
Setelah aku merasa sehat aku mulai mempersiapkan keperluan untuk membuka butik. Aku akhirnya akan membuka butik untuk baju pengantin karena entah kenapa aku lebih suka membuat gambar untuk baju pengantin. Bagunan yang dulu di beli Anto saat ini sedang diperbaiki sesuai permintaanku. Kalau dulu aku sempat merasa tidak enak karena merasa menyusahkan Anto tapi sekarang aku ingin membuat bangga dia agar keluarganya tidak menilai ku rendah. Aku masih melanjutkan gambarku di sela-sela anakku tidur. Aku juga ingin merawatnya penuh walau Anto menawarkan pengasuh namun aku menolaknya toh aku di rumah hanya diam saja, mungkin nanti jika sudah butuh aku akan bilang padanya. Saat ini aku sedang menunggu anakku tidur sambil menyelesaikan gambarku, namun tiba-tiba Anto pulang dan aku tidak menyadari kalau ini sudah sore.
"Serius banget, sampe-sampe suaminya pulang gak tahu" Ucapnya di belakang ku.
Aku langsung berbalik dan berkata "maaf aku tidak sadar kalau sekarang waktunya kamu pulang"
Anto hanya tersenyum lalu mengusap pipiku.
"Tidak apa kok, aku cuman bercandak" Ucapnya.
Aku pun tersenyum lalu mencium tangannya.
"Aku mau bersih-bersih dulu, tadi dari lokasi jadi kotor banget" Ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.
Aku langsung menyiapkan baju nya dan setelah menyiapkan bajunya ternyata anakku bangun dan aku langsung memberinya susu.
Saat makan malam tiba-tiba mama berkata "Vin, Za, mama sama papa mau ke Bandung dulu kalian tidak apa kan kalau berdua disini?"
"Aku gak apa ma, mama sama papa hati-hati saja disana" Jawabku.
"Iya Za" Jawabnya.
"Ada aps mama sama papa kesana?" Tanya Anto.
"Mama sama papa pengen liburan saja di daerah perkebunan biar dapet udara segar tidak seperti disini sudah tercemar asap kendaraan" Ucap papa.
Aku hanya tersenyum. Setelah makan kami kembali ke kamar dan Anto langsung berkata "tokonya sudah mulai beres, kamu mau lihat, siapa tahu ada yang mau kamu ubah lagi"
"Boleh bang, tapi apa abang ada waktu buat nganterin aku kesana?" Tanyaku.
"Lihat besok dulu ya, kalau jadwal aku gak padat nanti aku kasih tahu kamu" Jawabnya.
Aku pun mengangguk dan tersenyum.
Besoknya saat jam makan siang Anto menghubungiku dan memberitahuku kalau dia bisa mengantarkan aku ke toko dan dia akan menjemputku sebentar lagi. Aku pun segera bersiap dan mendandani anakku. Tak lama Anto datang dan kami pun segera berangkat ke toko. Toko tidak terlalu jauh dari rumah dan cuman lima belas menit pun nyampai. Aku turun sambil menggendong Hana anakku. Kami masuk dan saat masuk aku di buat takjub dengan desain tokonya.
__ADS_1
"Bang bagus banget" Ucapku.
"Kamu suka sayang?" Tanya nya
"Iya bang, makasih ya" Ucapku.
Kami pun keliling dan di belakang aku minta buat ruangan agak luas karena untuk tempat pembuatan baju. Aku memang ingin bajunya dijahit langsung dengan pengawasan ku. Jadi aku bisa melihat prosesnya. Di atas Anto sengaja membuat sebuah ruangan khusu untukku dan ada tempat tidurnya buat Hana nanti. Setelah merasa cukup kami pun pulang namun Anto mengajakku makan di luar karena dia kasihan melihatku berapa minggu ini hanya di rumah, kalau ada mama pasti tidak boleh. Kami makan di restoran yang suasananya tenang agar Hana tidak merasa terganggu. Setelah selesai makan kami akan pulang namun pas di parkiran kami bertemu dengan sahabatnya Davin yaitu Arga.
"Vin" Panggilnya.
Davin melirik dan mereka langsung saling sapa. Namun yang membuat ku aneh dia bersama cewek cantik yang modis bukan cewek yang diceritakan Anto. Setelah merasa cukup berbincang Anto pun langsung mengajakku masuk mobil dan saat di perjalanan karena penasaran akhirnya aku bertanya juga.
"Bang yang tadi mas Arga kan?" Tanyaku.
"Iya kenapa? " Jawabnya.
"Abang bilang dia baru saja menikah sama cewek yang dihamilinya, terus cewek yang tadi siapa?" Tanyaku.
"Arga itu memang begitu apalagi cewek yang dinikahi sedikit dingin sama dia jadi dia cari pelampiasan sama cewek lain"jawabnya.
" Abang juga seperti itu?"tanyaku menggodanya.
"Masa sih bang, dia cantik seksi lagi" Ucapku.
"Seksian kamu, karena cuman aku yang lihat orang gak bisa lihat" Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Abang ih" Kesalku. Malah jadi aku yang dikerjain. Sesampainya di rumah aku langsung menidurkan Hana karena dia sudah tertidur.
Toko pun selesai dan sekarang aku sedang membersihkannya dan di bantu sama anak dari kakak ibu ku nama nya Dina. Aku mulai mengisi barang di ruang atas. Aku pun dibantu Anto karena hari ini hari minggu jadi dia libur.
Seharian ini kami semua disibukan dengan menata toko dan akhirnya beres juga. Setelah beres kami pulang dan tugasku sekarang adalah mencari pekerjaan yang mau bekerja sama denganku untuk menjahit baju rancangan ku. Anto pun membuatkan berita lowongan kerja yang di sebar di sosial media dan aku butuh lima orang tukang jahit karena untuk menjahit baju-baju yang akan aku pajang nanti. Ternyata banyak peminatnya dan mulai besok aku akan menyeleksi orang yang melamar pekerjaan. Akhirnya aku pun mulai mencari orang yang akan mengasuh anakku Hana karena sepertinya aku akan mulai sibuk.
"Za" Panggil mama saat aku sedang membereskan bekas makan.
"Eh ma, ada apa?" Tanyaku.
__ADS_1
"Ada yang mau mama bicarakan sama kamu" Jawabnya.
"Boleh ma, tapi aku beresin ini dulu" Ucapku.
"Biar bibi saja, kamu ikut mama ya! " Ucapnya sambil mengusap tanganku lalu memanggil bibi.
"BI, tolong bereskan ini semua ya, saya mau bicara sama Azizah" Ucapnya pada bibi.
"Iya bu"
Aku pun mengikuti mama ke belakang rumah, mama duduk di gazebo dan aku pun ikut duduk di sebelahnya.
"Apa alasan kamu harus bekerja keras seperti ini?" Tanya mama dengan lembut.
"Maksud mama? " Tanyaku karena tak mengerti.
"Kamu kenapa harus buka butik, punya usaha sendiri, Davin masih bisa membiayai kamu, mama gak mau kalau cucu mama harus kurang kasih sayang dari orang tuanya karena kamu sibuk kerja" Ucapnya.
"Ma, aku lakuin ini bukan karena merasa kurang, aku cuman ingin terlihat pantas buat bersanding dengan bang Davin" Jawabku.
"Maksud kamu? " Tanya mama heran.
"Mama tahu kalau aku bukan dari kalangan sosial seterah dengan mama dan aku tidak mau membuat keluarga mama malu dengan memiliki menantu yang dianggap hanya numpang hidup." Jawabku.
"Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?" Bentak mama.
Aku hanya menunduk dan air mataku sudah jatuh.
"Za, mama sama papa tidak pernah punya pikiran seperti itu, walaupun kamu bukan anak sahabat mama, mama akan tetap Terima kamu apa adanya"ujar mama.
" Aku tahu ma, tapi keluarga mama yang lain belum tentu"ucapku.
Namun tiba-tiba papa datang dan berkata "siapa yang sudah merendahkanmu?"
Aku dan mama langsung melihat ke arah papa.
__ADS_1
"Papa" Ucap mama kaget.
"Kalau memang itu tujuan kamu, papa akan mendukungmu dan kamu buktikan sama orang itu kalau kamu pantas buat Davin.