
"Gue gak tahu tujuan lo apa dengan deketin Tika, karena gue yakin gak kebetulan lo kenal dia" ucap Davin.
"Kenapa sih, lo punya pikiran buruk sama gue, gue sadar dulu gue memang ingin kalahin lo, tapi kalau masalah gue ketemu Tika sekarang itu gak gue rencanakan" balas Topan.
"Gue gak percaya" kata Davin.
"Oke terserah lo mau percaya atau gak, cuman gue bersyukur sekarang gue ketemu lo disini, gue mau bilang maaf sama lo karena dulu gue rebut Nisa dari lo, tapi harusnya lo bersyukur karena lo gak sama dia" ucapnya dan langsung pergi.
Aku tak sempat pergi karena Topan keburu melihatku. Dia berjalan ke dekatku dan dia berhenti di hadapan ku.
"Lo tanyakan sama suami lo, apa dia sudah sepenuh hati cinta sama lo" ucapnya dingin lalu pergi.
Saat aku melihat ke arah Davin, Davin pun melihat ke arahku dan berjalan mendekat.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya nya setelah di hadapan ku.
"Dia cuman menyuruh ku untuk menanyakan apa kamu sudah sepenuh hati cinta sama aku?" jawabku.
Davin tidak menjawab terlihat kaget saat aku mengatakan itu. Karena aku tidak mau mempermasalahkan semuanya aku pun pergi dan Davin mengikuti ku. Aku langsung pamit pada Tika karena sudah lama juga aku pergi ninggalin Hana. Selama di jalan Davin benar-benar diam dia tidak berkata apa-apa dan itu membuat aku banyak pertanyaan. Namun ini bukan saatnya aku pertanyakan biarkan seperti ini dulu. Sesampainya di rumah aku mendengar Hana menangis, aku langsung masuk dan saat aku masuk Hana langsung berlari ke pelukan ku.
"Ada apa sayang?" tanya ku sambil berjongkok.
"Hana ingin sama mama" jawabnya
Sikap Hana seperti ini pasti karena hati dan pikiranku yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ya sudah Hana ikut mama ya" ucapku dan langsung menuntunnya masuk kamar. Aku mengganti bajuku dan langsung mengajak Hana main di luar namun saat aku akan keluar Davin masuk dia menatapku dan aku langsung pergi. Hana bermain boneka di gazebo di belakang rumah dan aku hanya temannya saja dengan pikiranku yang tidak tenang.
"Kamu mikirin apa Za? " tanya ibu tiba-tiba.
"Eh ibu bikin kaget saja" ucapku sambil mengelus dada.
"Ibu lihat sepulang dari nikahan Tika kamu sepertinya mikirin sesuatu" ucap Ibu.
__ADS_1
Aku pun tersenyum lalu berkata "ada hal yang mengganjal di pikiranku bu, tapi aku bingung ungkapkan nya. "
"Kalau ada masalah coba kalian bicarakan dengan kepala dingin jangan sampai malah membuat masalah kalian semakin besar" nasihat ibu.
"Iya bu" jawab ku.
"Masalah sebesar apa pun pasti akan ada jalan keluarnya" ucap Ibu dengan lembut.
Sorenya aku bersikap seperti biasa seperti tidak ada masalah karena aku tidak mau membuat semua keluarga besar ku tahu kalau aku sedang ada masalah. Namun tiba-tiba saat Ratih pulang dari rumah mertuanya dia langsung menghampiriku dan memberitahu ku berita yang sangat mengejutkan.
"Teh ini maksudnya apa?" tanya Ratih padaku sambil menu bukan ponselnya.
Aku pun mengambil ponsel Ratih dan membacanya.
"seorang pengusaha muda sukses Davin Julianto yang sudah lama tak terlihat sekarang dia menghadiri pernikahan Topan Wijaya yang di sebut sebagai saingannya bersama wanita cantik berhijab, kemana kah model cantik Anisa sekarang? "..... isi berita itu.
" Kamu tanya saja Davin! "titah ku
" Teh" panggilnya.
Ibu langsung memberi kode pada Ratih untuk pergi dan aku melanjutkan kegiatanku yang sedang masak. Namun karena pikiranku yang tidak tenang malah membuat semuanya kacau.
"Za, kamu tenangkan dulu dirimu biar ibu yang masak" ucap ibu menyuruh ku pergi.
"Maaf Bu" ucapku.
Ibu hanya mengangguk dan aku langsung masuk kamar dan menangis karena jujur aku juga kepikiran ucapan Topan siang tadi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan saat ku lihat itu Davin.
"Za" panggilnya.
Aku diam tak menjawab.
"Aku jelaskan semuanya. " ucapnya sambil jongkok di hadapan ku.
__ADS_1
Aku hanya menatapnya tak ada yang aku katakan.
"Nisa itu mantan aku, dulu aku sangat mencintainya namun dia malah mengkhianati ku bersama Topan saingan ku. Namun perasaanku sama dia tidak semudah itu aku lupakan. Bahkan saat aku mulai deketin kamu perasaan itu masih ada, walau dulu niatku deketin kamu hanya main-main tapi karena kabar aku deketin sama kamu sudah sampai di telinga mama jadi aku tidak bisa mundur lagi apa lagi saat kamu menantang aku untuk nikahin kamu dan aku bersedia aku benar-benar gak bisa mundur. Namun perasaan itu mulai hilang dari hatiku dan aku mulai sayang dan cinta sama kamu. Tapi berapa hari lalu aku bertemu lagi dengan dia saat aku akan makan siang dengan klien ku"ceritanya dan saat aku dengar dia bertemu lagi aku langsung melihat ke arahnya.
"Dia mulai deketin aku dan sering mengajak ku bertemu dia juga menceritakan kalau Topan mengkhianatinya bahkan dia tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilannya. Makanya saat aku tahu kalau Tika nikah dengan Topan aku marah karena dia tidak mau bertanggung jawab dengan perbuatannya." lanjutnya.
"Terus apa jawaban Topan?" tanya ku.
"Dia tidak mengakuinya" jawabnya.
"Lalu kalau Topan tidak mau bertanggung jawab apa yang akan kamu lakukan? kamu yang akan bertanggung jawab?" bentak ku.
"Za" panggilnya.
"Kamu tahu berita di luar sana sudah menganggap kehamilan tuh cewek perbuatan kamu" ucap ku lagi.
Davin diam tidak berkata apa-apa.
"Kalau kamu masih cinta sama dia, aku mundur" ujar ku dengan hati yang sakit.
Davin benar-benar diam seolah-olah mengiyakan ucapan ku.
"Aku kecewa sama kami" ucapku lalu keluar dari kamar itu dan masuk kamar Irfan yang kosong.
Aku duduk di sebelah tempat tidur Irfan dan berkata "Cobaan apa lagi yang kau berikan padaku ya Allah".
Sakit banget hati ini melihat orang yang kita cintai mengkhianati kita. Aku pergi ke kamar mandi dan berwudhu karena dengan melaksanakan sholat dan berdoa keduanya hatiku bisa tenang. Aku menangis dia atas sajadah sampai akhirnya aku tertidur bahkan aku tidak tahu siapa yang memindahkan aku ke atas tempat tidur karena saat aku bangun aku sudah di atas tempat tidurnya Irfan. Aku bangun dan turun dari tempat tidur dan saat aku keluar aku melihat Irfan tidur di kursi ruang tamu.
Aku melangkah mendekati Irfan.
"Dan bangun, pindah sana ke kamar kamu" kataku.
Irfan oun bangun "eh teh udah bangun ya" ucapnya sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Pindah sana mung-pung masih pagi, maaf ya buat kamu tidur di sini" ucapku.
Irfan hanya mengangguk lalu pergi masuk ke kamarnya.