Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Akun FB


__ADS_3

Di saat suasana sedang tegang Rindu yang baru saja pulang dari makan siang memasuki ruangan Tajuk yang terlihat hening dan mencekam. Bahkan Rindu melihat beberapa orang memohon dan bersujud di depan meja kerja Tajuk.


'Ada apa ini? kenapa mereka sampai bersujud seperti ini? kesalahan apa yang mereka lakukan?' batin Rindu.


Dengan langkah pelan tanpa suara dan tidak mau mengganggu apa yang sedang terjadi, Rindu berjalan menuju ke meja kerjanya.


"Nyonya," sapa Joe sambil membungkukkan badan saat melihat kedatangan Rindu yang sedang berjalan menuju ke kursi kerjanya.


Seketika Tajuk menoleh ke arah pintu masuk, dan terlihat Rindu dengan perlahan jalan menuju ke kursi kerjanya.


"Hai Joe," ucap Rindu dengan melambaikan tangan.


"Sweetheart, kamu sudah datang?" Ucap Tajuk yang berdiri dan kemudian berjalan mendekati Rindu yang masih diam di tempatnya. "Gimana makan siangnya tadi?" Tanya Tajuk.


"Ya begitulah mas, kami asyik bercerita tadi, cuma ya karena jam masuk kantor jadi kepotong." Jawab Rindu.


"Kamu bisa melanjutkannya nanti," ucap Tajuk kemudian mengecup kening Rindu.


"Mas ih, ga malu, banyak karyawan mas di sini." Protes Rindu.


Bukannya malu Tajuk justru malah tergelak tawanya. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rindu. Seakan memperlihatkan kemesraannya di hadapan karyawan yang sudah menghina dan meragukan cintanya pada Rindu.


"Biarkan saja mereka tahu, biar mereka bisa menjaga ucapannya sebelum berkata yang tidak-tidak, sweetheart." Ucap Tajuk.


Degg!


'Apa mas Tajuk tahu jika mereka ini yang membully aku? Ah tidak mungkin,' batin Rindu.


Semua orang yang tadi masih berlutut meminta kemurahan hati Tajuk, tidak ada yang berani mendongakkan kepalanya, walaupun hanya sekedar melihat ke arah Rindu yang sudah memasuki ruangan.


'Ternyata tuan sangat mencintai Rindu,'


'Rindu sangat beruntung mendapatkan tuan yang begitu mencintainya.'


'Apa sebaiknya aku minta maaf sama Rindu, supaya tuan mencabut kata-katanya yang akan memecatku.'


'Tidak ku sangka Rindu betul-betul mendapatkan cinta tuan Taj.'

__ADS_1


Mereka semua berkata dalam hati tidak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun saat ini, karena mereka yakin jika Tajuk masih marah kepada mereka semua.


"Terserah mas saja lah, tapi apa aku mengganggu pekerjaan mas?" tanya Rindu ragu-ragu. Sambil memberikan kode jika para karyawannya masih ada di ruangan itu.


"Tidak, kamu tidak menggangu sama sekali sayang." ucap Tajuk sambil tersenyum. "Joe, bereskan kekacauan ini, tempatkan mereka semua di pabrik, Aku tidak mau terlihat kejam di depan istriku."


"Baik Tuan muda, sesuai perintah tuan muda." Jawab Joe.


"Makasih tuan atas kebaikan tuan, kami akan bekerja dengan sungguh-sungguh." Ucap salah satu dari mereka mewakili yang lainnya.


Tajuk hanya memberikan kode dengan tangannya supaya mereka segera keluar dari ruangan itu. Karena saat ini hanya ingin bersama dengan Rindu untuk meredakan emosinya.


Mereka semua terlihat lega, walau pun saat ini status mereka semua di turunkan menjadi buruh di pabrik milik Tajuk. Setidaknya saat ini mereka tidak di pecat.


'Sebenarnya ada apa sih ini? Dan mereka itu kan yang kemarin membully aku, kenapa mau di pindahkan ke pabrik?' batin Rindu.


Semuanya keluar dari ruangan Tajuk sambil menunduk hormat ketika melewati Rindu yang masih terlihat bingung.


Tajuk dan Rindu berjalan menuju ke sofa, untuk sekedar menghabiskan waktu istirahat siang walaupun hanya ngobrol.


"Kesalahan mereka tidak bisa dimaafkan lagi sayang, tapi karena aku masih bermurah hati kepada mereka semua, aku hanya menghukumnya dengan memindahkan mereka semua ke pabrik." Ucap Tajuk.


Rindu hanya manggut-manggut sambil mulutnya terbuka membentuk huruf O, karena Rindu memang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


"Eh, mas udah makan siang belum?" Tanya Rindu. "Tadi katanya ada meeting di luar, kok cepat sekali mas kembali ke kantor."


"Meeting dibatalkan, kamu jadwalkan ulang ya buat meeting dengan beberapa perusahaan dan juga Alfian." Ucap Tajuk.


"Ok ok, akan aku atur lagi dan follow up ulang dengan mereka nanti." Ucap Rindu. "Aku pesankan makanan ya mas? Untuk mas makan siang,"


"Boleh, sekalian kamu temani aku makan."


"Aku udah kenyang, kali mas."


Rindu pun berjalan menuju ke meja kerjanya, dan menelpon seseorang menggunakan telepon kantor. Sedangkan Tajuk tersenyum melihat istrinya yang sangat perhatian kepadanya.


'Kamu tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu, begitu perhatian terhadapku. Aku sangat beruntung mempunyai istri seperti kamu sweetheart.' batin Tajuk yang melihat punggung istrinya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Setelah memesan makanan, dan meminta untuk di antar di ruangan, Rindu pun memutuskan panggilannya. Kemudian duduk kembali di sofa menemani Tajuk.


****************


Tidak banyak pekerjaan yang di lakukan Alfian di kantornya, sehingga Alfian lebih banyak waktu luang saat ini. Apalagi meeting dengan Tajuk dan beberapa rekan bisnisnya di tunda, semakin menambah waktu luang di dalam kamus Alfian.


Untuk membunuh rasa suntuknya di kantor, entah kenapa Alfian tertarik untuk membuka sosial media FB, dulu Alfian sangat aktif di sosmed tersebut, namun semenjak kenal dengan Rindu kebiasaan itu di tinggalkannya.


"Terkadang ada rasa rindu juga dengan sosial media satu ini." Gumam Alfian dengan tersenyum. Tangannya melihat-lihat beranda yang ada di tampilan paling depan.


Begitu banyak teman-temannya yang meng-upload foto anak dan istri, terlihat bahagia seperti keluarga yang harmonis. Apalagi anak-anak yang lucu dan imut membuat Alfian merasa iri.


"Kalian sudah punya keluarga bahagia, sedangkan aku masih saja begini." Gumam Alfian. Lalu menghela nafas.


Sejenak Alfian tertegun melihat satu akun FB yang ada di beranda masuk dalam rekomendasi teman. Sekilas Alfian membaca satu teman yang sama.


"Ini kan.." gumam Alfian sambil mengerutkan keningnya, seolah merasa tidak asing dengan foto di profil akun tersebut.


Alfian yang penasaran pun akhirnya meng-klik profil tersebut, tidak ada yang aneh di dalam postingan terbaru yang di tampilkan oleh si empunya akun. Alfian pun hanya tersenyum membaca update story yang di lakukan oleh akun tersebut.


Saat men-scroll ke bawah, Alfian menghentikan sejenak di sebuah postingan yang menarik perhatiannya.


'Kadang kita tidak sadar bahkan tidak tahu kapan datangnya cinta, tapi kenapa di saat cinta datang kepadamu, kamunya yang tidak sadar.'


"Menarik," gumam Alfian dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.


Alfian pun men-scroll kembali ke bawah, melihat beranda profil tersebut, Alfian kembali tertegun melihat sebuah foto pria dengan wajah tertunduk di sebuah meja dengan beberapa botol minuman di dekat kepala pria yang ada di foto tersebut, dengan chapter.


'Melihatmu mabuk saja sudah membuatku bahagia, apalagi melihatmu mabuk cinta kepadaku, bisa melayang hati adik Bang.'


Degg!!


Tiba-tiba jantung Alfian berdetak begitu kencang, karena Alfian sangat familiar dengan foto yang di unggah di akun FB tersebut. Dengan segera Alfian menghubungi temannya pemilik club yang biasa di datanginya.


Entah apa yang Alfian bicarakan dengan pria di seberang telepon, sehingga terlihat begitu serius, seperti sedang merencanakan sesuatu.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2