
Tante Sofi yang masih ada di restoran itu terlihat masih kesal, padahal udah dari beberapa menit yang lalu Alfian meninggalkan dia di tempat itu, perasaan Tante Sofi masih tidak terima jika rencana nya kali ini akan gagal lagi.
'Pokoknya Tajuk tidak boleh punya keturunan. Aku harus menelpon Susan, dan memintanya untuk bekerja sama denganku. Hanya Susan satu-satunya harapanku yang masih tersisa.' Batin Tante Sofi.
Ya itulah tujuan Tante Sofi untuk memisahkan Tajuk dan Rindu. Karena jika Tajuk sampai punya keturunan, maka sudah dapat di pastikan Tante Sofi tidak dapat apa-apa. Selain uang bulanan untuk memenuhi kebutuhannya kelak.
Harta memang bisa merubah segalanya, bahkan Tante Sofi rela melakukan apapun untuk mendapatkan harta dari papanya Tajuk.
Papanya Tajuk memang jarang pulang ke Indonesia, karena harus mengurus perusahaan yang ada di luar negeri. Dan Tajuk sendiri juga sibuk dengan perusahaan yang ada di Indonesia. Jadi jarang bertemu dengan sang Papa.
"Susan, Tante ingin sekali bertemu dengan kamu, apa kamu ada waktu?" Tanya Tante Sofi saat menelpon Susan.
"Kalau sekarang aku belum bisa Tante, mungkin satu atau dua hari lagi aku akan luangkan waktu bertemu dengan Tante." Jawab Susan di telepon.
Terlihat raut wajah kekecewaan di wajah Tante Sofi, karena tidak bisa bertemu dengan Susan kali ini. Padahal Tante Sofi sudah merencanakan sesuatu untuk bisa menjebak Susan dan Tajuk agar bisa bersama.
Menurut Tante Sofi, Susan akan lebih mudah di atur, dan bisa di ajak kerja sama menguras harta papanya Tajuk. Dari pada Rindu. Makanya Tante Sofi gencar untuk menjodohkan Susan dengan Tajuk.
'Aku harus segera mencari cara untuk memisahkan Tajuk dan Rindu, sebelum si Rindu itu benar-benar hamil anaknya Tajuk.' Batin Tante Sofi.
Tante Sofi pun akhirnya meninggalkan restoran tersebut, untuk kembali ke rumahnya. Tante Sofi masih berpikir bagaimanapun caranya Tajuk tidak boleh punya anak. Agar kekayaan sang papa bisa jatuh ke tangannya.
Sambil mengemudikan mobilnya, Tante Sofi tidak henti-hentinya memikirkan cara untuk membuat Tajuk dan Rindu berpisah.
'Surat cerai palsu itu tidak mempan, aku harus menggunakan cara yang lain. Apa sebaiknya aku datangi saja Rindu? dan mengancamnya supaya meninggalkan Tajuk.' Batin Tante Sofi.
Ambisi Tante Sofi untuk menguasai harta orang tua Tajuk (Marco Hendrawan) selama menjadi istrinya belum juga bisa terwujud, apalagi sekarang kendali perusahaan ada di tangan Tajuk. Maka akan semakin sulit untuk mendapatkan seluruh harta Marco Hendrawan.
'Sudah lama juga Marco tidak pulang, apa sebaiknya aku pengaruhi dia saja, supaya dia tidak memberikan semua hartanya kepada Tajuk. Tapi itu akan sangat sulit mengingat Joe selalu ada di samping Tajuk.' Batin Tante Sofi.
Tante Sofi seperti tidak mau menyerah begitu saja, bahkan sampai saat ini begitu banyak ide licik muncul di kepalanya. Rencananya menggunakan surat cerai palsu itu gagal, makanya dia sekarang seperti kebakaran jenggot, dan menyusun strategi baru untuk mengambil alih semua harta orangtua Tajuk.
__ADS_1
'Joe seperti anj*ng penjilat yang selalu menempel pada tuannya. Susah di pengaruhi untuk bekerja sama. Apa perlu aku menyingkirkan Joe terlebih dahulu?' Batin Tante Sofi.
Senyuman licik kembali terukir di sudut bibirnya, seolah menemukan ide yang paling cemerlang. Banyak cara menuju Roma, begitulah yang dia pikirkan. Tidak bisa memakai cara halus, cara kasar pun akan di tempuhnya demi semua harta yang di incarnya.
********************
Alfian yang sedang mengantarkan Rindu ke kantor, kebetulan berpapasan dengan Tajuk yang baru pulang dari meeting. Dengan Joe yang mengikuti Tajuk di belakangnya.
'Benar-benar brengsek si Al, mengambil kesempatan di saat aku tidak ada.' Batin Tajuk. sambil mengepalkan tangannya karena melihat Rindu yang keluar dari mobil Alfian, bahkan Rindu dengan senyum bahagia semakin membuat Tajuk seolah terbakar api cemburu.
"Ayo kita masuk kak," Ucap Rindu pada Alfian.
"Hem."
"Kalian dari mana?" Ucap Tajuk dingin. Dengan menatap tajam Alfian dan Rindu bergantian.
"Kami dari.." Ucap Rindu menggantung karena Tajuk yang keburu masuk ke dalam lobby kantor.
"Saya permisi dulu Tuan Al, nyonya." Ucap Joe.
Alfian dan Rindu tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tajuk menjadi dingin kepada mereka. Tapi Alfian hanya mengedikkan bahunya seakan memang tidak tahu menahu tentang kejadian barusan.
Rindu mengangkat kedua alisnya kemudian berjalan menaiki tangga teras kantor dan menuju ke lobby kantor. Di ikuti oleh Alfian di belakangnya.
"Yuk kak langsung ke ruangan mas Taj aja," Ucap Rindu.
"Hem."
Mereka berdua pun jalan menuju ke lift khusus. Beberapa karyawan yang melihat keduanya akrab, mereka tampak berbisik-bisik dan melihat Rindu dengan pandangan mata seolah tidak suka.
"Lihatlah dia, padahal udah nikah sama CEO Tajuk, masih aja terlihat akrab dengan boss dari Wiryawan group. Benar-benar wanita penggoda."
__ADS_1
"Iya betul, jangan-jangan dia menikah dengan CEO kita menggunakan cara licik, seperti naik ke ranjang bos misalnya."
"Betul, betul. Mana mungkin bos Tajuk yang notabene pemilik perusahaan, menikahi karyawan biasa seperti dia."
"Iya benar sekali, dia pasti sudah tidur dengan CEO kita, makanya CEO yang dinginnya seperti es itu bisa menikahi wanita seperti Rindu."
Dan masih banyak lagi omongan yang membuat Rindu semakin terpojok, Alfian yang mendengar mereka membicarakan Rindu, ingin sekali menghampiri mereka, membungkam mulut mereka.
Namun Rindu mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Alfian dan menggelengkan kepalanya seolah berkata 'jangan'. Alfian menghela nafasnya, kemudian mengangguk dan mengikuti Rindu masuk ke dalam lift, untuk menuju ke lantai atas di ruangan Tajuk.
'Jadi Rindu selalu di gosipkan tidak baik oleh orang-orang di kantor Tajuk,' Batin Alfian.
"Rin?"
"Aku sudah biasa kak mendengarnya, jangan di ambil hati ya kak." Ucap Rindu dengan senyum manisnya. Karena tahu akan maksud Alfian.
"Tapi mereka sudah keterlaluan Rin, apa Taj hanya diam saja? melihat kamu di hina oleh karyawannya sendiri." Ucap Alfian.
"Mas Taj tidak tahu soal ini, dan mungkin ini sudah jadi konsekuensinya kak, jika pernikahan kami di ketahui oleh publik. Apa lagi mereka yang tidak tahu masalah yang sebenarnya, mereka hanya tahu jika aku adalah karyawan rendahan yang menikahi sang boss." Ucap Rindu berusaha tegar.
"Kenapa kamu tidak bilang saja ke Taj, soal ini."
"Biarkan saja kak, lambat laun pasti ilang juga gosip yang begituan. Mereka pasti bosan juga kok." Ucap Rindu dengan tersenyum.
Alfian hanya mengangguk dan tersenyum getir melihat ke arah Rindu, seakan Alfian tidak terima jika ada yang menghina Rindu. Namun dia bisa apa? Sekarang Tajuk lah yang harus melindungi Rindu.
'Inilah yang membuat aku tidak bisa melupakan kamu Rin. Kamu terlalu baik sehingga aku jadi semakin mencintai kamu.' Batin Alfian.
Mereka berdua pun sampai di lantai dimana letak ruangan Tajuk, dengan di sambut oleh Nia di luar ruangan dan mempersilahkan mereka masuk.
Bersambung..
__ADS_1