Suamiku Pewaris Tunggal

Suamiku Pewaris Tunggal
Masuk rumah sakit


__ADS_3

Sudah seminggu aku mengurung diri. Hatiku masih sakit karena di bohongi oleh orang yang aku cintai tapi apalah daya hati ini sebenarnya rindu. Entah kenapa hari ini badanku terasa lemas bahkan tadi pagi saja saat bangun aku sedikit mual. Saat sarapan pun aku paksakan karena aku tak nafsu makan padahal selama seminggu ini walau pikiranku sedang tidak baik-baik saja aku tetap makan agar aku tidak sakit tapi hari ini lemas banget. Saat akan makan malam mualnya semakin jadi bahkan saat baru melihat makanan saja aku sudah ingin muntah. 


"Oooo" Ku tutup mulutku dan berlari ke kamar mandi. 


"Za, kamu kenapa?" Tanya ibu sambil bangkit dari duduknya dan mengikutiku. 


Aku tak menjawab aku hanya memuntahkan apa yang ada dalam perutku. 


"Teteh kenapa bu?" Tanya Ratih menghampiriku di kamar mandi. 


"Ibu juga tidak tahu" Jawab ibu sambil terus memijat pundakku. 


"Sudah bu" Ucapku sambil keluar kamar mandi. 


Aku pun langsung masuk kamar sambil dipapah ibu. 


"Ra bisa panggilin Irfan"ucapku pada Ratih. 


" Bentar teh Ra panggilkan dulu"lalu Ratih keluar. 


"Kita periksa ya Za" Ucap Ibu sambil mengusap kepalaku. 


"Gak usah bu, besok juga Za sembuh kok" Jawabku dan tak lama kemudian Irfan dan Ratih masuk. 


"Ada apa teh?" Tanya Irfan. 


"Bisa beliin teteh rujak?" Tantaku. 


"Rujak" Sahut ibu dan Ratih lalu mereka saling pandang. 


"Iya memang kenapa?" Tanyaku heran. 


"Kamu hamil Za?" Tanya ibu. 


"Hamil, aku nggak… .. . " Ucapanku tergantung karena aku baru ingat kalau bulan ini aku belum datang bulan. 


"Kenapa Za?" Tanya ibu. 


"Za, baru ingat kalau Za belum datang bulan" Ucapku lirih. 


"Ya sudah besok kita periksa ya sayang! " Kata ibu sambil mengusap rambutku. 


Aku diam sambil memegang perutku "apa Allah sengaja menghadirkan kamu disaat aku masih dilema untuk memutuskan berpisah atau lanjut dan sekarang aku tahu jawabannya" Ucapku dalam hati. 


"Kamu istirahat sambil nunggu Irfan beli rujak" Titah ibu dan aku hanya menurut karena aku masih memikirkan apa benar aku hamil. Namun tak lama mualnya semakin menjadi aku bahkan bolak-balik kamar mandi dan tubuhku lemas sekali bahkan rujak yang dibelikan Irfan saja belum aku makan sedikit saja. 


"Bu keadaan teteh makin parah apa kita bawa dia ke rumah sakit saja, aku kasihan melihatnya"ucap Ratih pada ibu. Aku sudah tak ikut bicara karena tubuhku benar-benar sudah tak ada tenaganya. 


" Ya sudah ibu kasih tahu bapak dulu"ucapnya lalu keluar dari kamarku. 

__ADS_1


"Teh, teteh minum dulu biar nggak lemas" Ucap Ratih. 


Aku pun meminum teh manis yang Ratih sodorkan. Tak lama ibu masuk lagi dan berkata "bapak lagi pinjam mobil ke bu imah sekarang kita siap-siap".


Aku pun memakai kerudungku kembali. Tak lama Irfan masuk " Mobil nya sudah ada"


Memberitahu kami. 


"Ya sudah ayo" Ujar ibu. 


Aku pun akhirnya dibawa ke rumah sakit karena kondisiku yang sudah lemas. Sesampainya di rumah sakit aku langsung diperiksa dan hasilnya aku harus dirawat dan ternyata benar aku sedang hamil. 


Ratih dan bapak pulang yang menungguku ibu dan Irfan karena kalau Ratih dia besok harus kerja. Aku setelah di beri obat dan di infus aku tertidur dan aku bangun saat sudah pagi.


Saat aku bangun aku melihat ibu tertidur di bawah dan Irfan aku tak melihatnya. Aku di rawat di ruang kelas tiga jadi banyak orang dan saat orang yang di sebelahku melihat aku bangun dia langsung membangunkan ibu. Ibu bangun dan langsung menghampiriku. 


"Kenapa Za, kamu mau apa?" Tanya nya. 


"Aku haus bu" Jawabku lalu ibu memberiku minum air putih setelah selesai aku meminta ibu membantuku bangun. Kondisiku sudah lumayan membaik mungkin karena bantuan infus jadi aku tidak terlalu lemas. 


Saat waktunya makan aku di bantu ibu makan tapi aku tidak selera karena makanan nya buat aku mual. 


"Ayo dong Za makan biar cepat sembuh, kalau kamu nggak mau makan kita akan lama di rumah sakitnya" Ujar ibu membujukku. 


"Za nggak mau bu, ibu makan saja" Timpalku dengan sedikit kesal. 


"Kalau enak udah ibu makan" Ucapnya. 


Namun tiba-tiba pintu ruanganku di buka dan saat ku lihat ternyata itu Anto dan dia langsung menghampiriku. 


" Za, gimana kondisimu?"tanya nya sambil memegang tanganku. 


Aku hanya diam dan melihat sekitar dan ternyata semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arahku, bukan ke arahku tapi lebih tepatnya ke arah Anto. Entah kenapa aku nggak suka saja mereka melihat Anto seperti itu. 


"Bu, tutup tirainya" Pintaku pada Ibu. 


"Kenapa?" Tanya ibu. 


"Malu" Ucapku berbohong. 


"Za" Panggil Anto. 


"Iya" 


"Kamu kok bisa sakit?" Tanya nya. 


Tapi aku tak menjawabnya malah memarahinya. 


"Abang kenapa pakai baju seperti ini kesini?" Kesal ku. 

__ADS_1


"Aku lagi di kantor dan Ratih beritahu aku kalau kamu sakit jadi aku langsung kesini, memang kenapa?" Ujarnya. 


"Aku nggak suka saja, semua orang melihat abang" Ucapku dengan merajuk. 


Bahkan aku bisa melihat anto menautkan kedua alisnya saat aku berucap. 


"Aku nggak ngerti Za"


"Abang pakai baju begini ganteng banget" Ucapku sedikit kesal dan malu. 


Anto malah tersenyum bahkan ibu juga tersenyum dan geleng-geleng kepala. 


"Kamu bujuk Za makan, ibu udah capek sekarang ibu mau cari sarapan" Ucap ibu lalu berlalu. 


"Kamu belum makan? Aku suapin ya?"ucapnya.


" Aku nggak mau makan itu"kesalku.


"Kamu mau makan apa, biar aku beli di luar" Ucapnya dengan lembut. 


"Aku pengen rujak" Jawabku. 


"Rujak, ini masih pagi lo" Ujarnya. 


"Ya sudah kalau nggak mau beliin" Marahku. 


Namun tiba-tiba suster datang dan memberi tahu kami kalau sebentar lagi aku akan diperiksa oleh dokter kandungan. 


"Maaf ibu, bapak sebentar lagi dokter kandungannya akan datang" Ucap suster. 


"Iya suster makasih"


Anto langsung menatapku dengan tatapan bingung. 


"Abang kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku. 


"Dokter kandungan, kamu hamil?" Tanyanya.


"Memang Ratih nggak bilang?"


"Nggak"


Aku langsung tepuk jidat aku pikir dia tahu kalau aku sedang hamil. 


"Jadi abang pikir aku sakit biasa?" Anto mengangguk. 


"Aku lagi hamil bang sudah enam minggu dan kamu akan jadi ayah" Ujarku. 


Namun tiba-tiba dia memelukku. 

__ADS_1


"Aku seneng Za" Ujarnya. 


Akhirnya aku di periksa dan alhamdulillah nya janinnya baik-baik saja dan saat siang hari Anto memindahkan ruangan ku ke ruangan Vvip dia bilang agar aku bebas dan tidak akan mengganggu juga. 


__ADS_2