyak pikiran, aku sudah memutuskan kalau kita tidak akan kembali ke Bandung sampai kamu melahirkan" ucapnya.
sekarang aku hanya bisa mengikutinya karena ini juga untuk kebaikan aku dan anak yang aku kandung saat ini.
Semua orang bahagia mendengar kabar ini, apa lagi orang tua Anto karena ini cucu pertama buat keluarganya. Mama sampai memelukku dan dia akan merawat ku dengan baik.
Ada rasa bahagia melihat semua orang bahagia. Aku merasa hadirnya anak ini akan membawa kebahagian di keluarga ku.
"Mama senang banget karena mama akan segera jadi Oma, seperti teman-teman mama yang lain" ucapnya sambil membelai rambutku.
Aku hanya tersenyum melihat kebahagian di wajah mama.
Aku di rawat berapa hari di rumah sakit dan hari ini aku di perbolehkan pulang, namun saat di rumah aku tidak boleh melakukan aktifitas berat dan aku hanya rebahan. Terkadang aku merasa mereka terlalu lebay dengan memperlakukan aku seperti orang sakit parah yang benar-benar harus istirahat total dan aku sering memarahi Anto untuk masalah ini.
__ADS_1