Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Persiapan konferensi pers part 1


__ADS_3

Setelah pengumuman yang di lakukan di kantornya, Tajuk berencana untuk mengadakan konferensi pers, Rindu hanya pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Tajuk, semenjak Tajuk mengumumkan status pernikahan mereka di kantor, kini sikap Tajuk lebih terang-terangan di depan publik.


Bahkan sudah tiga hari terakhir Tajuk selalu melingkarkan tangannya di pinggang Rindu saat memasuki lobby kantor, dan itu membuat Rindu merasa tidak nyaman, karena menjadi pusat perhatian para karyawan yang bekerja di kantor tersebut.


Keesokan hari setelah pengumuman itu tatapan mata para karyawan yang melihat Rindu, mereka menatapnya tidak suka, maklumlah CEO yang terkenal dingin terhadap semua wanita itu, ternyata sudah menikahi Rindu yang statusnya hanya seorang pegawai biasa seperti mereka juga.


Jadi tatapan iri dari para karyawan perempuan, tertuju kepada Rindu, mereka iri kenapa bukan mereka yang menjadi istrinya Tajuk.


"Mas, kenapa harus melakukan konferensi pers sih? Apa yang mas lakukan di kantor itu, apa masih belum cukup?" Ucap Rindu yang seakan ingin protes dengan tindakan Tajuk yang menurutnya sangat berlebihan.


"Itu belum apa-apa sweetheart, seharusnya dunia tahu bahwa kamu itu adalah istriku, jadi segera bersiaplah." Ucap Tajuk, yang sudah rapi mengenakan setelan jas hitam serta kemeja warna putih dan dasi warna hitam. Yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


Kemudian Tajuk berjalan menghampiri Rindu mengecup keningnya. Setelah itu Tajuk keluar kamar menuju ke ruang tamu.


Rindu yang masih di dalam kamar itu pun berdecak kesal dengan sikap arogan suaminya. Bagaimana bisa Tajuk sesantai itu sih? Untuk apa coba pakai di umumkan di media segala? Bukankah sudah cukup jika orang-orang kantor tahu tentang hubungan rumah tangga mereka? Kenapa pakai acara konferensi pers segala? Begitulah arti kekesalan dan protes Rindu.


Namun kalian pasti tahulah bagaimana Tajuk, apalagi sekarang Rindu sudah setuju dengan mengumumkan hubungan mereka di kantor, maka Tajuk pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membawa Rindu ke dalam dunianya.


Tajuk menghubungi Joe untuk memastikan bagaimana persiapan konferensi pers yang akan di lakukan di lobby kantornya pagi ini. Setelah semua dirasa sudah siap Tajuk dan Rindu pun pergi menuju ke kantornya.


Selama dalam perjalanan Rindu yang terlihat gugup, dan juga nervous, terlihat tidak nyaman duduknya. Dan itu tidak lepas dari pandangan mata Tajuk. bahkan karena hal itu jantung Rindu berdetak tidak karuan dan dadanya seakan sesak menahan rasa gugup yang masih menghinggapinya.


Sang sopir yang memang sengaja di panggil oleh tajuk untuk mengemudikan mobilnya hanya diam dan tidak mau terlalu ikut campur urusan sang bos. Yang di lakukannya hanyalah konsentrasi mengemudi selamat sampai tujuan.

__ADS_1


"Rileks sweetheart, rileks, ini tidak semenakutkan apa yang ada dipikiranmu sweetheart. Jadi tenangkan dirimu." Ucap Tajuk, sambil menggenggam tangan Rindu yang kini sudah terasa dingin seperti es.


"Aku takut mas," Ucap Rindu.


"Kamu tidak perlu takut, karena hanya ini cara satu-satunya supaya tidak ada laki-laki manapun yang berani mendekatimu." Ucap Tajuk terselip nada kecemburuan di dalamnya.


"Ish, Apa sih yang mas pikirkan? Selalu punya pikiran buruk terhadapku." Ucap Rindu terlihat kesal. Bagaimana tidak kesal jika Tajuk selalu seperti itu.


"Karena aku tidak rela jika istriku aku di dekati oleh laki-laki lain apalagi oleh Al ataupun Bram. dengan cara seperti ini mereka pasti akan mundur perlahan dan tidak akan mengejarmu lagi." Ucap Tajuk.


"Huft, terserah mas terserah, capek ngomong sama orang yang terlalu cemburuan kayak mas, semuanya dicurigai, dicemburui. Kami kan hanya teman aja mas." Ucap Rindu.


"Teman?? Teman katamu? Jika memang benar kalian berteman Apa mungkin Alfian akan memintamu untuk menjadi istrinya? Jika kamu berada di posisiku, apa kamu akan berpikiran jika itu hanya sekedar perasaan sebagai teman?" Ucap Tajuk yang mulai tersulut emosi.


Degg!!


Seketika jantung Rindu berdetak begitu kencang, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Tajuk, karena mengingat kata-kata Susan waktu itu yang mengaku sebagai tunangan Tajuk, itu saja membuat Rindu sudah terbakar api cemburu.


"Iya mas iya, maaf, tapi kan memang benar aku menganggapnya sebagai teman, tidak lebih dari itu." Ucap Rindu karena melihat Tajuk yang sudah mulai emosi.


Namun tidak ada reaksi apapun dari Tajuk, wajah kesal Tajuk masih mendominasi saat ini, sehingga terlihat sangat dingin dan tanpa ekspresi.


Sebuah ide kecil pun muncul di kepala Rindu, dengan memberanikan diri, Rindu mendekat dan menangkup wajah Tajuk memakai kedua tangannya, kemudian mencium bibir Tajuk sekilas.

__ADS_1


"Maaf." Ucap Rindu. Kemudian Rindu kembali duduk di posisinya.


Tajuk yang shock dengan perlakuan Rindu, mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian dia hanya terpaku diam, sambil mengusap bibirnya dengan jarinya.


Ketika sudah tersadar jika Rindu yang barusan menciumnya, Tajuk menoleh melihat Rindu yang sedang menoleh ke arah luar jendela, dengan cepat Tajuk menarik bahu Rindu, supaya Rindu mau berbalik dan menghadap ke arahnya.


Rindu pun berbalik melihat ke arah Tajuk, senyum misterius Tajuk seakan mengandung berbagai macam pertanyaan, apa yang akan dilakukan oleh Tajuk?.


Kemudian Tajuk menarik tengkuk Rindu, dan mencium bibirnya, sontak hal itu membuat Rindu terkejut, karena itu di luar apa yang di rencanakan oleh Rindu, tadinya karena Tajuk sedang marah makanya Rindu menciumnya, kenapa sekarang malah jadi seperti ini sih?.


Ciuman Tajuk yang awalnya hanya ciuman biasa, kini ciumannya semakin dalam, lumatan demi lumatan di lakukan oleh Tajuk, hingga keduanya seakan kehabisan nafas karena ciuman tersebut.


Nafas Rindu dan Tajuk semakin memburu seolah menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman.


"Ini baru yang namanya ciuman,"Ucap Tajuk yang melepas pagutannya, karena melihat Rindu yang seakan kehabisan nafas. "Lain kali kamu harus berinisiatif duluan, dan yang lebih agresif lagi, supaya semakin bersemangat lagi." Bisiknya kemudian.


Seketika muka Rindu menjadi merah merona karena malu, kemudian dia menarik dirinya supaya sedikit menjauh dari Tajuk.


"Mas mesum." Ucap Rindu memukul dada bidang Tajuk.


Bukannya merasakan sakit, karena pukulan tangan dari Rindu, namun Tajuk justru tersenyum geli melihat tingkah imut Rindu saat ini, padahal ini bukan kali pertama bagi mereka, tapi setiap kali Tajuk menggoda Rindu, Rindu masih selalu malu-malu karenanya. dan itu semakin membuat Tajuk gencar untuk menggodanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2