Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Masalah perusahaan.


__ADS_3

Tak terasa sudah satu tahun aku membuka butik dan aku sudah bisa membuat keluarga Davin bangga padaku walau masih ada campur tangan Davin namun setidaknya aku bisa membuatnya tidak merasa malu mempunyai istri seperti ku. Ternyata menjadi istri orang kaya itu tidak seenak yang aku bayangkan, aku yang lahir dari orang sederhana harus menyesuaikan hidup dengan orang-orang yang serba kecukupan. Kadang aku juga masih merasa tidak bisa menyamai mereka. Bahkan cobaannya pun banyak walau sekarang aku sudah bisa membuat keluarga Davin bangga namun tetap saja masih dipandang rendah. Seperti saat ini aku menemani Davin untuk menghadiri acara pesta teman bisnisnya, padahal aku sudah berpenampilan sesuai dengan yang disarankan mama namun aku merasa mereka memandangku dengan sebelah mata. Sekarang Davin sedang berbincang dengan rekan bisnisnya dan aku mulai merasa jenuh dan aku pamit untuk mencari tempat duduk karena pegal juga. Namun, aku tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang memakai gaun merah. 


"Maaf" Ucap ku dan dia bersamanya. 


Dia pun tersenyum dan dia terlihat cantik. 


"Tidak apa-apa mbak" Ucapnya. 


"Tadi saya tidak fokus karena mencari tempat yang sepi" Ujarku. 


"Kok sama, bosan ya?" Tanya nya. 


Aku pun mengangguk dan dia pun mengajakku untuk mengobrol karena dia juga mulai bosan di pesta ini. Cukup lama kami berbincang sampai akhirnya suami dari wanita itu yang bernama Naira datang, namun saat melihat wajahnya aku merasa tak asing dan pernah melihatnya. 


"Oh ya Za, kenalin ini suami ku Rival" Ucapnya mengenalkan suaminya. 


Suaminya pun  langsung melirik ke arahku, dia mengerutkan alisnya dan berkata "Azizah"


"Loh kok sayang, kamu kenal sama dia?" Tanya Naira. 


"Dia istrinya Davin" Jawabnya. 


"Istrinya Davin, yang kamu bilang punya butik itu?" Tanya nya. 


Rival pun mengangguk. 


"Masya allah kok aku gak ngeh ya" Ucapnya sambil tersenyum. 


Namun tiba-tiba Davin datang dan memanggilku. 


"Za, kamu disini aku cariin lo" Ucapnya lalu melirik sepasang suami istri itu. 

__ADS_1


"Rival, Naira" Ucapnya. 


"Val, istri lo cantik ya" Ucap Naira. 


"Iya dong" Ucapnya bangga dan aku mencibir nya. 


"Sakit sayang" Keluhnya. 


Sepasang suami istri itu cuman tersenyum. 


"Sikap lo beda ya sama Azizah lembut banget, gak kaya sama cewek lain" Sidir Naira. 


"Ya harus dong" Jawabnya. 


Naira cuman mencabikan bibirnya dan Rival hanya tersenyum lalu berkata "Za kamu jangan heran kalau liat Davin debat dengan istriku karena dari sekolah dulu mereka gak pernah akur"


Ternyata istrinya Rival itu teman Davin saat sekolah dulu jadi sudah saling kenal. Aku senang karena akhirnya punya teman juga. Setelah merasa cukup kami pun pulang dan sesampainya rumah aku di buat kaget karena om Ilham berada dirumah dan sedang berdebat dengan papa. 


Langkahku langsung terhenti mendengar itu semua dan hati ku sakit. Davin tidak masuk bareng aku karena dia harus memarkirkan mobil dulu. 


"Tapi bang, itu tidak mungkin karena abang sendiri tahu kalau Davin sudah punya istri dan anak" Ucap papa. 


"Wanita itu, anak dari seorang pelacur, kamu sendiri dari awal aku dan opah tidak pernah setuju dengan nya" Ujarnya. 


Tak terasa air mataku sudah menetes dan aku pun membalikan badan untuk pergi tapi ternyata Davin sudah ada di belakangku dan dia menahanku untuk pergi. Dia menggenggam erat tanganku dan masuk kedalam, semua orang di dalam langsung diam dan menatap kami. 


"Ayah ingin aku ni ggalin Azizah?, jangan harap aku akan mengikuti kemauan ayah dan opah, lebih baik aku pergi dari rumah ini dari pada harus ninggalin Azizah dan Hana anak ku demi sebuah harta" Ucapnya dengan tegas. 


"Kamu ini pewaris tunggal dari keluarga prayoga dan kamu harus mempunyai pasangan yang bibit bobotnya jelas bukan seperti wanita itu" Ucap om Ilham dengan lantang. 


Aku hanya bisa menunduk dan beristighfar. 

__ADS_1


"Aku tetap tidak mau yah, aku bukan Aurel yang harus rela meninggalkan kebahagiaanku demi mengikuti kemauan kalian" Ucapnya lagi. 


"Davin" Teriak opah dan membuat aku kaget. 


"Mama sama papa saja tidak mempermasalahkan kenapa kalian sekarang harus sibuk mengurusi kehidupan aku, kalau kalian takut perusahaan kalian bangkrut bukan gini caranya" Ucapnya dengan nada tinggi. 


"Kamu jangan bicara sembarangan"bentak om Ilham. 


" Beri aku dua bulan untuk memperbaiki keadaan perusahaan yang saat ini sedang menurun, kalau aku gagal aku akan pergi dari rumah ini"ucapnya dengan lirih. 


Aku menatapnya dan dia sepertinya sedikit berat melakukan itu namun aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku sama sekali tidak tahu kalau perusahaan sedang ada masalah. 


"Baik kalau itu mau kamu, kami akan menunggu hasilnya" Ucap om Ilham dan pergi bersama opah. 


Davin langsung berjalan ke arah sopa dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sopa dengan menutup matanya dengan tangan. Mama mengusap bahunya seolah-olah memberi kekuatan. Aku hanya terdiam karena aku bingung harus apa. 


"Kesini Za" Panggil papa. 


Aku pun menghampirinya, lalu papa berkata "apakah kamu akan menerima Davin apa adanya walau dia tidak seperti sekarang?"


"Aku akan menemani bang Davin sampai kapan pun, walau kami harus hidup susah karena aku yakin dia tidak akan membiarkan anak dan istrinya tidak makan" Jawabku. 


"Makasih sayang kamu sudah mencintai Davin sedalam itu, dia tidak salah memilihmu" Ucap mama lalu memelukku. 


Kami pun masuk ke kamar dan aku masih melihat Davin sepertinya murung dan memikirkan masalah itu. Aku pun mendekatinya lalu berkata "kamu kenapa gak pernah bilang kalau sedang ada masalah, aku tidak mau hanya jadi istri yang tidak tahu apa-apa, walau aku tidak bisa bantu atau tidak tahu apa-apa setidak nya aku bisa jadi teman curhatmu"


Davin  menatapku lalu memelukku dengan erat dan aku bisa merasakan dia menangis. Aku pun mengusap punggungnya memberikan kekuatan. Setelah merasa cukup dia melepaskan pelukannya dan berkata "aku tidak mau membuatmu kepikiran dan aku berusaha membereskan nya sendiri, ayah dan opah sudah lama memintaku untuk menceraikan kamu dan menikahi wanita itu namun aku terus menolak dan aku tidak pernah kepikiran kalau mereka nekat seperti ini"


"Mungkin mereka sudah bingung harus gimana jadi dia langsung membicarakannya dengan mama dan papa, aku juga harus tahu kalau abang sedang ada masalah" ucapku dengan lembut.


Davin hanya diam menatapku dengan tatapan entah apa karena aku tidak bisa menebaknya.

__ADS_1


__ADS_2