
Sebenarnya Tajuk merasa kurang nyaman dengan keberadaan Susan, walau bagaimana pun Susan adalah orang yang terang-terangan menyukainya dari dulu.
"Maaf Kak Al, aku terlambat." Ucap seseorang yang baru saja datang.
Seketika ketiga orang itu menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka, Tajuk sangat terkejut ketika melihat siapa yang datang saat ini.
"Oh akhirnya kamu datang juga, sini gabung, acara belum mulai juga kok." Jawab Alvian dengan senyum bahagianya.
Dengan langkah ragu-ragu kedua orang wanita yang baru saja datang itu melangkah masuk ke dalam, namun Tajuk terlihat begitu marah melihat kedatangan orang tersebut.
'Jadi dia mau bertemu dengan Al, pantas saja tadi dia terlihat bahagia.' Batin Tajuk dengan wajah penuh emosi. Pandangannya tidak lepas dari Rindu, dan itu membuat Rindu tidak nyaman.
Dan dugaan kalian tepat sekali jika yang datang adalah Rindu dan Mitha, karena tadi setelah makan bersama, Rindu mendapat telepon dari Alfian jika ingin mengundangnya untuk berkumpul di sebuah Club.
Rindu tidak dapat menolaknya, karena Rindu berniat ingin memberitahu bahwa sebenarnya dia sudah bertemu dengan orang yang selama ini di kiranya adalah mantan suami, dan Rindu ingin menjelaskannya pada Alfian bahwa sesungguhnya mereka belum bercerai.
Rindu tidak mau di Cap sebagai wanita yang tidak baik, atau di cap sebagai wanita yang menyelingkuhi suaminya, namun kenyataan malam ini membuat Rindu tercekat, dia melihat wanita yang tadi membuat jam kerjanya molor gara-gara kedatangannya ke kantor sedang duduk di samping suaminya.
Wait, ralat-ralat mungkin saat ini peran Tajuk adalah sebagai bossnya, ya benar, Lebih tepatnya Wanita itu duduk di samping bossnya yang terlihat sangat akrab.
'Mampus, kenapa ada big boss di sini, bisa jadi perang dunia ke dunia nih nanti.' Batin Mitha yang melihat sekilas tatapan tajam Tajuk yang mengarah ke Rindu.
Rindu dan Mitha duduk di sofa dekat Alfian, suasana di dalam terasa sangat horor bagi Mitha saat ini, karena dia melihat perang dingin antara big bossnya dengan sahabatnya. Sama halnya dengan Rindu saat ini yang merasa tidak nyaman satu ruangan dengan wanita itu, yang tak lain adalah Susan.
"Ga nyangka kita bertemu lagi," Ucap Susan dengan melirik sekilas pada Rindu dan Mitha.
"Iya Nona, kebetulan sekali." Ucap Rindu sopan. Tatapan mata Tajuk tidak lepas darinya, sehingga membuat Rindu semakin canggung.
__ADS_1
"Jadi kalian sudah saling kenal?" Tanya Alfian.
"Dia sekretarisnya Tajuk, dan tadi sempat ketemu di kantor Tajuk, iya kan, Taj?" Ucap Susan.
"Uhuk-uhuk."
"A-apa, sekretaris Taj?" Ucap Alfian sambil menatap Tajuk dan kemudian gantian menatap Rindu. Tajuk tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dia hanya diam saja.
"Iya kak, aku sekretaris tuan Taj sekarang, itu pun baru beberapa hari ini." Jawab Rindu bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Mitha semakin terlihat tidak nyaman dengan situasi di dalam ruangan saat ini, entah sandiwara apa yang sedang di mainkan para boss besar saat ini, yang jelas saat ini perang dingin antara sang big bos dengan sahabatnya sedang berlangsung. Sehingga suhu ruangan menjadi tidak begitu baik untuk bernafas saat ini.
"Oh begitu, bagus dong jadi aku bisa sering-sering mengunjungimu di kantor Tajuk." Ucap Alfian.
Tatapan tajam Tajuk semakin membuat Rindu merasa tidak nyaman, tapi bukankah Tajuk sendiri juga dekat dengan wanita itu? Lantas kenapa dia merasa tidak senang dengan Alfian yang hanya berteman dengan Rindu?.
"Jangan coba-coba mengganggu Rindu di kantorku, Al." Ucap Tajuk seakan sedang mengancam Alfian.
'Apa maksud dari mas Tajuk? Apa dia ingin mempublikasikan hubungan kita?' Batin Rindu. Tentu saja wajahnya sudah terlihat pucat bagaikan mayat hidup, dan itu tadi tidak luput dari penglihatan Tajuk yang terus memperhatikannya.
"Dia sekretarisku, jadi sebaiknya jangan ganggu dia, pekerjaannya akan terganggu dengan kehadiranmu." Ucap Tajuk. Untuk mengalihkan perhatian Alfian. Karena Tajuk yakin jika Rindu akan marah jika Tajuk memberitahukan hubungan mereka ke publik.
Sebenarnya Tajuk memang terlihat sangat cemburu dengan perlakuan Alfian pada Rindu. Namun Tajuk akan mencoba untuk menahannya, toh yang di lihatnya Rindu tidaklah menanggapi perasaan Alfian.
'Huft, syukurlah jika mas Tajuk tidak memberitahu kak Alfian, biar aku sendiri saja yang memberi tahu dia.' Batin Rindu.
"Hahaha, baiklah-baiklah aku tidak akan menggangu di saat jam kerjamu, Rin." Ucap Alfian diiringi gelak tawanya.
__ADS_1
"Kita mau menunggu siapa lagi?" Tanya Susan.
"Tidak ada lagi, sebaiknya kita segera mulai acara minum bersama ini." Ucap Alfian.
Semua terlihat begitu antusias dengan minuman yang sedang di buka oleh Alfian, Mitha pun tanpa canggung lagi menenggak minumannya yang sudah di tuang oleh Alfian ke gelasnya.
Sedangkan Rindu hanya menyesapnya sedikit lalu menaruh gelasnya di meja, Alfian yang akan berdiri dan berjalan ke sofa dekat Rindu, mengurungkan niatnya karena Tajuk yang sudah duluan duduk di samping Rindu.
Entah kenapa perasaan kesal Rindu tiba-tiba muncul, apalagi Rindu tahu jika Susan kelihatannya mencintai Tajuk. Namun Tajuk tidak menghiraukan tatapan tajam Rindu padanya, yang Tajuk tahu, dia tidak rela jika Alfian yang duduk di samping Rindu.
Mereka semua akhirnya terhanyut dalam suasana yang nyaman untuk minum, bahkan Tajuk tidak segan-segan merangkul kan tangannya di bahu Rindu. Baik Alfian dan Susan tidak menyadari hal itu, karena mereka sedang asyik berbincang.
"Malam ini jangan harap akan lewat dengan mudah, sweetheart." Bisik Tajuk lirih didekat telinga Rindu.
Seketika Rindu menoleh kearah Tajuk, melihat wajah Tajuk memperhatikan wajah itu dalam-dalam. Namun Tajuk hanya tersenyum dan acuh dengan tatapan Rindu.
Baru beberapa botol minum, baik Alfian dan Susan sudah tumbang, mereka mabuk sehingga menceracau tidak jelas, sedangkan Mitha yang masih sadar, membawa mereka untuk ke mobilnya masing-masing.
Sedangkan Tajuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia membopong tubuh Rindu yang setengah mabuk itu ke dalam mobilnya.
"Kenapa kamu ikut-ikutan minum kalau minum sedikit saja sudah mabuk." Gumam Tajuk.
"Mitha, kamu antarkan Al ke apartemennya, biarkan mobilnya di ambil sopir." Perintah Tajuk.
"Baik Tuan." Jawab Mitha.
Akhirnya Mitha mengantarkan Alfian menuju ke apartemennya, Alfian yang mabuk ini sulit sekali di kendalikan, mulutnya sulit sekali di kontrol. Namun Mitha dengan sabar membantu Alfian.
__ADS_1
Sedangkan Tajuk mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen miliknya, sesekali Tajuk tersenyum melihat sang istri yang duduk di sampingnya menceracau karena mabuk.
Bersambung