
Rindu yang tidak tahu menahu jika sebenarnya Alfian lah yang sekarang memegang kendali atas perusahaan Wiryawan group, hanya terdiam dan menuruti kemauan Tajuk. Toh walau bagaimanapun, Rindu adalah istri sah nya Tajuk, jadi sudah seharusnya Rindu menemani Tajuk dalam acara seperti seperti itu.
Saat makan siang tersebut Tajuk sesekali melempar senyum ke arah Rindu, senyuman penuh makna yang sangat sulit untuk di tebak. Rindu yang menyadari hal itu jadi salah tingkah.
'Ada apa sih dengan mas Tajuk? Kenapa melihatku seperti itu dari tadi? Apa mungkin mas Tajuk menyembunyikan sesuatu dariku?' Batin Rindu.
Tajuk yang tahu jika Rindu salah tingkah karena dirinya terus melihat Rindu. Hanya tersenyum dan dengan santai memakan makan siangnya dengan lahap.
Seperti yang telah Tajuk katakan tadi jika sehabis makan siang, Tajuk akan mengajak Rindu pergi ke butik. Dan disinilah mereka berdua sekarang berada.
Di sebuah butik terkenal di Jakarta, Rindu yang sedang berada di ruang ganti dengan di bantu salah satu pegawai butik tersebut. Rindu terlihat sibuk mencoba beberapa baju yang telah di sediakan oleh pihak butik.
"Bagaimana mas?" Tanya Rindu yang baru keluar dari ruang pas dengan dress panjang warna hitam dengan belahan sampai di paha atasnya dan bagian belakang yang terekspos sehingga memperlihatkan bagian mulus punggung Rindu.
Tajuk sangat terkejut dengan penampilan Rindu saat ini, sangat cantik, sangat menggoda dan terlihat begitu seksi, begitulah yang ada di kepala Tajuk. Sampai-sampai Tajuk dengan susah payah menelan ludahnya sendiri.
'Kenapa dari tadi dress yang di kenalan selalu terbuka dan terlihat begitu seksi, bagaimana aku bisa menguasai diriku jika terus-terusan seperti melihat pemandangan indah seperti saat ini.' Batin Tajuk.
"Ganti!!" Ucapnya dingin terlihat sangat tidak suka. Dengan menggunakan kode tangannya untuk mengusir Rindu supaya ganti dengan dress yang lain.
"Hah!! Lagi? Ini udah dress yang ke tujuh mas." Gerutu Rindu yang terlihat sudah lelah. Karena memang Tajuk dari tadi selalu bilang ganti dan ganti. Entah yang bagaimana yang di inginkan Tajuk.
"Kalau aku bilang ganti ya ganti sweetheart, apa mau tunggu aku yang menggantikannya?" Tanya Tajuk dengan nada menggoda.
"Aish, iya, iya," Rindu semakin mendengus kesal karena kelakuan Tajuk.
'Huft, bagaimana bisa aku membiarkan tubuh kamu di lihat lelaki lain. Hanya aku yang boleh melihatnya.' Batin Tajuk tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
Sedangkan Rindu yang ada di dalam bersama dengan pegawai butik menggerutu kesal.
"Sebenarnya maunya mas Tajuk itu apa sih? Mau ngerjain aku atau gimana? Emang di kira gak capek apa bolak balik begini." Gerutu Rindu kesal.
Pegawai itu yang melihat Rindu kesal hanya tersenyum tertahan sambil menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak pecah tawanya.
'Mungkin tuan Taj tidak rela melihat istrinya yang begitu cantik dan seksi ini di lirik oleh orang lain.' Batin pegawai itu.
Kemudian pegawai itu mempunyai sebuah ide, pegawai itu mengambilkan dress yang panjang tertutup, namun masih menampakkan kesan yang cantik dan sangat elegan.
"Coba yang ini nona, siapa tahu aja tuan Taj tidak akan menolaknya lagi." Ucap pegawai itu dengan menyerahkan sebuah gaun panjang namun lebih tertutup dan elegan.
Rindu melirik pegawai tersebut, walaupun wajah Rindu jutek namun Rindu berusaha ramah dengan pegawai butik itu, rasanya tidak adil jika Rindu marah dan kesal dengan Tajuk namun pegawai itu terkena imbasnya juga.
Dengan senyum kecut di wajahnya, Rindu mengambil gaun itu dari tangan sang pegawai lalu berusaha memakainya.
"Kalau yang ini bagaimana, mas?" Tanya Rindu dengan senyum manis di paksakan, seakan senyuman itu mengatakan supaya cukup yang ini saja jangan paksa untuk mengganti dress lagi, begitulah kira-kira arti dari senyuman Rindu.
Tajuk pun mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, dan melihat Rindu di depannya. Satu kata yang ingin Tajuk ucapkan yaitu 'Perfect'.
'Bagaimana aku bisa jatuh cinta kepada wanita lain, walaupun sudah tiga tahun kita berpisah, melihatmu seperti ini saja sudah membuat hatiku meleleh. Bahkan aku bisa jatuh cinta berkali-kali setiap harinya.' Batin Tajuk yang terpesona dengan keindahan di depan matanya saat ini.
"Ehem ehem!!" Rindu sengaja mendehem dengan keras. Karena melihat Tajuk yang justru hanya diam mematung tanpa menjawab pertanyaannya.
"Eh, ok ini saja." Ucap Tajuk dengan senyuman terbaiknya.
"Huft, akhirnya." Gumam Rindu yang lega setelah Tajuk tidak menolak dress yang memang sudah terakhir yang menjadi pilihannya.
__ADS_1
Setelah selesai mencari gaun untuk di pakai nanti malam, mereka memutuskan untuk pulang. Dan bersiap untuk acara makan malam bersama perusahaan Wiryawan seperti jadwal yang telah di sepakati.
"Sekarang kamu bersiaplah, aku tunggu di sini sweetheart." Ucap Tajuk dengan tersenyum kemudian mengecup keningnya.
Rindu menganggukkan kepala sebagai jawaban sambil tersenyum, lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Tajuk menunggu Rindu yang sedang mandi dengan duduk di sisi ranjang sambil melihat isi ponselnya. Melihat email atau pun pesan masuk. Bahkan ada beberapa pesan masuk dari Joe yang memberitahu soal jadwal yang akan di lakukan Tajuk esok hari.
"Huft, besok begitu banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Pasti akan menyita waktuku." Gumam Tajuk.
Jika bukan jadwal pekerjaan yang begitu padat, mungkin Tajuk tidak ingin berlama-lama jauh dari Rindu. Apa lagi semenjak pernikahan mereka di umumkan, sepertinya Tajuk semakin menempel pada Rindu.
Bahkan seakan tidak ingin sedetik pun Rindu hilang dari pandangan matanya. Padahal Rindu sebagai asisten pribadi Tajuk, tapi semua pekerjaan masih Joe yang mengurusnya.
Asisten pribadi hanyalah sebagai formalitas semata, karena Rindu yang keras kepala tidak mau risegn makanya Tajuk melakukannya. Bahkan Tajuk hanya memberikan pekerjaan yang ringan untuk Rindu, selama Rindu jadi sekretaris pribadinya.
"Aku sudah selesai, sebaiknya mas segera mandi dan bersiap, supaya kita tidak terlambat." Ucap Rindu.
"Baiklah, kamu berdandan lah yang cantik untukku malam ini. Aku ingin semua orang di acara itu tahu kalau wanita di sampingku ini sangatlah cantik dan sangat pantas untuk berjalan bersamaku." Ucap Tajuk, kemudian menarik dagu Tajuk dan mengecup bibir Rindu dengan sedikit melumatnya.
Mendengar itu kedua pipi Rindu merah merona, ternyata Tajuk masih sama seperti Tajuk suaminya tiga tahun yang lalu. Selalu romantis dan selalu perhatian kepada Rindu.
"Hem." Jawab Rindu sambil mengangguk dan tersenyum ke arah Tajuk.
Tidak lama kemudian Tajuk berjalan menuju ke kamar mandi. Dan Rindu berjalan ke meja rias untuk mempercantik dirinya sebelum pergi ke acara makan malam bersama perusahaan Wiryawan.
Bersambung..
__ADS_1