
Rindu tampak sibuk dengan dokumen-dokumen di meja kerjanya, banyak laporan yang harus dia selesaikan dengan segera, sejenak dia bisa melupakan tentang Tajuk yang tadi malam sudah menginap di tempat kostnya, Rindu memang terkenal dengan profesionalnya di saat sedang bekerja, dia bisa mengesampingkan masalah pribadinya di saat dia bekerja.
"Rind!! Ini dokumen yang harus di ubah untuk meeting besok." Kata Mitha sambil menaruh dokumen di atas meja kerjanya.
"Ok siap." Jawab Rindu sambil mengetik dan matanya tetap pada komputer di depannya.
"Rind!! Aku masih penasaran deh, sebenarnya ada apa antara kamu dengan si big boss." Tanya Mitha. Mendengar pertanyaan Mitha, Rindu sejenak menghentikan aktifitasnya, dan menghela nafas, sebelum akhirnya dia menjawab
"Memangnya harus ada apa Mitha? kamu kan tahu sendiri aku di sini masih baru, ketemu dengan Tuan Taj juga baru sekali kemarin waktu dia Sidak kesini bukan?" Jelas Rindu sedikit menutupi kebenaran tentang hubungannya dengan Tajuk.
"Iya juga sih, cuman aneh aja Rind, seorang CEO yang dinginnya mengalahkan kutub es itu kok tiba-tiba mendekati kamu, dan dia makan bareng di meja yang sama dengan kita di kantin, bahkan kemarin Tuan Taj makan bekal punyamu lagi, kan nggak banget deh Rind kalau kamu bilang gak ada apa-apa." Kata Mitha menyelidik ke arah Rindu.
"Ya mana aku tahu Mitha, udah ah, aku mau lanjut kerja nih, kalau kamu ajak ngrumpi terus kapan aku selesainya?" Jawab Rindu ingin menghindari pertanyaan Mitha yang semakin mendalam.
"Iya deh iya, aku kembali ke meja kerjaku." Kata Mitha yang akhirnya berjalan ke meja kerjanya.
'Seandainya kamu tahu Mith, bahwa aku adalah mantan istrinya.' Batin Rindu. Setelah menghela nafas panjangnya Rindu kembali mengerjakan pekerjaannya, karena memang sedang di kejar deadline.
Tanpa sepengetahuan Rindu ternyata di bawah meja kerjanya sudah di pasang alat penyadap suara, bahkan di ruangan departemen keuangan kini sudah di pasang CCTV tambahan, yang mengarah ke meja kerja Rindu.
Sehingga Tajuk bisa mendengar dan melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan oleh Rindu ketika dia sedang bekerja, entah mulai kapan CCTV dan penyadap suara itu di pasang, namun yang jelas pagi ini alat itu sudah bekerja dengan baik.
Tentu saja itu adalah ulahnya Joe, orang kepercayaan Tajuk, tadi malam Joe sengaja lembur dengan beberapa teknisi untuk melakukannya, supaya pekerjaannya jadi lebih mudah untuk mencari informasi tentang Rindu.
"Jadi kamu masih menyembunyikan tentangku pada temanmu sweetheart, Ok, baiklah aku akan ikuti kemauanmu." Kata Tajuk sambil tersenyum.
Jam makan siang pun tiba, karena tidak membawa bekal Rindu mengajak Mitha makan di kantin lantai bawah, mencari masakan padang yang menjadi langganannya.
"Mith!! Makan di kantin bawah yuk." Ajak Rindu dengan nada manjanya.
"Tumben, apa kamu gak bawa bekal?" Tanya Mitha.
"Tadi aku kesiangan bangun, jadi malas mau masaknya." Kata Rindu berbohong.
"Oh!! Ya sudah yuk." Kata Mitha.
Mereka berdua pun berjalan menuju kantin lantai bawah yang berada di dekat kantor, setelah memesan makanan mereka duduk di kursi yang masih kosong.
Tajuk yang sudah tahu kalau Rindu di kantin bawah, karena bantuan alat penyadap dan CCTV, mengajak Joe untuk ikut dengannya ke kantin bawah.
"Rind!! Entar malam ada acara gak?" Tanya Mitha.
"Ga ada sich, emang kenapa?" Tanya Mitha penasaran.
__ADS_1
"Anak-anak ngajakin koro-koro tadi, termasuk Bu inggrid juga, ikutan yuk." Ajak Mitha dengan manjanya.
"Pasti ikutan dong kalau mau koro-koro." Kata Bram yang nyamperin mereka dan duduk di samping Rindu sambil merangkul bahunya.
"Tuch tangan jangan asal nemplok aja kayak cicak ya!! Ingat bukan muhrim." Kata Rindu.
"Hahaha, syukurin tuh, makanya punya tangan harus tahu sopan santun." Mitha tertawa melihat Bram kena omelan dari Rindu untuk kesekian kalinya.
"Santai, santai, jangan marah-marah yang." Kata Bram lalu dia melepas tangannya dari bahu Rindu, yang masih asyik dengan makanannya.
"Boleh saya gabung dengan kalian?" Kata Tajuk yang baru datang dengan mengagetkan mereka bertiga.
"Oh!! Silahkan Tuan." Kata Bram, lalu dia beranjak dan duduk di samping Mitha tanpa di komando. Rindu yang melihat kedatangan Tajuk merasa sedikit terkejut, tapi dia tidak menunjukkannya, dia pun melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Tajuk yang duduk di sampingnya.
'Kok mas Tajuk bisa ada di sini sih, kebetulan lagi kah? atau sengaja mata-matain aku?' Baatin Rindu.
Seketika suasana jadi canggung, secara boss yang terkenal dingin itu tiba-tiba ada di depan mereka ber tiga, makanan pesanan Bram pun telah tiba.
"Tuan mau makan apa?, biar saya pesankan." Tanya Joe.
Tajuk tidak mengindahkan pertanyaan Joe, namun dia yang merasa di abaikan oleh Rindu, justru melihat ke arah Rindu yang sedang asyik menikmati makanannya.
"Itu apa yang kamu makan?." Tanya Tajuk melihat nasi yang sudah bercampur lauk di depan Rindu yang memang masih banyak karena baru beberapa sendok di makan olehnya.
"Hah!! Maksud Tuan Taj?" Tanya Rindu yang kebingungan dengan pertanyaan Tajuk, sambil melihat ke arah Tajuk di sampingnya.
"Aku tanya, kamu sedang makan apa?" Kata Tajuk sambil tersenyum lalu mengacak pucuk rambut Rindu.
"Apa Tuan tidak bisa lihat, jika saya sedang makan nasi." Kata Rindu tanpa ekspresi. Dan melanjutkan makannya.
Mitha dan Bram saat ini benar-benar terkejut dengan sikap Tajuk, sungguh ini pemandangan langka.
"Kamu pesan lagi sana, biar yang ini buat aku." Kata Tajuk. Dia pun meraih piring yang ada di depan Rindu.
"Eh, apa-apaan sih, kan Tuan bisa pesan makanan sendiri, kenapa mengambil punya saya." Kata Rindu seakan tak terima jika makanan yang dia makan kini di ambil oleh Tajuk.
"Ini sudah jadi milikku, jadi biarkan aku makan siang dengan tenang." Kata Tajuk pelan sambil tersenyum dengan menekan kata-katanya supaya Rindu mau mengalah.
"Ck, baiklah Tuan Tajuk yang terhormat." Kata Rindu dengan kesal, lalu dia beranjak memesan makan lagi, Melihat hal itu tentu saja Tajuk tersenyum penuh kemenangan.
Sumpah demi apapun di bumi ini, Mitha dan Bram mereka berdua benar-benar shock melihat tingkah CEOnya tersebut, apa lagi mereka melihat CEOnya tersenyum walau tidak terlalu terlihat, sungguh itu adalah pemandangan yang sangat langka selama mereka bekerja di perusahaan ini.
"Kenapa kalian bengong aja?" Kata Tajuk pada Mitha dan Bram.
__ADS_1
"Hah!!" Jawab Mitha dan Bram kompak.
"Makan." Kata Tajuk menunjuk dengan dagunya ke arah piring mereka berdua.
"I-iya tuan." Jawab Mitha.
Mereka pun makan dengan suasana yang canggung termasuk juga Bram. Sedangkan Joe duduk di kursi belakang Tajuk, dia makan dengan lahapnya tanpa bersuara karena memang sedang lapar.
Rindu yang baru datang dengan membawa piring berisi nasi dengan lauk rendang serta sayur daun ubi itu duduk di samping Tajuk.
"Lama amat Rind?." Tanya Mitha.
"Antri dulu." kata rindu.
Tajuk melirik Rindu yang duduk di sampingnya, senyum kembali terlihat di sudut bibirnya. Setelah mereka semua selesai makan, Mereka ngobrol di tempat itu menghabiskan waktu jam makan siang, entah apa yang membuat mereka betah duduk bangku itu.
"Rind!! Nanti aku jemput ya." Kata Mitha.
"Hhmm boleh." Kata Rindu sambil meminum jusnya. Tajuk hanya diam sambil memainkan ponselnya, entah apa yang sedang di ketiknya saat ini.
"Kalian mau kemana?" Tanya Bram.
"Kami mau koro-koro mumpung nanti pulang cepat." Kata Mitha.
Mendengar kata Mitha yang ada di depannya itu membuat Tajuk menghentikan jarinya dan melirik ke arah Rindu, yang masih asyik dengan minumannya sambil di aduk menggunakan sedotan.
"Dengan siapa aja kalian pergi?" Tanya Tajuk dengan nada datarnya.
'Pasti Mas Tajuk sedang merencanakan sesuatu.' Batin Rindu, ia pun menoleh ke arah Tajuk.
"Divisi keuangan, semua ikut kok Tuan Taj." Kata Mitha ragu-ragu.
"Yang!! Apa kamu juga ikut?" Tanya Bram melihat ke arah Rindu.
"Hah!! Iya, kan tadi Mitha bilang mau jemput." Jawab Rindu.
Sekilas tatapan Rindu beradu dengan Tajuk, sebelum akhirnya Rindu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Tajuk melirik ke arah Bram, tatapan tajamnya membuat Bram seakan merinding dan membeku di tempat itu, Bram mencium aroma ketidak senangan Tajuk saat ini.
Setelah selesai makan dan juga jam kerja mereka sudah waktunya masuk mereka semua masuk kantor dan kembali melaksakan pekerjaannya masing-masing.
Pikiran Tajuk sungguh kacau karena obrolannya dengan teman-teman kerja Rindu tadi di jam makan siang, apa lagi Bram yang memanggil Rindu dengan sebutan 'yang' membuat darah panas mengalir di dalam tubuh Tajuk saat ini.
__ADS_1
☆Bersambung ke eps 11 ya☆