Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Kenapa dengan Alfian?


__ADS_3

Padahal Tajuk hanya ingin menikmati lebih banyak waktunya dengan Rindu di apartemen, dari pada pergi keluar. Di tambah lagi Tajuk tidak menyukai tempat yang begitu ramai dan berisik.


Malam itu sesuai janji temu, Bram menjemput Mitha tepat jam 8 malam, kemudian mereka berdua dengan membawa mobil Mitha pergi ke sebuah mall di kota Jakarta.


Sebuah gedung bioskop menjadi target untuk mereka datangi, lalu Bram berjalan menuju tempat penjualan tiket, antri di antara deretan pembeli tiket yang lain.


Setelah mendapatkan 2 buah tiket, kini Bram berjalan menuju penjual popcorn untuk membeli camilan dan juga air mineral.


Mitha menunggu di kursi tunggu, sambil memainkan ponselnya. Chatting dengan Rindu termasuk salah satu rutinitasnya yang tak pernah terpisahkan.


Drrt drrtt drrt!!


Di sela-sela kesibukannya chatting dengan Rindu, Mitha di kejutkan dengan adanya sebuah panggilan masuk, dan ternyata itu adalah nomor klub malam yang biasa menelponnya.


'Ada apa lagi sih? Pasti tuan Al mabuk lagi.' batin Mitha.


"Ya hallo,"


"Nona, pacar anda kembali berulah, dia mabuk di klub, dan seperti biasanya, tolong jemput dia dan bawa dia keluar dari sini." Ucap orang di seberang telepon.


Mitha menghela nafasnya dalam-dalam, sebelum Mitha memberikan jawaban. Karena jujur saja Mitha bingung apa yang harus dia lakukan dengan Alfian kali ini. Karena Mitha tidak ingin terlibat apapun lagi soal Alfian.


"Oh baiklah, sebentar lagi saya ke sana." Ucap Mitha. Kemudian mematikan panggilan telepon itu.


Mitha terlihat bingung, menimbang-nimbang apakah harus datang ke klub malam itu lagi atau tidak.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebaiknya aku jaga jarak dengan tuan Al, terlalu dekat dengannya tidak baik bagi kesehatan jantungku. Dan dengan menjauhi tuan Al, maka aku tidak akan terlibat masalah apapun dengannya nanti.' batin Mitha.


Lalu Mitha mengetikkan sesuatu di layar ponselnya, entah apa yang sedang di ketiknya? Tapi sepertinya itu adalah keputusan yang tepat bagi Mitha.


Tidak lama setelah itu, Bram datang menghampiri Mitha dengan membawa 1 kotak besar popcorn dan juga 2 botol minuman air mineral.


"Ini bantu bawa Mit," ucap Bram menyerahkan popcorn, sedangkan Bram membawa air minumnya.


"Eh Bram, Rindu bilang mau datang dan ikut nonton bareng kita, sebaiknya kita tunggu dia dan suaminya datang."


"Hah! Mereka mau nonton bareng kita? Kok bisa? Terus tiket nontonnya gimana?" Tanya Bram yang terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Udah kamu antri lagi sana, beli tiketnya yang kursinya dekat-dekatan ama kita ya." Ucap Mitha. Sedikit mendorong tubuh Bram supaya mau mengantrikan tiket untuk Rindu dan Tajuk.


"Ck, kok mendadak sih, kenapa tadi waktu di kantor dia gak bilang sekalian?" Gerutu Bram, yang masih juga belum bergerak dari tempatnya berdiri.


"Mungkin tadi Rindu masih berpikir dulu, gimana caranya mengajak suaminya yang super sibuk itu," ucap Mitha. "Udah sana, jangan ngeluh terus, antriin tiketnya." Ucap Mitha sambil kembali mendorong tubuh Bram supaya antri beli tiket ke depan.


Dengan wajah penuh kesal, Bram mau tidak mau, akhirnya antri untuk membeli dua tiket buat Rindu dan suaminya. Setelah itu Bram juga membelikan minuman dan camilannya juga. Pokoknya paket komplit yang di berikan oleh Bram buat Rindu, sahabat sekaligus wanita yang pernah di cintainya, sebelum dia tahu bahwa Rindu adalah istri dari bosnya.


Setelah mendapatkan apa yang di cari, Bram pun berjalan menghampiri Mitha yang kini sudah bersama dengan Rindu dan juga Tajuk.


"Ini Rin tiketnya, bangku kalian di depan kita." Ucap Bram dengan memberikannya tiket buat Rindu. "Dan ini makanan dan minuman buat kalian habiskan di dalam nanti."


"Makasih ya, kamu memang sangat pengertian terhadapmu." Ucap Rindu terlihat bahagia saat menerima tiket nonton dan juga makanan serta minuman tambahannya.


Mendengar Rindu memuji pria lain di depannya, membuat Tajuk terlihat tidak senang, kemudian Tajuk menarik tubuh Rindu supaya lebih dekat ke arahnya.


Tentu saja itu membuat Rindu terkejut, sehingga hampir saja Rindu terjatuh di depan Tajuk. Pemandangan di depannya itu membuat Mitha dan Bram hanya terkekeh, akibat melihat sikap posesif Tajuk kepada Rindu.


"Yaelah tuan, ga bakal juga Rindu nya aku ambil, tenang saja." Ucap Bram. Menggoda Tajuk dengan tingkah konyolnya.


"Hahaha, kalau kamu mampu coba saja." Ucap Tajuk dengan sombongnya, sambil semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Rindu.

__ADS_1


"Udah deh, mas jangan mulai lagi, mas tadi kan udah janji gak akan bersikap aneh-aneh." Ucap Rindu yang terlihat memutar bola matanya jengah.


"Bukan aneh sayang, aku hanya waspada saja, karena bagaimanapun juga, laki-laki di depanku ini pernah mengejar, wanitaku." Ucap Tajuk dengan sedikit penekanan di kata "wanitaku".


Mendengar itu wajah Rindu merah merona sekaligus salah tingkah, dan tidak tahu lagi harus jawab apa. Karena jika Rindu menjawab lagi maka akan panjang urusannya.


"Sebaiknya kita segera masuk ke dalam, karena sebentar lagi filmnya akan segera di putar." Ajak Mitha, karena Mitha melihat suasana canggung di antara ketiga orang itu.


"Yuk Mit," jawab Rindu.


Tidak jauh beda dengan Rindu yang tadi salah tingkah, kini Bram juga salah tingkah akibat perkataan Tajuk tadi. Dia pun lebih memilih diam dan berjalan masuk ke dalam gedung bioskop karena memang sebentar lagi film pilihan mereka akan di putar.


Mereka mencari tempat duduk mereka masing-masing, dengan cara mencocokkan nomor kursi yang tertera di tiket mereka masing-masing.


Tajuk terus saja menggandeng tangan Rindu, walaupun ini bukan hal yang baru baginya, namun setelah sekian tahun tidak nonton di bioskop umum seperti ini, membuat Tajuk harus memulai membiasakan diri mulai sekarang.


"Kamu duluan sayang, biar aku yang di sini." Ucap Tajuk yang tidak ingin jika istrinya duduk di dekat lelaki lain di kursi sebelahnya.


"Hem," jawab Rindu,


Setelah duduk di kursi dengan nomor mereka sendiri, kini Tajuk kembali menggenggam tangan Rindu, bahkan Tajuk sengaja menautkan jari jemarinya dengan jemari tangan Rindu.


Dengan senyuman bahagia, Rindu hanya mengikuti keinginan Tajuk. Perasaan bahagia begitu jelas terlihat di wajah Rindu saat ini. Ke-posesifan Tajuk mempunyai nilai plus, yaitu Rindu merasa aman saat bersama dengan Tajuk.


Tapi terkadang ke posesifan Tajuk begitu terlihat menyebalkan dan kekanak-kanakan, saat di depan Alfian atau pun Bram.


Di kursi belakang mereka, Bram dan juga Mitha terlihat dengan santai menunggu film di putar. Bahkan Bram lebih asyik dengan ponselnya sambil menunggu film di mulai. Mitha terlihat gelisah dan sedikit kacau pikirannya.


'Semoga tidak terjadi hal buruk dengan tuan Al,' batin Mitha.


Karena film telah mulai di putar, kini tidak lagi terdengar suara riuh para penonton, dan telah tergantikan dengan suara nyaring film tersebut.


**************


"Apa tadi bartender kamu sudah meneleponnya?"


"Sudah, cobalah untuk tenang Al."


"Bagaimana aku bisa tenang Drew, dia akan pergi dengan laki-laki itu." Ucap Alfian dengan kembali meneguk minumannya.


"Cih, kemarin ada yang bilang jika tidak ada cinta, kenapa sekarang ada api cemburu." Sarkas Andrew.


"Ck, diamlah Drew, sekarang katakan pada bartendermu untuk kembali menelponnya." Ucap Alfian yang sudah mulai tidak sabar.


"Baiklah-baiklah," ucap Andrew.


Lalu Andrew mulai beranjak dari duduknya untuk keluar ruangan VVIP tersebut.


Namun baru saja keluar, Andrew berpapasan dengan seorang wanita dengan pakaian minim bahan bahkan karena sangking tipisnya, lekuk tubuh wanita tergambar jelas.


Glegg!!


Andrew dengan susah payah menelan ludahnya sendiri, tentu saja sebagai lelaki normal, melihat wanita dengan tubuh seseksi itu, pasti akan tergiur.


'Wanita ini terlihat sangat seksi, siapa dia?' batin Andrew.


"Maaf Tuan, tadi ada yang menghubungi saya untuk menjemput tuan Alfian," ucap wanita itu. "Bisakah tuan menunjukkan pada saya dimana tuan Alfian sekarang?" Ucapnya lagi.


"Hah! Oh itu, dia ada di dalam, kamu masuk saja." Ucap Andrew.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi."


Sepeninggal wanita itu, Andrew terlihat sedang berpikir akan sesuatu, kenapa wanita itu yang datang? Bukankah biasanya bukan dia yang datang.


'Dasar si Al brengsek, tadi gelisah karena Mitha belum datang, kenapa sekarang malah menyuruh wanita lain lagi untuk datang.' gerutu Andrew sambil geleng-geleng kepala.


Sedangkan Alfian yang masih ada di dalam ruangan VVIP, terlihat gelisah karena sudah terlalu lama semenjak dia menyuruh bartender untuk menelpon Mitha, sampai sekarang Mitha belum juga datang.


CEKLEK!!


Suara pintu terbuka, dengan antusias Alfian melihat ke arah pintu, betapa terkejutnya Alfian melihat siapa yang datang. Alfian mengerutkan keningnya hingga hampir menyatukan kedua alisnya. Matanya menyipit melihat sosok wanita yang baru saja memasuki ruangan VVIP itu.


"Donita?" Gumamnya.


"Ternyata tuan suka menghabiskan waktu di sini, kenapa tidak bilang tuan, karena bisa dengan senang hatiku saya menemani tuan Al." Ucap wanita dengan pakaian seksi tersebut yang tidak lain adalah Donita sekertarisnya.


Donita duduk di dekat Alfian, bahkan dengan berani tangannya bergelayut manja di lengan Alfian. Tapi karena Alfian yang masih belum bisa mencerna keadaan saat ini, dia hanya mengerjapkan matanya bingung.


Kenapa Donita yang datang? Kemana Mitha? Lantas kenapa bisa Donita yang datang ke tempat ini? Begitulah yang ada di kepala Alfian.


Karena masih belum bisa menguasai keadaan saat ini, Alfian hanya terfokus dengan pikirannya sendiri, hingga tanpa sadar Donita telah mulai meraba-raba dada bidang Alfian.


"Jaga sikapmu Donita, jangan memancingku untuk berbuat kasar kepadamu." Ucap Alfian kemudian menggenggam pergelangan tangan Donita dan mencengkramnya dengan kuat, sehingga membuat Donita meringis menahan sakit.


Tatapan tajam Alfian kepada Donita saat ini terlihat seakan siap untuk mengulitinya, bahkan tatapan tersebut sangat menyeramkan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Ba-baik tuan, tapi tolong lepaskan tangan saya." Ucap Donita memohon.


Dengan kasar Alfian menghempaskan tangan Donita, kemudian Alfian kembali meneguk minumannya. Sedangkan Donita memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit.


'Kenapa tuan Al sangat berbahaya jika sedang mabuk.' batin Donita, kemudian menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Alfian.


"Katakan kenapa kamu bisa datang kemari?" Tanya Alfian dengan wajah datar sambil memainkan jarinya di bibir gelas yang telah terisi minuman.


"Ta-tadi ada yang mengirimkan saya pesan supaya menjemput tuan di sini." Jawab Donita.


Mendengar jawaban Donita, kini Alfian menoleh ke arah Donita, dengan tatapan penuh selidik.


"Siapa yang mengirimi kamu pesan?"


"Mi-mitha tuan, katanya dia tidak bisa datang ke sini karena sedang kencan dengan pacarnya, makanya dia meminta saya untuk datang kesini dan.." ucap Donita.


"Brengsek!! Berani dia melakukan ini padaku, benar-benar cari mati dia." Ucap Alfian dengan penuh emosi.


Tanpa basa-basi, Alfian beranjak keluar dari ruangan VVIP tersebut, Donita terkejut melihat Alfian semarah itu, tapi terlihat senyuman sinis dari bibir Donita.


"Baguslah, sekarang tuan Al pasti akan marah besar denganmu Mitha, bersiap-siaplah untuk mendapatkan amarah tuan Al." Gumam Donita dengan senyum puas penuh kemenangan.


Andrew yang melihat wajah penuh amarah Alfian merasa heran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Alfian semarah itu? Begitulah arti kebingungan Andrew.


Andrew pun berusaha untuk masuk ke ruang VVIP, tapi belum sempat mendekati ruangan VVIP tersebut, wanita seksi yang tadi sempat mencari Alfian, kini keluar dengan terburu-buru.


"Ada apa sebenarnya?" Gumam Andrew.


Alfian yang kini sudah ada di dalam mobilnya, terlihat begitu emosi. Beberapa kali Alfian memukul kemudi mobilnya dengan kuat, seolah dengan cara begitu Alfian bisa meluapkan emosinya.


"Brengsek!! Ternyata cara ini sudah tidak bisa lagi membawanya datang ke sini." Ucap Alfian dengan penuh perasaan kesal.


"Aaaarrrhhh!!!" Teriak Alfian dengan kembali memukul kemudi mobilnya, lalu mencengkram dengan begitu kuat kemudi mobil tersebut. Tidak tahu kenapa Alfian ingin sekali marah, tapi kenapa dia harus marah? Bukankah Mitha bukan siapa-siapa baginya? Lalu kenapa dia harus marah?.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Alfian melajukan mobilnya dengan penuh emosi, hingga tidak peduli akan jalanan di depannya. Yang Alfian inginkan saat ini adalah segera sampai di rumah Mitha.


Bersambung....


__ADS_2