Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Surat Cerai.


__ADS_3

Keseharianku di rumah ibu hanyalah membantu ibu dan mengasuh Hana, namun sore ini Irfan pulang langsung menghampiriku dan langsung memberiku uang. 


"Uang apa ni Fan?" Tanya ku sambil mengambil uangnya. 


"itu dari bang Anto, dia tadi ngerumpi pesan padaku, kalau dia mengirim uang buat teteh dan Hana" Jawabnya. 


"Oh, kamu bilangin makasih" Ucapku. 


"Iya teh udah, tapi aku baru bisa ngambil segitu sisanya nanti saja kalau teteh butuh, segitu dulu cukup kan?" Tanya Irfan. 


"Ini cukup kok" Jawabku tanpa menanyakan berapa yang Anto kasih, karena dengan uang yang aku pegang ini sudah cukup. 


"Teteh gak nanya berapa bang Anto kasih berapa?" Tanya Irfan. 


"Memang berapa?" Tanya ibu tiba-tiba karena aku belum sempat menjawab. 


"Lima belas juta bu" Jawab Irfan. 


"Banyak banget" Ucap Ibu. 


itu memang uang yang sering Anto kasih tiap bulan buat aku. 


Ibu langsung banyak pertanyaan padaku karena dia pemasaran kalau aku di kasih uang bulanan segitu kenapa aku tidak memiliki perhiasan atau apa. Akhirnya aku jelaskan kalau aku punya uang tabungan dari sisa uang bulanan ku namun saat aku pulang aku tidak membawanya karena semuanya ada di kamar kami. Bahkan aku pulang saja aku tidak membawa baju. 


Setelah satu minggu aku di rumah ibu bang Romi datang dan dia langsung minta penjelasanku dan dia tahu aku pulang karena saat dia ke butik aku tidak ada dan Dina yang memberitahunya kalau aku pulang.


"Kenapa kamu gak cerita sama abang?" Tanya nya. 


"Ini urusan rumah tangga aku bang, jadi aku tidak mau semua orang tahu" Jawabku. 


"Tapi ini beda masalahnya Za" Ucap bang Romi. 


"Bang, aku minta sama abang, abang jangan ikut campur biar aku yang bereskan" Ujarku. 


"Kamu yakin kamu bisa menyelesaikan ini semua? Bahkan saat ini berita Davin akan di jodohkan dengan anak dari keluarga Hartawan sudah menyebar dan kamu bisa apa?" Bentak bang Romi dan itu membuat aku kaget. 

__ADS_1


Ibu sampai menghampiri kami karena mendengar ucapan bang Romi. 


Aku hanya menunduk mendapat kabar itu karena hatiku sakit, aku masih istri sahnya dan dia akan dijodohkan dengan wanita lain. 


Bang Romi mengusap wajahnya lalu berkata lagi "sekarang apa kamu masih melarang aku untuk ikut campur?" Tanya nya dengan lembut. 


Aku pun mengangguk lalu berkata "kalau aku memang harus berpisah dengan Anto maka aku ikhlas bang mungkin jodoh kami sampai disini"


"Abang Terima alasan kamu" Ucapnya. 


Namun tiba-tiba ada tukang paket yang mengantarkan paket atas nama ku. Ibu langsung mengambilnya dan bertanya "kamu beli apa Za?"


"Za gak beli apa-apa kok bu" Jawabku lalu mengambil paket yang di kasih ibu. 


Aku pun membaca pengirimnya dan itu dari Anto. Aku pun langsung membukanya dan ternyata itu berkas perceraian ku yang harus aku tanda-tangani. Bang Romi langsung merebutnya dan membacanya. 


"Sekarang gimana Za?" Tanya nya. 


Aku tak menjawab karena aku kaget karena dia benar-benar ingin pisah dari aku. Aku langsung masuk ke kamar dan menangis dengan puas. 


Aku pun pergi ke kamar mandi dan langsung mengambil wudhu lalu sholat dan berdoa agar masalah ini cepat selesai dan tidak harus ada perceraian karena aku sayang sama dia. Aku tidak keluar lagi sampai malam dan aku benar-benar lupa sama Hana karena hatiku sedang kacau. Aku keluar besok paginya dengan wajah sembab dan ibu langsung menghampiriku. 


"Za, kamu baik-baik saja kan?" Tanya ibu. 


"Aku baik-baik saja kok bu, maaf udah bikin ibu khawatir" Ucapku. 


Aku pun makan dan mulai mengurusi Hana karena aku tahu dia butuh aku. Namun saat siang hari aku dapat panggilan telepon dari Dina dia memberitahuku kalau Hasan mencariku dan dia memberitahu semuanya pada Hasan apa yang terjadi padaku saat ini. Aku cuman menjawab jangan sampai ada masalah baru lagi itu saja. Sorenya saat aku di kamar bersama Hana tiba-tiba perutku sakit dan aku benar-benar gak bisa menahannya. Bahkan saat aku mencoba berdiri tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang mengalir di kaki ku. Saat aku lihat ternyata darah dan aku kaget lalu menyuruh Hana untuk memanggil ibu. 


Ibu datang dan dia langsung kaget melihat keadaan ku yang sedang kesakitan. 


"Za kamu kenapa?" Tanya nya. 


"Aku gak tau bu, perut ku sakit banget" Jawabku. 


Lalu ibu lari keluar kamar ku dan tak lama dia datang bersama Irfan adikku karena dia sedang ada di rumah. 

__ADS_1


"Bu kita bawa teteh ke rumah sakit" Ucap Irfan. 


Ibu pun mengangguk dan Irfan langsung ke luar entah mau apa, tak lama dia kembali bersama temannya dan langsung membopongku ke mobil dan aku tidak tahu ini mobil siapa. Selama di perjalanan perutku semakin sakit namun aku mencoba untuk tetap sadar. Setelah sampai di rumah sakit aku langsung ditangani dan dokter setelah memeriksa ku dia keluar entah untuk apa dan tak lama dia kembali lagi lalu memberikan aku suntikan dan aku langsung tak sadarkan diri. 


Saat aku membuka mata aku melihat di sampingku Anto dan aku berharap ini bukan mimpi, aku mencoba menyentuh kepalanya karena saat ini dia sedang tertidur di sampingku. Air mataku tak terasa menetes karena aku kangen sama dia. Dia terbangun mungkin karena sentuhan ku. 


"Za, kamu sudah sadar?" Tanya nya. 


Aku tidak menjawab hanya menatapnya bahkan air mata ku terus menetes. 


"Bang aku kangen, aku berharap ini bukan mimpi" Ujar Ku. 


Anto pun meneteskan air matanya lalu berkata "maafin aku Za, aku sudah nyakitin kamu dengan tidak percaya sama kamu, aku cemburu Za, melihat kamu dipeluk laki-laki lain"


"Abang boleh marah sama Za, tapi jangan ceraikan Za" Ucapku. 


"Cerai" Bingungnya. 


Aku pun mengangguk. 


"Kamu kenapa bicara seperti itu?"


"Aku dapat kiriman surat perceraian kita bang" Jawabku. 


Aku terdiam lalu aku berkata lagi "aku berharap tidak bangun lagi, agar bisa denganmu lagi"


"Kamu jangan ngomong gitu Za, aku gak mau kamu tinggalin aku"ucapnya dengan lirih. 


" Tapi kalau aku bangun kamu pasti gak di sini"kataku.


"Za, aku gak akan ke mana-mana lagi dan ini bukan mimpi Za, tapi kamu memang sudah sadar dan aku ada disini untuk kamu" Ucapnya dengan lembut. 


"Serius bang?" Tanyaku dengan gembira. 


Anto pun mengangguk dan aku tersenyum karena akhirnya bisa melihatnya lagi. 

__ADS_1


__ADS_2