
Setelah menghubungi bang Romi aku jadi tenang. malam ini kami kedatangan mbak Rina dan bang Al jadi kami makan malam bersama namun setelah makan mbak Rina ngajak ku bicara. Di sini lah sekarang kami di depan rumah.
"Za, ini buku kamu?" Tanya nya sambil memberikan sebuah buku.
"Mbak temukan dimana? Aku udah lama lo nyari-nyari buku ini" Ucapku sambil mengambil bukunya.
"Kemarin saat karyawan mbak membereskan meja kamu dia menemukan itu" Jawabnya.
"Oh".
" Kamu bisa gambar itu dari mana?"tanya nya
"Belajar sendiri mbak, aku kan cita-citanya ingin jadi desainer mbak, namun gak kesampean."ucapku.
" Kamu ini"
"Beneran mbak, makanya aku kerja di tempat mbak ingin belajar" Ujarku.
Namun tak lama Anto menghampiri kami.
"Ada apa kok kalian ketawa-ketawa gitu?" Tanya nya
"Dih mau tahu aja" Jawab mbak Rina dan aku hanya tersenyum.
"Yey"
"Udah ah, mbak mau masuk dah ngantuk, kamu juga tidur banyak istirahat" Ucapnya.
Aku hanya tersenyum.
"Ayo tidur" Ajak Anto.
Aku pun menurutinya dan masuk kamar istirahat.
Namun besoknya Anto bertanya sama aku tentang buku yang di berikan mbak Rina, dan dia bertanya apa aku ingin kuliah lagi untuk melanjutkan cita-citanya namun aku tolak karena aku ingin fokus mengurus anakku. Namun Anto membujukku untuk mengembangkan bakat ku. Dia bilang aku bisa kursus atau buka konveksi dan toko baju.
Setelah aku pikir-pikir akhirnya aku ingin buka butik kaya mbak Rina tapi aku ingin khusus baju pengantin. Anto dan keluarganya mendukungku namun Anto melarang ku jangan terlalu capek. Setelah semuanya sepakat sekarang aku dan Anto mencari ruko yang cocok buat buka butik. Setelah menemukannya sekarang tinggal merenovasi saja. Usia kandungan ku sudah memasuki tujuh bulan dan saat ini aku sedang memeriksa kandungan ku bersama mama karena Anto sibuk.
Mama senang setelah mengetahui kondisi bayinya sehat dan jenis kelaminnya laki-laki.
Kami pulang dan mama langsung menunjukan foto USG ku pada papa. Aku senang melihat kedua wajah mertuaku yang bahagia atas kehamilanku.
__ADS_1
Malamnya Anto pulang dan dia minta izin untuk mengantar Arga ke Bogor menemui calon istrinya. Anto pun menceritakan kalau Arga ingin bertanggung jawab atas perbuatannya pada cewek yang selama ini dia suka.
"Tapi abang jangan lama-lama disana ya?" Ucapku dengan manja.
"Iya sayang kalau sudah beres aku langsung pulang dan tinggalin Arga disana" Ucapnya.
"Kenapa harus abang,kan ada Rival sama Romi"tanya ku.
" Mereka lagi sibuk jadi gak bisa"jawabnya.
"Ya sudah iya deh, bang anak kita jenis kelaminnya cowok" Beritahu ku
"Cowok, serius kamu?"senang nya
Aku pun mengangguk. Anto langsung memelukku.
Sorenya Anto benar-benar pergi bersama Arga dan aku sedih karena harus di tinggal Anto. Malamnya aku hanya bisa menangis karena biasanya aku di peluk kalau tidur. Aku juga kadang merasa aneh semenjak hamil aku jadi cengeng dan manja sama Anto, apa ini pengaruh bayi yang ada di kandungan ku atau memang aku mulai nyaman sama dia.
Namun Anto sudah tiga hari disana belum kembali bahkan mama sampai menanyakan
"Suami mu kapan pulang Za? "
"Harusnya kemarin ma, namun Arga minta bantuin buat ngurusin surat pernikahannya" Jawabku.
"Iya ma, karena ceweknya udah hamil empat bulan" Jawabku.
Anto berjanji malam ini akan pulang namun aku tunggu dia gak pulang-pulang sampai aku ketiduran. Namun saat bangun pagi-pagi aku merasakan seseorang memelukku dan saat aku buka mata ternyata Anto sudah pulang dan tidur di sebelahku. Aku tidak tahu dia pulang jam berapa. Aku pun membangunkannya untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat Anto tidur lagi dan aku turun ke bawah bantu bibi menyiapkan sarapan.
"Neng Za duduk saja biar bibi yang kerjakan" Ucapnya.
"Gak apa-apa bi, aku ingin buatkan bang Davin sarapan" Ujarku.
"Nanti neng capek, mending duduk saja" Titahnya.
Akhirnya aku cuman suruh bibi buatkan nasi goreng saja. Tak lama Anto turun bahkan mama zaman papa juga sudah ada di meja makan.
"Vin kamu pulang jam berapa semalam?" Tanya mama.
"Jam dua belas ma" Jawabnya laku minum kopi.
"Urusan Arga sudah beres?" Tanya nya lagi.
__ADS_1
"Sudah ma, dia sekarang sudah menikah, tinggal ngadepin keluarganya saja"ujarnya.
" Maksudnya bang?"tanyaku karena gak ngerti.
Anto pun menjelaskan kalau Arga sebentar lagi akan dijodohkan namun karena dia baru dapat kabar kalau cewek yang dia suka hamil dan dia langsung menikahinya tanpa sepengetahuan orang tua.
Setelah sarapan Anto berangkat kerja namun saat siang hari ada cewek cantik yang bertamu ke rumah mama.
"Siang tante" Ucapnya menyapa mama yang sedang mengobrol denganku.
"Tania, apa kabar, kapan pulang?" Tanya mama.
"Dua hari yang lalu tante, tapi baru kesini" Jawabnya. Lalu dia melirik dan menunjuk ku seolah-olah bertanya pada mama.
"Dia ini istrinya Davin" Ucap mama.
"Istri" Kagetnya.
Mama pun mengangguk.
"Mama kok gak bilang kalau Davin sudah menikah" Ucapnya.
"Ya tante gak tau sayang" Jawab mama.
"Aku pulang kan tadinya mau Terima tawaran mama sama tante yang dulu mau jodohin aku sama Davin" Ucapnya.
Aku kaget mendengar ucapan wanita itu, dia cewek yang akan di jodohkan sama Davin dulu. Aku melihatnya dari atas sampai bawah dia sempurna dan aku hanya seperti ini. Mama menyuruhku masuk karena dia ingin berbicara dengan wanita itu. Aku masuk kamar dan di kamar aku menangis karena aku takut wanita itu akan merebut Anto dari ku. Aku pun menghubunginya dan memberi tahunya kalau wanita yang bernama Tania mencarinya. Anto langung menghubungiku dan meminta penjelasan ku karena tidak mengerti. Namun karena aku sudah kesal jadi aku membiarkannya. Namun Anto langsung pulang mungkin dia merasa aku marah.
"Za, ada apa?" tanya nya setelah pulang.
aku diam saja dan tak terasa air mataku keluar.
"Za, jangan nangis, aku benar-benar gak ngerti" ucapnya.
Namun tiba-tiba mama mengetuk pintu kamar dan memanggil Anti. Anto pun membuka pintu dan mama langsung berkata "Vin, ada Tania datang cari kamu"
Aku langsung membalikan badan dari hadapan mama karena takut ketahuan aku menangis.
"ngapain dia kesini ma?" tanya Davin.
"Dia ingin bertemu dengan mu" jawab mama.
__ADS_1
"Aku gak bisa ma, suruh dia pulang saja" ucap Davin.
itu yang aku dengar karena tak lama suara mereka menghilang dan pintu pun di tutup. Saat aku berbalik Anto di belakang ku, dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.