
Ini hari ke enam Davin berada di semarang dan hari ini juga aku berada di butik karena harus memantau pembuatan gaun pesanan teman mama. Bahkan aku berada di butik sampai habis magrib karena membereskannya. Hana dia sudah pulang duluan bersama pengasuhnya. Karena sudah beres aku pun keluar bersama Dina dan salah satu karyawan ku, namun saat baru berapa langkah aku ingat kalau ponselku tidak ada dan aku langsung kembali ke dalam dan menyuruh mereka menunggu di seberang saja. Setelah mengambil ponsel aku keluar dan langsung menyeberang namun saat akan sampai tiba-tiba ada mobil yang melaju sangat cepat aku sudah pasrah saja jika aku akan di tabrak. Namun, tiba-tiba tanganku ditarik dan aku langsung menabrak dada seseorang dan orang itu merangkul ku. Saat aku melihat wajahnya aku kaget karena ternyata itu Hasan dan aku langsung mundur dan melepaskan rangkulannya.
"Kamu kenapa?" Tanya nya.
"Mbak, mbak baik-baik saja kan?" Tanya Dina.
"Aku baik-baik saja Din" Jawabku pada Dina dan aku langsung menatap Hasan dan berkata "makasih kamu sudah selatan aku" Aku langsung pergi begitu saja dan Dina mengikuti ku. Kami naik taksi yang sudah Dina pesan tadi, selama di jalan aku hanya terdiam karena aku merasa tak nyaman dengan kejadian itu, lebih baik aku ketabrak saja daripada aku harus dipeluk pria lain. Bahkan tanpa terasa air mataku sudah keluar karena aku merasa sudah mengkhianati bang Davin suamiku. Aku tau Dina memperhatikan aku namun, dia tidak berani bertanya.
"Mbak gak nyaman sama kejadian tadi Din" Ujar Ku.
"Aku tahu mbak, tapi mbak harusnya bersyukur karena bang Hasan selamatkan mbak"ucapnya.
Aku pun hanya mengangguk.
Setelah tiba di rumah aku langsung masuk kamar dan langsung mandi dan tidak keluar lagi. Aku pun mencoba menghubungi bang Davin untuk bercerita namun tak diangkat dan dia mengirimiku pesan kalau dia sedang sibuk.
Aku pun tidak bisa tidur sampai dini hari dan akhirnya aku pun mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam baru lah aku bisa tidur. Hari ini aku tidak ke butik karena menunggu bang Davin pulang karena dia mengirimiku pesan kalau dia pulang pagi ini.
Sekitar jam sepuluh pagi bang Davin pulang namun sikapnya berbeda saat aku menyambutnya di depan pintu tidak ada senyuman sama sekali hanya tatapan dingin yang aku Terima. Aku pun mengikutinya ke kamar dan sesampainya di kamar aku melihat dia sedang berdiri dan memegang ponselnya. Setelah aku masuk dia berbalik dan tatapannya semakin tajam.
"Kenapa kamu lakukan itu?" Tanya nya sedikit menahan amarah.
"Maksud abang apa?" Tanyaku karena tak mengerti.
"Kamu sengaja mencari laki-laki lain untuk berjaga-jaga kalau aku sudah bangkrut kamu bisa bersama dia?"ucapnya yang membuat aku semakin tidak mengerti.
" Jawab Za"bentaknya dan membuat aku kaget.
__ADS_1
"Aku gak ngerti maksud abang apa?" Jawabku
Davin langsung menunjukan sebuah foto kejadian kemarin dimana aku di peluk Hasan.
"Aku bisa jelasin bang" Ucapku.
"Kamu mau jelasin apa lagi, banyak bukti kalau kamu selingkuh dengan dia" Tuduh nya.
"Astaghfirullah bang, sumpah aku tidak begitu" Ucapku.
"Abang gak percaya sama aku?, kalau abang gak mau dengerin penjelasan ku dan abang lebih memilih percaya dengan foto itu, aku kecewa sama abang" Ucapku lirih.
Davin hanya diam tanpa berkata apa-apa, aku pun keluar meninggalkannya dan pergi ke kamar Hana, aku menangis di sini. Tiba-tiba pengasuhnya Hana masuk dan membawa Hana karena dia menangis. Aku pun mengambil alih Hana dan langsung mendiamkannya. Namun tak lama aku mendengar teriakan om Ilham di luar memanggil Davin.
Aku pun keluar dan turun aku melihat Om Ilham sedang memarahi Ilham dan aku bisa mendengar ucapannya.
"Tanya nya.
Davin hanya diam dan itu membuat aku sakit.
" Dia bisa mendapatkan yang lebih dari kamu, Hasan itu pengusaha muda dalam bidang properti dan dia sukses, sekarang kamu tidak ada apa-apa nya sama dia"ucap om Ilham.
Aku kaget mendengar itu semua kalau Hasan seorang pengusaha padahal yang aku tahu dia orang biasa dan dia bisa sesukses itu.
"Sekarang terserah kamu, tawaran om masih berlaku" Ujarnya lalu pergi namun sebelum pergi dia menatap ke arahku dengan senyum kemenangan.
Aku pun turun menghampiri Davin, mama dan papa. Davin masih menunduk mama dan papa menatapku meminta penjelasan ku.
__ADS_1
"Aku tidak pernah punya pikiran buat mencari pengganti bang Davin, kalau masalah Hasan aku kenal dia karena dia teman SMA ku dulu dan aku tidak tahu sama sekali kalau dia seorang pengusaha." Ucapku.
"Lalu foto itu?" Tanya papa.
"Seminggu ini Hasan memang sering menemui ku di butik, aku pun sudah memintanya untuk tidak datang lagi ke butik karena aku takut terjadinya kesalahpahaman karena aku wanita bersuami dan punya anak" Jawabku menatap mereka.
"Untuk foto itu, itu kejadian kemarin saat aku akan pulang dan saat menyebrang aku tidak hati-hati karena bermain ponsel, tiba-tiba ada sebuah mobil dan dia yang menyelamatkan aku" Lanjut ku.
Davin langsung pergi begitu saja setelah mendengar ceritaku.
"Kamu sabar ya sayang" Ucap mama sambil mengusap kepalaku. Aku pun pamit ke kamar namun aku tidak ke kamarku melainkan ke kamar Hana.
"Yang sabar ya mbak" Ucap pengasuh Hana.
Aku hanya tersenyum.
Sikap Davin semakin dingin padaku bahkan sejak kejadian itu kami tidur terpisah aku gak berani mengajak dia bicara. Saat ini aku menghampiri mama untuk mengajak bicara.
"Ma" Panggil ku.
Mama berbalik dan menjawab "ada apa sayang?"
"Apa aku pulang saja ma?, aku gak enak kalau Davin mendiamkan aku begini" Ucapku.
"Kamu coba bicara sama Davin, jangan saling diam begini" Saran mama.
"Aku gak berani ma" Jawabku sambil menunduk.
__ADS_1
"Ya sudah biar nanti mama yang bicara sama dia" Ucap mama dengan lembut. Aku pun mengangguk dan langsung pergi kembali ke kamar. Malamnya saat makan malam Davin sudah ada di rumah namun dia tidak melirik aku sama sekali. Aku sedih diperlakukan seperti itu, walau aku salah namun aku sudah menjelaskan semuanya. Aku pun langsung pamit pada mama dan papa kalau aku sudah selesai makannya dan dia sama sekali tak terganggu. Aku berlari ke kamar Hana sambil menangis disini aku puaskan menangis aku tak peduli walau ada pengasuhnya Hana karena aku sudah capek banget menghadapi masalah dan sikap Davin seperti itu.