Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Memasak buat suami.


__ADS_3

Setelah Anto pergi aku diam saja di kamar karena bingung juga namun aku teringat hadiah yang diberikan mbak Rina. Segera ku ambil dan ku buka namun aku kaget saat melihat isinya dia memberiku Tas, sepatu dan gaun bagus banget bahkan kalau di lihat dari mereknya mahal banget aku jadi tidak enak. 


"Za, kamu sedang apa bisa temani ibu ke pasar nggak?" Panggil ibu di balik pintu. 


"Iya bisa bu, bentar" Jawabku. 


"Ibu tunggu di depan ya" Ucannya lagi. 


Aku langsung membereskan semuanya dan ganti baju setelah selesai aku keluar dan menghampiri ibu. 


"Ayo bu Zizah udah siap" Ajakku sama ibu. 


"Oh, hayu kita berangkat" Ujar ibu lalu pergi. 


Kami pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur karena ibu bilang semuanya sudah habis di pake acara nikahan aku. Aku sudah mengirimkan pesan pada Anto kalau aku pergi ke pasar bersama ibu. 


Saat di pasar ibu banyak membeli sayuran dan bumbu dapur biasanya ibu tidak seperti ini karena penasaran akhirnya aku tanyakan. 


"Bu kok belanjanya banyak banget?" Tanyaku sambil melihat kantong belanjaan ibu. 


"Untuk persedian saja biar tidak tiap hari ke pasar" Jawabnya sambil memilih cabai. 


"Memang ibu ada uang lebih? " Tanyaku lagi sambil membantu memilih cabai. 


"Mang satu kilo ya" Ucapnya pada pedang lalu melirikku "masih ada uang sisa yang di kasih Anto kemarin jadi ibu belikan ini semua biar bisa di makan sama Anto juga" Ujarnya sambil memasukan cabai. 


"Oh, memang uang yang di kasih bang Anto berapa bu?" Tanyaku sambil berjalan di belakang ibu. 


"Semuanya dua puluh juta" Jawab ibu tanpa melirik. 


Aku langsung kaget karena mendengar jawaban ibu, aku pun tak bertanya lagi karena sibuk dengan pikiranku. 


Kami pun sampai rumah dan aku membantu ibu membereskan belanjaannya. Setelah selesai aku masuk kamar karena sudah dzuhur juga. Setelah beres di kamar aku keluar menggantikan ibu memasak karena ibu mau sholat juga namun tiba-tiba aku mendengar suara motor. "itu suara motor bang Anto" Gumamku lalu aku beranjak keluar dan melihatnya ternyata memang dia. 


"Bang" Panggilku. 


"Assalamualaikum za"ucapnya.


" Waalaikumsalam bang"jawab.


Anto pun masuk dan aku mengikutinya mau bertanya tapi takut juga. 

__ADS_1


"Kamu lagi apa?" Tanya nya sebelum masuk kamar. 


"Aku lagi masak bang" Jawabku sambil menatapnya. 


"Oh lanjutkan saja, aku juga belum makan siang" Ucapnya sambil tersenyum. 


"Duh ganteng nya " Pujiku dalam hati. 


"Za, kok melamun?" Panggilnya. 


"Eh… nggak ko bang" Gugup ku. 


"Oh udah sana lanjut saja aku mau sholat dulu" Sambil membuka pintu lalu masuk. 


Aku pun kembali ke dapur melanjutkan acara masak ku. Tak lama ibu keluar "Anto pulang Za? Tanya nya sambil menatap aku. 


" Iya bu sekarang lagi sholat"jawabku tanpa menatap ibu karena sedang masak. 


"Oh, ya sudah cepat masaknya Anto mau makan mungkin" Ujar ibu sambil membantuku. 


Semua masakan sudah beres aku hanya memasak goreng ikan, cah kangkung, sambal sama ada sayur asem. Aku lupa tidak bertanya apa yang tidak Anto suka. 


Anti keluar dengan memakai pakaian santai lalu menghampiri aku yang sedang menata makanan di meja. 


"Sudah" Jawabnya. 


"Duduk bang kita makan, tapi cuman ini yang aku masak, kalau abang tidak suka bilang saja" Ujarku sambil menunjuk makanan yang sudah tertata. 


"Aku suka kok, ayo makan bu kita makan bareng" Jawabnya sambil mengajak ibu makan bareng juga. 


Kami bertiga pun makan bareng namun tak lama kemudian teh melda bersama kedua anaknya datang. 


"Harum banget ibu masak apa?" Tanya nya sambil melihat ke arah meja makan. 


"Mel, ibu cuman masak ikan." Jawab ibu. 


"Teh ayo ikut makan" Tawar Anto. Dan teh Melda langsung saja duduk bersama kedua anaknya langsung makan begitu saja. Aku melirik Anto namun sepertinya dia tidak merasa terganggu. Saat sedang makan tiba-tiba ponsel Anto berbunyi jadi kami semua melihat ke arahnya. 


"Maaf saya harus angkat telepon dulu" Pamitnya sambil beranjak dari duduk nya lalu pergi. 


"Suami kamu angkat telepon saja harus pergi kaya orang penting saja." Ucap teh Melda tanpa melihat ke arahku. 

__ADS_1


"Dia cuman tidak mau mengganggu teteh sama ibu makan saja dan mungkin merasa tidak sopan" Ujarku dengan menatap teh Melda. 


"Sudah lanjutkan makan nya" Potong ibu karena dia pasti tahu kalau sampai teh Melda berbicara lagi akan terus mencari kesalahan orang lain. Aku pun beranjak karena sudah beres juga makan nya. Namun saat aku mau ke dapur aku tak sengaja mendengar pembicaraan Anto dengan orang yang tadi menelponnya. 


"Apa? Jadi hanya sebagai OB?" Kata Anto. 


"Ya sudah kalau begitu makasih" Tutupnya. 


Saat Anto masuk di sepertinya kaget melihat aku sedang di dapur. 


"Kamu sudah lama berada di dapur?" Tanya nya dengan wajah khawatir. 


"Baru saja, tadi aku tak sengaja mendengar cupaan abang yang bilang hanya jadi OB, abang mau cari kerja lagi?" Tanyaku. 


"Oh itu, tadi temen cari orang buat kerja di kantoran gitu untuk posisi OB, dia tanya sama Aku siapa tahu ada temen yang mau" Ujarnya dengan menggaruk kepala. 


"Oh… kirain abang mau pindah kerja"


"Nggak ko, kalau aku pindah kerja kasian Tio tidak ada yang bantu" Jawabnya sambil tersenyum. 


"Ya sudah abang istirahat saja aku mau beresin bekas makan tadi" Ujarku menyuruhnya istirahat. 


Dia pun mengangguk lalu pergi dari hadapanku. 


Setelah beres aku pun masuk kamar dan saat masuk aku melihat Anto tertidur. Aku pun keluar lagi karena tidak enak juga kalau ganggu dia tidur juga jadi aku nonton TV saja. Tapi tiba-tiba teh Melda datang dan ikut duduk di sebelahku. 


"Za, kamu bahagia menikah dengan orang asing seperti dia" Ujarnya sambil mengambil kue yang di pangkuanku. 


"Maksud teteh?" Tanya ku sambil meliriknya. 


"Maksud teteh kamu kan baru kenal sama si Anto tapi kamu mau saja langsung menikah gitu" Dengan mengangkat bahu sebelah. 


"Kalau saja bapak sama Ratih tidak mendesak aku, mungkin aku juga belum menikah tapi aku yakin dia laki-laki yang tepat buat aku" Ucapku dengan yakin. 


"Kok kamu bisa yakin gitu?" Tanya nya sambil terus menatap TV. 


"Karena aku sudah minta petunjuk Allah teh" Jawabku. 


"Sok bijak kamu Za" Cibir nya. 


Aku hanya tersenyum dan teh Melda tak berkata apa-apa lagi sampai dia ke tiduran di sebelahku. 

__ADS_1


Karana sudah asar aku pun beranjak dan masuk kamar untuk sholat dan saat aku masuk Anto pun baru bangun.


__ADS_2