
Akhirnya ibu datang bersama ayah untuk menjenguk nenek sakit. Besoknya baru kami berangkat jenguk nenek dengan diantar bang Anto. Tak butuh waktu lama kami sudah sampai di rumah nenek dan disana sudah ada kakak ibu.
"Assalamualaikum"ucap kami semua saat di depan pintu.
" Waalaikumsalam"jawab dari dalam rumah.
Pintu pun terbuka dan yang membukanya adalah tante Meri.
"Amel" Ucapnya saat melihat ibu dan langsung memeluknya.
"Gimana kabarnya kak?" Tanya ibu.
"Alhamdulillah baik, kamu gimana?" Balesnya.
"Aku juga baik kak" Jawab ibu.
Setelah melepaskan pelukannya dari ibu dia langsung melirik ke arahku dan Anti.
"Jadi ini anak mu yang menikah dengan anak dari keluarga Prayoga" Ucapnya.
Aku hanya tersenyum lalu mencium tangannya dan di ikuti Anto.
Setelah berbasa basi kami pun masuk dan langsung menuju kamar nenek. Nenek terbaring lemah ditempat tidur. Anto langsung berkata "kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?"
Tante Meri terdiam tak menjawab.
"Sekarang kita bawa nenek ke rumah sakit, kasihan dia"ucap Anto lagi.
Kalau dia sudah berkata seperti itu aku tidak akan bisa membantah. Akhirnya nenek dibawa ke rumah sakit dan Anto langsung memesan kamar dengan perawatan yang paling bagus.
" Bang apa gak terlalu mewah?"tanyaku saat pulang dari pembayaran administrasi.
"Biar nenek merasa nyaman" Jawabnya.
Kami pun menuju ruangan nenek yang sudah ada ibu dan tante Meri. Kami pun sempat mengobrol sebentar sebelum Anto mengajakku pulang karena sudah siang juga.
"Za, ibu di sini saja temani nenek, bapak ajak pulang saja suruh istirahat di rumah" Ucap Ibu.
__ADS_1
"Iya bu, bapak ikut pulang sama kami" Jawabku.
Kami pun pamit pulang dan selama di perjalanan bapak diam saja sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Sesampainya di rumah bapak aku suruh istirahat dan aku langsung mengambil alih Hana yang tadi aku titipkan pada mama dan pengasuhnya.
"Gimana keadaan nenek kamu Za?" Tanya mama.
"Masih lemas ma, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit oleh bang Davin" Jawabku.
"Ya syukur kalau begitu, semoga cepat sembuh" Ucap mama.
Aku pun istirahat di kamar bersama Hana dan Anto kami bermain di kamar saja. Namun aku melihat Anto sepertinya sedang memikirkan sesuatu karena dari tadi dia melihat ponselnya. Namun aku tak berani bertanya karena takut salah juga. Hana pun mengantuk dan aku langsung menidurkannya dan memberi susu. Setelah Hana tidur aku langsung membereskan tugasku untuk membuat gambar gaun lagi. Namun tiba-tiba Davin mendekati ku lalu dia bertanya "kamu bertemu dengan dia? " Sambil menunjukan foto cewek.
Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat ke arah Anto.
"Kenapa memang bang?" Tanyaku balik.
"Kamu jawab dulu baru nanti aku kasih tahu" Ucapnya sambil duduk di sebelahku.
Aku pun mengangguk dan Anto pun menjelaskannya siapa gadis itu, namun penjelasannya membuat hati ku sakit karena ternyata dia cewek yang pernah dia suka bahkan Anto cukup lama menyukainya.
Anto bukannya menjawab dia malah tersenyum.
"Jawab bang, bukannya tersenyum" Ujarku kesal.
"Kamu cemburu ya?" Tanya nya.
"Nggak ngapain cemburu" Bohong ku.
"Abang sudah gak ada perasaan apa-pa sama dia, karena yang abang suka dan cinta itu hanya kamu Za" Ucapnya sambil memelukku.
Aku pun membalas pelukannya.
"Abang cuman takut saja kalau dia mendatangi kamu dan membuat masalah" Ucapnya.
Aku langsung teringat dengan pesanannya yang memintaku untuk membuat gaun yang sama persis dengan gaun yang dia bawa. Akhirnya aku pun memberitahu Anto tentang hal itu dan Anto langsung menyuruhku untuk tidak melanjutkan pengerjaan gaun itu karena dia takut kalau cewek itu mau menjebak ku.
Pagi ini aku akan ke butik karena akan ada orang yang mau memesan gaun pengantin dan dia ingin melihat gambar gaunnya dan bertemu denganku langsung. Aku sudah berada di butik dan sedang memberi tahu para pegawaiku untuk tidak melanjutkan pengerjaan gaun yang kemarin. Orang yang aku tunggu ku pun datang dan dia sudah memilih model apa untuk gaunnya dan sekarang aku menyuruh Dina untuk mengukurnya. Saat aku akan kembali ke ringan ku tiba-tiba Berikan datang dan masuk dengan kasar.
__ADS_1
"Suruh keluar Azizah" Titahnya pada pegawaiku.
Aku pun langsung menghampirinya dan berkata "ngapain kamu cari saya?"
"Oh ternyata tanpa harus di panggil langsung datang juga" Ucapnya.
"Karena aku mendengar kegaduhan jadi aku keluar" Ucapku sedikit sinis.
"Kamu ngomong apa sama Davin hah?" Bentaknya.
"Aku gak bicara apa-apa sama dia" Jawabku.
"Kalau kamu gak bicara gak mungkin aku didatangi polisi karena masalah meniru karya orang lain" Ucapnya.
Aku benar-benar kaget saat Verika berkata seperti itu, karena aku tidak tahu kalau Davin akan melakukan itu. Verika di usir karena membuat kegaduhan di dalam butik dan kebetulan saat ini butik sedang ramai.
Tiba-tiba Dina bertanya "kak, kakak ada masalah apa sama model itu?"
"Dia mau merebut bang Anto dari kakak" Jawabku.
"Kok gitu?" Kagetnya.
"Dia dulu cewek yang di suka sama bang Anto dan sekarang dia menyesal karena bang Anto sudah sukses kalau dulu kan dia cuman kerja di bengkel" Jawabku.
Aku pun kembali ke ruangan ku dan aku pun langsung menghubungi Anto kalau barusan Verika datang dengan marah-marah dan Anto hanya tersenyum karena dia sudah tahu kalau itu semua akan terjadi. Anto pun menjelaskan kenapa dia langsung melaporkan ini semua karena dia tidak mau kalau aku harus terkena masalah gara-gara itu. Aku bersyukur karena Anto langsung mengambil tindakan karena aku tidak tahu mungkin kalau Anto tidak bertanya kemarin aku pasti akan kena masalah.
Sore harinya Anto menjemput ku karena kami akan ke rumah sakit lagi jenguk nenek.
Kami pun berangkat ke rumah sakit namun sampai di sana aku melihat ibu berada di luar bersama tante Mery dan ibu di rangkul bapak. Aku pun cepat-cepat mendekati mereka dan saat sampai di sana dokter keluar dan berkata
"Maaf kami sudah berusaha namun Allah berkehendak lain"
"Innalilahi Wainnalilahi rojiun" Ucap ku dan semua orang.
Ternyata nenek sudah tidak dan kami semua sangat kehilangan apalagi ibu karena dia baru bertemu lagi setelah berapa tahun tidak bertemu. Akhirnya Anto mengurus semuanya dan tak butuh lama jenazah nenek langsung dibawa ke rumah. Di rumah sudah banyak orang bahkan bang Romi pun sudah ada di sana dan ibu sama sekali tidak melirik ke arah bang Romi. Mungkin dia masih marah karena pernikahan bang Romi.
Besoknya nenek langsung dimakamkan di pemakaman keluarga dan aku bisa melihat ibu yang sangat sedih kehilangan nenek. Ibu selalu dirangkul bapak dan aku merasa senang melihat mereka seperti itu.
__ADS_1