
Di tempat yang berbeda, Alfian yang mempunyai begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di hatinya, berusaha untuk meredamnya dengan pergi ke sebuah cafe.
Alfian memesan secangkir kopi, sambil menunggu kopi pesanannya datang, Alfian mengambil ponselnya dari balik saku jasnya, kemudian membuka aplikasi WhatsApp, karena memang saat ini hanya itu yang sedang dia tunggu, yaitu persisnya menunggu pesan masuk dari Rindu.
"Seharusnya jam segini sudah waktunya dia pulang kantor, kenapa masih belum ada kabar juga? Apa sesibuk itu Tajuk memberikan pekerjaan kepada Rindu?" Gumam Alfian yang menebak-nebak tindakan Tajuk.
Padahal dulu sebelum Rindu menjadi asisten pribadi Tajuk, Rindu selalu ada waktu untuk membalas chat darinya, walaupun hanya sekedar emoticon smiley, tapi kenapa kali ini seakan tidak ada kesempatan untuk itu? Ponselnya aja sering kondisi off.
Sungguh rasa penasaran Alfian semakin menguasai pikirannya, sampai-sampai Alfian tidak menyadari jika kopi pesanannya kini sudah ada di depannya. Karena lamunannya akan sosok Rindu.
"Sikap Tajuk kali ini pun berbeda dari biasanya, apa yang kalian sembunyikan sebenarnya?" Gumam Alfian.
Alfian menghela nafas panjangnya, kemudian meraih cangkir kopi di depannya, lalu menyesapnya. Pandangan Alfian menerawang jauh keluar jendela di sampingnya.
Di luar terlihat lalu lalang orang yang sibuk dengan aktifitasnya, beberapa mobil juga mendominasi jalanan yang ada di depan cafe tersebut, mengingat jika cafe yang di datangi oleh Alfian saat ini berada di samping jalan raya.
"Alfian!! Sedang apa kamu di sini?" Ucap salah seorang yang datang dan menghampirinya.
Mendengar seseorang memanggilnya, Alfian pun menoleh ke arah sumber suara, terlihat wanita cantik dengan memakai dress berwarna merah selutut tanpa lengan, dengan membawa tas di tangannya.
"Susan?!" Ucap Alfian ketika melihat ternyata Susan yang barusan menghampirinya. Tanpa menunggu Alfian yang mempersilahkannya untuk duduk, Susan sudah menarik kursi untuknya duduk.
"Tumben kamu sendirian jam segini di cafe? Apa sedang menunggu seseorang?" Tanya Susan yang penasaran.
"Aku tadi dari kantor Taj, rencananya ingin melihat keadaan Rindu, tapi sepertinya dia sedang banyak pekerjaan, makanya aku ingin menghabiskan waktu di sini sejenak. Kamu sendiri gimana? Apa kamu ada janji dengan seseorang?" Ucap Alfian.
"Aku tadinya ingin bertemu dengan Tante Sofi, tapi sepertinya Tante juga sedang ada kesibukan, makanya ga bisa datang." Ucap Susan menjelaskan.
"Tante Sofi Mamanya Taj?" Tanya Alfian.
"Iya Al, tadinya Tante yang meminta aku datang ke cafe ini, tapi katanya tiba-tiba ada keperluan mendadak, makanya gak bisa datang ke sini." Jelas Susan.
__ADS_1
"Apa dia masih saja menyuruh Tajuk untuk menikah dengan gadis pilihannya?" Tanya Alfian dengan senyuman mengejek.
Karena memang selama ini Alfian sangat memahami bagaimana kehidupan keluarga Tajuk yang begitu rumit menurutnya, hanya papa Tajuk yang selalu mendukung Tajuk dalam segala hal, makanya sekarang papanya Tajuk mempercayakan perusahaan berada di tangannya.
"Hahaha, jadi kamu juga tahu soal itu, Al?" Tanya Susan.
"Ck, siapa yang tidak mengetahui kisah hidup Tajuk yang sudah seperti drama sinetron seorang anak tiri yang di tindas ibu tirinya sendiri." Ucap Alfian dengan tersenyum geli jika mengingat akan kisah hidup Tajuk.
"Hahaha!!!"
Keduanya tertawa bersama, seakan kisah hidup Tajuk adalah hal yang layak untuk jadi bahan tertawaan mereka berdua, karena memang dari dulu Tajuk dan ibu tirinya tidak pernah akur. Akhirnya karena keasyikan mengobrol, mereka berdua sampai lupa waktu.
*************************
Di lobby kantor Tajuk sudah berkumpul semua karyawan, walaupun semua terlihat bingung karena tidak tahu pengumuman apa yang akan di sampaikan oleh CEO perusahaan itu, mengingat jika saat ini adalah jam pulang kerja.
Semua karyawan saling berbisik antara satu karyawan dengan karyawan lainnya. Termasuk Mita dan Bram.
"Mith, ada apa sih sebenarnya? apa ada masalah besar yang sedang terjadi?" Bisik Bram.
Semua sudah berkumpul di lobi dan tinggal menunggu kedatangan Tajuk, yang akan mengumumkan sesuatu. Sebenarnya mereka semakin penasaran dan menebak-nebak apa yang akan di sampaikan oleh CEO Tajuk.
Karena tadi Joe hanya memberikan perintah untuk semua karyawan berkumpul di lobby kantor, tanpa memberitahu ada pengumuman apa yang akan disampaikan oleh CEO Tajuk.
Tidak lama kemudian Tajuk keluar dari dalam lift khusus, berjalan bersama dengan Rindu di sampingnya, serta diikuti oleh Nia sekertaris Tajuk di belakangnya.
'Apa mungkin bos akan mengumumkan status pernikahannya dengan Rindu? Mungkinkah kejadian tadi malam mempengaruhi hubungan mereka? Atau bos sudah tahu jika Tuan Alfian mencintai Rindu?' Mitha menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan pandangan matanya mengarah kepada pasangan yang baru saja keluar dari lift, sekilas tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Rindu, dan seolah Rindu memberikan kode jika apa yang ada dalam pikirannya itu benar.
"Baiklah, apa semua sudah berkumpul?" Tanya Tajuk kepada Joe.
__ADS_1
"Sudah tuan muda, silakan Anda memulai apa yang ingin anda sampaikan kepada mereka semua." Ucap Joe mempersilahkan.
Dengan isyarat tepuk tangan dari Joe, semuanya karyawan berbaris untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Tajuk kali ini. Walaupun masih terdengar kasak-kusuk dari para karyawan, kini Tajuk melangkah maju ke depan para karyawan.
"Ehem ehem!!" Suara Tajuk mendehem untuk menenangkan para karyawan.
Mendengar itu semua karyawan langsung kicep, tak ada satu pun yang berani membuka suaranya. Mereka sangat mengetahui bagaimana karakter sang bos.
"Huft, oke baiklah, aku mau minta maaf karena telah menyita waktu kalian, kalian yang seharusnya sudah pulang kini harus mendengarkan satu pengumuman penting, dan jika kalian tidak menyimaknya dengan baik maka taruhannya adalah pekerjaan kalian." Ucap Tajuk memulai pembicaraannya. Kemudian Tajuk menoleh ke arah Rindu yang berdiri agak jauh darinya.
Tajuk berjalan mendekati Rindu, kemudian mengulurkan tangannya, Rindu yang terkejut karena sedang tidak fokus akan apa yang di sampaikan oleh Tajuk barusan, malah kebingungan sendiri, dan itu membuat Tajuk tersenyum kepadanya.
Dengan ragu-ragu Rindu menyambut uluran tangan Tajuk, seketika semua karyawan berbisik-bisik, bahkan melihat ke arah Rindu dengan tatapan seakan tidak suka, mereka berpikir bahwa Rindulah yang telah menggoda Tajuk.
Bram yang melihat hal itupun ikutan terkejut dengan apa yang di lihatnya, dan seakan tidak percaya.
"Aku CEO perusahaan ini, atau bisa di bilang bos kalian semua, hanya ingin menyampaikan satu hal pada kalian, jika wanita ini adalah istriku, dia dulunya adalah salah satu pegawai di divisi keuangan." Ucap tajuk sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rindu.
Suasana seakan menjadi riuh karena pengumuman tersebut, mereka saling pandang satu sama lain seakan tidak menyangka bahwa Rindu adalah istri bos mereka. Bahkan hal itu juga yang membuat Bram menatap Rindu seakan meminta penjelasan.
Mita yang sudah mengetahuinya dari awal, dia hanya tersenyum bahagia mendengar kabar berita tersebut.
"Silent please!! Biarkan bos kita menyelesaikan, apa yang ingin disampaikan." Ucap Joe memberikan peringatan kepada semua karyawan.
Semua kembali terdiam, dan tidak ada yang berani membuka suara, pandangan mata mereka tertuju kepada Rindu, pandangan mata yang seakan meremehkan atau memandang rendah kepada Rindu.
"Kami sudah menikah 3 tahun yang lalu, Namun karena sesuatu hal akhirnya kami terpisah, dan Baru-baru inilah kami dipertemukan kembali. Jika ada diantara kalian yang berani membicarakan jelek tentang istriku, aku tidak akan segan-segan memecatnya hari itu juga." Ucapan tegas Tajuk membuat semua karyawan terkejut.
"Aku harap kalian menaruh hormat kepada istriku seperti kalian menghormatiku," Ucap Tajuk. "Aku rasa cukup itu saja yang ingin aku sampaikan kepada kalian, dan kalian sudah bisa pulang sekarang," Ucap Tajuk mengakhirinya.
Semua karyawan berhamburan membubarkan diri, dan menuju ke pintu keluar kantor, walaupun banyak pertanyaan yang mengganggu pemikiran mereka, namun tidak ada satu pun yang berani bertanya kepada sang bos yang terkenal dingin itu.
__ADS_1
Wajah Rindu terlihat sedikit lega karena semua karyawan sudah pulang, namun itu tidak mengurangi rasa kekhawatiran Rindu akan sikap semua karyawan kepadanya di esok hari.
Bersambung...